Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Lolos Dari Maut


__ADS_3

Lolos Dari Maut


     Menyaksikan Toni dalam bahaya., Riko memutuskan membantunya. Tanpa pikir panjang. Segera dihidupkan mesin motor. Kemudian dengan kecepatan penuh ia tabrak kedua pengeroyok Toni hingga terpental ke dinding mini market.


     Ciiiitttt...


     BRUUUKK... 


     "Naik bang !" segera Riko membanting stir dan tancap gas meninggalkan lokasi itu. Sementara itu, dua orang yang tadi mengeroyok Toni bergelimpangan di teras mini market. Keduanya meringis kesakitan. Golok yang mereka gunakan berhamburan di antara meja dan kursi yang berserakan. 


     "Kurang ajar. Siapa anak itu. Berani - beraninya membokong dari belakang ?!" seru pria berambut gondrong. Wajahnya sangar dengan brewok menutupi hampir seluruh wajahnya. Robert nama pria beringas ini.


     "Tadi aku lihat bocah itu duduk di atas motornya." 


     "Kenapa kau diamkan saja, Leo ?!" Seru pria brewok lagi. Matanya merah menandakan amarahnya belum mereda. Tangannya dia kibas - kibaskan. membersihkan debu yang menempel di kaos lusuhnya. 


     "Mana ku tahu. Aku kira dia sedang menunggu kawannya yang sedang berbelanja !" jawab kawannya yang bernama Leo, sengit. Pria dengan postur badan kecil namun berotot ini tak mau kalah. Diambilnya golok yang tak jauh dari posisinya. 


     "Sekarang bagaimana, Robert. Apa kita kejar mereka ?" tanya Leo. Dipindainya wajah kawannya.  Namun bukan jawaban yang ia terima, Robert hanya melambaikan tangannya. 


     "Tidak usah,  Percuma. Mereka sudah pergi entah ke mana !" 


     "Iya, betul juga." 


     "Sebaiknya kau ke dalam. Belikan air minum dan rokok" ucap Robert, diserahkan selembar uang kepada kawannya. Leo hanya merengut memandangi selembar uang dengan nominal besar itu.  Kemudian bola matanya mendelik ke arah Robert.


     "Iyaa..., kau juga beli sana !" Seru Robert dengan nada kesal. Seketika raut wajah Leo berubah ceria, seperti bocah yang baru saja diberi uang jajan. Senyum lebar ia berikan pada kawannya yang baik hati itu. Bergegas ia masuk ke dalam mini market. Sempat dilihatnya  beberapa karyawan sedang  sibuk merapihkan meja dan kursi yang berantakan di teras.


     "Kalau bos Jhoni mengetahui, kita gagal membunuh pria tadi. Bisa berbahaya, kita" ucap Leo. Tangannya meraih sebotol minuman soda di hadapannya. Tak lama kemudian terdengar suara khas dari mulutnya akibat minuman tersebut.


     "Nanti aku yang bicara dengannya" jawab Robert mantap. Dipandangi wajah kawannya. Sesekali dari kedua bibirnya menyembul lingkaran asap yang semakin lama semakin besar. Dia melemparkan pandangan  ke jalan raya yang mulai padat. Keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak. 


#####


Riko memacu kendaraanya dengan kecepatan sedang. Sesekali netranya mengintip kaca spion yang sudah retak. Rasa was - was menjalar di sekujur tubuhnya. Khawatir kedua orang pengeroyok Toni mengejar mereka.


     "Mereka mengejar kita, bang ?" tanya Riko sedikit penasaran. 


     "Aman, Ko !" jawab Toni setelah melihat seluruh area jalan raya di belakangnya.


     "Siapa mereka bang ?"  tanya Riko lagi. Kini mereka berhenti  di sebuah perempatan, saat lampu jalan itu berubah warna.


     "Aku tidak tahu, Ko. Sepertinya mereka mengenal kedua penculik itu." 


     "Iya bang" jawab Riko pelan. Setelah lampu berganti warna, Riko kembali melajukan kendaraannya di tengah kepadatan lalu lintas kota Jakarta.


     "Kita kemana bang ?" tanya Riko, setelah cukup lama tak ada percakapan. Wajahnya sedkit dimiringkan ke belakang. Sementara Toni agak lama menjawab, sampai ia teringat seorang kawannya. 


     "Kita lurus terus sampai ketemu rel kereta, lalu belok kiri." 


     "Oke. Pakai argo apa tidak, pak ?" tanya Riko berkelakar. Toni tersenyum melihat tingkah kawan sepermainan adiknya itu. Seketika wajahnya murung, membayangkan nasib Topan dan Arif. 


     "Semoga mereka baik - baik saja" ucapnya lirih.  


     "Kemana lagi bang ?" seru Riko mengagetkan penumpangnya. Kini mereka sudah berada di belokan ke kiri dari rel kerta api. Riko menghentikan kendaraanya. Ia menunggu jawaban dari Toni.


     " Lurus saja, Ko !" seru Toni. Pandangannya menyusuri deretan rumah - rumah sederhana yang ada di pinggir jalan. Tatapannya terhenti pada sebuah bangunan tingkat dua bercat putih.


     "Stop, Riko !" seru Toni spontan. Pundak Riko terasa berat karena menahan dorongan tubuh penumpangnya.


     "Di sini, bang. Rumah siapa bang ?" tanya Riko penasaran. Kini Toni sudah turun dan berdiri di depan pagar rumah yang ia tuju. Matanya tak berkedip memandangi bangunan tersebut.


     "Kawanku waktu dinas dulu" Jawab Toni sambil melangkah mendekati pagar berwarna hitam. Di halaman rumah, seorang ibu sedang menjemur pakaian. Matanya awas menelisik tubuh Toni dari bawah sampai atas. Sementara  Riko berdiri bersandarkan sepeda motor . Matanya ia edarkan ke segala arah.

__ADS_1


     "Assalamualaikum...  !"


     "Waalaikumsalam , cari siapa ?!" tanya  seorang ibu berusia sekitar lima putuh tahunan itu.  Kini dia mendekat, memastikan sosok pemuda yang berada di luar.


     "Saya mencari Bagas, bu. Apa dia ada ?" jawab Toni sedikit gugup. Selama  berdinas, ia belum pernah berkunjung ke rumah kawannya tersebut. Namun Bagas pernah memberikan alamat rumahnya  kepada Toni.


     "Nak bagas ada di dalam" Jawab sang ibu. Bergegas ia membukakan pagar agar Toni bisa masuk. 


     "Terima kasih, bu. Nama saya Toni, dan ini kawan saya namanya Riko"  ucap Toni, kemudian ia mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Perlahan Riko mendekat dan melakukan hal yang sama. Tiba - tiba sebuah suara terdengar tak lama setelah pintu rumah terbuka. 


     "Apa kabar Toni ?" seru seorang pria yang sebaya dengannya. Tanpa canggung, dipeluknya pemuda di hadapannya. Tak lama kemudian menjabat tangan Riko.


     "Ayo silahkan masuk, nak Toni nak Riko" ucap sang ibu. Tangannya menenteng bak plastik kosong masuk ke dalam rumah. 


     "Bagas, ajak mereka ke dalam !"  


     "Iya, bu.... !" 


Tak lama berselang, ketiganya terlibat obrolan hangat. Walaupun Riko hanya jadi pendengar dan kadang tersenyum kecil. Sesekali ketiganya menyeruput kopi hitam yang masih hangat. Sepiring gorengan pisang dan tempe ikut meramaikan meja persegi di hadapan ketiganya.



Perlahan tapi pasti, kini obrolan mereka mulai bergeser. Yang tadinya hanya membicarakan masalah ringan. Kini mulai membicarakan hal yang sangat penting. 


     "Pasti kamu ke sini berhubungan dengan pesan yang kau kirim itu, kan ?" 


     "Betul sekali, tebakanmu, Gas. Aku harap kau bisa membantuku" 


     "Baik. Aku akan memperlihatkan sesuatu kepadamu" ucap Bagas. Bergegas ia bangkit dan meninggalkan Toni dan Riko. Keduanya saling pandang mencari jawaban, apa yang kira - kira akan ditunjukan Bagas.


Tak lama kemudian, Bagas kembali dengan menenteng sebuah laptop. Kemudian dengan cekatan ia membuka sebuah file. 


     "Setelah menerima pesan darimu, aku mencoba masuk ke situs - situs lembaga keamanan di seluruh dunia" ucap Bagas sambil memperlihatkan gambar dan informasi yang berhasil ia kumpulkan. Toni yang duduk di sebelah kanan dan Riko yang duduk di sebelah kiri, mendengarkan dengan antusias. Mata mereka terpaku pada layar yang ada di meja. Sesekali keduanya menatap ekspresi wajah tuan rumah yang terlihat serius.


     "Setelah tiga hari mencoba, akhirnya aku bisa masuk ke sebuah situs lembaga keamanan yang ada di eropa."


     "Apakah kedua pria ini yang sudah menculik adikmu ?" tanya Bagas. Wajahnya menatap lekat pada Toni. Sedangkan layar laptop menampilkan dua buah gambar yang berbeda. Gambar pertama menampilkan sosok seorang pria dengan kepala botak. Sedangkan postur badannya sedikit gemuk. Sementara gambar satu lagi menampilkan sosok seorang pria dengan rambut rapi dan klimis. Postur badannya tiinggi dan besar. 


     "Betul. Itu mereka !" seru Toni, diiyakan oleh Riko. Riko coba mendekat dan memperhatikan lebih seksama kedua orang yang ada di gambar tersebut. Kemudian wajahnya menatap Bagas. 


     "Gak salah lagi bang. Saya sempat dicekik sampai kehabisan nafas oleh orang ini !" seru Riko menahan kekesalan. Jari telunjuknya diarahkan tepat pada gambar pria gemuk dengan kepala botak yang tak lain adalah Jarot.


     "Bagaimana kau bisa lolos ?" ucap Bagas keheranan. 


     "Topan bang..., Topan yang sudah menyelamatkan saya. Sementara dia justru tertangkap" jawab Riko dengan suara tercekat. Matanya mulai berembun mengingat kejadian mengerikan itu. Bagas berusaha menenangkan Riko yang sedang emosional. Ditepuk - tepuk pundak remaja tersebut untuk menyemangati. 


     "Apa lagi yang kamu temukan ?" tanya Toni penasaran. Dijawab oleh Bagas dengan menunjukan sebuah artikel dari surat kabar berbahasa inggris. 


     "Ini adalah berita berbahasa inggris. Isinya tentang penangkapan seorang gembong sindikat perdagangan organ tubuh ilegal dan beberapa orang kepercayaannya."


     "Haaahhh.... !"


     "Perdagangan organ tubuh ?!" seru Riko dan Toni bergantian. Sementara Bagas memperbesar gambar yang ada di atas artikel tersebut. Terlihat beberapa orang sedang digiring masuk ke sebuah mobil tahanan. Kedua tangan mereka diborgol ke belakang.


     "Ini dua orang yang tadi" ucap Bagas memperlihatkan gambar Jarot dan Kubil di antara mereka yang ditangkap. Toni dan Riko tak berkedip sedikitpun menatap gambar yang ditampilkan.


     "Itu siapa, yang paling depan ?" tanya Toni. Jari telunjuknya didekatkan mengarah pada gambar seorang pria dengan rambut yang sudah memutih. Wajahnya terlihat lebih muda dari usianya  yang sudah kepala enam.


     "Kalau menurut berita di artikel ini. Dialah gembong sindikat perdagangan organ tubuh ilegal itu."


     "Siapa dia, Bagas. Apakah kamu dapat profilnya atau identitasnya ?"  tanya Toni dengan raut muka penasaran.  Dia tak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini. Semakin banyak informasi yang ia dapat akan semakin memudahkan jalannya untuk menemukan adiknya.


Bagas kembali menampilkan gambar yang berbeda di layar laptopnya. Kali ini sebuah gambar yang menapilkan seorang pria tua dengan rambut yang sudah beruban. Toni semakin penasaran dengan sosok pria tersebut. 

__ADS_1


     "Gambar ini aku dapatkan setelah berhasil membobol situs interpol." ucap Bagas datar. Kemudian dia memperbesar gambar yang ia tampilkan. Toni dan Riko hanya melongo. Sesekali tangan Riko meraih tempe goreng yang tersisa.


     "Ternyata orang ini sudah menjadi buronan interpol sejak beberpa tahun yang lalu." ucap Bagas lagi.


     "Bukankah ia sudah ditangkap ?!" seru Toni dengan suara meninggi. 


     "Mungkin saja ia berhasil kabur, bang !" seru Riko spontan. Tempe goreng yang ada di mulutnya belum abis tertelan saat ia berbicara. Sontak saja tempe goreng yang sudah hancur itu berhamburan ke udara.


     "Pintar kau, Riko" ucap Bagas. Ditepuk - tepuknya pundak Riko  dengan dengan senyum puas.


     "Dia ditetapkan sebagai buronan beberapa bulan setelah penangkapan tadi. Kemungkinan besar penetapannya sebagai buronan interpol karena melarikan diri dari penjara itu." 


     "Siapa namanya, Gas ?" tanya Toni penuh selidik.


     "Di sini tertera, namamya Jhoni. Kewarganegaraan Indonesia" jawab Bagas sambil memperlihatkan identitas pria yang bernama Jhoni tersebut.


     "Ternyata orang Indonesia" seru Riko keheranan.


     "Aku belum mengerti, Gas."


     "Belum mengerti apanya, Ton ?"


     "Perdagangan organ tubuh itu, maksudnya bagaimana ?" 


     "Kamu pernah dengar ada orang yang mencari donor jantung, mata, ginjal... ?" 


     "Iya. Aku pernah dengar." 


     "Mencari mereka yang dengan sukarela mendonorkan organ tubuh  saudaranya yang sudah meninggal. Itu sangat sulit. Kemudian celah ini dimanfaatkan oleh mereka. Jhoni dan sindikatnya menjual organ tubuh manusia ke Rumah Sakit  - Rumah Sakit  besar dengan harga yang fantastis. Bisa jadi mereka juga menjual kepada individu - individu yang memiliki harta berlimpah."  


Toni dan Riko manggut - manggut mendengarkan penjelasan Bagas. Perlahan bulu tengkuk mereka berdiri, membayangan sesuatu yang sangat mengerilkan.


     "Lalu organ tubuh siapa yang ia jual" tanya Toni yang masih penasaran dengan keterangan kawannya. Walau di dalam hatinya sudah mengerti apa yang disampaikan oleh kawannya.


     "Siapa lagi, kalau bukan organ tubuh bocah - bocah yang mereka culik." jawab Bagas dengan jelas. Dipandangi wajah kedua  orang tamunya yang ketakutan. Membayangkan hal - hal di luar akal sehat yang menari - nari di atas kepala mereka.


     "Mengerikan. Sangat biadab !" seru Toni geram. Dikepalkan tangannya menahan emosi yang tiba - tiba datang.


     "Bagaimana nasib Topan dan Arif, bang ?" tanya Riko khawatir. 


     "Kita do'akan saja mereka selamat dan bisa berkumpul dengan kita lagi" jawab Toni bijak. Dia memikirkan bagaimana caranya menemukan tempat  adiknya disekap.


     "Apakah kau mendapatkan informasi tentang markas mereka, atau lokasi anak - anak itu disekap ?"  tanya Toni lagi.


     "Jika mereka menjadi buronan  internasional. Aku rasa mereka berada di wilayah Indonesia" jawab Bagas yakin.


     "Kenapa kau begitu yakin ?" 


     "Kita tahu sendiri, bagaimana mental aparat kita." 


     "Apakah petugas dari interpol akan memburu  mereka juga ?" 


     "Sangat mungkin !" seru Bagas dengan senyum kecut. Sementara wajah Toni terlihat murung membayangkan nasib adiknya. 


     "Aku turut bersedih dengan apa yang terjadi,Toni. Aku akan siap membantu kapanpun kau membutuhkan." 


     "Informasi darimu sudah sangat berarti bagiku, Bagas." 


     "Tidak. Kamu pernah menyelamatkan nyawa satu kompi pasukan kita. Apa kau lupa, Toni !" seru Bagas lagi. Kini keduanya berjalan menuju pintu. Sementara Riko sudah lebih dulu berdiri di samping sepeda motor milik Toni.


     "Aku tak akan lupa kejadian itu" jawab Toni datar. Wajahnya menoleh ke arah dinding yang mereka lewati. Sebuah bingkai Foto menjadi perhatiannya. Di mana terdapat gambar Bagas dengan pakaian dinas lengkap. Sementara di sebelahnya Toni menggunakan pakaian olah raga dari kesatuannya.


     "Aku permisi, pamit" ucap Toni. Dipeluknya sang kawan dan kemudian mereka berjabat tangan erat.

__ADS_1


     "Berhati - hatilah selalu" balas Bagas. Tangannya menyambut uluran tangan Riko. Toni memberi kode dengan jempol. Tak lama kemudian keduanya sudah menghilang di antara padatnya lalu lintas. Karena bertepatan dengan waktu karyawan kantor pulang kerja.


Keduanya berada di atas sepeda motor tua dengan fikiran masing - masing. Tak ada percakapan, karena keduanya sibuk mencerna informasi yang baru mereka dapatkan.


__ADS_2