Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Pelarian


__ADS_3

Pelarian


Kedua wanita sebaya itu terus berusaha menyantap habis menu yang ada. Seolah terpaksa, keduanya mencoba berdamai dengan keadaan. Sekuat tenaga mereka telan habis makanan yang sudah dingin dan jauh dari kata lezat.


Bukan tanpa alasan, Sulis dan Ratna tak ingin jatuh sakit. Jika hal itu terjadi, tentu akan menyulitkan mereka untuk meninggalkan tempat tersebut. Mereka harus kuat dan sehat agar bisa melarikan diri. Belum lagi tantangan di alam liar pulau tersebut. Tentu membutuhkan fisik yang prima.


Suara troly terdengar makin keras. Langkah kaki kedua remaja terdengar beriringan menyusuri lorong panjang dan berliku.


"Bagaimana jika penyamaran kita diketahui, Pan ?" Tanya Arif pelan. Raut wajahnya terlihat tegang.


"Bersiap saja, perutmu dibedah. Isinya diambil dan dijual" jawab Topan dengan nada menakut nakuti. Disusul tawa renyah yang membuat jengkel kawannya.


"Aku serius, Topan !" Seru Arif dengan suara meninggi.


"Sssttt... jangan berisik !" Reflek Topan membekap mulut kawannya. Arif terkejut dengan kelakuan sahabatnya tersebut.


"Semoga saja penyamaran kita berhasil membebaskan mereka" ucap Topan lagi dengan suara pelan. Keduanya tak menyadari jika ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.


Sementara itu, Sulis dan Ratna saling berpandangan. Spontan keduanya menghentikan aktifitas saat terdengar suara percakapan. Keduanya terpaku keheranan saat Topan dan Arif berjalan di hadapan mereka.


"Sepertinya mereka orang baru !" Ucap Sulis keheranan. Walaupun kedua remaja di hadapannya mengenakan pakaian tertutup. Namun Sulis masih ingat rekan kerjanya satu per satu.


"Iya. Aku rasa juga begitu" jawab Ratna. Tatapan matanya menelisik dengan teliti kedua orang yang sedang mendorong troly di depan sel mereka. Topan dan Arif terlihat gugup dipandangi sedemikian rupa. Keduanya berhenti sejenak.


"Kenapa kalian dikurung di sini ?" Tanya Topan pada kedua gadis di hadapannya. Ia coba mengontrol rasa gugup yang menyerang. Keempatnya kini berdiri saling berhadapan. Teralis besi yang terkunci menjadi pemisah di antara mereka.


"Apa kalian diculik lalu ditahan di sini ?" kali ini Arif yang bertanya. Sesekali Topan mengedarkan pandangan, mengamati situasi yang ada.


"Kami tukang masak di tempat ini" jawab Sulis ragu - ragu.


"Lantas kenapa kalian ditahan ?"


"Kami dianggap melakukan kesalahan" kali ini Ratna yang menjawab. Raut wajah sedih tak dapat ditutupi. Wajahnya tertunduk lesu. Sesekali tangannya mengusap mata yang mulai berembun.


"Benar - benar biadab" seru Arif penuh emosi.


"Kami ingin membebaskan kalian. Tunjukan di mana kunci sel - sel yang ada di sini ?"


"Tapi..., bukannya kalian kerja di sini ?" Jawab Sulis bingung. Begitupun dengan Ratna.


"Nanti aku ceritakan semuanya."


"Baiklah, tapi ada satu syarat."


"Apa itu syaratnya ?"


"Bebaskan anak2 itu" jawab Sulis. Tangannya menunjuk ke arah sel - sel yang saling berjejeran. Letak sel yang ditempati Sulis dan Ratna berada paling ujung. Sementara semakin ke dalam maka akan terlihat sel - sel yang ditempati anak - anak korban penculikan.


"Baiklah" jawab Topan mantap. Di amini Arif dengan anggukan. Sejatinya kedua remaja ini bertekad untuk membebaskan anak - anak yang menanti ajal itu. Tanpa ada syarat itupun, mereka akan tetap berusaha membebaskan anak - anak yang ditahan.


"Ikuti terus lorong ini sampai ketemu pertigaan. Di pertigaan itu ada penjaga bertubuh subur yang memegang semua kunci sel."

__ADS_1


"Baiklah."


Topan dan Arif melanjutkan langkah mereka. Perlahan tapi pasti keduanya mengamati setiap sudut ruangan. Tak terasa sudah dua ruangan sel yang mereka lewati. Puluhan anak berdesakan untuk sekedar terlelap tidur. Tak jarang, mereka harus saling sikut agar bisa leluasa bergerak.


Beberapa pasang mata memperhatikan keduanya. Sesekali Arif memberi kode dengan jari telunjuk di bibir agar mereka tidak bersuara.


"Itu dia, Rif !" Seru Topan saat matanya menyaksikan seorang dengan tubuh gemuk sedang tertidur pulas. Pantatnya yang besar tak tertampung oleh kursi kayu yang ia duduki. Kepalanya yang kecil ia rebahkan di atas meja. Kedua bibirnya bergetar hebat saat suara dengkuran terdengar menyeramkan.


"Itu kuncinya, Pan !" Seru Arif saat menyaksikan beberapa anak kunci yang hampir jatuh ke lantai. Tangan penjaga itu terbentang di atas meja. Sementara di ujung jari telunjuknya masih tersangkut kumpulan anak kunci yang diikat oleh cincin besi. Senapan laras panjang teronggok di tembok sebelahnya.


"Iya, Rif. Aku melihatnya" jawab Topan pelan. Keduanya makin mendekat dengan langkah pelan. Tak jauh dari mereka anak - anak yang berada di dalam sel tengah asyik tertidur. Hanya ada beberapa yang tetap terjaga. Dan menyaksikan apa yang terjadi.


"Kau tunggu di sini, biar aku yang ambil kuncinya" seru Topan. Bergegas ia melangkah maju. Tujuannya adalah kumpulan kunci yang berjarak beberapa meter dari posisinya.


"Hati - hati" jawab Arif singkat. Kedua matanya terus mengawasi setiap lorong, berjaga - jaga jika ada penjaga lain. Tak lama kemudian ia membalikkan badannya. Para remaja yang terkurung spontan bangkit satu per satu. Mereka menyadari apa yang dilakukan Topan dan Arif.


"Kalian tenang. Jangan membuat kegaduhan" seru Arif sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Para remaja hanya diam tidak menjawab. Beberapa di antaranya menganggukkan kepala. Topan sudah kembali dengan beberapa kunci sel di tangannya.


"Syukurlah kamu berhasil, Pan."


"Pria gembul itu benar - benar seperti orang mati" jawab Topan dengan senyuman khasnya.


"Cepat bebaskan mereka" titah Topan sambil menyerahkan kunci pada kawannya. Dengan hati - hati Arif mencoba satu per satu anak kunci. Cukup lama ia mencoba, hingga membuatnya gugup. Tangannya gemetaran dan degup jantungnya terpacu dengan cepat.


Melihat gelagat tidak baik, Topan segera meraih kunci dari kawannya. Arif mundur dan membiarkan kawannya mencoba. Sementara itu para tawanan tampak harap - harap cemas. Wajah mereka tak kalah tegangnya .


"Kau awasi pria itu. Jangan sampai ia terbangun."


Ceklekk...


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya gembok dapat dibuka. Topan mengarahkan para remaja untuk menuju pintu belakang yang mereka lewati.


"Kalian tunggu di pintu belakang. Nanti kami menyusul. Dan ingat. Jangan berisik dan membuat kegaduhan."


Tak lama kemudian para remaja yang berpakaian tidak layak itu berjalan ke arah yang ditunjuk. Muka pucat dan tubuh kurus kering tidak membuat mereka patah semangat untuk menggapai kebebasan.


Topan dan Arif berhasil membebaskan penghuni sel yang kedua. Puluhan remaja kembali berhamburan menuju pintu belakang. Keduanya tersenyum saat menyaksikan aura kehidupan kembali terpancar dari para tawanan. Walaupun dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.


"Cepat keluar dan kalian bimbing mereka masuk ke hutan" seru Topan pada Sulis dan Ratna. Kini ketiganya berjalan menuju pintu keluar yang terbuat dari besi yang sudah karatan.


"Apa... hutan.. ?!"


"Itu satu - satunya peluang mereka untuk tetap bisa bertahan hidup." Jawab Topan lagi.


"Nanti kalian juga akan terbiasa. Setidaknya sampai pertolongan datang" timpal Arif meyakinkan. Sulis dan Ratna saling berpandangan. Ada sorot keraguan di mata keduanya.


Di lubuk hati keduanya ada semacam rasa tanggung jawab yang harus mereka ambil. Rasa kemanusiaan, itulah yang akhirnya meyakinkan mereka untuk terus maju. Tak ada lagi rasa takut mati, apalagi takut akan kehilangan pekerjaan.


"Baiklah. Demi mereka aku siap melakukan apapun !" Jawab Sulis mantap. Ratna menjawab dengan anggukan.


"Rif, kau turun duluan. Kemudian kalian bertiga memimpin mereka masuk ke dalam hutan. Sebaiknya kita bawa mereka atas bukit" ucap Topan memberi instruksi. Tangannya sibuk membuka pintu.

__ADS_1


Sesekali dia edarkan pandangan jauh ke belakang. Di dalam hatinya ada rasa khawatir mengingat jumlah rombongan mereka yang hampir seratus orang.


"Cepat kalian keluar, hati- hati. Di bawah ada kawan - kawan kalian yang sudah tiada !" SeruTopan sambil menyorotkan lampu senter tepat ke bawah pintu yang tak jauh dari tumpukan mayat.


Satu per satu mereka melompat dengan sigap. Bau menyengat membuat mereka menutup indera penciumannya.


"Cepat tinggalkan tempat ini, Rif !" Seru Topan sedikit panik. Perasaannya semakin was - was mengingat situasi yang sulit.


"Kamu bagaimana ?"


"Aku berjaga jaga di belakang rombongan !"


"Baiklah."


Bergegas Arif melangkahkan kaki memimpin rombongan menuju hutan belantara. Di belakangnya Sulis dan Ratna terus mengawasi anggota mereka. Deru angin yang berhembus membuat suasana makin mencekam. Aneka suara mahkluk malam membuat para remaja semakin tidak tenang.


Semak belukar setinggi dua meter diterabas. Begitupun tumbuhan semak yang memenuhi area hutan tak luput dari pijakan kaki - kaki lemah anak - anak kota korban penculikan. Tubuh - tubuh kurus mereka meliuk liuk di antara besarnya pohon - pohon yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun.


"Kenapa kau di sini ?" Tanya Topan yang menyadari kehadiran Sulis di sampingnya. Topan yang sudah melepas semua atribut penyamarannya, kini lebih leluasa berjalan. Begitupun dengan Arif.


"Aku mengkhawatirkanmu" jawab Sulis singkat.


"Aku baik - baik saja. Sebaiknya kau kembali ke depan" jawab Topan yang terus mengarahkan sorot lampu senter ke segala arah. Kedua matanya sangat jeli mengamati setiap sudut hutan belantara. Di atas langit tampak gumpalan awan berjalan perlahan. Seolah enggan memberi cahaya penerangan pada mereka.


"Kita belum saling mengenal. Siapa namamu. Dan kenapa kau bisa berada di pulau ini ?"


"Heii... kau ini cerewet juga ya... ?!" Jawab Topan dengan ekspresi kesal. Menurutnya Sulis


Menanyakan hal semacam itu bukan pada saat yang tepat. Sesekali ia edarkan pandangan ke arah belakang, mencari pergerakan yang mencurigakan.


"Baiklah, jika kau tak mau menjawab !" Kali ini Sulis yang dibuat jengkel. Wajah cantiknya berubah cemberut dan menatap datar ke depan.


"Huuhhh.... baiklah. Namaku Topan. Aku berada di sini karena dibawa oleh dua orang penculik ke pulau ini. Namun kami melarikan diri saat akan dimasukan ke dalam bangunan itu."


Wajah Sulis kembali tersenyum saat mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Rupanya itu menjadi awal dari percakapan panjang mereka. Keduanya terlibat obrolan santai hingga dikagetkan sebuah suara.


Doorrrr...doorr... dooorrr...


Tiga buah timah panas melesat membelah malam. Anggota rombongan terlihat panik dan ada yang ingin memisahkan diri. Sempat terdengar jeritan histeris sebelum ditenangkan oleh Sulis dan Ratna. Topan mencari arah datangnya tembakan.


"Tenang... jangan Panik. Semuanya menunduk !" Seru Arif yang ada di depan. Ratna membantu menenangkan anggota rombongan mereka.


"Kau temui Arif. Katakan aku akan menghentikan pasukan itu. Teruslah menunduk. Tumbuhan alang - alang menyamarkan keberadaan kalian."


"Tapi mereka membawa senjata api !"


"Do'akan saja aku bisa mengatasinya."


"Baiklah. Semoga berhasil !"


Tak butuh waktu lama, keduanya berpisah. Topan bergerak memutar. Mendekati dua orang yang sedang menerabas apa saja yang menghalangi jalan mereka.

__ADS_1


Dengan posisi siaga, popor senapan laras panjang diletakkan di pundak. Setiap saat keduanya siap melepaskan tembakakan mematikan. Gelapnya malam dan lebatnya hutan belantara. Menjadi keuntungan buat Topan.


__ADS_2