Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Hidup Atau Mati


__ADS_3

Hidup Atau Mati


Malam perlahan mendekati ujungnya. Suasana sepi dan tenang sangat terasa di kota yang konon terbesar dan tersibuk di negeri ini. Namun semuanya berubah dalam sekejap.


Iring - iringan kendaran aparat keamanan membuat keadaan menjadi gaduh. Tiga truk penuh dengan pasukan tak henti - hentinya membunyikan klakson. Tak kalah berisiknya suara sirine yang meraung raung dari mobil patroli yang berada paling depan.


Keempat kendaraan tersebut melaju dengan kecepatan tinggi di sebuah jalan yang tak seberapa lebar. Seolah tak perduli dengan kondisi jalan yang sempit dan licin karena habis diguyur hujan deras.


Di bawah temaram sinar bulan yang masih setia mengiringi rintik air hujan yang kini meninggalkan gerimis kecil. Konvoi yang sangat memekakkan telinga itu begitu angkuhnya menerabas apa saja yang mereka lewati. Termasuk genangan air hujan di jalan berlubang.


Byuuurrr...


Byuuurrr....


Sontak saja air berwarna coklat itu berhamburan menerjang apa saja. Termasuk dua orang pemuda yang berada di warung pinggir jalan. Tak terkecuali dua gelas kopi, dua bungkus rokok dan beberapa cemilan ikut tersapu air hujan yg datang tak terduga itu. Sontak caci maki dan sumpah serapah mereka arahkan kepada rombongan yang baru saja membuat keduanya bermandikan cipratan air kotor tersebut.


"Woooiii.... Ga punya mata, lo ya..?" Jerit pemuda tinggi dengan lantang. Reflek ia berdiri dan menyeka air hujan yang membasahi wajah kusamnya.


"Setan alas... !" Sahut kawannya yang bertubuh tambun. Pemuda belasan tahun itu terlihat sangat emosi. Tanpa pikir panjang diraihnya gelas berisi kopi dan air hujan yang persis ada di hadapannya. Beberapa detik kemudian gelas tersebut sudah melayang ke arah kendaraan paling belakang dari rombongan tersebut.


Kemarahan dua pemuda tanggung itu sia - sia. Karena iring - iringan pasukan keamanan terus melaju kencang diiringi gerimis yang belum juga berhenti. Puluhan anggota pasukan yang berada di truk paling belakang hanya tertawa, seakan mengejek.


Sekitar lima ratus meter di depan. Tepatnya di lampu merah perempatan jalan, iring - iringan itu berbelok ke arah kiri. Sekitar sepuluh menit kemudian mereka berhenti tepat di halaman sebuah bangunan lima lantai.


Ciiittt....


Bruk...Brukk... Bruukk...


Tanpa aba - aba dari sang komandan lapangan, puluhan pasukan dengan atribut lengkap dengan sigapnya melompat turun dari kendaraan yang mereka tumpangi. Badan tegap berlapis rompi anti peluru dipadu dengan helm hitam membuat tampilan mereka sangat gagah. Belum lagi senapan laras panjang yang selalu setia di genggaman mereka.


"Cepat... Cepat...!"


Sang komandan yang tak kalah sigap, memberi aba - aba kepada anak buahnya. Tak dipedulikannya orang tua yang kebingungan menyaksikan semua kejadian tersebut. Sambil mengucek matanya yang baru saja terbuka. Ia coba mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Hei... Ada apa ini. Siapa kalian ?!"


Seru orang tua yang merupakan penjaga keamanan di tempat tersebut. Walaupun usianya sudah sekitar setengah abad, namun tubuhnya masih terlihat gagah.


"Kami mencari pelaku penculikan yang bersembunyi di hotel ini !"


Jawab sang komandan tegas. Namun itu tidak cukup untuk meyakinkan orang tua di hadapannya. Dia balik membentak sangar.


"Kamu pikir hotel ini tempat pelarian kriminal. Jangan sembarangan menuduh, kamu !"


"Cepat menyingkir dari hadapanku, atau terpaksa kami seret kau ke kantor" balas sang komandan sambil menunjukan secarik kertas. Bapak tua penjaga keamanan tak bisa berbuat banyak. Nyalinya ciut juga dengan sedikit gertakan.


"Sebaiknya kau menyingkir !" Seru sang komandan lagi. Tangannya yang kekar mendorong tubuh sang penjaga keamanan yang berdiri menutupi lorong menuju koridor hotel kelas melati tersebut. Yang didorong hanya diam dan memberikan jalan pada puluhan pasukan yang sempat tertahan.

__ADS_1


"Lakukan dengan cepat seperti yang sudah kita rencanakan" seru sang komandan lagi. Bersamaan dengan itu, dua orang wanita muda tiba - tiba saja muncul di hadapannya dan terlibat pembicaraan serius.


"Siap komandan !"


Serentak pasukan dengan atribut lengkap itu sudah merangsek maju menyusuri koridor demi koridor di bangunan berlantai lima tersebut. Sebagian besar langsung menuju ke sebuah kamar di lantai empat. Sementara sisanya dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Mereka siaga di beberapa titik yang mungkin menjadi penting bagi target mereka.


"Dasar perempuan ******...!" Umpat pria botak yang tak lain adalah Jarot. Sorot matanya tajam menyaksikan dua orang wanita muda yang sedang berbicara dengan komandan pasukan yang baru datang. Dari jendela kamarnya, dengan jelas ia melihat bahwa dua wanita muda yang telah memuaskan dirinya adalah dua orang informan. Bekas sayatan pisau di bawah matanya membuat wajahnya makin angker. Ditambah lagi dengan kemarahan yang meledak ledak.


"Baik...aku ikuti permainan kalian. Sekarang juga aku bikin mampus mereka !"


"Hei... Apa yang kau lakukan ?!" Seru lelaki tinggi besar yang terbangun akibat kebisingan dan caci maki kawannya. Pria ini keheranan saat Jarot bersiap menarik pelatuk senapannya.


"Dua wanita itu...,ternyata mereka informan"


"Dasar bodoh. Jika kau melepaskan tembakan. Mereka akan mengetahui posisi kita !" Jawab pria tinggi besar yang tak lain adalah Kubil. Pria ini bergegas menarik kawannya agar menjauh dari jendela.


"Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini. Mereka pasti sudah mengepung hotel ini !"


"Benar juga apa katamu. Ini semua gara - gara dua wanita sialan itu"


Setelah memasukan kembali senapannya dengan kekecewaan yang tersisa, Jarot bergegas mengikuti kawannya yang lebih dulu keluar dari kamar yang mereka sewa. Dengan cekatan keduanya masuk ke tangga darurat yang tak jauh dari kamar keduanya.


Bersamaan dengan itu, dari ujung koridor muncul selusin pasukan bersenjata lengkap. Bagai pasukan pembunuh yang buas, mereka langsung bergerak cepat menuju kamar yang dihuni sosok kedua target.


"Stop..!" Seru pria yang paling depan. Kini mereka berada tepat di depan pintu kamar yang sudah ditinggal penghuninya. Seorang yang lain bersiap mendobrak dengan tendangan sekuat tenaga.


Dua kali tendangan sudah cukup membuat pintu kamar jebol dan terbuka lebar. Anggota pasukan langsung menghambur ke dalam dengan senjata siap dikokang.


"Periksa seluruh ruangan !"


"Sepertinya mereka tidak ada di kamar ini, ndan !" Jawab salah satu pasukan.


"Periksa lagi, tidak mungkin kedua wanita itu berbohong." Jawab Sang komandan yang berfikir keras. Kedua matanya menelisik setiap sudut kamar. Perlahan ia melangkah menuju jendela yang terbuka lebar. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa buruannya telah kabur.


"Tak akan kubiarkan kalian lolos." Ucap pria yang telah memimpin berbagai operasi berskala besar di kesatuannya itu.


"Geledah semua ruangan di gedung ini. Aku yakin mereka belum pergi jauh !"


"Siap laksanakan !"


Jawab selusinan pasukan yang bergegas keluar dan berpencar. Beberapa dari mereka terpaksa mendobrak pintu kamar yang tak juga dibuka dari dalam. Namun langkah mereka terhenti saat beberapa kali terdengar suara tembakan.


"Aaahhh... !"


Bruukk... Bruukk...


Jeritan keras diiringi suara tubuh yg jatuh dari atas membuat Jarot dan Kubil sedikit lega. Setidaknya ancaman yang mengintai mereka semakin berkurang. Dua orang yang tertembak terjun bebas dan menggelinding menuruni tangga darurat.

__ADS_1


Selain luka tembak, tubuh kedua pasukan itu juga mengalami luka akibat benturan. Rompi dan helm tak mampu menyelamatkan mereka dari maut. Beberapa bagian tubuh keduanya patah dan darah mengucur deras.


"Cepat turun. Mereka pasti mencari kita ke sini !" Seru Jarot panik. Walaupun dia berhasil menghabisi dua musuhnya. Namun wajahnya terlihat semakin gusar.


"Kau benar. Ayoo.."


Baru saja mereka akan menuruni anak tangga. Tiba - tiba dua orang pasukan masuk dan menodongkan senapan laras panjang.


"Berhenti... !"


"Mau lari ke mana kalian ?!"


Jarot dan Kubil sempat kaget akan kehadiran kedua pasukan yang menyeramkan itu. Namun keduanya tak tinggal diam. Sekali gerakan Kubil berhasil menangkis moncong senapan dan selanjutnya mengambil alih senjata tersebut. Sejurus kemudian anggota pasukan tersebut tersungkur dengan hidung mengeluarkan darah kental akibat dihantam popor senapan yang kini berpindah tangan.


"Mampus kau..!" Seru Kubil setelah melumpuhkan anggota pasukan dengan atribut lengkap tersebut. Detik berikutnya, pria di hadapannya jatuh ambruk dengan luka tembak di leher.


Dooorr....


Dalam waktu yang bersamaan, Jarotpun tak tinggal diam. Diawali dengan berkelit dari moncong senapan. Kemudian secepat kilat kakinya melayang menghantam pria berhelm dan berompi yang menodongnya.


Buuughh...


"Aaahhh..!"


Kerasnya hantaman Jarot membuat pintu tangga darurat yang terbuat dari besi berdentum keras akibat diterjang tubuh gemuk anggota pasukan keamanan. Pria ini mengaduh, bahkan tak menyadari saat senapannya sudah berpindah tangan.


Tak berhenti di situ, pria gemuk dengan kepala botak itu kembali menghajar lawannya hingga pelipisnya berdarah cukup deras. Aksinya diakhiri dengan tembakan yang mematikan. Tiga butir timah panas ia muntahkan di tiga target berbeda. Dua peluru tepat bersarang di dua paha yang berbeda. Satu lagi tepat mengenai kening lawannya.


Melihat lawannya tak juga ambruk walaupun sudah tak bernyawa. Melainkan hanya setengah berdiri dengan bertopang pada kedua lutut. Dengan bengisnya Jarot kembali menghantam lawannya yang sudah sekarat hingga terjengkang.


"Mampus kau..!"


Doorrr.... doorrr...


Dua buah tembakan dari bawah nyaris saja menembus batok kepala kedua penculik. Disusul berondongan tembakan yang membuat keduanya menyingkir. Mereka memutuskan kembali ke koridor hotel di lantai tiga.


Semetara itu, tak kurang dari sepuluh orang pasukan terus naik mengejar dengan semangat menumpas kejahatan. Mereka lupa memperkirakan kemungkinan terburuk. Saat sadar semuanya telah terlambat. Sebuah granat nanas dilemparkan dari atas.


"Awaasss...!"


"Menyingkiiirr...!"


DHUAARR....


Teriakan dari dua anggota pasukan tersebut tak mampu menyelamatkan mereka dari maut. Kerasnya ledakan membuat seisi gedung bergetar hebat. Bahkan beberapa bagian yang sudah lapuk dibuat hancur. Belasan pasukan keamanan yang terperangkap di tangga darurat menjadi korban.


Tubuh mereka sudah tak dapat lagi dikenali. Tercabik hancur dan hangus terbakar. Puluhan potongan - potongan tubuh berserakan dan mengeluarkan aroma tak sedap. Bau bubuk mesiu dan anyir darah menjadi satu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2