
Sembunyi
"Kemana larinya mereka ?!" Seru pria yang belum lama melepaskan tembakan. Moncong senapannya begerak ke sana ke mari mencari sasaran.
"Baru saja kita melihat mereka di depan sana. Mana mungkin bisa menghilang secepat itu" timpal kawannya yang mengarahkan sorot lampu senter jauh ke depan. Namun mereka hanya melihat rumput alang - alang yang bergoyang ditiup angin.
Tak ingin dikuasai rasa penasaran. Kini lampu senter ia arahkan ke segala arah. Namun tetap ia tak melihat siapapun. Hanya kegelapan malam yang menemani mereka berdua. Sesekali suara burung gagak mengagetkan keduanya.
"Yang lain kemana. Kenapa hanya kita berdua yang mengejar mereka ?" Seru pria yang memegang senter protes.
"Entahlah. Mungkin mereka takut akan kegelapan !" Jawab kawannya. Pundaknya tak lelah menopang popor senjata dan terus membidik, mencari sasaran. Keduanya terus melangkah maju.
Sementara itu, beberapa puluh meter di depan, para remaja khawatir jika keberadaan mereka diketahui. Terlihat jelas raut wajah mereka masih menyisakan trauma yang mendalam.
"Jangan ada yang berdiri, tetap menunduk !" Seru Arif lantang. Puluhan remaja itu hanya bisa mengangguk. Sebagian besar dari mereka sangat ketakutan. Sepertinya para remaja itu belum yakin bisa menghirup udara bebas.
"Sebaiknya aku menemaninya... " ucap Ratna. Tangannya menunjuk Topan yang semakin menjauh.
"Topan, namanya !"
"Iya... Topan. Aku khawatir akan keselamatannya.
Tanpa menunggu persetujuan Arif dan Sulis, wanita ini sudah melesat meninggalkan rombongannya. Dengan setengah berlari, Ratna terus mengamati gelapnya malam. Entah mengapa ia sangat mencemaskan remaja yang sudah membebaskannya itu.
"Taa... tapi. Hei tunggu !" Arif coba menghentikannya, namun tak berhasil. Tubuh Ratna sudah menghilang ditelan gelapnya malam. Remaja ini berusaha bangkit untuk mengejar, namun lagkahnya tertahan.
"Hei. Jangan tingalkan kami !" Seru Sulis. Tangannya mencekal kaos lusuh yang dikenakan Arif.
"Maafkan aku. Aku justru khawatir dengan keselamatan kawanmu" balas Arif. Kembali ia jatuhkan tubuhnya di rerumputan. Wajahnya memandang Sulis dengan ekspresi kesal.
"Namanya Ratna. Aku, Sulis" jawab wanita tersebut.
"Semoga mereka baik - baik saja."
"Ya. Kita do'akan saja."
Tak berapa lama, keduanya terdiam dengan fikiran masing - masing. Wajah - wajah lelah dan frustasi menjadikan mereka iba. Namun keduanya juga bingung harus berbuat apa, karena sebagian remaja sudah mulai jenuh. Tak jarang ocehan - ocehan tak jelas keluar dari mulut mereka.
Sementara itu malam semakin larut, bahkan waktu sudah mendekati subuh. Topan berjalan memutar mendekati kedua petugas keamanan yang tadi melepaskan tembakan.
__ADS_1
Duggghh....
Tanpa diduga, sebuah batu menghantam batang pohon yang hanya berjarak satu meter di hadapan mereka. Keduanya sontak saja kaget. Reflek mereka meghindar dan mencari arah datangnya batu seukuran kepalan orang dewasa itu.
"Kurang ajar. Siapa yang berani main - main dengan kita !" Hardik pria yang sedang membidik dengan senapannya. Moncong senjata kini bergeser ke arah samping. Tak hanya itu, pria ini melangkah dengan marah. Beberapa kali tembakkan membabi buta ia lepaskan.
"Terus maju, sepertinya dari arah sana !" Balas kawannya sambil mengarahkan sorot lampu senter beberapa meter ke depan. Topan tersenyum kecil saat menyadari rencananya berhasil. Remaja ini lega karena kedua penjaga keamanan itu makin jauh dari rombongan yang sedang bersembunyi.
Doorrr....dooorr....doorr...
"Mampus kalian...!" Seru pria yang kembali memuntahkan timah panas dengan emosi.
"Hentikan. Bisa habis pelurumu. Sedangkan kita tidak menemukan apa - apa !" Sahut kawannya sambil terus mencari buruannya. Pria yang tadi melepaskan tembakakkan hanya merengut kesal. Dia terus membidik tanpa menjawab. Keduanya berjalan beriringan, menerabas rumput ilalang dan pohon - pohon besar.
"Sekarang tinggal melumpuhkan mereka" Topan membatin sambil terus menunduk. Batang kayu sebesar kaki orang dewasa sudah disiapkan. Di antara rumput ilalang dan gelapnya malam. Kedua matanya terus mengawasi dua pasang kaki yang berjalan mendekat.
Jatungnya berdegup semakin cepat. Dan jari - jari tangannya semakin erat menggenggam batang kayu. Saat yg ditunggu - tunggu pun tiba. Secepat kilat ia tebaskan batang kayu ke atas saat pria yang memegang senapan tepat berada di hadapannya.
Praakkkk...
"Mampus kau !" Seru Topan sambil berdiri dan sedikit melompat. Senapan mental di terjang batang kayu dan hilang di kegelapan malam. Pria yang kehilangan senapan tak lagi sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Karena Topan sudah memutar badannya untuk serangan berikutnya. Batang kayu yang digenggamnya ikut berputar dan Tanpa ampun menghantam wajah pria di hadapannya.
Benturan tulang pipi yang dihantam benda tumpul menimbulkan suara yang menakutkan. Pria yang memegang lampu senter dibuat bergidik menyaksikan apa yang terjadi. Dia dipaksa menyaksikan kawannya mati dengan wajah hancur dan berlumuran darah.
"Setan macam apa kau. Tiba - tiba datang dan membunuh orang semaumu ?!"
Kemarahan yang memuncak membuatnya bereaksi cepat. Bersamaan dengan makian yang keluar, ia merangsek maju sambil melancarkan tendangan keras. Topan yang tak siap mengaduh kesakitan dan tersungkur ke tanah.
"Rasakan itu. Sebentar lagi kepalamu kupecahkan seperti yang baru saja kau lakukan pada temanku !" Serunya lagi dengan kemarahan yang meledak ledak. Kini moncong senjata sudah ia letakkan di kepala remaja di hadapannya.
Bugghhh...
"Aauuu.... !"
Topan meraung kesakitan saat popor senapan menghantam pelipisnya. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Sekuat tenaga ia lawan rasa sakit yang diterima.
"Kemana kau bawa anak - anak itu ?! Bentaknya lagi dengan penuh amarah. Sebuah tendangan kembali melayang ke perut Topan yang hanya bisa pasrah.
"Baiklah, sebaiknya kau bersiap - siap menemui malaikat maut !"
__ADS_1
Topan hanya terdiam dengan posisi terkulai duduk di rerumputan. Darah mulai membasahi pelipisnya. Namun ia tak ingin menyerah. Tangannya mencari sumpit beracun yang terselip di pinggangnya.
Tanpa disadari kedua orang ini, tiba - tiba saja Ratna datang. Sebuah batu sebesar buah kelapa ia hantamkan ke kepala pria yang memegang senapan.
"Mampus kau !" serunya berapi api. Menyadari bahaya mengintai dari arah belakang, pria itu menghindar. Dan secepat kilat ia lepaskan tendangan yang membuat penyerangnya tersungkur ke tanah.
Wuusss...
"Aauuuu...!"
Kesempatan yang hanya beberapa detik itu tidak disia siakan Topan. Secepat kilat ia lesakkan duri tajam yang sudah dibaluri racun mematikan. Seketika anggota pasukan keamanan itu ambruk ke tanah dengan kondisi mengenaskan. Duri beracun menancap tepat di lehernya. Senapan laras panjang ikut jatuh tak jauh dari tuannya.
"Ayo kita kembali !" Seru Topan sambil menjulurkan tangannya untuk membantu Ratna berdiri. Wanita ini keheranan, ia belum mengerti kenapa pria tersebut bisa jatuh dan tiba - tiba mati mengenaskan.
"Ii.. iya...."
Keduanya kembali menuju rombongan yang sedang bersembunyi di antara rumput ilalang.
"Apa kau baik - baik saja ?" Tanya Topan yang menyadari wanita di dekatnya hanya terdiam.
"Aku tidak - apa."
"Kenapa kau diam saja sejak kematian orang tadi. Seharusnya kau temani anak - anak itu saja ?!"
"Aku hanya heran..."
"Heran kenapa ?"
"Setelah menendangku hingga jatuh. Tiba - tiba saja pria itu ambruk dan mati..."
"Ooo... aku kira apa. Ini rahasianya !" ucap Topan sambil tersenyum. Sementara Ratna semakin keherahan melihat sebatang bambu yang di tunjukkan lawan bicaranya. Rasa penasaranya terjawab saat Topan menunjukan duri tajam sepanjang dua puluh senti.
"Racunnya bekerja sangat cepat. Jika siang hari maka kau akan melihat efeknya sangat mengerikan pada mayat orang tadi."
"Pantas saja kau begitu percaya diri."
"Tidak juga."
Tak terasa keduanya terlibat obrolan panjang dan seru. Sesekali gemuruh angin terasa menusuk kulit. Perlahan gelapnya malam mulai memudar.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat puluhan orang bersenjata lengkap bergerak maju. Menerabas apa saja yang menghalangi. Sorot mata tajam memindai ke segala arah. Tangan - tangan kekar tak lepas dari senapan yang menakutkan.