Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Kebohongan Sulis


__ADS_3

Kebohongan Sulis


Kedua pria yang membawa Sulis dan Ratna tak menghiraukan caci maki yang terdengar. Tanpa ampun, Sulis ditarik paksa. Begitupun dengan Ratna. Wanita ini dibopong di pundak pria yang membawanya.


Setelah menyusuri lorong beberapa lama, kedua pria itu berhenti. Salah satu dari mereka membuka gembok sebuah sel yang ada di hadapan mereka. Ratna yang terus meronta diturunkan dengan kasar.


"Cepat masuk !" Perintah pria yang tadi membuka pintu. Tangannya mendorong tubuh Sulis yang berdiri mematung. Dia masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Kamu juga, masuk !" Bentak pria satu lagi. Tubuh ratna yang tadi jatuh terduduk ditarik agar bangun. Kemudian tanpa ampun didorong masuk ke dalam sel yang kosong tersebut.


"Tapi, pak... !"


"Salah kami apa... ?!"


Keduanya tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa menangisi nasib sambil terus mempertanyakan keputusan bos Jhoni.


"Ini perintah....!"


"Maaf, kami tak bisa membantu kalian !"


Hanya itu yang terdengar dari kedua pria yang membawa mereka. Tangis pilu terus terdengar saat kedua pria itu pergi meninggalkan Sulis dan Ratna.


Sulis terduduk bersandarkan dinding ruangan. Tangannya memeluk kedua kakinya yang ditekuk ke dada. Dan lututnya menopang dagu yang basah karena tetesan air mata. Sementara, kedua matanya menatap nanar teralis besi yang mengurungnya.


Sedangkan Ratna berdiri sambil terus memandangi punggung kedua pria yang meninggalkan mereka. Kedua tangannya menggenggam erat tiang - tiang besi di hadapannya. Air matanya luruh membasahi kedua pipi. Dan suaranya lirih memanggil kedua pria tersebut agar membebaskan mereka. Namun sia - sia.


#####


Malam itu, setelah beberapa jam di ruma Saipul, Iwan memutuskan untuk pulang. Dia tak ingin Laras menunggunya dengan kecemasan. Pemuda ini tak menyadari jika Toni dan Riko sudah lebih dulu tiba.


"Silahkan masuk, Bang Toni, Riko.. "


Setelah menjawab salam dan membukakan pintu, Laras mempersilahkan keduanya masuk. Kemudian mereka menuju ke ruang tamu.


"Bang Iwan belum pulang, Laras ?"


Tanya Toni saat kekasihnya kembali dari dapur. Kedua tangan Laras menyangga nampan berisi dua gelas kopi dan sepiring gorengan yang masih hangat.


"Belum, bang..., memangnya ada apa ?"


"Tadi dia sempat telpon, katanya ada yang ingin dibicarakan tentang sebuah pulau yang ia lihat."


Laras membulatkan bibirnya, sementara Riko terlihat menyimak ucapan Toni dengan serius. Keduanya duduk di sofa panjang. Sementara Laras segera duduk di hadapan Kekasihnya.


"Silahkan dicicipi" ucap Laras dengan seutas senyuman di bibirnya. Tanpa menunggu lama, kedua pria di hadapannya meraih kopi yang menggoda selera.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucapan salam dari depan pintu mengagetkan ketiganya. Iwan masuk dengan raut wajah kelelahan.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak. Sontak saja kehadiran Iwan menghentikan aktifitas mereka untuk sementara.


"Ada apa, bang ?" Tanya Laras dengan raut muka penasaran. Diperhatikanya dengan teliti penampilan sang kakak. Wajah kelelahan dan pakaian yang masih sedikit basah menjadi perhatiannya.


"Aku hanya kelelahan Laras" jawab Iwan dengan senyum dipaksakan. Setelah berjabat tangan ketiga pria tersebut terlibat obrolan yang ditunggu - tunggu.


Walaupun Laras tidak puas dengan jawaban dari kakaknya. Namun ia tak ingin membuat Iwan tidak nyaman. Segera ia ke belakang. Tak lama kemudian ia kembali dengan segelas kopi hitam.


"Coba ceritakan apa yang sudah kamu lihat, Wan" pinta Toni.


"Iya bang. Aku juga ingin tau di mana Topan dan Arif disekap." Seru Riko tak kalah antusias.


"Baikah. Akan kuceritakan semua yang sudah aku alami" jawab Iwan pasti. Dipandangi kedua kawan yang ada di hadapannya.


"Diminum dulu bang, mumpung masih panas !" Seru Laras yang menyodorkan segelas kopi hitam yang belum juga disentuh. Gadis ini sama penasarannya dengan kedua pria di hadapannya. Dia duduk disamping sang kakak dan siap mendengarkan.


"Terima kasih, Laras."


Iwan mulai bercerita dari berangkat mengantarkan Sulis hingga ia dikejar dan ingin dibunuh. Sampai ia diselamatkan oleh Saipul dan kawan - kawannya. Semua ia kisahkan dengan gamblang.


"Siapa yang ingin membunuh Bang Iwan ?" Tanya Laras penasaran. Tak bisa ditutupi kecemasan yang tampak di wajahnya.


"Aku tidak mengenal mereka, Laras."


"Apakah mereka ada hubungannya dengan Sulis, Wan ?"


"Aku belum bisa memastikannya, Ton. Memang sepertinya mereka datang dari arah pulau itu."


"Kita harus menyelidiki pulau itu, menurutmu bagaimana, Wan ?"


"Aku setuju, Ton. Sepertinya Sulis menyembunyikan sesuatu."


"Tapi, untuk apa dia lakukan itu."


Tiba - tiba Laras menyela dengan pertanyaan yang sulit dijawab. Iwan hanya mengangkat bahunya saat semua mata memandang ke arahnya.


"Jika benar ini ada hubungannya dengan penculikan adikku. secepatnya kita datangi pulau itu agar semua pertanyaan kita bisa terjawab." Ucap Toni dengan harap - harap cemas.


Pemuda ini khawatir jika sahabatnya tidak sependapat denganya. Setelah apa yang dialami oleh Iwan, ia memahami jika nantinya harus berjuang seorang diri.


"Kapanpun kau mau, aku siap !" Seru Iwan mantap.


"Oke. Bagaimana kalau besok ?"

__ADS_1


"Baik. Lebih cepat lebih baik !"


"Tapi, bang... !"


Laras tampak khawatir. Dia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kedua orang yang ia kasihi. Sadar apa yang difikirkan sang adik. Ia coba menenangkan Laras.


"Kamu tidak usah khawatir. Do'akan saja kami bisa pulang dengan selamat" ucap Iwan datar. Di usapnya pundak sang adik agar kuat melepas kepergian mereka. Gadis ini hanya mengangguk pelan. Sekuat tenaga ia tahan agar bulir - bulir bening tidak membasahi pipi.


Suasana kembali hening. Hanya Riko yang tampak sibuk mengunyah gorengan tanpa henti. Karena waktu semakin larut. Toni dan Riko memutuskan menginap semalam. Besok pagi mereka baru pulang dan selanjutnya mempersiapkan beberapa barang yang diperlukan.


#####


Di malam yang cerah, Topan dan Arif berjalan menyusuri sungai. Mereka terus berjalan diterangi sinar rembulan. Pandangan mereka terhalang saat gumpalan awan berjalan berarak di atas kepala.


"Kita mau ke mana, Pan ?" Tanya Arif penasaran. Suaranya mampu memecah keheningan yang mencekam. Gemericik suara air sungai dan hembusan angin menjadi hiburan keduanya.


"Aku rasa tidak ada salahnya kita ke pantai. Aku berharap ada kapal yang melempar jangkar di sekitar pulau ini."


"Betul. Tidak ada salahnya kita mencoba."


Keduanya terus berjalan berpedoman pada aliran sungai. Mereka yakin sungai itu akan mengantarkan mereka menuju lautan.


"Bagaimana kalau mereka melihat kita, Pan ?"


"Semoga saja tidak ada yang melihat kita, Rif."


"Iya. Pan... "


Tak terasa sudah satu jam keduanya berjalan. Tak ada obrolan, hanya suara hewan malam yang terdengar menakutkan. Dari kejauhan burung gagak berputar - putar di atas satu - satunya bangunan di pulau itu.


"Aku berpikir untuk membebaskan anak - anak yang disekap di bangunan itu, Rif" Topan membuka pembicaraan. Kedua matanya memandang jauh, menyaksikan puluhan burung gagak yang terbang berputar - putar. Sesekali terdengar lengkingan suara mereka yang menakutkan.


Saat ini Topan dan Arif berhenti sejenak. Di gelapnya malam keduanya melawan rasa takut yang hinggap. Namun saat menyaksikan bangunan itu dari jauh, ia kembali teringat sesuatu. Puluhan anak - anak seusianya yang siap menemui ajal setiap saat.


"Bagaimana caranya, Topan ?"


"Aku juga tidak tau, Rif"


"Kita lewat pintu belakang. Yang pernah kita lihat."


"Iya, aku lupa. Itu satu - satunya akses yang tidak terpantau oleh mereka."


"Kapan kita ke sana ?"


"Sebaiknya malam ini. Kita batalkan saja pergi ke pantai."

__ADS_1


"Oke. Aku sudah siap. Percuma jika kita bebas, sementara mereka butuh pertolongan."


Keduanya sepakat untuk mendatangi bangunan menyeramkam itu. Bangunan yang lebih mirip seperti pabrik. Di mana anak - anak korban penculikan disekap. Di situ juga bocah - bocah malang itu menunggu kematian mereka.


__ADS_2