
Transaksi
Di sebuah tanah kosong yang tak jauh dari bangunan yang sudah tak terpakai. Beberapa orang pria tampak memandang jauh ke jalan yang lengang. Hanya beberapa sepeda motor dan mobil yang melintasi jalan tersebut. Salah seorang dari mereka duduk di kursi depan sebelah kiri mobil sedan yang mereka tumpangi. Pria berkacamata hitam ini sesekali melirik jam tangan yang dikenakannya.
Persis di belakangnya seorang pria dengan kaos oblong warna biru, tengah asyik mendengarkan musik dari handphone. Satu orang lagi berdiri di depan kap mobil sedan yang mereka gunakan. Wajahnya terlihat santai, namun matanya awas memindai setiap kendaraan yang melintas.
"Ke mana mereka ?, sudah hampir satu jam kita menunggu" ucap pria berkaca mata. Sementara kawannya yang berdiri mulai merasa tak tenang.
"Sepertinya mereka ingkar janji" jawab pria tinggi yang sedari tadi berdiri. Sesekali topi berwarna coklat yang menutupi kepalanya dibuka, kemudian dipakai lagi. Tak lama kemudian dia langkahkan kakinya, sekedar melepas kebosanan.
"Baiknya kita tunggu saja mereka" ucap pria berkaca mata lagi.
"Betul, karena ini orderan terakhir dari bos. Sebaiknya kita berikan kejutan pada mereka." Jawab pria tinggi bertopi. Sementara pria yang duduk di kursi belakang sedan tersebut, acuh tak acuh dengan obrolan kedua kawannya. Telinganya tertutup, disumpal oleh sesuatu yang mengeluarkan suara musik. Kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti irama musik kesukaanya.
Setelah sekian lama menunggu, tiba - tiba dari arah jalan raya datang sebuah kendaraan minibus berwarna silver. Kendaraan tersebut berhenti tak jauh dari mobil sedan yang ditumpangi oleh tiga orang yang sudah bosan menunggu.
Lima orang turun dari minibus dalam waktu yang bersamaan. Kelimanya adalah anak buah Jhoni yang bertugas melakukan transaksi dengan pembeli. Salah seorang di antaranya menenteng sebuah kotak khusus yang berukuran sedang.
Menyadari siapa yang datang, ketiga orang yang sedari tadi menunggu bersiap. Dengan sigap menyambut rombongan yang ditunggu - tunggu. Kini mereka berdiri berhadap - hadapan dengan kelima orang yang baru datang.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama" ucap salah seorang di antara yang lima. Sementara keempat kawannya tampak siaga. Sorot matanya tajam menelisik setiap gerakan ketiga orang di hadapan mereka.
"Tidak apa - apa. Sudah biasa kami menunggu" jawab pria berkaca mata hitam. Kemudian dari dalam mobil sedannya, ia meraih sebuah koper yang cukup besar. Sebuah Kotak yang dibawa oleh pria di depan mereka menjadi perhatian ketiganya.
"Ini uang kalian. Serahkan barang itu dan kita tinggalkan tempat ini " ucap pria berkaca mata. Tangannya membuka koper, dan menunjukan tumpukan lembaran uang yang memenuhi koper tersebut.
"Baik ambillah barang ini !" Seru pria yang memegang kotak yang berisi sesuatu yang sangat berharga. Kini keduanya saling bertukar antara koper dan kotak yang dipegang masing - masing.
"Tapi ingat. Ini adalah pesanan terakhir dari bos kami !" Seru pria berkaca mata hitam. Diserahkan kotak yang dipegangnya kepada pria tinggi.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu. Bukankah perjanjiannya tidak begitu ?!"
"Memang perjanjian dengan bos kalian tidak begitu. Tapi bos kami berhak memilih !" Seru pria berkaca mata hitam dengan suara meninggi. Perlahan tapi pasti, suasana yang tadi santai seketika berubah tegang. Semuanya dalam posisi waspada.
"Ada pihak lain yang berani menjual dengan harga yang jauh lebih murah, dan kualitas yang jauh lebih bagus !" Serunya lagi. Seutas senyuman tersungging di bibir tebalnya. Sorot matanya tajam seolah menantang.
"Kurang ajar !" Sontak saja pria lawan bicaranya emosi. Bergegas ia membuka pintu kendaraanya dan kembali dengan sebuah pistol jenis colt keluaran terbaru. Keempat kawannya bahkan lebih dulu menodongkan senjata dan memuntahkan timah panas.
DOORR...DOORRR...
Dua kali letusan senjata api terdengar menyalak. Namun, ketiga orang lawannya lebih dulu menghindar. Mereka berlarian. Berhamburan menyelamatkan diri. Ketiganya berlindung di balik mobil sedan yang mereka bawa. Kelima orang anak buah Jhoni tak tinggal diam. Mereka terus merangsek maju dengan senapan ditangan. Wajahnya menakutkan, seolah siap merenggut nyawa siapapun.
"Jangan lari kalian !" Seru anak buah Jhoni yang tak lagi memperdulikan nyawa mereka. Dicarinya ketiga orang tadi menuju belakang mobil sedan. Namun ternyata itu hanya jebakan.
DOORRR.... DOORR... DOORRR...
Serentetan tembakan dilepaskan oleh ketiga orang yang bersembunyi di balik mobil sedan berwarna hitam. Secara bersamaan, tiga buah tubuh anak buah Jhoni ambruk ke tanah tanpa nyawa.
"Hahaha...!, hanya segitu kemampuan anak buahmu. Jhoniii...., Jhoniii !" Ucap pria berkaca mata hitam. Kakinya ditendang - tendangkan ke tubuh lima mayat di hadapan mereka. Memastikan bahwa kondisi mereka sudah benar - benar tak bernyawa.
"Tak kusangka. Ternyata tak sesulit yang kubayangkan" ucap pria dengan topi di kepalanya. Senyuman puas tersungging di bibirnya.
"Iya. Aku juga berfikir begitu" timpal pria berkaos warna biru. Dihampiri kendaraan minibus yang membawa kelima anak buah Jhoni. Tak lama kemudian ia kembali dengan menenteng kotak khusus yang berisi barang orderan terakhir dari bos mereka.
"Sebaiknya kita masukan kelima orang ini ke dalam kendaraan mereka !" Seru pria berkaca mata.
"Iya betul."
Dengan susah payah ketiganya memasukan kelima tubuh yang sudah tak bernyawa itu ke dalam kendaraan mereka sendiri. Setelah itu ketiganya pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
#####
Di ruangan yang tidak terlalu besar, dua orang wanita muda sedang sibuk menyiapkan menu harian untuk seluruh penghuni bangunan di pulau itu. Dengan cekatan Sulis dan Ratna memasukan menu yang berbeda untuk mereka yang akan dieksekusi, untuk petugas keamanan dan untuk atasan seperti Bowo dan Jhoni.
"Selesai juga akhirnya !" Seru Sulis senang. Tangannya asyik memasukan nasi ke dalam piring yang sudah disusun sedemikian rupa.
"Iya, Sulis. Sebaiknya kita istiirahat sejenak" ucap Ratna. Tangannya mengusap peluh yang membasahi wajahnya. Diraihnya sebuah kursi dari plastik dan duduk bersandarkan dinding dapur.
"Aku dengar kamu ingin ke darat, Sulis?" Tanya Ratna. Dipandangi wajah kawannya dengan rasa penasaran.
"Iya. Aku akan mengunjungi ibuku" terang Sulis dengan senyum mengembang. Terbayang wajah orang yang sangat ia cintai.
"Bolehkan aku ikut denganmu, Lis ?"
"Tentu saja."
"Aku ingin mengenal ibumu, Sulis."
"Baiklah. Tapi semua tergantung bos Jhoni."
"Sepertinya aku butuh refresing" ucap Ratna dengan suara pelan. Tak terasa, sudah berbulan - bulan ia berkerja di pulau tersebut.
"Bagaimana kalau kita menghadap bos Jhoni."
"Untuk apa Sulis?"
"Minta ijin agar kamu bisa menemaniku pulang nanti."
"Benarkah. Kau sangat baik Sulis !" Seru Ratna kegirangan. Dipeluknya sahabat satu satunya di pulau tersebut.
__ADS_1
"Kan, agar aku ada teman juga dalam perjalanan" jawab Sulis dengan senyum mengembang. Disambutnya pelukan sang sahabat dengan raut muka bahagia.
"Ooo iya, saatnya kita antarkan makanan ini" seru Sulis sambil bangkit berdiri. Keduanya lantas menata piring - piring yang sudah terisi menu hari ini. Tak lama kemudian keduanya berjalan beriringan, tujuannya adalah sel - sel yang ditempati remaja - remaja yng menjadi korban penculikan.