
Kegigihan
Beberapa jam yang lalu, di sebuah rumah yang cukup megah. Seorang pria turun dari kendaraan plat merahnya. Dengan pakaian kebesarannya, pria setengah baya tersebut disambut sang istri yang menunggu di dalam.
Tak lama kemudian sang sopir yang merangkap sebagai ajudannya mengekor di belakang. Dengan sedikit berlari, ia menyusul langkah bosnya yang sudah menghilang di balik pintu rumah. Tangan kanannya menenteng tas kerja sang bos.
"Ini tas bapak, bu" ucap sang ajudan dengan sikap penuh hormat pada wanita di hadapannya. Tangannya menjulurkan tas berwarna hitam dengan membungkuk.
"Terima kasih" jawab wanita itu singkat. Bersamaan dengan menghilangnya sang ajudan, ia bergegas menghampiri sang suami menuju ke dalam kamar. Dilihatnya sang suami sedang menjawab panggilan telpon dari seseorang. Tak lama kemudian terdengarlah percakapan di antara keduanya.
"Hallo, ada apa Jhoni ?, tumben malam - malam begini telpon saya !"
"Maaf mengganggu, jenderal. Ada masalah dengan anak buah saya di lapangan."
"Masalah bagaimana Jhon ?"
"Belum lama, saya dapat laporan kalau kedua anak buah saya diculik. Sampai sekarang saya belum tahu kondisi mereka."
"Ooo... begitu. Baiklah, segera saya perintahkan anak buah saya untuk melakukan pencarian !"
"Terima kasih banyak, jendral !"
"Jangan sungkan - sungkan, Jhoni... , seperti kita baru kenal saja !"
"Iya, Jenderal."
"Ooo.. iya, Jhoni. Kamu dan kedua orang kepercayaanmu itu harus lebih berhati - hati, karena interpol sedang memburu kalian !"
"Benarkah, jenderal..?"
"Benar. Informasi ini belum lama saya dapatkan. Dan ini sangat bisa dipercaya."
"Kenapa mereka masih menginginkan kami. Bukankah kasusnya sudah selesai ?"
"Karena kalian melarikan diri dari penjara itu. Dan kini pasukan keamanan di sana membantu interpol untuk memburu kalian !"
"Berarti mereka sudah mengetahui keberadaan kami !"
"Benar Jhoni. Tapi kau tidak usah khawatir, tak akan kubiarkan mereka membawa kalian untuk diadili dan ditahan di sana lagi."
"Baiklah. Terima kasih bantuan dan informasinya, jenderal !"
"Sama - sama, Jhoni !"
__ADS_1
Tak lama, sambungan telpon terputus. Sang istri yang sedari tadi hanya berdiri dan mendengarkan percakapan suaminya, kini mendekat. Diraihnya kerah pakaian kebesaran suaminya untuk kemudian di letakan di tempatnya.
"Siapa yang tadi telpon, pak ?" Tanya sang istri dengan wajah penasaran. Sang suami yang kini hanya mengenakan kaos oblong tersenyum.
"Itu, Si Jhoni yang pernah bapak ceritakan" jawabnya.
"Bukannya dia beroperasi di eropa sana ?" Jawab istrinya sedikit heran.
"Awalnya memang ia melakukan aksinya di eropa. Setelah ia ditangkap dan melarikan diri, kini ia mencari korbannya di sini, bu" terang suaminya dengan santai.
Tak lama kemudian mereka keluar kamar dan berjalan menuju ruang makan keluarga. Kini keduanya sudah terlihat sibuk dengan makanan masing - masing. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar.
#####
Sementara itu, suasana di tanah lapang semakin ramai dan mencekam. Di tengah lapangan berhenti sebuah truk yang di hadang oleh tiga truk yang baru datang. Truk berwarna hitam yang membawa orang kepercayaan Jhoni terjepit dan terkepung di tengah.
Bruk... bruk... bruk...
Puluhan pasukan berseragam coklat dengan sigap melompat turun dari kendaraan tanpa dikomando. Kemudian mereka mencari posisi terbaik untuk membidik. Ada yang berdiri dengan posisi membidik sasaran. Popor Senapan laras panjang diletakkan di bahu, sementara kedua tangannya mengarahkan moncong senapan mencari sasaran. Ada juga yang berjongkok bahkan tiarap.
"Serahkan kedua orang itu atau kalian tidak bisa pulang ke negara kalian !"
Belum hilang keterkejutan pasukan yang ada di truk berwarna hitam. Tiba - tiba terdengar suara yang terasa mengintimidasi. Tak lama kemudian, turunlah seorang pria dari salah satu truk yang baru datang.
"Jangan mendekat komandan, sangat berbahaya !" Seru salah satu anggota pasukannya yang sedang siaga.
"Iya, aku tahu !" Jawabnya singkat. Dialihkan pandangannya pada seluruh anggota pasukan yang sedang siaga penuh.
"Jangan ada yang melepaskan tembakan. Tunggu aba - aba dari saya !" Serunya lagi. Sementara dari truk berwarna hitam belum ada reaksi apapun.
"Sekali lagi saya katakan. Lepaskan kedua orang yang kalian bawa. Sebelum pasukan saya kehilangan kesabaran. Siapapun yang menjadi pimpinan, silahkan turun. Saya menjamin keselamatan anda !"
Sekali lagi dia memberi ultimatumn cukup keras. Selesai ia berkata demikian, turunlah seorang pria yang merupakan pimpinan pasukan yang ada di dalam truk berwarna hitam. Salam hormat sebagai sesama aparat dia berikan, sebelum memulai negosiasi.
Beberapa anak buahnya ikut turun dan sebagian lagi tetap di atas truk. Mereka terus mengawasi dan menjaga kedua penculik yang sudah mereka cari sejak beberapa tahun yang lalu.
"Selamat malam, komandan !" Seru pria tinggi besar yang baru turun. Wajah dan warna kulitnya yang putih sedikit pucat, tidak membuat pria ini kesulitan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Aksen Indonesianya sangat fasih bahkan nyaris sempurna.
"Selamat malam !" Jawab sang komandan dengan seragam coklat kebanggaanya. Sorot matanya tajam menatap lawan bicaranya. Walaupun dari segi postur tubuh, ia lebih kecil.
"Cepat serahkan kedua orang itu !" Serunya lagi, tak ingin berbasa - basi. Pria dengan satu bintang di pundaknya ini mengarahkan pandangan ke dalam truk di mana Jarot dan Kubil meringkuk tak berdaya.
"Tidak bisa. Mereka adalah buronan kami sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka melarikan diri dari salah satu penjara di eropa !"
__ADS_1
"Jika ingin membawa mereka, biarkan mereka diadili terlebih dahulu di sini !"
"Maaf komandan, tetapi kasus mereka bukan hanya di negara anda. Sebelumnya korban mereka juga banyak di eropa !"
"Ini adalah negara kami, dan mereka adalah warga negara kami. Jadi biarkan mereka diadili di sini !"
"Tapi komandan... !"
Seketika suasana menjadi tegang saat keduanya tetap pada pendiriannya masing - masing. Pasukan berseragam hitam yang sedari tadi terlihat tenang, kini bersiaga. Kedua pasukan kini saling membidik dalam jarak yang sangat dekat.
"Tahaann... !" Seru komandan pasukan berseragam coklat. Tangan kanannya diangkat untuk memberi aba - aba agar tidak memuntahkan timah panas. Pria tinggi berkulit putih yang menjadi lawan bicaranya tampak berfikir sejenak. Dia tidak ingin gegabah, mengingat jumlah pasukan yang kalah banyak.
"Bagaimana... ? Saya tidak punya banyak waktu. Anak buah saya bisa saja melepaskan tembakan jika kau terlalu lama bersikap !" Serunya lagi. Kembali tatapannya lurus ke lawan bicaranya. Ekspresi wajahnya dingin dan mengintimidasi.
"Baiklah !" Jawab pria tinggi besar. Dia balik badan menghadap pasukannya yang masih di atas kendaraan.
"Turunkan kedua orang itu !" Serunya lagi. Dia tak ingin jatuh korban dari kedua belah pihak. Walaupun tak bisa ditutupi kekecewaan yang terpancar jelas di wajahnya.
Tak lama kemudian, Jarot dan Kubil berjalan menuruni kendaraan militer itu dengan tertatih. Wajah keduanya terlihat sangat kusut. Tetesan darah masih terlihat dari luka - luka yang mereka dapatkan.
"Bawa mereka naik !" Seru sang komandan dengan lantang. Tak lama kemudian ia menghampiri pria di hadapannya dengan senyum mengembang. Tak lupa pelukan hangat dan jabat tangan perpisahan ia berikan. Lantas bergegas keduanya menaiki kendaraan masing - masing dan meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu empat pasang mata tak berkedip menyaksikan semua adegan di tengah lapangan yang sedang terjadi. Dari belakang rumah kosong, keempat pemuda tersebut menanti kemana kedua penculik itu akan dibawa.
"Pasukan berseragam hitam itu siapa, Gas ?" Tanya Toni pada Bagas yang belum beranjak dari tempatnya. Iwan dan Riko menatap yang ditanya menanti jawaban.
"Jika melihat seragamnya, sama seperti seragam aparat yang menggiring Jhoni dan kedua anak buahnya saat kutunjukan berita di sebuah artikel" jawab Bagas mengingat ingat.
"Apakah itu polisi khusus kejahatan internasional ?" Tanya Toni lagi.
"Interpol maksudmu. Sepertinya begitu" jawab Bagas yakin. Ketiga kawannya manggut - manggut. Kini perhatian mereka tertuju kepada empat buah kendaraan militer yang berjalan beriringan. Tiga truk berwarna coklat berbelok ke arah kiri. Sementara satu truk berwarna hitam berbelok ke arah kanan.
"Gagal lagi kita, Ko !" Ucap Toni dengan raut wajah kecewa.
"Iya bang. Tapi setidaknya kedua orang itu tidak jadi dibawa ke luar negeri" ucap Riko dengan senyum optimis.
"Benar kamu, Ko. Perasaanku mengatakan mereka tak akan lama ditahan !" Seru Iwan yakin. Wajahnya diedarkan pada kawan - kawannya.
"Iya bang. Seperti malam itu, waktu mereka hampir mati diamuk massa. Mereka lantas diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Keesokan harinya, mereka sudah berkeliaran lagi mencari mangsa" ucap Riko panjang lebar. Toni, Iwan dan Bagas hanya tersenyum mendengar Riko berceloteh.
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari persembunyian. Keempatnya berjalan menuju kendaraan mereka yang terparkir di depan rumah kosong. Terangnya malam dan gemerlap bintang menjadi saksi betapa gigihnya mereka dalam menemukan keberadaan Topan dan Arif.
Sama gigihnya dengan kedua remaja itu. Berjuang bertahan hidup di alam liar. Dan gigih melawan musuh yang siap memangsa, baik manusia ataupun hewan buas.
__ADS_1