
Penyamaran
Di ruangan yang tak terlalu besar. Jhoni merebahkan tubuhnya di sebuah kasur kusam. Pria yang seluruh rambutnya sudah memutih itu menatap layar tv yang berjarak lima meter di hadapannya. Setelah seharian disibukkan dengan aktifitasnya. Kini ia coba mencari hiburan, walau hanya dengan menonton acara tv.
Jari telunjuknya beberapa kali menekan remote control. Aktifitasnya terhenti saat layar kaca menampilkan sebuah acara berita terbaru. Wajahnya tampak antusias memandang wanita cantik sang pembawa acara.
Namun tak berapa lama, raut wajahnya terlihat gusar dan sedikit pucat. Kedua alisnya menyambung dan dahinya mengkerut saat kedua matanya menyaksikan judul berita di bagian bawah layar kaca.
'BERSIH - BERSIH DI INSTITUSI KEAMANAN'
Itulah judul berita di bagian bawah layar kaca yang membuat Jhoni tercengang. Seakan tak percaya, ia pusatkan pendengarannya untuk memastikan berita yang sangat mengusik ketenangannya itu.
"Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak. Akhirnya presiden, selaku orang nomer satu di negeri ini. Dan panglima tertinggi di institusi keamanan. Telah melakukan langkah - langkah berani guna mengembalikan kepercayaan masyarakat."
Jhoni yang terpaku menatap layar kaca, menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal. Kedua matanya dipaksa menyaksikan hal mengejutkan. Sang Jenderal yang selama ini menjadi pelindungnya digiring dan dijebloskan ke dalam jeruji besi. Dia didakwa atas berbagai kejahatan yang menggerus kepercayaan masyarakat.
Sang Jenderal harus bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah atas beberapa kasus yang dituduhkan kepadanya. Membekingi bandar narkoba, ilegal logging, perjudian, tambang ilegal dan perdagangan orang, adalah sebagian contohnya.
"Setelah mencuatnya berbagai macam kasus yang menyeret beberapa petinggi di institusi keamanan. Presiden bergerak cepat dengan mengganti pihak - pihak yang diduga terlibat. Figur - figur yang bersih dan humanis diyakini akan mengisi pos - pos yang ditinggalkan. Demikian berita terkini yang bisa kami sampaikan."
Pembawa acara yang cantik dan suaranya yang merdu tak lagi digubris oleh Jhoni. Ekspresi wajahnya berubah dengan cepat. Kedua rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Kemarahan mulai menguasai dirinya. Dengan sekuat tenaga, remote control dilemparkan.
Praaakk...
Seketika benda tersebut hancur berkeping keping saat menghantam layar televisi. Tak sampai di situ. Umpatan dan makian terlontar dari mulutnya. Terbayang masa - masa sulit yang akan dilalui.
"Aku harus memastikan kebenaran berita tadi." Ujarnya pelan. Diraihnya handphone yang berada disisinya. Sebuah nomer kontak ia tekan, namun tak ada tanda - tanda akan dijawab.
Tuttt...tuutt...tuutt...
Setelah menunggu cukup lama, panggilan tak juga diangkat. Beberapa kali dia mengulang, tetap nihil. Hingga Jhoni beralih ke nomer lain. Kini ia sudah tersambung dengan seseorang.
"Halloo... ada apa, bos ?" Seru seseorang di seberang sana.
"Kamu sudah lihat berita malam ini ?"
"Belum bos. Memangnya ada berita apa. Sepertinya bos begitu panik ?!" Jawab anak buahnya yang tak lain adalah Jarot. Pria botak ini terheran - heran dengan nada suara Jhoni yang tak seperti biasanya. Suaranya yang lantang dan berapi - api seolah hilang entah ke mana.
"Jenderal yang menjadi andalan kita sudah tamat."
__ADS_1
"Tamat bagaimana, bos ?!"
"Mereka sedang bersih - bersih. Beberapa jenderal ikut tersapu hingga ke jeruji besi. Jenderal andalan kita termasuk yang menjadi pesakitan."
"Kalau benar, ini masalah yang sangat serius buat kita, bos."
"Itu yang aku fikirkan. Coba kamu cek kebenaran berita ini, dan segera laporkan secepatnya kepadaku !"
"Baik bos....!"
Seketika panggilan terputus. Pria yang sudah memasuki usia senja itu menarik nafas kasar. Tak pernah terbersit dalam hatinya hal seperti ini akan terjadi.
"Siapa kira - kira yang bisa menggantikan jenderal yang selama ini kuandalkan ?"
Jhoni bermonolog. Dengan wajah murung, ia menatap langit - langit ruangan yang kusam. Sekusam wajahnya yang sudah sepuh. Perlahan tapi pasti kedua netranya terpejam. Ia masuk ke alam mimpi yang mungkin bisa sedikit menghiburnya.
#####
Topan dan Arif menyelinap di antara pepohonan yang menjulang tinggi. Berjalan memutar, mereka sengaja menuju bagian di mana tumpukan mayat berada. Sesekali kedua tangan mereka menyibak tanaman alang - alang yang menghalangi pandangan.
Tak terasa, keduanya kini sudah berhadapan dengan puluhan mayat anak - anak sebayanya. Keduanya menutup hidung saat mencium aroma tak sedap yang sangat menyengat. Dengan lampu senter kecil, Topan dan Arif menyaksikan hal mengerikan.
Mayat - mayat itu dibuang begitu saja dengan kondisi mengenaskan. Organ vitalnya sudah raib entah ke mana. Kedua mata, jantung, hati, paru - paru hingga ginjal menjadi permata yang sangat berharga bagi manusia bengis berhati binatang.
"Sekarang bagaimana, Pan ?" tanya Arif sambil menatap kawannya.
"Kita tunggu pintu itu terbuka, Rif."
Jawab Topan. Keduanya menatap pintu besi yang sudah keropos. Walaupun sudah larut malam, namun keduanya masih bisa menyaksikan kondisi di sekitarnya.
Sesekali beberapa ekor burung gagak turun dan mencabik - cabik santapannya. Sontak saja puluhan mayat yang sudah rusak itu, semakin hancur tak berbentuk. Meninggalkan tulang dan tenggkorak yang mengerikan.
Cukup lama Topan dan Arif menunggu. Hingga terdengar langkah dua pasang kaki yang sedang berjalan. Diiringi suara berdecit roda troly yang didorong. Perlahan suara yang tadinya samar - samar, kini terdengar jelas dan semakin dekat. Di atas troly teronggok dua mayat remaja dengan kondisi mengenaskan.
"Sebaiknya kita sembunyi dibawah pintu itu, Rif."
"Iya, Pan" Arif mengikuti kawannya yang berada tepat di bawah pintu besi. Tumpukkan mayat berada persis depannya. Tak lama kemudian pintu itupun terbuka diiringi pancaran sinar lampu yang datang dari dalam.
Kreeeekkk...
__ADS_1
Buukkk... buukkk...
Dua mayat remaja dibuang begitu saja. Topan dan Arif hampir saja menjerit ketakutan saat salah satu mayat menggelinding dan berhenti tepat di hadapan mereka. Keduanya tersadar saat pintu kembali tertutup. Topan bergerak cepat sebelum dua orang yang membawa troly kembali ke dalam.
Duugghhh...dughhh...dughh...
Dia gedor pintu besi dengan keras. Hal tersebut membuat satu orang kembali lagi. Dengan wajah penasaran, kembali ia buka pintu yang sudah terkunci. Senter yang dibawanya diarahkan mencari asal suara.
"Haaahh... mungkin suara binatang buas."
Saat tengah mengamati setiap sudut hamparan hutan. Dua pasang mata tak melepaskan pandangan darinya. Topan membari kode pada kawannya. Dan secepat kilat ia tarik tangan pria yang berada tepat di atasnya.
"Aaauuu...!"
Sebuah erangan terdengar saat pukulan menghantam punggung pria tersebut. Sebatang kayu yang dihantamkan Sudah cukup membuatnya pingsan. Sementara itu, pria yang menunggu dengan troly terlihat gelisah.
"Di mana kamu... ?!"
Seolah tersadar, pria ini mendekat ke pintu. Kedua matanya mencari keberadaan kawannya sambil terus memanggil manggil. Hingga tepat di depan tumpukkan mayat pria ini terus memanggil kawannya.
"Aaauuu.... !"
Buugghhh...
Kembali pria ini ditarik hingga terjungkal ke bawah. Kemudian secepat kilat sebuah hantaman batang kayu membuatnya pingsan. Tak menunggu lama, Topan dan Arif melucuti pakaian kedua pria tersebut.
Kreeekkk....
Setelah beberapa lama, pintu besi yang sudah keropos dikunci dari dalam. Topan dan Arif berjalan dengan dengan tenang. Kedua tangan mereka mendorong troly besi berukuran besar.
"Pakaian ini bau sekali.. "
Sungut Arif kesal. Tangannya mengibas - ngibaskan pakaian yang dikenakan. Pakaian yang lebih mirip seperti jas hujan itu kini melekat di tubuh keduanya. Tak lupa sarung tangan plastik dan masker bedah juga terpasang di badan mereka.
"Sepertinya tidak pernah dicuci."
Timpal Topan sambil menutup hidungnya yang tertutup masker. Rambut mereka juga tertutup oleh penutup kepala khusus. Beberapa kali ia kesulitan berjalan karena sepatu botnya kebesaran.
"Sepatu bot ini menyusahkan saja."
__ADS_1
Gerutu Topan sambil terus berjalan. Disampingnya, Arif hanya tersenyum kecut. Keduanya terus berjalan menyusuri lorong yang berliku - liku. Tak jarang keduanya menangkap suara - suara berisik penghuni sel. Ada juga suara tangisan dan rintihan yang terdengar begitu memilukan.