
Penjelasan
Ciiiitttt....
Tiin..... tiiiiinnn....
Suara kendaraan yang tiba - tiba berhenti mendadak berdecit panjang. Disusul suara klakson yang bersahut - sahutan menggema di jalan yang mengarah ke pintu keluar area dermaga.
Sang pengemudi tampak kesal. Sumpah serapah keluar tanpa terkendali. Matanya melotot ke arah sopir bajaj yang sedang menurunkan penumpang di tengah jalan. Sementara itu, sang sopir bajai tampak tenang membukakan pintu belakang kendaraanya. Tak ketinggalan seutas senyumana ia persembahkan untuk penumpangnya saat menerima selembar uang berwarna biru.
"Bajai sialan.... !" umpat Kubil yang berada di belakang kemudi. Segera ia tancap gas setelah bajai menghilang dari hadapannya. Tak lama kemudian mereka sudah menuju jalan besar yang akan membawanya ke seluruh pelosok kota.
"Santai saja, tidak usah terburu - buru" ucap Jarot datar. Sesekali dilemparkan pandangannya ke arah kawannya yang tampak gelisah. Beberapa saat kemudian matanya menyipit, memperhatikan dengan detail apa yang di pantulkan oleh kaca spion.
"Siapa pemuda yang tadi mengejarmu ?" tanya pria tinggi besar dengan raut muka yang masih terlihat tegang. Tangannya sigap memainkan setir mobil yang di kendarainya.
"Aku tidak mengenalnya" jawab kawan di sebelahnya singkat.
"Lantas kenapa dia begitu ngotot ingin berbicara denganmu ?"
"Aku juga tidak tahu. Aku sangat yakin belum pernah bertemu dengannya. Tapi dia berkata sebaliknya."
"Aku curiga dia sedang memata - matai kita. Itu sebabnya kenapa aku ingin cepat - cepat meninggalkan tempat itu" ucap Kubil tampak emosional. Matanya awas melihat ke depan dan sesekali melirik kaca spion.
"Saat kita sudah di mobilpun, dia masih berusaha mengejarku" jawab pria botak yang tak lain adalah Jarot dengan suara meninggi.
"Iya, aku juga melihatnya tadi. Tapi kamu tenang saja, preman - preman itu sedang memberi pelajaran padanya" ucap Kubil meyakinkan. Senyum simpul tercetak di wajahnya.
"Kamu menyuruhku tenang, sementara kamu sendiri mengendarai mobil seperti sedang dikejar sekumpulan bajing loncat !"
"Aku cuma khawatir kedua preman tadi tidak bisa mengatasinya. Lalu pemuda itu terus mengganggu kita !"
"Alaaaaahhh... Bilang saja kamu ketakutan sama pemuda tegap itu, kan ?!" ledek Jarot dengan senyum sinis. Di telisiknya wajah kawannya yang makin memerah bagai udang rebus. Sementara Kubil tersenyum kecut walau hanya sesaat, karena selanjutnya keduannya tertawa lepas.
"Hahaha..... !!"
#####
"Apa yang terjadi bang ?!" seru seorang wanita muda saat menyambut abangnya di ambang pintu rumah. Wanita yang berusia sekitar dua puluh tahun itu adalah adik Iwan. Pemuda yang kini di papah Toni memasuki ruang tamu rumah mereka. Selama ini mereka hanya tinggal berdua, karena kedua orang tua mereka sudah tiada.
"Aku tidak apa - apa, hanya luka kecil" jawab Iwan kepada adiknya yang kini ikut memapahnya ke dalam. Wanita berparas ayu dengan kulit putih ini terlihat sangat khawatir dengan keadaan abangnya. Terlebih saat pandangan matanya tertuju pada bekas jahitan yang tertutup oleh perban berwarna putih.
__ADS_1
"Bang Iwan habis berkelahi ?" tanya wanita muda tersebut. Sesekali tatapannya dia arahkan pada Toni dan Riko yang membawa Iwan pulang ke rumah. Sementara Iwan hanya terdiam sambil memegangi perban yang membalut bekas jahitan lukanya.
"Bang Iwan pernah janji sama Laras kalau Bang Iwan tidak akan berkelahi lagi. Jawab bang... !" cecar wanita itu, Laras namanya. Dia terus menuntut jawaban dari abangnya. Sementara itu, wajahnya berubah pias. Perlahan bulir bening menetes di pipi halusnya.
"Iya Laras. Abang habis dikeroyok dua orang" jawab Iwan pelan. Ia tak tega membohongi adiknya. Matanya tertunduk, tak berani menatap Laras.
"Maafkan aku Laras. Seandainya aku lebih cepat datang, pasti abangmu takkan seperti ini" ucap Toni yang merasa tak enak menyaksikan perdebatan keduanya. Ditatapnya wanita yang pernah dikecewakannya. Perlahan rasa itu kembali datang. Rasa yang pernah menyatukan kedua hati manusia yang berbeda jenis tersebut.
Laras hanya terdiam, tak sanggup menatap Toni. Wanita ini tak ingin kembali terjebak pada situasi yang membuatnya frustasi. Situasi di mana ia hampir saja mengakhiri hidupnya karena ditinggalkan begitu saja oleh sang kekasih. Air matanya semakin luruh. Tumpah bersama kenangan yang kembali berputar - putar di memori kepalanya.
Bingung dengan keadaan yang ada. Apakah harus marah, sedih, atau senang. Toni, sang mantan kekasih yang tiba - tiba datang setelah pergi meninggalkannya begitu saja. Bergegas ia balik badan, meninggalkan ketiganya.
Braakkk... !
Suara pintu dibanting mengagetkan ketiganya. Iwan merasa tak enak hati, di pandangnya Toni dan Riko yang hanya diam membisu dengan fikiran masing -masing
"Maaf Ton, selama ini aku tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kepergianmu" ucap Iwan pelan.
"Tidak apa - apa Wan. Aku juga salah, karena tidak memberi kabar saat meninggakannya" jawab Toni. Perlahan ingatannya menerawang mundur ke belakang. Beberapa tahun yang lalu, saat ia dan Iwan masih menjadi anggota pasukan khusus.
Suasana malam itu cukup ramai di sebuah kafe. Alunan musik dangdut yang dibawakan sepenuh hati oleh sang biduan mampu membius pengunjung.
"Kita ke pojok sana" ucap Iwan kepada ketiga kawannya yang saat itu mencari hiburan. Iwan, Toni, dan dua orang kawannya yang warga sipil berjalan perlahan menuju meja kosong di pojok ruangan kafe. Baru melewati beberapa meja yang penuh dengan segala macam obrolan. Tiba - tiba saja mereka dikejutkan oleh sebuah perkelahian.
Seorang pemuda bersimbah darah, jatuh tersungkur di hadapan Iwan dan Toni. Sementara suasana kafe menjadi riuh oleh hiruk pikuk kejadian tersebut.
Dibantingnya beberapa kursi yang menghalangi pergerakannya. Menyaksikan nyawa seseorang terancam, bergegas Iwan menahan pria gemuk yang sudah menghunus belati di tangannya.
"Sabar bang, sabar.... !" seru Iwan sambil melangkahi pria yang bersimbah darah. Tangannya menahan pergerakan pria gemuk agar menghentikan langkahnya. Sementara Toni yang berdiri di samping Iwan, tidak menyadari jika pistol jenis coltnya sudah berpindah tangan.
"Minggir kalian. Jangan ikut campur !" seru pria gemuk dengan rambut sebahu. Dengan sorot mata tajam, dan pisau belati yang siap memakan korban. Pria ini mendorong tubuh Iwan hingga terjatuh. Di bawah redupnya lampu di kafe itu, ia bersiap menghujamkan belati kepada pria yang sudah bersimbah darah. Namun sesuatu yang di luar dugaan terjadi.
Dooorrr.... doorrr...
Dua kali letusan terdengar diikuti ambruknya tubuh lelaki gemuk dengan belati di tangan. Toni baru menyadari pistolnya telah dicuri saat lelaki yang bersimbah darah tadi melarikan diri. Tak lama berselang, datang lima orang berseragam coklat. Toni dan Iwan dibawa ke kantor untuk dimintai keterangan.
Beberapa saat kemudian, setelah rombongan berseragam coklat pergi membawa Toni dan Iwan. Datanglah mobil ambulan dengan para medis. Dengan sigap lelaki gemuk dimasukkan ke dalam mobil ambulan agar segera mendapatkan pertolongan.
#####
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di tahanan. Toni dan Iwan akhirnya bisa menghirup udara bebas.
Tok tok tok....
__ADS_1
"Masuk."
"Komandan memanggil kami ?" tanya Toni yang sebelumnya memberi hormat. Begitupun dengan Iwan. Di hadapan mereka duduk seorang pria dengan seragam kebesaran. Wajah tuanya tidak mampu menghilangkan kharisma yang memancar.
"Betul. Silahkan duduk" ucap sang Komandan singkat. Tangannya meraih dua amplop berwarna putih.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar kalian tidak ditahan lebih lama..." ucapannya terhenti sejenak. Wajahnya bergantian memandang kedua pemuda di hadapannya. Sementara Iwan dan Toni diliputi kebingungan, namun mereka berusaha tenang.
"Namun ternyata orang yang terkena tembakan di kafe itu bukan orang sembarangan. Dia selamat dan bersumpah akan menuntut balas" ucap komandan lagi. Wajah Toni tampak tegang. Dia tak menyangka akan seperti ini kejadiannya.
"Tapi bukan aku yang menembaknya !" seru Toni sedikit gemetaran. Iwan hanya mengangguk kecil.
"Dia mengincar kematianmu Toni, karena pistol itu milikmu. Dan dia mengira kamulah yang menembaknya !" seru sang komandan lagi.
"Apa yang harus kami lakukan ?" tanya Iwan sedikit cemas.
"Saya sudah berdiskusi dengan pimpinan lelaki yang tertembak itu. Keputusannya kalian berdua..." suaranya tercekat dan ucapannya kembali terhenti. Wajahnya pias menandakan keputusan sulit akan diambil. Sementara Kedua pemuda tampak pasrah, siap dengan segala keputusan sang komandan.
"Kalian berdua.... dibebas tugaskan" akhirnya terucap juga kalimat yang mengganjal di hatinya.
"Apaaa...!!" Kedua pemuda tampak kaget.
"Ini adalah keputusan sulit. Saya harap kalian menerima dengan lapang dada. Karena jika keputusan ini tidak diambil, saya khawatir hubungan kedua institusi akan semakin tidak harmonis " ucap sang komandan lagi. Diserahkan kedua amplop yang sedari tadi berada di tangannya.
"Kami menerima keputusan ini komandan. Terima kasih atas bimbingannya selama ini" ucap Toni tegar walau terlihat rasa kecewa dari raut wajahnya.
"Kami permisi komandan !" Seru keduanya kompak dan tak ketinggalan salam perpisahan mereka berikan. Keduanya beranjak meninggalkan ruangan, namun paggilan sang komandan membuat langkah Toni terhenti.
"Toni.... !"
"Siap komandan !" ucap toni setelah membalikkan badannya.
"Untuk menjaga hal - hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kamu meninggalkan kota ini sampai kasus penembakan itu dihentikan.
"Baik, terima kasih atas sarannya komandan !" Jawab Toni singkat. Bergegas langkahnya dipercepat agar bisa sejajar dengan Iwan yang sudah menjauh.
#####
"Jadi begitu ceritanya, Laras. Aku harap kamu mau memaafkan aku" ucap Toni pelan. Mereka kini duduk bersisian di tepi ranjang. Toni memberanikan diri menghampiri Laras dengan terlebih dulu meminta ijin sang kaka.
Laras hanya termenung, sesekali tangannya mengusap air mata yang tertumpah. Ia sedikit lega, karena ternyata sang kekasih tidak seperti dugaannya selama ini.
"Kamu mau kan memaafkan aku, Laras ?" tanya Toni penuh penekanan. Diangkatnya dagu sang kekasih dengan telunjuknya. Ia ingin menyaksikan mata indah itu berhenti menangis.
__ADS_1
Sementara Laras sedikit demi sedikit kembali membuka hatinya. Walau sejatinya, hatinya tidak benar - benar tertutup. Dua bola mata indah itu kini memancarkan gairah. Perlahan senyuman manis tercipta di wajahnya yang ayu.
Tanpa ucapan, hanya seutas senyuman sudah cukup bagi Toni. Keduanya kini sama - sama menatap, sama - sama tersenyum dan sama - sama merangkul. Dan yang pasti sama - sama siap untuk menyambung kembali kisah kasih yang pernah terpisah.