Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Makin Semangat


__ADS_3

Makin Semangat


Sesuai lnstruksi dari komandan mereka, barisan dibubarkan. Untuk mengisi waktu satu jam ke depan, beberapa dari mereka ada yang kembali ke barak. Namun ada juga yang menikmati pemandangan di sekitar pantai. 


Hamparan pasir putih yang lembut, terlihat memanjang mengikuti bentuk pulau yang bulat. Beberapa buah batu berukuran raksasa teronggok di ujung penglihatan mereka. Dua batu berukuran  raksasa yang terlihat eksotis berdiri berdampingan. Di antara keduanya terdapat celah selebar dua meter. Siapapun yang berdiri di tempat itu, maka akan merasakan sensasi berada di antara dua tebing tinggi yang mengagumkan.


"Sebenarnya siapa kedua anak itu ?" Tanya salah seorang anggota satuan pengamanan. Pria tinggi kurus ini mengedarkan pandangan pada beberapa kawannya yang duduk menghadap ke laut lepas. Sementara tanganya memainkan pasir pantai yang lembut


"Aku juga penasaran dengan kedua bocah itu !" Seru yang lainnya. Di hadapan mereka beberapa gulungan ombak datang silih berganti dan saling berkejaran.


"Kalau mendengar cerita para senior, mereka melarikan diri saat baru tiba di pulau ini"  celetuk pria yang duduk paling ujung. Matanya lurus ke depan, menikmati pemandangan lautan luas.


"Jika benar mereka mampu bertahan sampai sekarang, di tengan kondisi alam yang liar seperti itu. Tentu kita harus berhati - hati jika menemukan mereka"  balas salah seorang yang duduk di tengah.


"Kita disuruh menangkap mereka  hidup - hidup. Kalau mereka menyerang kita, bagaimana ?" Tanya pria tinggi kurus, diikuti tatapan kawan - kawannya.


"Apakah kalian ada yang pernah bertugas di hutan seperti ini?" Tanya pria tinggi lagi.


"Aku pernah bang. Menjaga area pertambangan."  Jawab pria yang duduk di ujung. Sementara beberapa kawannya hanya mendengarkan percakapan mereka. Tampak raut muka penasaran dari wajah mereka.


"Kenapa berhenti bekerja di sana ?" Cecar pria tinggi kurus. 


"Mana ku sanggup bang. Tinggal di mess yang dikelilingi hutan belantara. Kita mau apa - apa harus ke kota dulu. Kendaraan hanya satu, yaitu perahu kecil. Tidak ada jalan raya, hanya aliran sungai akses ke kota"  jawab pria yang duduk di deretan paling ujung panjang lebar. 


Tengah asyik menikmati pemandangan yang memanjkan mata, tiba - tiba sebuah panggilan mengagetkan mereka. 


"Cepat kembali ke barak. Kalian ditunggu komandan !"  Seorang kawan mereka melambai - lambaikan tangan saat seluruh tubuhnya menyembul keluar dari sela - sela batang pohon yang saling berhimpitan. Sesekali tepukan tangan menggantikan suaranya.


"Sepertinya mereka sudah bersiap - siap" ucap salah seorang di antara mereka. Tanpa dikomando, mereka bangkit dan berjalan menuju kawannya yang menunggu.


"Ayo cepat. Kalau sampai komandan marah, bisa berabe urusan" ucap pria tinggi kurus. Langkah kakinya yang panjang sudah jauh meninggalkan kawan - kawannya di belakang. 


Tak lama kemudian, sampailah mereka di depan pintu utama  bangunan besar. Di hadapan mereka sudah berkumpul puluhan kawan sesama anggota dengan kondisi siap tempur. Para pemuda ini yakin mampu membawa dua orang yang paling dicari di pulau itu.


"Hei kalian... cepat ambil senapan di dalam !" Seru Bowo sambil mengarahkan telunjuknya ke arah beberapa anak buahnya yang baru datang. Tanpa menunggu lama, pria tinggi kurus dan beberapa kawannya masuk ke dalam. Tak lama kemudian mereka kembali dengan senapan laras panjang menggantung di pundak. 

__ADS_1


"Semua sudah Siap ?!" 


"Siap komandan !" 


"Kita berpencar. Cari kedua anak itu dan bawa ke hadapan bos Jhoni hidup - hidup. Pencarian dihentikan jika waktu malam sudah tiba !" Seru Bowo memberikan instruksi untuk yang terakhir kali. Kemudian ia membagi anak buahnya menjadi beberapa kelompok. Tiap - tiap kelompok mencari ke arah yang berbeda. 


#####


Sementara itu, di dalam gua yang tak terlalu besar. Kedua remaja sedang tidur - tiduran beralaskan daun - daun kering. Arif terlihat sudah memejamkan matanya. Gerakan Perutnya kembang kempes secara teratur. Menandakan ia sudah tertidur dengan nyenyak. 


Sedangkan Topan hanya sesekali memejamkan mata, kemudian membuka kembali. Beberapa kali ia edarkan pandangan ke mulut gua. Dicobanya untuk terus memejamkan mata, namun tidak bisa. Sudah berulang kali ia merubah posisi tubuhnya agar bisa membawanya ke alam mimpi, namun tetap gagal.


"Ada apa ini, Kenapa aku tidak bisa tidur ?" Guman remaja itu dalam hati. Perlahan ia bangkit dan berjalan ke arah luar gua. Diedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Tidak ada yang aneh"  ucapmya lagi membatin. Kedua kakinya terus berjalan mengitari area sekeliling gua yang mereka tempati. Tangannya menyibak berbagai macam tumbuhan semak yang menyamarkan keberadaan gua tersebut.


Sesekali wajahnya mendongak ke atas, di mana sedang bekerumun monyet hutan dengan suara khasnya. Namun tak seperti biasanya, keberadaan hewan tersebut justru membuatnya semakin gelisah. Diraihnya buah ciplukan yang berada di hadapannya. Kemudian disantapnya buah sebesar kelereng itu dengan harapan sedikit meredakan rasa gelisahnya. 


Begitu asyiknya Topan meresapi rasa buah yang sedikit asam, hingga ia tak menyadari keberadaan  beberapa orang  yang sedang berjalan menuju  ke arahnya. Topan baru menyadari hal tersebut saat ia kembali melemparkan pandangan jauh ke depan. Di mana  sekitar lima puluh meter darinya, beberapa orang yang sedang berjalan tergesa denga raut wajah tegang. 


Bergegas Topan kembali ke gua dan membangunkan Arif yang tertidur pulas. 


"Bagun Rif..., Arif cepat kita tinggalkan tempat ini !" Seru Topan panik. Digoyang - goyangkan tubuh kawannya yang masih terpejam.


"Ada apa, Topan ?!" Seru Arif sedikit kesal. Matanya mendelik seolah tak terima dibangunkan saat sedang menikmati mimpi indahnya.


"Cepat Rif. Mereka semakin dekat !" Seru Topan lagi. Segera diraihnya pisau belati dan sumpit yang biasa menemaninya. 


"Apa... ?!" Seru Arif seperti tersentak kaget. Segera ia bangkit dari tidurnya. Bergegas ia mengikuti apa yang dilakukan kawannya. Diraihnya apapun yang bisa digunakan di saat yang dibutuhkan. 


"Aku tak ingin mati di sini. Perut dibedah dan dibuang begitu saja seperti bangkai tikus!" Serunya lagi. Di kepalanya berputar ingatan saat menyaksikan tumpukan mayat dalam kondisi mengenaskan. Bagian dada sampai perut dalam kondisi terbelah dan organ - organ vitalnya hilang entah ke mana.


"Lewat sini, Rif !" Seru Topan saat menyaksikan kawannya berjalan ke arah datangnya orang - orang yang mencari mereka. Seperti orang linglung, Arif dikuasai kepanikan yang sangat akut. Segera ia berbalik arah dan mengikuti langkah kawannya. 


Dari jarak yang semakin dekat ke arah gua. Hanya beberapa puluh meter jaraknya, ketiga orang anak buah Bowo terus menerabas apa saja yang menghalangi langkah mereka. Tak ada tanda - tanda kelelahan dari ketiganya. 

__ADS_1


Sulitnya medan yang di dominasi oleh pohon - pohon besar berusia puluhan, bahkan ratusan tahun yang berdiri saling menghimpit. Belum lagi tumbuhan semak dan tumbuhan berduri yang menutupi hampir seluruh kontur tanah yang makin menajak.


Namun semua itu tak menyurutkan semangat anak buah Bowo untuk menjalankan tugas mereka. Ketiganya bertekad mempersembahkan kedua buronan itu ke hadapan bos besar Jhoni.


"Kita sudah berjalan sejauh ini, tapi kedua bocah itu belum juga kita temukan !" Seru pria tinggi kurus dengan raut wajah yang mulai kelelahan. 


"Sebaiknya  terus kita telusuri  hutan ini sampai mereka kita temukan"  jawab kawannya yang berjalan di belakangnya. Ketiganya berjalan beriringan karena sulitnya jalur yang mereka lewati.


"Sebaiknya kita istirahat sebentar di sini !"  Seru pria dengan topi kupluk yang menutupi kepalanya. Kedua kawannya tak menjawab. Tubuh mereka sudah jatuh ke semak - semak karena rasa lelah yang mulai mereka rasakan.


"Tempat apa ini" tanya pria dengan topi kupluk saat menyadari pemandangan di hadapan mereka. Kedua kawannya memicingkan mata ke arah yang ditunjukan pria bertopi kupluk. Secara bersamaan mereka bangkit dan menyibakkan tanaman menjalar dan tanaman semak yang menutupi pandangan mereka. Betapa kagetnya mereka saat terpampang  mulut gua di hadapan ketiganya.


"Guaa... !!!" 


Seru ketiganya kompak. Seolah mendapatkan tenaga tambahan, ketiganya merangsek masuk ke dalam gua yang tak seberapa besar itu.


"Mereka bermalam di sini, rupanya"  ucap pria tinggi kurus yakin. Dia berjongkok dan memperhatikan sisa - sisa peninggalan Topan dan Arif.


"Sepertinya mereka sudah mendiami gua ini cukup lama" jawab kawannya yang sedang mengacak - ngacak sisa api unggun yang sudah padam dengan kakinya. 


"Iya. Sepertinya begitu" kali ini pria dengan topi kupluk yang bicara.


"Lantas, bagaimana rencana kita ?" Tanya pria tinggi kurus. Dia pandangi wajah kawannya bergantian, menanti jawaban.


"Sebaiknya kita kejar mereka. Sepertinya mereka belum jauh"  jawab pria dengan topi kupluk yakin.


"Aku pikir juga begitu, karena hari masih siang. Jika kita kembali tanpa kedua anak itu, pasti komandan akan marah."


"Ya sudah, tunggu apa lagi. Cepat kita tangkap kedua bocah itu !" 


Tanpa menunggu lama, ketiganya bangkit. Hilang rasa lelah yang tadi mendera. Berganti dengan semangat menggebu - gebu untuk menemukan buruan mereka.


Bergegas ketiganya kembali ke mulut gua dan mengikuti jejak yang ditinggalkan Topan dan Arif. Tanaman semak yang patah dan rusak menjadi patokan ketiganya untuk menemukan kedua remaja yang mereka cari.


"Ayo, lebih cepat !" Seru pria tinggi kurus yang berjalan paling depan. Langkah kakinya yang panjang seolah sedang berlari.

__ADS_1


"Iya, jangan sampai mereka lari lebih jauh !" Jawab pria dengan topi kupluk sambil terengah - engah. Kawannya yang paling belakang tak bersuara. Hanya terdengar deru nafasnya yang makin kasar. Keringat mengucur deras dari pria yang tak mampu mengimbangi kecepatan kawannya.


__ADS_2