
Saling incar
Setelah menunggu berjam jam, Jarot dan Kubil belum juga ada tanda - tanda akan meninggalkan tempat tersebut. Sementara kantin makin ramai oleh mereka yang ingin sarapan. Ada juga yang sekedar menghangatkan tubuh mereka dengan segelas kopi dan sebatang rokok.
Di pojok ruangan kantin, Toni dan Riko tidak menyadari jika kehadiran mereka sudah diketahui oleh orang - orang suruhan Jhoni. Pria gemuk dengan kepala botak yang menyadari keduanya tengah diawasi sejak dini hari. Segera meraih benda pipih yang ada di meja. Tak lama kemudian sebuah sambungan telpon terhubung.
"Hallo, ada apa ?!" Seru seseorang yang menjawab panggilan dari pria botak yang bernama Jarot.
"Cepat kemari, mereka ada di sini" ucap Jarot dengan suara sengaja ia pelankan. Sementara itu, Kubil tengah asyik bercengkerama dengan pelayan warung kopi yang berpakaian sexy dan menantang. Sesekali ujung matanya melirik ke pojok ruangan kantin tersebut, memastikan Toni dan Riko masih ada di tempatnya.
"Ke mari, ke mana....Botak ? Kamu bicara yang jelas. Pagi - pagi begini, kamu sudah mengganggu saja !" Jawab pria di sambungan telpon yang bernama Robert. Dialah yang sempat menyerang Toni secara membabi buta di mini market.
"Ke pelelangan ikan dekat dermaga. Mereka ada di dalam kantin."
"Mereka siapa yang kamu maksud ?, dasar botak. Habis kesabaranku bicara denganmu !"
"Yang kemarin di mini market itu. Sekarang mereka ada di sini. Mengawasi kami"
"Kau ini bagaimana, Jarot. Kalau bicara begitu dari tadi, kan aku mengerti !"
"Cepat, sebelum mereka meninggalkan tempat ini."
"Iya..., kau diam saja di situ. Aku jemput Si Leo dulu !"
Jarot memutus sambungan telpon, dan meletakkan kembali handphone nya di meja. Sekilas ia melirik pada Toni yang masih saja mengawasinya. Pandangan Toni dialihkan saat incarannya melirik ke arahnya. Hampir saja keduanya saling beradu pandang.
"Bagaimana ?" Tanya Kubil saat ia kembali duduk di samping kawannya.
"Dia akan ke sini berdua dengan Leo"
"Bagus kalau begitu. Ayo kita tinggalkan tempat ini."
"Kalau kita pergi sekarang. Nanti Robert tidak menemukan mereka. Karena pemuda itu pasti membuntuti kita."
"Iya, betul juga" ucap Kubil datar. Tangannya meraih segelas kopi hitam yang tinggal setengah. Sementara Itu, Toni dan Riko mulai gelisah. Mereka ingin pergi namun akan kehilangan jejak buruannya. Dan otomatis mereka tidak akan mendapatkan informasi penting tentang keberadaan Topan dan Riko.
"Sampai kapan kita menunggu begini, bang ?" ucap Riko dengan penuh tanda tanya. Beberapa kali ia menguap, mengusir rasa kantuk yang terus datang.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ke sana" ucap Toni yang terpancing oleh ucapan remaja di hadapannya. Perlahan tapi pasti, ia bangkit dan berjalan menghampiri Jarot dan Kubil.
"Aku bagaimana bang ?" Tanya Riko dengan ekspresi kebingungan. Bagaimanapun, ia sudah dikenali oleh para penculik itu.
"Kau diam saja di situ !" Seru Toni sambil terus berjalan mendekati buruannya. Sementara itu, Pria botak terlihat panik saat menyadari sang pemuda berjalan menuju ke arahnya. Wajahnya mulai pucat dan rasa cemas mulai merambat ke sekujur tubuhnya. Kubil dibuat bingung saat menyadari perubahan ekspresi pada wajah kawannya.
"Ada apa ?" Tanya Kubil kebingungan. Sementara yang ditanya hanya mengarahkan jari telunjuknya tepat pada seorang pemuda yang pernah dilihatnya. Spontan ia menoleh dan tak bisa menutupi keterkejutannya.
"Sialan...dia lagi !" Seru Kubil emosi. Spontan ia berdiri dan mendekati Toni. Beberapa meter di depannya, Toni tampak tenang berjalan menghampiri keduanya.
"Kamu lagi. Apa maumu anak muda !" Hardik Kubil lantang. Kini keduanya sudah saling berhadap - hadapan.
"Kau bawa ke mana adikku ?!" Seru Toni garang. Sementara itu, Jarot hanya menyaksikan tak berani mendekat.
"Aku rasa kawanku sudah mengatakannya kemarin. Apa kau sudah kehilangan ingatanmu ?" Ucap Kubil mengejek. Sekilas sudut matanya melirik kawannya yang tersenyum simpul.
"Jika aku kehilangan ingatan, bisa jadi kau akan kehilangan nyawamu" seru Toni dengan senyum mengembang di bibirnya. Muka Kubil berubah merah, mendengar ucapan pemuda di hadapannya. Sontak dia naik pitam. Pantang baginya dilecehkan sedemikian rupa.
"Kurang ajar. Sombong sekali kau, anak muda !" Hardik Kubil. Emosinya tak bisa lagi ditahan. Sebuah pukulan melayang dengan kekuatan penuh. Wajah Toni menjadi target. Namun Toni reflek mundur selangkah, menghindari serangan tersebut.
Kubil semakin beringas. Setelah pukulan pertama meyambar angin. Kini ia melepaskan tendangan sekuat tenaga.
BRAKKKK....
Sebuah meja panjang patah menjadi dua bagian saat Toni secepat kilat menghindar ke samping. Para pengunjung kantin berlarian menghindari perkelahian itu. Toni terus menghindar sambil mencari celah yang bisa dieksplorasi. Riko yang menyaksikan perkelahian itu tampak cemas saat kawannya terus - terusan diserang .
"Hajar terus. Ayooo.... !" Seru Jarot. Kini ia bangkit memberiikan semangat pada kawannya. Sementara itu Toni terus menghindar. Sebuah pukulan melayang dengan kecepatan tinggi. Namun kali ini Toni tidak mau mengambil resiko.
Ditepisnya pukulan lawan dengan tangan kanan. Sejurus kemudian, tangan yang sama mengepal dan secepat kilat menghantam wajah lawannya. Tak sampai di situ, Dengan kecepatan tinggi, Toni memutar badannya. Sementara tangan kanannya mengepal dan memutar kemudian menghantam wajah Kubil untuk yang kedua kali.
BUUKKK...
"Aduuhhh... !"
Kubil mengaduh keras, saat dua kali wajahnya kena pukulan. perlahan darah menetes dari lubang hidungnya. Kursi dan bangku berantakan tak karuan. Para pengunjung sudah meninggalkan ruangan tersebut dan hanya menyisakan empat orang. Tiba - tiba sebuah suara membelah kerumunan warga yang menutupi pintu masuk kantin.
"Minggir. Biarkan kami lewat !"
__ADS_1
"Minggir. Bubar... bubarr...!!"
Dua orang datang dan merangsek, memaksa masuk. Yang satu wajahnya ditutupi brewok yang lebat, dan rambutnya panjang sebahu. Sementara yang satu orang lainnya berpostur kecil. Keduanya datang dengan memasang wajah menyeramkan.
Tanpa basa basi, keduanya langsung bergabung dengan Kubll. Ketiganya kini mengurung Toni dengan sabetan dan tusukan golok dari segala arah. Dikurung sedemikian rupa, tidak membuat Toni ciut nyalinya. Justru pemuda itu makin semangat untuk membasmi mereka semua.
"Hanya kalian berdua. Kenapa tidak kau ajak semua kawanmu ?!" Seru Toni lantang. Wajahnya menyiratkan kemarahan. Jika tak mau dikatakan nekad. Sorot matanya tajam dan tangannya mengepal siap melampiaskan semua gemuruh di dada.
"Sombong kali kau, anak muda !" Pria brewokan menjawab. Suaranya yang berat selaras dengan wajahnya yang sangar menakutkan.
"Tidak usah berlama - lama dengan cecunguk ini. Habisi saja dia dan tinggalkan tempat ini !" Seru pria dengan postur badan kecil, tidak sesuai dengan bacotnya yang besar. Selesai bicara, tiba - tiba saja pria ini sudah memegang golok yang siap mencari sasaran.
Kubil tersenyum lepas, karena merasa di atas angin dengan kehadiran dua orang yang baru datang. Sesekali tangannya menyeka darah yang masih menetes dari hidungnya. Entah siapa yang memulai, tiba - tiba saja ketiganya sudah melancarkan serangan dengan berbagai cara.
"Rasakan ini, anak muda !" Seru pria brewokan. Tinjunya melayang mengincar wajah Toni. Yang diserang menyingkir ke samping. Namun belum sempat ia bernafas lega, sebuah tebasan golok melesat dengan kecepatan tinggi. Menyadari bahaya di depan mata, ia lompat ke belakang beberapa langkah.
Tebasan golok hanya mengenai angin. Dan kini bersiap dengan serangan susulan. Kubil melancarkan sebuah tendangan. Namun dipotong oleh Toni, dan benturanpun terjadi.
DUUUGH...
Pria tinggi mengaduh kesakitan saat mata kakinya dihantam tendangan Kaki Toni. Tak sampai di situ, sejurus kemudian hantaman kaki pemuda tersebut melayang dan mengenai ulu hati pria tinggi besar itu.
Kubil jatuh terduduk memegangi bagian ulu hatinya yang terasa sakit. Menyaksikan hal tersebut, Jarot bangkit dan bergegas membawa kawannya untuk menjauh. Tinggal tersisa dua orang yang harus diberi pelajaran. Sementara itu, Riko menyaksikan pertarungan tak seimbang tersebut dengan was - was.
"Rasakan ini !" seru pria kecil sambil menebaskan goloknya tepat mengarah ke leher Toni. Yang diserang reflek menundukkan kepalanya ke belakang. Bersamaan dengan itu, kaki kanannya melancarkan serangan mematikan.
BUUGGGHHH....
Pria kecil tersungkur ke belakang saat kaki Toni tepat menghantam dadanya. Goloknya jatuh dan menancap pada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Dari mulutnya terdengar suara terbatuk - batuk. Sementara tangannya meraba bagian dada yang terasa sakit.
Menyaksikan dua kawannya berguguran dalam waktu yang hampir bersamaan. Pria brewokan yang bernama Robert mengamuk. Dengan membabi buta ia tebaskan golok yang terhunus. Kini Toni terkurung dalam gelombang serangan ilmu golok dari Robert. Sekuat tenaga ia menghindari gempuran berupa tebasan dan sabetan golok yang datang silih berganti.
"Hati - hati bang !" Seru Riko yang terlihat panik menyaksikan kawannya yang hanya tangan kosong harus menerima serangan bertubi - tubi dari lawannya yang menggunakan golok. Pada satu kesempatan, Robert berhasil melukai Toni pada bagian lengannya.
"Aaauuu.... !"
Toni menjerit saat senjata tajam tersebut mengoyak lengan kanannya. Tak sampai di situ, Robert terus memburu dengan mengjncar bagian - bagian vital pada tubuh lawannya. Pada satu kesempatan Robert menebaskan goloknya ke arah dada lawannya. Namun kali ini Toni lebih siap. Secepat kilat ia tangkap gagang golok lawannya, dan secara bersamaan ia hantamkan tinju tepat pada pergelangan tangan lawannya. Sontak saja, Robert menjerit kesakitan dan goloknya terjatuh. Kesempatan tersebut tak disia - siakan Toni.
__ADS_1
Sebuah pukulan di wajah, berhasil membuat darah menyembur dari sela - sela bibirnya. Kembali sebuah pukulan menghantam perut Robert yang hanya bisa mengaduh. Tak mau memberi angin, sekali lagi Toni menyarangkan tinjunya tepat di pipi lawannya. Seketika tubuh Robert ambruk di lantai kantin yang berantakan .
"Ammmpunnn ... !" Seru pria brewokan saat Toni kembali ingin memukulnya. Sementara itu, Riko berjalan menuju arena pertarungan. Toni mengurungkan niatnya. Ia alihkan pandangannya, mencari dua orang penculik yang ternyata sudah menghilang.