Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Ikhlas


__ADS_3

Ikhlas


Pria berkepala plontos menyeringai menyeramkan saat menyaksikan lawannya tersudut. Pria ini sangat yakin secepatnya bisa menghabisi pemuda di hadapannya. Dengan amarah yang menguasai dirinya. Ia terus menyerang  menebas dan membacok membabi buta.


     "Mampus kau !" Hardiknya sambil menebaskan golok tepat pada bagian perut lawannya. Reflek Toni menghindar dengan cara melompat kesamping kanan. Kemarahan pria berkepala plontos makin menjadi saat senjata tajamnya menancap begitu dalam pada kulit batang pohon beringin. Sekuat tenaga ia menariknya, namun tak berhasil.


     "Dasar golok sialan !" Gerutunya. Kesempatan itu tak disia - siakan oleh Toni. Secepat kilat ia hantamkan sebuah tinju yang mendarat tepat di wajah pria plontos hingga terhuyung. Begitu kerasnya pukulan Toni, hingga membuat lawannya sempoyongan dan menjauh dari goloknya yang masih menancap di batang pohon beringin. Di pipinya tampak memar akibat pukulan Toni. Kini mereka  sama - sama tangan kosong. 


     BUUGGHHH....


Untuk yang kedua kali pria plontos mengaduh kesakitan saat tendangan kaki kanan Toni menghantam perutnya. Pemuda itu terus melancarkan pukulan dan tendangan bertubi - tubi. Kondisi tersebut membuat posisi lawannya tertekan, dan hanya mampu melindungi tubuh sebisanya.


     "Siapa yang menyuruh kalian ?" Tanya Toni lantang. Dengan kemarahan yang tak bisa dibendung lagi, ia ingin mengorek informasi  yang lebih banyak. Namun lawannya bergeming. Diacuhkan pertanyaan sang pemuda.


     "Cuiiihhhh.... pergi saja kau ke neraka!" Maki pria dengan kepala plontos. Dengan posisi yang terjepit, ia masih bisa melayangkan pukulan. Secepat kilat Toni menghindar dengan cara memiringkan badannya. Secara bersamaan, tangannya menangkis pukulan yang datang dan sejurus kemudian melancarkan serangan balasan. Tangan kirinya menekan kepala pria plontos ke depan. Sementara dari depan, kepalan tinju tangan kanannya berulang kali mendarat tepat di wajah lawannya. 


Sontak saja, wajah  pria berkepala plontos babak belur. Matanya merah dan pelipisnya berdarah. Sementara hidungnya patah dan bibirnya pecah. Darah juga menetes dari sela - sela bibirnya. 


     "Sekali lagi aku tanya. Siapa yang menyuruh kalian !" Hardik Toni menggelegar. Tak dihiraukannya lagi kendaraan yang berjalan melambat karena menyaksikan mereka berkelahi. Suara klakson saling bersahut sahutan memberi kode agar kendaraan yang di depan segera berjalan. Pria berkepala plontos masih bungkam. Kini ia jatuh terduduk dengan muka penuh darah. Sementara Riko masih mengawasi dari kejauhan.


     "Baik, jika kau masih bungkam. Jangan salahkan aku jika jari tanganmu berkurang !" Seru Toni dengan kemarahan yang masih menguasai dirinya. Diambilnya pisau belati yang terselip di pinggangnya. Dan kini bersiap menebaskan belatinya ke jari tangan kanan pria berkepala plontos. Namun gerakannya terhenti.


    "Baik.... hentikan" ucap pria berkepala plontos sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepala dengan maksud memohon ampun.


     "Cepat katakan... !" Bentak Toni dengan penuh emosi. Tanpa disadari, sekumpulan warga sudah berkumpul  dan saling tanya tentang apa yang sedang terjadi.


     "Kami disuruh Jhoni."


     "Di mana dia?!" Tanya Toni lagi."


     "Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Kami hanya berkomunikasi lewat hp."


     "Kemana adikku dibawa?! "


     "Sumpah, aku tidak tahu. Biarkan aku pergi" jawab pria berkepala plontos dengan menghiba. Darah masih menetes dari beberapa titik di wajahnya. Kerumunan massa yang tadi berkumpul, mendadak membubarkan diri saat dari kejauhan terdengar bunyi  sirine meraung raung memecah kepadatan jalanan.


     "Cepat kita tinggalkan tempat ini bang !" Seru Riko yang tampak panik. Setengah berlari, ia segera menghampiri kawannya.

__ADS_1


     "Oke !"


Suara sirine semakin mendekat dan memekakkan telinga. Bergegas Toni menghampiri sepeda motornya dan segera meninggalkan tempat tersebut. Dari boncengan, Riko menyaksikan beberapa petugas mengefakuasi mayat lelaki yang lehernya hampir putus.


#####


Malam itu Toni memutuskan pulang ke rumahnya. Begitu juga dengan Riko, karena rumah keduanya hanya berjarak beberapa puluh meter saja. Ditemani kedua orang tuanya, Toni asyik menyaksikan acara kesayangannya di televisi. Sesekali ketiganya terlibat dalam obrolan. Dari yang sifatnya santai sampai yang serius, seperti kabar Topan dan Arif.


     "Ini teteskan di lukamu" ucap Ibu Wati. Di tangannya terselip obat tetes berwarna merah. Toni meraih apa yang dibawa oleh sang ibu.


     "Biar ibu saja, angkat lengan bajumu" ucap ibunya lagi. Perlahan cairan merah jatuh membasahi luka goresan sepanjang  lima senti di lengan anaknya. Kemudian beralih ke bagian kaki yang juga terdapat luka akibat tebasan golok. Sementara sang bapak hanya tersenyum saat anaknya mengaduh karena rasa perih.


     "Kamu habis berkelahi, Ton ?" Tanya Pak Sholeh masih dengan senyum. Dipandangi wajah anaknya yang tampak kelelahan. Ibu Wati yang juga memandang wajah anaknya, terlihat dengan jelas rasa khawatir di wajahnya.


     "Iya pak."


     "Coba ceritakan pada bapak."


     "Apakah ada hubungannya dengan hilangnya adikmu, Ton...?" 


     "Kedua penculik itu lolos, Ton?" Cecar Pak Sholeh menyayangkan. dipandangi wajah anaknya menunggu jawaban.


     "Betul pak. Tapi setidaknya kita sudah mengetahui jika Topan dan korban penculikan lainnya tidak disekap di kota ini" Jawab Toni tenang. 


     "Sebenarnya,  sudah beberapa kali Toni berhasil memaksa kedua penculik itu untuk mengatakan tempat penyekapan anak - anak yang mereka culik."


     "Terus...!"


     "Itulah masalahnya pak, bu.. " 


    "Maksudmu bagaimana, Ton ?" 


     "Maksud Toni, kedua orang itu ngotot tidak mau memberi tahu keberadaan korban penculikan. Termasuk Topan dan Arif."


Ibu Wati dan Pak Sholeh manggut manggut tanda mengerti. Tak lama kemudian Ibu Wati meninggalkan anak dan suaminya menuju dapur.


     "Kamu harus lebih berhati - hati, nak" ucap Pak Sholeh. Wajahnya menyiratkan keprihatinan tentang nasib anaknya, Topan.

__ADS_1


Bagaimanapun ia tak ingin kehilangan seorang anak lagi. 


     "Ini, diminum, Ton..., pak.. " ucap Ibu wati seraya meletakkan dua gelas kopi hitam di hadapan keduanya. Tak menunggu lama, kedua bapak dan anak segera mencicipi minuman beraroma khas tersebut.


     "Setelah ini rencanamu apa, Ton ?" tanya sang ibu dengan mimik wajah penasaran. Dia segera duduk di sebelah Toni. Kedua tangannya enggan melepaskan nampan plastik yang kini berada dalam dekapannya. Sedangkan Toni berfikir sejenak sebelum menjawab.


     "Iya Ton. Apa yang akan kamu lakukan untuk menemukan adikmu ?" Belum Toni menjawab, sebuah pertanyaan dari bapaknya kembali datang. Sang pemuda menatap wajah kedua orangtuanya. Terlihat jelas gurat - gurat kecemasan di antara wajah sepuh keduanya. 


     "Untuk saat ini, Toni belum punya rencana. Tapi bapak dan ibu tidak usah khawatir, Toni akan melakukan apapun untuk menemukan Topan"  jawab Toni pelan dan sedikit tercekat di tenggorokan. Perlahan dia usap matanya yang mulai basah. 


     "Jika seandainya nanti Toni tidak mampu menemukan dan menyelamatkan Topan, itu berarti Toni adalah anak yang tidak berguna." 


Ucapnya lagi. Kali ini ucapannya bergetar menandakan gejolak yang ada di dalam dirinya. Sementara kedua matanya semakin basah dan tak bisa ditutup - tutupi lagi. Kedua orang tuanya menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi. Mungkin sepuluh tahun yang lalu mereka melihat anak pertamanya terakhir kali menangis.


     "Jangan berandai - andai seperti itu, nak. Tidak baik" ucap sang bapak bijak. Tangannya menepuk nepuk pundak sang anak, memberi semangat.


     "Iya Toni. Tidak baik bicara begitu. Tugas kita adalah berusaha dan berdo'a. Masalah hasil, sepenuhnya kita pasrahkan kepada Allah. Sang Pemilik  Alam Semesta." 


Ucap sang ibu yang sedikit bisa menghiburnya. Kemudian diraihnya kepala sang anak agar bisa didekapnya. Toni hanya bisa terdiam  menahan tangis dalam pelukan sang ibu tercinta.


     "Jikapun Topan tidak bisa ditemukan. Ibu dan bapak sudah ikhlas Ton. Berarti itu sudah ketetapan zat yang menggenggam jiwa kita, Allah." Ucap sang bapak menambahkan. Sontak saja, kalimat tersebut membuat Toni makin larut dalam kesedihan. Bayang - bayang wajah Topan berlari larian dalam ingatannya.


Sebagai seorang kakak, tentu ia sangat menyayangi adiknya. Walaupun tak jarang keduanya berbeda pendapat yang membuat mereka  tak saling tegur. Bahkan beberapa kali sempat adu fisik. Jika sudah begitu, Toni berinisiatif untuk mengalah.


#####


Sementara itu, jauh di sebelah utara ibu kota Jakarta. Di sebuah pulau yang tak banyak diketahui oleh masyarakat. Baik itu nelayan ataupun aparatur pemerintahan. Dua remaja sedang merebahkan tubuhnya di sebuah gua yang terpencil di ujung pulau tersebut.  


Keduanya menghabiskan malam dengan ngobrol ngalor ngidul. Bekas luka masih jelas terlihat di wajah dan tubuh keduanya. Tak jauh dari  posisi mereka terdapat api unggun kecil. Walaupun tidak besar, namun setidaknya api unggun ini mampu mengusir hawa dingin dan gigitan serangga hutan.


     "Bagaimana lukamu, Rif ?" TanyaTopan . Keduanya kini rebahan beralaskan dedaunan dan alang - alang yang sudah kering. 


     "Sudah baikan, Pan" jawab Arif. Tangannya meraba bekas - bekas pukulan di sekujur tubuhnya.


      "Kamu sendiri, bagaimana ?"


     "Sama Rif. Lukaku juga sudah baikan" jawab Topan. Diedarkan pandangannya ke luar gua . Yang terlihat hanya kegelapan. Kedua remaja ini sangat bersyukur menemukan gua yang bisa mereka tempati. Selain bisa berlindung dari panas dan hujan. Mereka juga bisa terhindar dari binatang buas. Yang tak kalah pentingnya, mereka bisa bersembunyi dari kejaran anak buah Jhoni. Karena bagian luar gua terhalang oleh lebatnya tumbuhan merambat dan tumbuhan semak.

__ADS_1


__ADS_2