
Penyelamatan
Sisa - sisa kegelapan malam masih terasa saat jhoni bangkit dari tidurnya. Berjalan tergesa - gesa. Ia menuju ke luar, dimana suara keramaian terdengar. Pria tua ini dibuat bingung dengan apa yang ia saksikan.
Bowo, sebagai komandan keamanan melepas puluhan anak buahnya dengan kemarahan. Di pagi buta, puluhan anggota keamanan yang dibekali senapan laras panjang bergerak cepat. Dengan wajah garang dan ultimatum dari komandan, mereka layaknya mesin pembunuh yang siap menemukan dan membawa kembali anak - anak itu. Tinggallah Bowo dan beberapa anak buahnya yang bertanggung jawab malam itu.
"Ada apa, ini ?!" Seru Jhoni mengagetkan beberapa orang yang malam ini berjaga. Sontak saja mereka memberikan hormat kepadanya.
"Anak - anak yang ada di sel melarikan diri, bos !" Jawab Sang komandan keamanan masih dengan sikap hormat.
"Apaa... ?!"
Jhoni tercengang, tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Perlahan tapi pasti perubahan ekspresi wajahnya terlihat jelas. Di hadapannya, pria tambun dan beberapa orang kawannya tertunduk lesu.
Rasa bersalah membuatnya tak sanggup mengangkat kepalanya. Apalagi menatap pria sepuh yang kini berjalan perlahan di hadapan mereka dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Saya pastikan saat ini sel - sel di dalam sudah kosong, bos."
"Bagaimana bisa. Dan bagaimana dengan kedua gadis itu ?!"
"Mereka juga melarikan diri bersama puluhan anak - anak itu, bos... !"
Plaakkk... !!!
Ucapan Bowo terhenti saat Jhoni tak kuat lagi menahan kemarahan dan rasa kecewa. Sebuah tamparan keras berhasil membuat darah segar membasahi bibir Bowo yang pecah.
"Siapa yang berjaga di lorong ?! Tanya Jhoni yang lebih mirip seperti makian. Pria ini berjalan melingkar. Kini ia berada di belakang bawahannya. Di saat yang sama pria tambun yang sangat ketakutan mengangkat tangannya dengan ragu - ragu.
Dooorrr...!
Sebuah letusan senjata api menyalak hebat. Bersamaan dengan itu, pria bertubuh tambun ambruk di tanah dan mati mengenaskan. Batok kepala bagian belakangnya bolong ditembus timah panas.
"Singkirkan mayatnya dari sini !"
"Siap..., laksanakan !!!"
Tanpa menunggu aba - aba yang kedua, ketiga orang yang tersisa bergerak cepat. Mereka tak ingin bernasib sama seperti pria di hadapan mereka yang sudah terbujur kaku.
__ADS_1
"Dan kau... !"
"Siap bos... !"
"Kau harus bertanggungjawab atas semua ini. Aku ingin secepatnya kau selesaikan semua masalah ini !"
"Baik bos !"
Bowo kembali memberikan hormat yang terbaik saat atasannya berjalan pergi meninggalkannya. Pria ini baru menurunkan tangannya saat Jhoni hilang dari pandangannya. Sesekali ia meraba bibirnya yang masih berdarah.
"Sialan...! mimpi apa aku semalam !"
Tak lama kemudian, komandan keamanan di pulau tersebut bergerak cepat meninggalkan tempat itu. Ia berjalan dengan mengamati setiap gerakan yang mungkin diciptakan oleh buruannya.
Pengalamannya puluhan tahun di pulau tersebut membuatnya mampu membedakan pergerakan sesuatu dari jarak jauh. Apakah itu binatang buas, manusia atau tumbuhan sekalipun.
Tangan kekarnya meraba senapan yang terselip di pinggang. Sementara puluhan anak buahnya sudah masuk jauh ke dalam belantara hutan yang lebat.
#####
Sebuah perahu nelayan bergerak perlahan dari arah selatan. Waktu memasuki sekitar pukul lima pagi, saat keempat pemuda yang ada di atas perahu memandang takjub ke depan. Sekitar beberapa ratus meter di hadapan mereka, kini terhampar sebuah daratan yang begitu alami.
Belum lagi deretan pohon - pohon kelapa di pinggiran garis pantai yang seolah membentengi pulau tersebut. Lambaian daunnya yang tertiup hembusan angin pagi seperti memanggil dan mengajak mereka untuk mendekat dan bercengkerama.
"Kau yakin ini tempatnya, Wan ?" tanya Toni penasaran. Sesekali ia meletakkan teropong di depan kedua matanya agar bisa lebih jelas melihat keadaan pulau tersebut.
"Sangat yakin, Ton. Coba Kau amati kedua sisi pulau itu."
"Di kedua sisinya ada menara pengawas." Jawab Toni santai. Bagas menerima teropong dari Toni. Sementara Riko tak memalingkan pandangannya dari panorama yang tak pernah dilihatnya selain di televisi.
"Kedua menara itulah yang selalu ku ingat. Karena saat mengantarkan sulis dan kawannya, aku menurunkan mereka tepat di bawah menara pengawas itu."
"Lantas menurutmu bagaimana langkah kita selanjutnya ?" Tanya Toni lagi, diedarkan pandangannya kepada kedua kawannya yang lain. Sementara itu, perahu nelayan yang mereka tumpangi makin dekat menuju daratan. Bagas yang mengemudikan kapal membawa mereka agak menjauh dari menara pengawas agar tidak terlihat.
"Secepatnya kita memastikan apakah adikmu ada di pulau ini atau tidak." Jawab Iwan penuh keyakinan. Walaupun ada hal yang mengganjal di dalam hatinya. Pemuda ini tak ingin mengacaukan tujuan sahabatnya.
"Betul.. !!!" Serempak Toni, bagas dan Riko mengiyakan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bergerak cepat sebelum matahari bersinar terang !" Seru Toni dan dibalas dengan anggukan kawan - kawannya. Keempatnya meninggalkan kapal di sisi pantai yang tersembunyi. Kemudian mereka menyelinap masuk di antara tanaman - tanaman semak yang cukup tinggi. Tak jarang tanaman beduri melukai kulit mereka.
Pohon - pohon besar menjadi tantangan tersendiri buat Riko. Di antara keempat orang ini, hanya dialah yang paling muda. Dan ia juga satu - satunya yang tidak memiliki latar belakang militer. Namun sejauh ini, ia masih bertahan dengan tekad yang kuat untuk menemukan dan menyelamatkan kedua sahabatnya.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan naik ke atas menara pengawas."
Ketiganya mengangguk setuju saat Toni bergerak cepat. Berlindung di bawah sebatang pohon angsana besar, mereka menyaksikan pria itu dengan cekatan naik ke atas menara pengawas.
"Kosong !"
Seru Toni seorang diri. Kemudian ia memberi aba - aba kepada kawannya agar naik. Pagi sudah mulai datang dan memperlihatkan apapun yang terlihat. Segala sesuatu yang tadinya gelap terpampang jelas walau dari jarak yang cukup jauh.
Begitu terkejutnya ke empat pemuda ini saat menyaksikan hal yang sangat memilukan terjadi. Beberapa orang anak yang tercecer dari rombongan ditangkap. Mereka ditarik dengan paksa. Tak jarang pukulan dan tendangan mendarat di tubuh kurus mereka.
Tak ada perlawanan yang berarti. Hanya tangisan menyayat hati yang mampu mereka lakukan.
Beberapa kali timah panas menghentikan langkah mereka yang coba melarikan diri saat digiring kembali ke sel.
Toni, Iwan, Bagas dan Riko juga menyaksikan puluhan pria bersenjata laras panjang dengan garang memburu puluhan anak - anak lainnya. Walaupun terhalang lebatnya hutan belantara, namun mereka masih bisa mengamati apa yang sedang terjadi.
"Benar - benar gila !" Seru Toni dengan kemarahan menggebu - gebu.
"Apa yang sedang terjadi di sini ?" Timpal Iwan. Sekilas ia bertanya di dalam hatinya tentang keberadaan Sulis. Hal tersebut membuatnya makin cemas.
"Sebaiknya kita selamatkan anak - anak itu. Bisa jadi di antara mereka ada Topan dan Arif !" Seru Bagas.
"Aku setuju, tapi sebaiknya kita minta bantuan untuk mengevakuasi anak - anak itu." Jawab Iwan sambil menghubungi Seseorang dengan handphonenya.
"Benar juga katamu...." timpal Toni dan anggukan yang lainnya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Iwan untuk menghubungi dan mendapatkan bantuan dari kawannya yang tak lain adalah Saipul.
"Bagaimana ?" Tanya Toni penasaran.
"Beberapa jam lagi beberapa perahu nelayan akan datang."
"Bagus kalau begitu. Ayo kita turun dan selamatkan mereka !"
Toni, Bagas dan Iwan bergegas turun. Sementara Riko menunggu kedatangan Saipul. Dia juga bisa mengamati keadaan dari menara pengawas.
__ADS_1
"Hati - hati bang... !" Seru Riko kepada ketiganya yang sudah berada di bawah. Kedua matanya beralih menatap sebuah pistol jenis glock yang digenggamnya.
"Kamu juga hati - hati. Gunakan pistol itu saat terdesak !" Jawab Toni lantang. Tak lama kemudian ketiganya sudah bergerak menjauh diiringi pandangan Riko dari atas. Remaja ini terus mengamati pergerakan ketiganya hingga benar - benar tak terlihat lagi.