Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Cara Kekerasan


__ADS_3

Cara Kekerasan


Malam semakin larut, membawa hawa dingin yang terasa makin menyiksa. Kendaraan yang di kemudikan Bagas masuk ke sebuah lapangan yang cukup luas. Kemudian ia menghentikan kendaraanya  di ujung lapangan yang menghadap ke sebuah bangunan tua.


Tak lama kemudian, merekapun turun tepat di depan sebuah rumah yang terlihat sudah rapuh. Beberapa balok kayu tampak keluar dari tempatnya. Warna biru langit tembok rumah sudah pudar dan mengelupas.


"Ayo turun" seru Toni. Pemuda ini menarik Kubil agar turun dan berjalan menuju halaman rumah tersebut. Tak lama kemudian ia todongkan sebuah pistol tepat di kepala pria tinggi besar. Iwan tak tinggal diam. Pemuda ini mendorong tubuh Jarot agar menyusul kawannya. Dengan tangan diborgol ke belakang dan mata ditutup seikat kain, kedua bandit itu berjalan di bawah todongan senjata . 


"Jangan coba - coba berfikiran untuk kabur !" Ancam Toni yang kini berada di belakang Kubil. Di tangannya, sepucuk senapan jenis glock siap memuntahkan timah panasnya. Kubil hanya terdiam. Langkah kakinya menerabas rumput liar yang tumbuh hingga setengah meter. Riko yang berada di belakang, bergegas berlari menuju pintu yang juga sudah keropos.


KREEEKKK....


Riko membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Kini mereka berada di ruang tamu rumah tersebut. Tak banyak perabot yang ada di ruangan itu. Hanya terlihat dua buah kursi tua yang terbuat dari kayu jati yang menyambut kedatangan mereka.


"Duduk kalian !"  Seru Toni, tangannya terus menodongkan pistol di kepala kedua penculik secara bergantian. Sesekali pistolnya ia putar - putar layaknya seorang cowboy. Tak ingin membuang buang waktu, Toni langsung menginterogasi  kedua penculik tersebut.


"Kalian akan selamat jika mau mengatakan yang sebenarnya. Tapi sebaliknya, saya bisa saja membunuh kalian jika kalian masih bungkam !"


Pemuda ini yang hampir kehilangan kesabarannya, berjalan mengitari kedua penculik yang tak berdaya. Duduk  di kursi kayu dengan tangan diborgol ke belakang dan mata ditutup. Keduanya hanya tertunduk pasrah. Sementara itu, Iwan, Bagas dan Riko berdiri agak jauh di belakang.


"Sekali lagi, kemana kalian bawa adikku ?!" Tanya Toni lagi. Kini kemarahannya tak lagi bisa ditahan. Yang ditanya belum juga bereaksi. Keduanya belum mengucapkan sepatah katapun. Pemuda tersebut mendekat,  dijambaknya rambut klimis Kubil agar wajahnya berhadapan dengannya. Namun pria itu hanya menggeleng pelan tanpa ada suara.


BUUKKK.... BUUKKK...


Tanpa pikir panjang, tangan yang tadi digunakan untuk mencekeram rambut Kubil. Kini melayang menghantam wajah pria tersebut. Seketika bibirnya pecah dan pelipisnya memar..


"Ciiiihhhh.... Adikmu sudah menjadi bangkai !" 

__ADS_1


Jawab Kubil lantang seolah menantang.  Ia membuang liurnyan yang berwarna merah karena sudah bercampur darah.


"Baik, jika kalian tetap tak mau mengatakan."  


Seketika Toni melayangkan tendangan sekuat tenaga. Begitu kerasnya, hingga tubuh Kubil terjengkang ke belakang. Kursi yang ia duduki hancur karena menahan tubuhya yang berat. Bagian belakang kepalanya berdarah karena beradu dengan lantai marmer.


BRAAKKK....


Kubil terkapar di lantai yang kotor. Ia coba merangsek mundur saat pemuda di hadapannya kembali melayangkan sebuah tendangan. Namun kaki Toni lebih dulu menghantam dadanya. Sontak saja Kubil memuntahkan darah segar, sesekali batuk tertahan terdengar di ruangan itu.Bagai kesetanan, sorot mata Toni semakin tajam menakutkan. 


"Kau..., kemana kau bawa adikku ?!"


Hardik Toni pada pria berkepala botak yang terduduk di kursi kayu. Yang ditanya gemetaran menahan rasa takut yang teramat sangat. Namun itu belum cukup baginya untuk mengatakan yang sebenarnya. Hal ini membuat Iwan mendekat dan ingin berpartisipasi. Seperti mengerti, Toni hanya membiarkannya. 


Tanpa banyak bicara, Iwan mengeluarkan sebuah pisau belati yang cukup tajam. Kemudian, secara perlahan ia tempelkan belati tersebut di bawah mata Jarot. Dengan wajah tanpa ekspresi, Iwan menekan kulit wajah pria di hadapannya dengan belati tersebut. Sejurus  kemudian ia tarik ke bawah hingga wajah Jarot tergores cukup panjang. 


"Kau masih ingin bertahan, haahh...?!" tanya Iwan masih dengan ekspresi dingin. Kali ini pisau belati tersebut ia tempelkan di bawah mata yang satu lagi. Degup jantung pria itu sangat cepat seiring rasa takut dan ngeri yang kini menguasai seluruh tubuhnya. Namun belum juga ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Sementara itu, Toni, Bagas dan Riko yang menyaksikan hal tersebut merasa ngeri dibuatnya. Pisau belati yang tadi menempel tepat di bawah mata Jarot kembali menjauh. 


"Cepat katakan, ke mana kau bawa mereka ?!" Tanya Iwan dengan raut wajah yang belum berubah. 


"Apa kau ingin kehilangan matamu ?!" Gertaknya lagi. Kembali ia tempelkan belati tadi tepat di bagian bawah mata Jarot. Iwan bersiap menekan ujung belati yang tajam untuk mencongkel bola mata pria tersebut. 


"Stop.... !"  Ucap Jarot pelan. Tak sanggup lagi ia menahan rasa sakit dari goresan belati di wajahnya. Luka sayat yang kini masih meneteskan darah. Rasa perihnya semakin menyiksa saat air mata yang jatuh menyatu dengan darah.


"Bagus. Cepat katakan di mana mereka ?!" Seru Iwan, suaranya mulai meninggi. Dipandangi pria di hadapannya dengan sorot mata tajam. Namun sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Tiba - tiba saja sebuah tendangan cukup keras membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut.

__ADS_1


BRAAKKKK....


Pintu yang sudah keropos itu hancur menjadi beberapa bagian. Belum selesai rasa terkejut, kini mereka dibuat heran dengan kehadiran sekitar sepuluh orang dengan postur tubuh tinggi besar. 


"Angkat tangan. Jangan coba - coba melawan !"  Seru seorang pria dengan senjata laras panjang yang siap memuntahkan timah panas. Postur tubuh yang berbeda dengan kebanyakan warga lokal menjadi perhatian Toni dan kawan kawannya. Warna kulit yang lebih putih agak pucat serta perawakan yang tinggi membuat mereka berfikir keras, siapa gerangan orang - orang ini.


"Bawa mereka !" Seru pria yang berada paling depan. Kedua tangannya masih dalam posisi siaga dengan senapannya.


Tanpa  pikir panjang, empat orang pasukan yang menggunakan seragam serba hitam itu, membawa kedua penculik yang sudah tak berdaya.


Seperti tersadar, Iwan berusaha menghalangi mereka untuk membawa keduanya. Sebuah tinju dilayangkan kepada salah satu pasukan tersebut. Namun yang diserang menghindar dan tak menggubrisnya. 


Mereka terus saja fokus dengan mengefakuasi kedua orang yang sudah bersimbah darah itu. Toni yang tak terima, merangsek maju. Ia tak ingin mengeluarkan pistolnya, karena tak mau gegabah. Yang menjadi perhatiannya adalah siapa mereka dan apa kepentingannya dengan kedua orang itu.


"Siapa kalian. Apa urusan kalian dengan kedua  orang ini ?!" Tanya Toni lantang. 


"Nanti kalian akan mengetahui siapa kami. Yang pasti mereka sudah menjadi buronan kami sejak beberapa tahun yang lalu !" 


Jawaban pria yang paling depan membuat Toni semakin berfikir keras. Dipandangi ketiga kawannya yang juga kebingungan. Terlintas dalam benaknya untuk melawan, namun mengingat jumlah lawan yang lebih banyak dan senjata yang lengkap. Toni mengurungkan niatnya. Mereka hanya membiarkan Jarot dan Kubil dibawa keluar.


"Naikan mereka ke dalam !" Seru pria yang sepertinya sebagai pimpinan pasukan tersebut. Dengan susah payah ke empat pasukan itu memasukkan keduanya ke dalam kendaraan mereka.


"Beres komandan !" Seru seorang pasukan saat menghadap ke pria yang tetap siaga dengan senapannya.


"Cepat tinggalkan tempat ini !" Seru sang komandan. Kemudian ia bergegas menaiki kendaraan tersebut. Namun belum sempat sang sopir menghidupkan mesin kendaraanya, tiba - tiba datang tiga buah truk berisi puluhan pasukan. 


Tanpa dikomando ketiga truk tersebut mengurung kendaraan yang akan membawa kedua anak buah Jhoni. Melihat situasi yang tak menentu itu. Ke empat pemuda yang ada di dalam rumah tua bergegas keluar dari pintu belakang. Dengan rasa penasaran mereka terus menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2