
Hukuman
Hari semakin gelap saat matahari perlahan - lahan menghilang dari pandangan. Ketiga perahu yang ditumpangi enam orang terus memburu Iwan. Sesekali dua perahu mengapitnya dari sebelah kanan dan kiri. Namun Iwan selalu berhasil menghindar.
Wajahnya semakin panik saat beberapa tembakkan dilepaskan. Dengan kondisi perahu tidak stabil, ia coba membalas. Dengan posisi tiarap, ia melepaskan tembakan. Seketika satu orang ambruk. Dadanya ditembus timah panas dari senapan yang dipegang Iwan.
Kelima orang yang tersisa makin marah. Mereka terus memepet Iwan yang kembali memegang kemudi. Pria tinggi besar meletakkan popor senapan di pundaknya. Moncong senapan terus membidik bagian kepala targetnya.
"Sedikit lagi. Terus... makin dekat !"
Suaranya memberi aba - aba pada kawannya. Kini mereka tepat berada di belakang Iwan. Pria tinggi besar bersiap menembak saat targernya hanya berjarak sekitar sepuluh meter. Dengan sombongnya, ia menghitung saat mengeksekusi Iwan.
"Satu.... Dua.... Tiii....!"
Byuuurrr....
Ucapannya terhenti saat sebuah panah ikan melesat dengan kecepatan tinggi. Merobek dadanya dan tembus hingga ke punggung. Seketika nyawanya melayang ke alam lain. Disaat yang sama, tubuhnya juga melayang menghantam hamparan air laut.
"Haahhh... !"
Bukan main kagetnya pria kribo. Dia tidak menyangka akan kejadian yang sangat cepat tersebut. Seketika wajahnya pucat pasi. Seluruh persendiannya gemetaran menahan rasa takut yang merayap ke sekujur tubuhnya.
Pria ini semakin ketakutan saat menyadari kehadiran puluhan kapal nelayan yang sudah mengurungnya. Tiap kapal berisi tiga sampai lima orang. Sebagian besar dari mereka membekali diri dengan panah atau senapan ikan. Sontak saja ia menghentikan laju perahu motornya. Pandangannya diedarkan ke sekeliling, mencari keberadaan kawannya.
"Brengsek...!"
Bergegas ia tancap gas dan banting setir saat menyadari situasi yang ada. Ternyata ia ditinggal sendirian oleh kawan - kawannya. Berbagai makian dan umpatan keluar dari mulut busuknya.
"Dasar pengecut kalian... !" Serunya berapi - api. Dengan membawa rasa takut dikejar, dan rasa jengkel ditinggal oleh kawannya. Pria dengan rambut kribo kembali ke markasnya. Begitu besarnya rasa takut itu, hingga ia tak berani melihat ke belakang.
Semetara itu, Iwan mengentikan perahunya di hadapan puluhan kapal nelayan. Kapal - kapal itu berbaris membentuk formasi stengah lingkaran. Segera ia naik ke atas perahu saat Saipul mengulurkan tangannya.
"Kau tidak apa - apa, Wan ?"
"Alhamdulillah, bang. Mungkin kejadiannya akan berbeda jika kalian terlambat datang."
"Sebenarnya apa yang terjadi, dan siapa mereka, Wan ?"
"Aku sendiri tidak mengerti dan tidak mengenal mereka. Tiba - tiba saja mereka mengejarku dengan membawa senapan."
Beberapa kawan nelayan ikut mendengarkan percakapan keduanya. Rasa penasaran terlihat jelas di raut wajah mereka.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Aku khawatir mereka kembali lagi."
"Iya bang, aku rasa juga begitu."
Setelah mendapatkan kembali kapalnya, Saipul dan rombongannya bergegas kembali rumah mereka. Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, mereka libur melaut untuk beberapa hari ke depan.
#####
Beberapa jam yang lalu, di ruangan Jhoni. Sulis dan Ratna memenuhi panggilan sang bos besar. Dengan hati yang masih berbunga bunga, wajah sulis tak lepas dari senyum manis. Tak ada firasat apapun saat ia dan Ratna menghadap Jhoni.
Tok... took... tookk..
"Masuk... !"
Kedua wanita muda itu masuk dan berdiri di hadapan bos mereka. Pria tua dengan rambut yang sudah memutih menyingkirkan berkas - berkas yang selesai diperiksa. Dari belakang meja kerja, ia memandang kedua gadis di hadapannya.
Sorot matanya tajam seperti sedang menyelami isi hati mereka. Sulis tersentak, tak biasanya Jhoni memendangnya dengan sorot mata seperti itu. Spontan ia tundukkan wajah, memandangi lantai yang berwarna putih. Begitupun yang dilakukan Ratna.
"Kalian tau kenapa saya panggil ?"
"Tidak bos ?"
Tiba - tiba meja digebrak dengan sangat keras. Sulis dan Ratna terkejut higga menjerit histeris. Tak lama kemudian Jhoni bangkit dari duduknya. Wajahnya datar, bahkan terlihat bengis. Kedua gadis di hadapannya mulai tidak nyaman saat Jhoni melangkah mendekat.
"Jarot dam Kubil sudah kusuruh untuk mengantarkan kalian kembali ke sini. Kenapa kalian tidak mau... ?!"
Nada suara Jhoni makin meninggi seiring emosi yang makin tak terkendali. Wajahya merah menahan amarah.
"Tidak kenapa - kenapa, bos." Jawab Sulis dengan ekspresi wajah ketakutan. Suaranya sedikit tersendat.
"Siapa pemuda yang sudah mengantarkan kalian ?" Tanya Jhoni lagi. Sulis terus diburu dengan pertanyaan demi pertanyaan. Dia hanya diam dan tertunduk, tak berani menjawab.
"Jawab... !"
Bentak Jhoni dengan kalap.sorot matanya makin mengerikan. Tangannya mulai mengepal. Dan dadanya bergemuruh menahan luapan emosi.
"Dia kawanku !" Jawab Sulis dengan mata mulai berkaca - kaca.
Plaakkk...
Tiba - tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Sulis. Begitu emosinya pria tua itu hingga tak menghiraukan isak tangis darah dagingnya sendiri. Ratna tak bisa berbuat apa - apa. Dia hanya menuduk ketakutan.
__ADS_1
"Kalian tau resikonya jika membawa orang luar ke pulau ini ?!"
Seru Jhoni lagi dengan nada yang berapi - api. Tatapannya terus meneror kedua gadis di hadapannya. Ratna coba menenangkan kawannya dengan merangkul Sulis. Tak diperdulikannya bulir - bulir air mata gadis itu yang jatuh di pundaknya.
"Karena ulah kalian, tempat ini bisa di serbu aparat keamanan. Dan kita semua akan ditangkap. Mengerti kalian ?!"
"Tapi pemuda itu tidak mengetahui kegiatanmu !" Seru Sulis sengit. Di antara isak tangisnya, ia coba melawan. Wajah yang tadi menunduk, kini diangkat. Ratna kaget dengan apa yang dilihatnya. Begitupun dengan Jhoni. Spontan ia kembali melayangkan tamparan. Namun Ratna bergerak cepat.
"Maafkan dia bos... !"
Seru Ratna. Kedua tangannya menangkap telapak tangan kanan yang melayang. Dengan gerakan cepat ia coba menenangkan bos jhoni. Beberapa kali ia bungkukan badan dengan maksud memohon ampun. Namun Jhoni jusyru semakin marah.
Buuugghhh...!
Sebuah dorongan yang cukup keras berhasil membuat tubuh Ratna membentur tembok. Hampir saja ia terjatuh jika Sulis terlambat menahan tubuhnya. Kini keduanya bersandar di tembok samping pintu.
"Kalian harus dihukum !"
"Ampuni kami, bos... !"
Keduanya menagis histeris mendengar ucapan yang baru saja didengar. Namum mereka tak bisa berbuat apa - apa, selain meratapi nasib. Tiba - tiba dua orang berbadan besar masuk menghadap. Keduanya tampak keheranan menyaksikan kondisi Sulis dan Ratna.
"Bos memanggil kami ?"
"Masukkan mereka ke sel khusus !"
"Siap laksanakan !"
Tanpa banyak bicara, Sulis dan Ratna ditarik ke luar dengan kasar. Kedua pria tersebut tak menghiraukan air mata yang terus berjatuhan.
"Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri !" Maki Sulis dengan penuh emosi.
"Ayo cepat !" Seru pria yang.menarik Ratna tak sabar. Begitu kesalnya pria tersebut. Hingga ia memutuskan untuk mengangkat dan meletakkan gadis itu di pundaknya.
"Lepaskan... "
Ratna yang tak terima, terus berontak. Tangannya yang lemah terus melancarkan pukulan di punggung pria yang membopongnya.
"Hahaha... !"
"Dasar bajingan... lepaskan aku !" Hardik Sulis yang terus meronta - ronta.
__ADS_1