Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Kejadian Mengerikan


__ADS_3

Kejadian mengerikan


Tak terasa, waktu yang diberikan oleh bos mereka selama dua minggu akan berakhir. Hanya menyisakan beberapa hari ke depan. Sulis dan Ratna merasa seolah - olah belum lama merasakan lepas dari beban pekerjaan yang melelahkan.


Namun keduanya menyadari kewajiban sebagai seorang bawahan yang harus selalu siap mengikuti apa kata atasan. Mereka sepakat untuk tunduk pada aturan bos mereka. Sejatinya kedua wanita muda ini masih ingin berlama - lama menemani Bu Ratih, namun sebisa mungkin fikiran tersebut mereka buang jauh - jauh.


"Besok lusa kalian sudah berangkat lagi. Ibu akan kembali kesepian, Sulis."


Ucap Bu Ratih kepada anak gadisnya. Tangannya mengusap lembut kepala sang anak dan mendekapnya erat. Sulis tersenyum kecil. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang hanya sesaat itu.


"Ibu tidak usah khawatir dan bersedih. Aku janji akan sering pulang."


Jawab Sulis lembut. Diusapnya kedua mata sang ibu yang mulai berembun.


"Iya, nak."


"Tenang saja bu, saya akan selalu bersama Sulis di sana. Jadi ibu tidak perlu khawatir" ucap Ratna meyakinkan dengan senyuman mengembang di bibir wanita muda hitam manis ini.


"Terima kasih Nak Ratna."


Sebagai seorang ibu, tentu akan merasa khawatir jika anak semata wayangnya harus pergi jauh. Dari semua itu, sebetulnya Ibu Ratih lebih mengkhawatirkan dirinya. Mengingat usia yang tidak lagi muda, tentu bukan perkara mudah menjalani kehidupan seorang diri.


Dia juga tidak mengkhawatirkan masalah keuangan. Setiap bulan Jhoni selalu punya cara agar sang istri menerima haknya dengan jumlah nominal yang lumayan besar.


Kini mereka sedang menikmati kebersamaan di ruang tamu. Bu Ratih, Sulis dan juga Ratna tengah terbuai oleh kisah sinetron yang ada di layar kaca.


Ketiganya duduk menghadap televisi di sebuah sofa. Di hadapan mereka, sebuah meja persegi dipenuhi berbagai cemilan dan teh hangat. Tak jarang ketiganya terlibat obrolan yang mecairkan suasana.


"Bagaimana kalau kita jalan - jalan ke pasar. Sekalian cari bekal buat kalian di jalan besok lusa ?"


Tiba - tiba sebuah ide terlintas di benak Ibu Ratih. Tak menunggu lama, Sulis mengangguk dengan antusias, begitupun dengan Ratna.


"Ibu bagaimana sih..., Bukannya dari kemarin kita diajak jalan - jalan ?" Jawab Sulis sambil melirik ke arah kawannya.


"Ibu gak liat apa. Ratna sudah bosen di rumah terus ?!" Seru Sulis lagi. Baru selesai ia bicara terdengar suara mengaduh dari mulutnya.


"Rasain kamu !" Seru Ratna sambil tertawa lepas. Berulang kali cubitan demi cubitan mendarat di pinggang kawannya. Aksi mereka baru berhenti setelah dilerai oleh wanita paruh baya di hadapan keduanya.

__ADS_1


"Sudah... sudah..., ayo cepat kalian ganti pakaian."


"Siap.. !" Jawab keduanya kompak. Bergegas mereka masuk kamar, sekedar memperbaiki penampilan dengan pakaian dan make up sederhana.


#####


Sengatan sinar matahari yang begitu menusuk kulit. Menunjukan hari sudah memasuki watu siang. Tak terasa bulir - bulir keringat mebasahi kulit ketiga wanita itu. Mereka juga direpotkan dengan belanjaan di kedua tangan.


Ditengah padatnya pengunjung pasar tradisional tersebut, Bu Ratih, Sulis dan Ratna akhirnya bisa keluar dari area pasar. Butuh perjuangan yang tidak mudah agar ketiga wanita ini bisa berada di posisi sekarang.


"Bang... bajai !" Seru Bu Ratih. Lambaian tangan kanannya bagai menyihir seorang sopir kendaraan roda tiga yang melintas agar berhenti.


Setelah tawar menawar dengan alot, akhirnya ongkos disepakati oleh kedua belah pihak. Tak berselang lama, ketiganya sudah berada di dalam kendaraan tersebut dengan nyaman.


"Akhirnya, kita selesai juga" seru Sulis dengan senyum khasnya. Dipandangi tumpukan kantong kresek yang berisi berbagai macam belanjaan.


"Iya, benar - benar melelahkan" jawab Ratna. Sesekali tangannya mengusap peluh di keningnya.


"Nanti setelah makan, kalian bisa istirahat" kali ini Bu Ratih yang berbicara. Posisinya yang berada di pinggir, memungkinkan ia memandang ke luar. Saat ini kendaraan yang mereka tumpangi berada di tengah kemacetan yang cukup panjang.


"Macet kenapa, bang ?" Sulis yang berada di pojok merasa penasaran.


Perlahan bajai berjalan merayap seiring dengan mencairnya kepadatan lalu lintas. Setelah melewati perlintasan kereta, sang sopir memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat ketiga wanita yang menjadi penumpangnya tersenyum puas.


Namun seketika senyum mereka berubah menjadi kepanikan. Saat dua orang yang berboncengan sepeda motor tiba - tiba saja memepet kendaraan yang mereka naiki. Pengendara sepeda motor dengan helm full face terus saja menempel di sisi kanan bajai.


"Cepat lakukan !" Seru pria dengan jaket hitam sambil menengok pada kawannya yang dibonceng.


"Siap, beraksi..!" Jawab pria dengan kaos lengan panjang warna hitam. Kepalanya tertutup dengan helm yang sama dengan kawannya. Tanpa ampun, tangan panjangnya menarik paksa kalung yang menempel pada leher Bu Ratih.


Korban yang gelagapan, karena tak menyangka akan menjadi korban penjambretan seketika panik. Tangannya reflek meraih kembali kalungnya yang sudah berpindah tangan. Namun sia - sia. Tubuhnya dengan mudah di dorong masuk kembali.


Ia tak menyadari, hal itu justru memberikan celah kepada penjambret tersebut untuk meraih tas selempangnya yang berisi dompet dan hp. Bu Ratih yang menyadari kecerobohannya spontan berteriak sejadi jadinya. Begitupun dengan Sulis dan Ratna. Sementara sang sopir terlihat kebingungan saat kedua jambret tersebut berusaha menjauh di antara ramainya kendaraan yang ada.


"Jambreeettt.... tolonggg... !"


"Kejar bang, cepat !"

__ADS_1


"Jangan sampai mereka lolos, bang !"


Ketiga wanita ini sangat panik. Seketika lalu lintas yang tadi tenang berubah menjadi gaduh oleh jeritan dan dan teriakan yang tiada henti dari ketiganya. Sang sopir bajai seperti terhipnotis. Bagai seorang pembalap, ia tancap gas tanda jeda. Sesekali ia bermanufer membelah padatnya arus kendaraan. Tujuannya hanya satu, yaitu mendapatkan kembali barang yang sudah dibawa oleh kedua penjambret.


"Neng tidak usah khawatir. Serahkan masalah ini sama abang !"


Seru sang sopir bajai yang sudah tidak muda lagi, namun jiwa mudanya tak pernah pudar. Terbukti, ucapannya bukan hanya di mulut. Tetapi dibuktikan dengan terus menguntit kedua penjambret yang terlihat mulai panik.


"Terus teriak, neng. Jangan berhenti !"


Kembali sang sopir memberi petuah. Ketiga wanita di kursi penumpang kembali heboh dengan teriakan yang semakin keras dan bersahut sahutan. Hal tersebut membuat pengendara lain merasa iba dan dengan sukarela ikut mengejar kedua pria yang ditunjuk oleh Bu Ratih, Sulis dan Ratna.


Kendaraan yang di tumpangi ketiganya semakin mendekat, dan mulai sejajar dengan sepeda motor yang dikendarai para penjambret.


"Lebih cepat. Mereka sudah di samping kita !"


Seru pria yang duduk di belakang. Wajahnya terlihat semakin panik saat menyadari apa yang disaksikannya. Ternyata yang mengejar mereka bukan hanya satu kendaraan. Hampir semua pengguna jalan itu ikut mengejar mereka. Terutama pengendara roda dua.


Kawannya yang mengendarai sepeda motor bukannya tidak paham situasi yang mereka hadapi. Namun ia sudah kepalang tanggung. Menyerahpun hanya akan mencari mati. Masih bagus jika mereka hanya masuk Rumah Sakit. Bagaimana jika ia harus masuk ke alam kubur.


"Bersiap saja jika ini menjadi aksi terakhir kita !" Seru pria di depan tanpa ekspresi. Kendaraanya terus dipacu sekencang - kencangnya. Tak ada pilihan baginya selain terus memacu kendaraanya. Namun pelariannya harus berhenti saat sang sopir bajai menabrakkan kendaraanya ke sepeda motor yang sedari tadi dipepetnya.


Braakkk....


Sepeda motor oleng dan memaksa pengendara mengerem kendaraanya. Namun karena kecepatan yang tinggi, kendaraan tersebut justru terpelanting di udara sebelum menghantam aspal.


Kedua penjambret berjatuhan di aspal dengan kondisi selamat. Rupanya helm full face dan jaket kulit mampu melindungi mereka dari kemungkinan terburuk. Reflek keduanya bangkit berdiri. Namun keduanya sudah terkepung oleh massa yang menyemut. Bahkan akibat kejadian tersebut menyebabkan kemacetan yang cukup panjang.


Bu Ratih bergegas turun dari bajai dan menghampiri penjambret yang menggenggam tas miliknya. Sulis dan Ratna mengekor di belakangnya.


"Kembalikan kalung dan tasku !" hardik wanita paruh baya tersebut dengan penuh emosi. Tangannya meraih tas miliknya dengan kasar. Namun tanpa diduga sebuah pisau belati berhasil menggores tangan wanita itu. Spontan jeritan kesakitan terdengar memecah keriuhan seiring dengan tetesan darah yang tertumpah.


"Aauuu...!"


Massa yang ada belum berani bertindak. Mereka khawatir kedua penjambret itu semakin beringas melukai wanita di hadapannya. Pria yang menggenggam belati merangsek maju dan bersiap menyerang untuk yang kedua kalinya.


"Mampus kau !" Dengan pisau belati yang sudah mengarah ke perut Bu Ratih. Pria dengan wajah yang tertutup helm bagai kesetanan. Korbannya hanya terpaku menahan luka di tangannya saat sepersekian detik lagi nyawanya mungkin sudah hilang entah kemana.

__ADS_1


Sulis dan Ratna tak bisa berbuat apa - apa. Mereka tak mampu menyaksikan kondisi yang di alami Wanita tersebut. Sesekali keduanya menjerit minta tolong. Namun belum ada yang berani bertindak, hingga saat - saat kritis tiba.


__ADS_2