Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Ditelan Sepi


__ADS_3

Ditelan Sepi


Begitu takutnya Arif menyaksikan pemandangan mengerikan di dalam. Hingga ia salah meletakan kakinya. Salah satu kakinya berpijak pada ruang kosong, sementara Topan tidak menyadari apa yang terjadi. Sontak saja hal tersebut membuat Arif terjatuh. 


BRUUKKK...


"AAAAUUU... !" 


"Kau tidak apa - apa, Rif ?" Tanya Topan dengan penuh kecemasan. Segera dibantunya Arif untuk kembali berdiri. Kawannya hanya meringis kesakitan sambil bangkit. Namun belum sempurna kedua kaki dan badannya berdiri, dia sudah melontarkan ucapan - ucapan yang tidak dimengerti oleh Topan.


"Ini gila Topan, benar - benar gila. Sadis dan mengerikan. Cepat kita tinggalkan tempat ini !" 


Rentetan ucapan yang keluar dari mulut kawannya membuat Topan kebingungan. Ia hanya menatap wajah kawannya yang panik dan histeris. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Arif. Sementara itu, sebuah suara yang cukup keras terdengar dari dalam. Topan tak sempat lagi menanyakan maksud ucapan kawannya. Karena fikirannya teralihkan oleh suara bentakan yang terdengar menakutkan. 


"Siapa di luar ?!"


"Ada apa itu ribut - ribut ?!"


Tanpa berfikir panjang, keduanya berlari sekuat tenaga. Dipandu oleh sinar lampu senter, keduanya berhasil menjauh dari sisi timur bangunan itu. Keduanya terus menerabas tanaman semak dan alang - alang yang mereka temui. Begitu paniknya kedua remaja itu, hingga beberapa kali tubuh mereka menabrak batang pohon yang tersamarkan oleh gelapnya malam.


"Lewat sini,Rif !" Seru Topan menyadarkan kawannya yang semakin menjauh. Sesekali ia palingkan wajahnya melihat ke belakang. Sementara itu, dari sisi selatan atau pintu masuk bangunan. Beberapa orang berjalan dengan tergesa. Tak jarang,  lampu senter mereka arahkan ke segala penjuru. Tujuan mereka adalah sisi timur, di mana Topan dan Arif menemukan tumpukan mayat.


"Iya Pan" jawab Arif singkat. Kemudian ia mendekat pada kawannya yang berjarak sekitar dua meter. 


"Mereka mengejar kita , Pan ?" 


"Mereka mencari kita di tempat tadi. Sebaiknya kita segera kembali ke gua, Rif."


Akhirnya kedua remaja itu meninggalkan area bangunan yang selama ini mengganggu fikiran mereka. Di tengah terpaan hawa dingin dan kegelapan malam, keduanya berjalan dengan memori mengerikan tentang apa yang baru saja mereka saksikan.


Berkali - kali pekikan suara burung gagak terdengar begitu menakutkan. Sementara itu di atas langit, rembulan separuh yang nampak buram sesekali hilang saat gulungan awan hitam melewatinya. Dari kejauhan lolongan anjing hutan menambah aura menyeramkan yang dirasakan oleh kedua remaja yang terus berjalan.


"Apa yang kamu lihat tadi, Rif ?" Tanya Topan memecah aura menyeramkan saat itu. Kini keduanya berjalan santai, kembali menuju gua yang cukup jauh. Tarikan nafas mereka terasa cepat diiringi keringat yang terus membasahi tubuh.


Di sebelahnya, Arif terlihat kaget saat lamunanya dibuyarkan oleh kawannya. Segera ia tersadar dan memandang kawannya seperti orang bingung.


"Tadi, apa yang kamu lihat. Di ruangan itu ?" Tanya Topan, mengulangi apa yang tadi diucapkannya.


"Sadis, benar - benar sadis !"


"Apanya yang sadis !"


"Tubuh anak itu dibedah, lalu organ - organnya diambil, Pan." 


"Itu bukan hanya sadis, tapi juga biadab. Hanya seorang psikopat yang sanggup melakukan itu."


"Lalu untuk apa organ - organ tubuh itu diambil, Pan ?"


"Entahlah. Aku sulit mencari jawabannya, Rif."


Keduanya kembali terdiam dengan lamunan masing - masing. Perlahan tapi pasti langkah mereka kini semakin dekat dengan gua yang mereka tuju. Posisi yang menjorok ke dalam dan lebatnya tanaman merambat mampu menyembunyikan keberadaan gua tersebut. Terbukti, sejauh ini belum ada dari anak buah Bowo yang menemukan tempat tersebut.


"Aku mulai mengerti sekarang !" Seru Topan saat keduanya sudah tiba dan rebahan di dalam gua. Sebuah api unggun kecil sudah menyala memberikan kehangatan.  Keduanya tidur - tiduran di lantai gua berbantalkan kedua tangan mereka.


"Mengerti apanya, Topan.. ?!" Jawab Arif spontan. Matanya mulai terpejam, namun dipaksakan untuk terus terbuka. 

__ADS_1


"Kemungkinan kita diculik untuk diambil organ dalam kita."


"Apaaa...! Kau tidak bercanda, kan ?"


"Sama sekali tidak, Rif. Aku lihat tumpukan mayat itu semuanya anak - anak seumuran kita."


"Benar juga katamu, Pan" 


"Kita harus meninggalkan pulau ini secepatnya, Rif."


"Aku setuju, Pan. Tapi bagaimana caranya. Mereka masih memburu kita. Sedangkan kapal - kapal nelayan tidak ada yang mendekat, apalagi bersandar di pulau ini."


"Iya, Rif, aku mengerti. Sekarang kita tidur. Besok - besok baru kita cari cara agar bisa meninggalkan pulau ini." 


Malam semakin larut. Tak terasa keduanya sudah terlelap dengan mimpi masing - masing. Rasa lelah membuat keduanya cepat terbuai oleh rasa kantuk dan akhirnya berkelana di alam mimpi.


#####


Malam berlalu dengan cepat. Bulan separuh yang bertengger di atas langit tak lagi tampak. Yang kini terlihat adalah sang mentari pagi dengan sinarnya yang mampu memberikan kehidupan pada seluruh alam.


Tok... tok..tok...


"Masuk !" 


Seru Jhoni dari dalam. Seperti biasa, pria tua dengan rambut yang sudah memutih itu sibuk dengan aktifitasnya. Di dalam ruangan yang tak terlalu besar, ia mengontrol seluruh kegiatan yang berhubungan dengan bisnisnya. 


Mulai dari memantau perkembangan keberhasilan Jarot dan Kubil dalam mendapatkan korban. Proses pengangkatan organ dalam, hingga proses penjualan dan menjalin hubungan baik dengan klien. Semua dijalankan olehnya dengan baik.


"Kamu, Sulis. Ayo masuk sini !" Seru Jhoni dengan senyum mengembang saat pintu dibuka. Kini di hadapannya berdiri Sulis. Wanita muda yang sudah bekerja dengannya sejak beberapa bulan yang lalu.


"Ada apa, tidak biasanya kau datang ke ruanganku, Sulis ?" 


"Aku ingin secepatnya menjenguk ibuku" ucap Sulis datar. Wajahnya menunduk, tak sanggup bertatapan dengan pria tua di hadapannya. 


"Aku khawatir kesehatannya menurun" ucapnya lagi. Kedua jari tangannya saling menggenggam di atas pangkuan untuk menghilangkan kegugupan.  Sementara itu, di hadapannya, Jhoni terdiam sejenak. Setelah berfikir cukup lama akhirnya ia buka suara.


"Baiklah, kau kuberi ijin dua minggu" ucap Jhoni. Dipandangi wajah wanita muda di hadapannya dengan senyum tulus. Entah kenapa setiap melihat Sulis, ingatannya selalu terbang jauh. Mengenang sosok seorang wanita yang membuatnya tergila - gila.


"Terima kasih, bos."  Ucap sulis bahagia. Terbayang sosok seorang wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Kebetulan besok Jarot dan kawannya datang. Nanti aku suruh mereka mengantarmu sampai rumah"  ucap Jhoni lagi. Sorot mata yang biasanya tajam dan wajah garang menakutkan seketika sirna saat berhadapan dengan Sulis. Namun sejauh ini wanita muda itu belum menyadari itu semua.


"Terima kasih banyak, bos. O... iiya, saya berangkat berdua Ratna. Saya takut kalau berangkat sendirian" ucap Sulis spontan saat teringat pesan dari kawannya. Dengan alasan sekenanya, ia berharap dapat persetujuan dari bos Jhoni. 


"Baiklah, tidak apa - apa. Nanti aku suruh anak buah Bowo yang bisa masak untuk menggantikan kalian"


"Benar bosss....?!" Seru Sulis sambil berdiri, senyum bahagia mengembang di bibirnya. Di hadapannya Jhoni menganggukan kepala dengan senyum penuh kepuasan. Tiba - tiba sebuah amplop coklat yang cukup tebal di sodorkan ke hadapannya.


"Berikan ini pada ibumu."


"Apa ini, bos ?"


"Anggap saja ini tanda terima kasihku, karena ibumu sudah mengijinkanmu bekerja denganku." 


Sulis masih tak mengerti dengan  apa yang diucapkan pria di hadapannya. Namun ia tak kuasa menolak, mengingat kepribadian Jhoni yang kejam dan bengis. 

__ADS_1


"Baik, akan saya sampaikan pesan dari bos Jhoni pada ibu. Kalau begitu, saya permisi kembali bekerja"  Sulis bangkit dan berlalu diiringi tatapan Jhoni dengan senyuman mengembang. 


"Nanti pada saatnya kau akan mengetahui semuanya, Sulis" ucap Jhoni pelan bahkan  nyaris tak terdengar. Kembali ingatannya menerawang jauh sebelum ia menetap di pulau terpencil yang saat ini menjadi rumahnya. Begitu asyiknya ia bernostalgia dalam lamunan, hingga tak menyadari kehadiran seseorang.


"Kaa...kamu... siapa yang menyuruhmu masuk ?!"  Kemarahan tiba - tiba menguasai Jhoni. Saat menyadari Bowo sudah berdiri hadapannya. Sementara itu,  Bowo tak kalah paniknya. Dia sadar sudah salah, tetapi menunggu terlalu lama di depan pintu juga bukan pilihan tepat.


"Maaf bos. Tadi saya sudah mengetuk pintu berkali - kali, tapi bos Jhoni sepertinya sedang menghayal yang indah - indah. Jadi saya putuskan langsung masuk, bos."  Jawab Bowo sambil garuk - garuk kepala yang tidak gatal.


"Sok tahu kamu. Ya sudah, ada urusan apa kamu mengganggu waktu santaiku ?"


"Begini bos. Ada dua peristiwa cukup penting yang perlu bos ketahui."


"Cepat katakan. Peristiwa apa saja itu?"


"Lima orang kita tewas terbunuh saat melakukan transaksi" 


"Kurang ajar, akan kubalas mereka. Lalu peristiwa apa lagi ?" Tanya Jhoni semakin penasaran. Wajahnya yang tadi santai, kini terlihat tegang.


"Ladang ganja, bos."


"Kenapa dengan ladang ganja kita ?"


"Dua orang penjaga ladang ganja kita tewas mengenaskan, bos"


"Mereka sudah tahunan bekerja. Sekarang tiba - tiba tewas secara bersamaan. Kamu tahu penyebabnya ?" 


"Kalau dilihat dari lukanya,  yang satu tewas tertembak dan satu lagi tewas karena hantaman benda tumpul, bos"  ucap Bowo panjang lebar.


"Apa mereka berkelahi dan saling bunuh ?" Tanya bos Jhoni dengan raut muka semakin penasaran.


"Rasa - rasanya mustahil bos."


"Lantas, siapa yang kau curigai ?" Cecar Jhoni lagi dengan pertanyaan yang semakin tajam. Dengan posisi masih berdiri, Bowo tampak berfikir keras. 


"Sepertinya ini ulah dua bocah itu, bos ?" Jawab Bowo ragu - ragu. Seketika ia menyaksikan perubahan ekspresi pada wajah bos Jboni. Perlahan  seluruh tubuhnya dihinggapi  kecemasan.


BRAAKKK....


Spontan Bos Jhoni menggebrak meja dengan raut muka garang. Tak lagi bisa ditutupi kemarahan dan kekecewaanya pada pria di hadapanya. Kini dia berdiri dengan tatapan lurus ke depan.


"Jadi selama ini kedua bocah itu belum juga tertangkap. Haahh... ?!"


"Betul bos"  jawab Bowo dengan muka tertunduk. 


"Aku ingin secepatnya kamu tangkap kedua bocah itu. Aku ingin lihat seperti apa mereka, hingga bisa membunuh anak buahmu satu per satu !"


"Baik bos. Secepatnya akan saya perintahkan untuk melakukan pencarian secara besar - besaran !"


"Ingat, jangan sampai gagal lagi !" 


"Siap, bos. Saya permisi kembali ke pos" 


"Silahkan."


Bergegas Bowo meninggalkan orang tua di hadapannya yang masih berdiri. Seiring dengan kepergian komandan keamanan itu. Jhoni Kembali duduk di kursi yang menemaninya saat ditelan kesepian. Potongan - potongan kehidupan masa  lalunya kembali berkelebat satu pe satu.

__ADS_1


__ADS_2