Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Firasat


__ADS_3

Firasat


Di sebuah rumah sederhana di pinggiran ibu kota. Di rumah yang tidak terlalu besar namun asri itu, seorang wanita setengah baya sedang berfikir keras. Tidak seperti basanya semakin larut malam, justru ia semakin gelisah.


Beberapa kali ia coba pejamkan mata, namun tetap tak bisa mengantarkannya ke alam mimpi. Seberapapun kerasnya ia mencoba, namun tetap sia - sia.


"Ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak begini ?"


Ucap wanita yang sudah memasuki usia senja itu. Ratih bangkit dari kasurnya dan melangkah ke luar kamar. Perlahan ia langkahkan kaki ke ruang tamu. Tangannya menenteng sebotol air dingin dan gelas kaca.


Setelah sempurna duduknya, ia tuangkan air dingin ke gelas dan siap meneguknya. Namun tiba - tiba sesuatu yang tidak biasa kembali terjadi.


Praannnggg....


"Hahhh.... !"


Seketika gelas yang digenggamnya merosot dari tangannya dan jatuh menghantam lantai marmer. Sontak saja Ibu Ratih panik, reflek ia bangkit berdiri. Kedua matanya terbelalak menyaksikan pecahan gelas kaca yang berserakan. Sedikit cipratan air sempat membasahi baju tidur yang ia kenakan.


Dengan wajah pucat ia berdiri mematung. Wanita paruh baya ini coba mecerna apa yang terjadi. Seketika ia kembali teringat akan putri semata wayangnya. Semakin ia tepis prasangka buruk tentang keadaan Sulis, semakin ia teringat. Dan hal ini membuatnya semakin gelisah.


"Apa yang terjadi denganmu, Sulis ?"


Kembali Bu Ratih membatin dalam hati. Setelah bisa menguasai diri, bergegas ia membereskan semua pecahan kaca yang berserakan. Tak lama kemudian ia raih handphone yang ada di samping tv. Sejenak ia ragu ketika menyadari waktu sudah lewat tengah malam. Namun kekhawatirannya sebagai seorang ibu lebih besar.


Tuuuttt...tuuttt.. tuuut...


Raut kegelisahan semakin terpancar saat panggilan tak juga diangkat. Bu Ratih tak putus asa. Ia terus mencoba, karena ia yakin panggilannya tersambung. Hanya saja belum diangkat. Setelah beberapa lama, ia sedikit tenang. Karena panggilannya diangkat, namun keningnya mengkerut karena bukan suara anaknya yang terdengar.


"Hallooo..."


"Kamu... Jhoni ?"


"Iya Ratih. Kenapa tengah malam begini telpon. Mengganggu saja ?!"


"Mana Sulis dan kenapa handphonenya kamu pegang ?"


"Anakmu sedang menjalani hukuman, karena melakukan kesalahan fatal !"


"Kesalahan...., hukumann...., apa maksudmu. Dia anakmu, mas. Darah dagingmu ?!" Bu Ratih tak bisa lagi menahan air matanya. Suaranya mulai meninggi dan panik. Dia tak menyangka jika kejadian yang belum lama merupakan firasat baginya.


"Sulis sudah berani diantar oleh seorang pemuda. Itu sangat membahayakan, Ratih !"

__ADS_1


"Dia pemuda baik, mas. Bahkan dia sudah menyelamatkan nyawaku !"


"Aku tidak perduli. Kalau ada orang yang mengetahui pulau ini, tamat sudah riwayatku. Kau paham Ratih ?!" Jhoni tak mau kalah dengan argumennya. Baginya apa yang ia katakan adalah keputusan.


"Mana Sulis ? Aku ingi bicara padanya !"


"Dia tak ada di sini, Ratih."


"Apa maksudmu ?, jangan bilang kau sudah membunuhnya, Jhoni !" Bu Ratih semakin emosi. Tetesan air mata yang terus jatuh, membuatnya tak lagi bisa mengontrol ucapannya.


"Tak ada yang perlu kau cemaskan, mereka baik - baik saja dan akan kubebaskan pada saatnya" Jawab Jhoni dengan suara yang sedikit pelan. Pria ini ingin mendapatkan informasi dari Sang Istri. Dengan sedikit strategi diplomasi, ia menurunkan ketegangan.


"Aku tak akan memaafkanmu, mas. Jika sesuatu terjadi pada anak kita. Juga dengan Ratna. Jangan kau sakiti mereka !"


"Aku janji. Sekarang ceritakan tentang pemuda itu. Aku ingin mengenalnya !" Jawab Jhoni sambil melancarkan niatnya. Ia ingin mencari tahu pria yang bisa selamat dari kejaran anak buahnya. Bahkan beberapa anak buahnya harus mati mengenaskan di lautan.


Ibu Ratih sedikit kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya. Di dalam benaknya mulai ada kecemasan terhadap pemuda yang membuat anaknya begitu bahagia. Ia termenung sejenak sebelum menjawab.


"Anak itu pemuda yang baik. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanku."


"Siapa nama pemuda itu ?"


"Namanya Iwan. Perawakannya tegap dan pandai bela diri. Itu saja yang ku ketahui."


"Masalah itu aku tidak tahu" Jawab Bu Ratih sedikit kesal. Sesekali tangannya menghapus pipinya yang basah.


"Apa Sulis tidak mengenalkannya padamu ?" Bu Ratih balik bertanya. Pertanyaan yang membuat Jhoni gelagapan. Pria ini gugup. Tak menyangka bakal mendapat pertanyaan yang menusuk seperti ini. Dia tak ingin istrinya mengetahui jika anak buahnya sudah berusaha membunuh pemuda tersebut.


"Oo.. i... itu. Kemarin pemuda itu langsung balik pulang. Aku tidak sempat menemuinya" jawab Jhoni gugup karena dusta.


"Sebaiknya kau tinggalkan semua itu, Jhoni. Kau tidak muda lagi. Sudah waktunya untuk istirahat !"


Dheeeggg....


Bagai dipukul telak di bagian dadanya. Pria tua ini kembali dibuat kesal oleh ucapan istrinya. Jika Bu Ratih ada di hadapannya, pasti ia dapat menyaksikan perubahan ekspresi wajah Jhoni.


"Ratih... kamu tidak usah menasehatiku. Sebelum kau kenal aku. Kau sudah mengetahui kehidupanku, termasuk bisnisku. Bagiku semua ini bukan hanya masalah uang.... !"


"Lantas.... ?!"


"Kepuasan...., ya... kepuasan yang kudapat melebihi segalanya ahahaha... !"

__ADS_1


"Kau sudah gila, Jhoni !"


"Iya... aku memang sudah gila. Tetesan demi tetesan darah bocah - bocah itulah yang membuatku gila. Rintihan dan jerit kesakitan mereka menjadi candu buatku. Membuat aku terkurung dalam dimensi lain yang kalian anggap kejam, keji, biadab, bengis dan sebagainya. Dan aku menikmati berada dalam dimensi aneh itu. Kau paham, Ratih...?!" seru Jhoni panjang lebar. Namun tak ada suara dari lawan bicaranya.


"Ratih.... , Ratihh... !!"


Jhoni tak menyadari jika sambungan telpon sudah terputus. Ibu Ratih tak sanggup mendengarkan apa yang terucap dari pria yang menjadi suaminya tersebut. Memang sejak menikah, ia sudah mengetahui kegiatan suaminya yang bertentangan dengan hukum. Baik hukum positif negara maupun hukum agama.


"Semoga kau sempat bertaubat, mas."


Ucapnya lirih, hanya do'a itu yang bisa ia panjatkan secara tulus. Sebagai seorang istri, tentu ia ingin menjalani kehidupan berumah tangga secara normal. Seperti halnya keluarga lain. Apalagi mengingat usia mereka yang tak lagi muda.


Sejak awal menikah, wanita ini berharap bisa menuntun suaminya untuk meninggalkan pekerjaan jahatnya. Namun harapannya sia -sia. Jhoni bukannya insyaf. Ia justru semakin menggila sejak lari dari penjara di eropa.


Mendapat perlindungan yang memadai. Pria ini semakin meningkatkan produk haramnya. Konsekwensinya, semakin banyak remaja usia belasan yang menjadi korban penculikan. Sepak terjang anak buahnya menjadi momok menakutkan bagi warga ibu kota.


#####


Suara tangisan pilu terus terdengar dari salah satu sel. Ratna coba menenangkan sahabatnya yang tak henti - hentinya menangis.


"Sudah... Sulis. Jangan menangis terus. Bisa - bisa tubuhmu justru sakit" ucap Ratna pelan. Dipeluknya tubuh Sulis yang meringkuk di lantai yang dikurung oleh teralis besi.


"Aku sedih. Gara - gara ulahku, kamu jadi ikut - ikutan dikurung di sini" jawab Sulis di antara isak tangisnya. Tangannya semakin erat mendekap kedua kaki yang tertekuk. Dagunya diletakan di lutut yang tertutup oleh celana bahan semata kaki.


"Aku baik - baik saja, Sulis. Sekarang kita pikirkan jika kemungkinan terburuk terjadi."


"Iya. Kamu benar !"


"Sekarang hapus air matamu" ucap Ratna lagi. Tangannya mengusap pipi sahabatnya dengan lembut.


"Kita harus keluar dari sini, Ratna. Aku khawatir bos Jhoni semakin kejam."


"Kamu benar. Aku tidak ingin bernasib seperti anak - anak itu."


Keduanya terdiam, mencari cara agar bisa keluar dari sel dan meninggalkan pulau yang mengerikan itu. Ratna meraih piring yang terbuat dari seng. Lantas ia menyerahkan satu piring kepada kawannya.


Mereka tak menyangka, pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, kini justru dikerjakan orang lain. Yang menyakitkan, keduanya kini berada di dalam sel dan menerima sepiring nasi putih dan ikan basah dengan sayur bening yang tak seberapa.


"Sebaiknya kita makan agar tidak sakit" ucap Ratna.


"Terima kasih."

__ADS_1


Di tengah asyik menikmati santapan, samar - samar keduanya mendengar suara troly yang didorong perlahan. Roda keras yang beradu dengan lantai menimbulkan suara yang khas. Cukup mengganggu memang, namun tak banyak yang menyadari karena terlelap dalam mimpi.


__ADS_2