Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
10. Mana Yang Melimpah


__ADS_3

Saat Victor dan Octavius berjalan-jalan di sekitaran taman, tidak sengaja mereka melihat Olivia yang diganggu. Saat Octavius ingin membantu, Victor mencegah dan meminta Putra sulungnya itu melihat seksama apa yang terjadi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Victor.


"Ayah, bukankah Olivia diganggu? kita harus membantunya," jawab Octavius.


"Ya. Ucapanmu benar. Tadinya aku berpikir demikian, tetapi niatku kuurungkan setelah apa yang kulihat. Perhatikan baik-baik, Nak. Apakah Adikmu terlihat terintimidasi? tidak, kan? dia terlihat tenang dan siap menghadapi lawannya," jawab Victor menjelaskan.


Victor dan Octavius menguping dengar pertengkaran Olivia dengan Rosetta. Victor mengerutkan dahi, setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Rosetta, dia Lady keluarga mana? Octavius, kau harus cari tahu secepatnya," kata Victor.


"Baik, Ayah. Saya akan langsung mencarinya," kata Octavius.


"Tidak perlu mencari tahu. Rosetta adalah Lady keluarga Marquis Noelin. Saya sudah  mendesak Kepala Akademi bicara," sahut Owen yang tiba-tiba datang.


"Marquis Noelin? Dia memiliki putri?" tanya Octavius bingung.


"Ya. Rosetta adalah anak haram Marquis dengan pelayan. Karena Ibu Rosetta meninggal, maka Rosetta dibawa oleh Marquis Noelin dan dibesarkan. Seperti itulah informasi yang saya dapatkan," jawab Owen.


"Begitu, rupanya. Marquis Noelin tidak mungkin tidak tahu kalau Olivia adalah putriku. Meski begitu, dia sengaja menutup mulut para saksi atas kejadian yang menimpa Olivia. Itu sudah tindakan yang keterlaluan. Dan aku tidak akam bisa membiarkan ini," batin Victor.


Tiba-tiba saja Victor, Octavius dan Owen dikejutkan oleh suara orang yang masuk dalam air dan teriakan minta tolong. Mereka mengira kalau Olivia kembali dalam bahaya. Setelah melihat, ternyata bukan Olivia yang masuk dalam kolam, tetapi Rosetta.

__ADS_1


Victor tersenyum, "Ternyata kau bisa melindungi dirimu sendiri, Putriku. Maafkan Ayahmu yang tak berguna ini," batin Victor.


Octavius dan Owen tersenyum. Mereka seakan-akan senang dan bangga dengan apa yang dilakukan Olivia. Victor pun pergi, Octavius dan Owen mengikuti. Victor meminta Owen mengumpulkan para saksi karena ia akan menuntut Marquis Noelin ke pengadilan. Owen menganggukkan kepala, mengiakan permintaan sang Ayah.


***


Kelas di mulai. Profesor masuk ke dalam kelas dan memberitahukan, jika hari itu akan diadakan pengukuran mana. Untuk pembagian kelas sihir. Ada tiga kelompok, kelompok tinggi, menengah dan bawah. Kelompok tinggi adalah kelas untuk murid-murid yang memiliki mana tinggi, dan nantinya akan mendapatkan pelatihan sihir secara langsung dari penyihir tingkat tinggi menara sihir. Sedangkan kelompk menengah akan dibimbing oleh penyihir tingkat sedang dan kelompok rendah akan doajar oleh penyihir pemula.


Semua murid tampak antusias. Terutama Rosetta yang memang dikenal memiliki mana tinggi di kelas. Karena itulah ia menjadi kesayangan kelaurga Marquis meskipun Rosetta dilahirkan oleh pelayan dengan status rendah.


"Rosetta, kau pasti akan ada di kelompok tinggi, kan?"


"Itu benar. Kau kan berbakat. Kau pasti akan jadi penyihir hebat."


Chloe menatap Rosetta dengan geram. Namun, Olivia menenangkan Chloe agar tidak terpancing dengan perkataan Rosetta. Olivia berbisik sesuatu, dan itu membuat Chloe tersenyum. Melihat Chloe tersenyum, dan Olivia yang tenang, membuat Rosetta kesal.


"Kenapa Putri yang diabaikan keluarganya itu hanya diam saja? dia pasti sedang panik dan gemetaran saat ini. Benar, pasti begitu. Dia kan tidak punya kemampuan apa-apa selain nilai, hahaha ... " batin Rosetta.


Sementara itu, Olivia dan Chloe fokus mendengarkan arahan dari profesornya agar tidak terjadi kesalahan atau kecelakaan saat menjalani tes.


Satu per satu murid mulai dipanggil dan melakukan tes sesuai instruksi yang sudah diarahkan. Mereka yang sudah melakukan tes, langsung dikelompokkan dengan tingkatan mana masing-masing.


Tiba giliran Rosetta yang dipanggil. Dengan percaya diri, Rosetta maju ke depan kelas dan mulai melakukan tes. Hasilnya, Rosetta berhasil melampaui garis dan mendapatkan nilai tertinggi sementara di kelas. Rosetta masuk dalam kelompok tinggi dan mendapatkan pujian dari profesor juga para penyihir yang menyaksikan.

__ADS_1


Setelah Rosetta, Chloe dipanggil. Olivia menyemangati Chloe, berharap Chloe meraih apa yang diimpikannya.


Chloe melakukan tes dan ternyata Chloe masuk ke kelompok tinggi. Satu kelompok dengan Rosetta. Tingkatan mana Rosetta dan Chloe selisihnya tidak seberapa jauh. Dan itu membuat Rosetta tidak senang.


Murid-murid lain melakukan tes. Kebanyakan mutid masuk ke kelompok menengah dan rendah. Hanya lima orang yang masuk ke kelompok tinggi, Rosetta, Chloe dan tiga murid laki-laki. Kini, tiba giliran Olivia yang dipanggil dan melalukan tes.


"Olivia Hubbert," panggil Profesor.


Saat Olivia berdiri di depan kelas dan hendak melakukan tes. Seorang Profesor yang penjaga pun langsung meminta Olivia masuk ke dalam kelompok rendah. Profesor itu tahu, jika Olivia adalah seorag Lady lemah yang tidak memiliki kemampuan selain nilai pelajaran yang menonjol.


Namun, Olivia menolak permintaan Profesor itu dsn berkata ingin mencoba. Ia tidak akan tahu, kalau tidak mencoba. Profesor itu pun menertawaka dan mengejak Olivia. Mengatai Olivia sedang bermimpi di siang bolong.


Profesor yang bertugas pun melerai perselisihan antara Guru dan Murid itu. Ia lantas mempersilakan Olivia melakukan tes seperti teman sekelas yang lain.


"Jika kau punya kemampuan setitik saja. Maka aku akan langsung bersujud," kata Profesor yang mengejek Olivia.


Olivia mengerutkan dahi, "Dia ada masalah apa sebenarnya? kenapa dia sampai bicara seperti itu?" Batin Olivia.


Olivia tidak mengambil hati ucapan tak berguna. Ia manarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia meletakkan kedua tangan ke atas bola kristal yang merupakan alat ukur mana yang dibuat khusus oleh peyihir tingkat atas menara sihir. Begitu telapak tangan menyentuh bola kristal tersebut, muncul cahaya dan semakin lama cahaya itu semakin terang sampai menyilaukan mata. Semua yang melihat heran, karena itu adalah kali pertama mereka melihat cahaya seterang itu.


Tiba-tiba, terdengar suara ratakan, ternyata bola kristal yang digunakan sebagau alat ukur mana yang digunakan Olivia retak. Padahal itu adalah Bola kristal baru, karena setiap murid akan diberukan bola kristal baru demi menghindari kecurangan.


Karena bola kristal Olivia retak, profesor pun meminta untuk segera di ganti dan melakukan tes ulang. Hal sama terjadi, bola ke dua pun nyatanya tidak mampu menampung jumlah mana yang ada dalam tubuh Olivia. Sampai profesor mengganti dengan bola kristal yang baru dan melakukam tes yang ketiga. Hasilnya juga masih tetap sama. Bola ketiga juga retak seperti bola pertama dan kedua.

__ADS_1


"Apa ini nyata? belum pernah ada murid Akademi yang meretakkan bola kristal. Dia tidak hanya satu, tetapi tiga. Apa ini masuk akal? apa dia sungguh seorang murid Aakdemi?" batin Profesor bingung.


__ADS_2