
Olivia menerima pelatihan secara berkala setiap harinya. Untuk menguatkan fisik Olivia yang lemah, Anthony meminta Olivia menguatkan dulu kekuatan kaki dan tangannya dengan cara berlari keliling halaman, mengangkat batu, memompa air sampai bergelantungan seperti monyet di pohon.
Awalnya Olivia merasa kesulitan,ia sampai terjatuh dan terluka saat berlari lima puluh putaran penuh. Namun, hari demi hari ia lewati dengan baik. Meski saat malam harinya Olivia harus merintih menahan sakit yang luar biasa karena tubuhnya tidak terbiasa dengan pelatihan fisik. Dan siksaan rasa sakit itu ia alamai selama kurang lebih satu bulan lamanya.
Di bulan kedua, Olivia suda mulai terbiasa. Dengan mudah ia melakukan semua permintaan pelatihnya. Melihat Olivia yang sungguh-sungguh mau menjadi kuat dan berusaha, Anthony pun tersenyum bangga. Issac juga selalu menyemangati Olivia.
***
Enam bulan kemudian. Olivia yang sudah menjadi kuat sedang berlatih pedang bersama Issac. Olivia dan Issac berduel dengan pedang kayu. Issac yang merupaka seorang ahli pedang pun berniat mendesak Olivia, tetapi tidak disangka-sangka, Olivia menyeranv balik Issac sampai pedang Issac terlepas dari genggamannya. Dan akhirnya Issac pun menyerah.
"Bagus, Ivy. Kemampuanmu maju pesat. Kau hanya perlu waktu enam bulan dan akhirnya bisa menumbangkan Issac," puji Anthony.
Olivia tersenyum cantik, "Terima kasih, pelatih. Semua berkat Anda," kata Olivia.
Issac bangun dari posisi duduk, "Wah, aku tidak sangka aku akan kalah. Padahal aku tadi mau mendesakmu sampai jatuh," kata Issac.
"Kau tak terima? mau berduel lagi?" tanya Olivia tersenyum.
Issac kaget, "Hah? Ti-tidak. Aku lelah sekali hari ini. Lebih baik aku sekarang menyiapkan kudapan dulu. Kau beristirahatlah," kata Issac.
"Jangan lupa roti isi kesukaanmu," kata Olivia.
"Ya, itu mudah dibuat. Aku akan bawakan untuk kau bawa pulang juga," kata Issac.
Issac pun pergi meninggalkan Olivia. Anthony menghampiri Olivia dan mengajak Olivia berjalan-jalan sebentar sembari menunggu kudapan dan teh yang dibuat Issac. Olivia meminta Emma membantu Issac, dan ia pergi bersama Anthony.
Diperjalanan mengikuti Anthony, Olivia bertanya ia akan dibawa ke mana? dan Anthony menjawab, jika ia akan menunjukkan sebuah danau yang indah pada Olivia. Tidak beberapa lama, keduanya sampai di tepi sebuah danau dengan air yang sangat jernih.
"Wuahh ... sekian lama saya mengunjungi kediaman pelatih. Baru kali ini saya melihatnya. Ini sangat indah, pelatih." kata Olivia takjub.
__ADS_1
"Iv ... kau lihat hutan diseberang danau itu?" tanya Anthony menunjuk arah hutan.
Olivia menatap ke arah hutan, "Ya, saya melihatnya. Apa ada sesuatu di hutan itu? hutannya terasa sedikit berbeda dengan hutan lain," kata Olivia.
"Pengamatan yang jeli. Aku suka dengan pengamatanmu yang selalu teliti dan jeli itu. Kau benar, itu hutan yang berbeda denga hutan lain pada umumnya. Nama hutan itu adalah hutan pelatihan. Banyak orang-orang yang ingin memasuki hutan itu guna berlatih dan meningkatkan kemampuan mereka, tetapi tak sembarangan orang bisa memasuki hutan itu. Apa kau tahu kenapa?" jelas Anthony menatap Olivia.
Olivia mengerutkan dahinya. Ia tampak berpikir keras. Ia mencob mengingat isi naskah asli dan sama sekali tak ingat penulis menceritakan tentang hutan, apalagi hutan pelatihan.
"Saya tidak tahu. Apa mungkin orang yang bisa masuk adalah orang khusus, atau istimewa?" jawab Olivia asal.
Anthony terkejut, "Luar biasa! kau sungguh tahu semua hal, Iv ... aku sampai ragu, apa kau mendatangiku hanya untuk mengujiku? Dari mana kau tahu kalau hanya orang khusus yang bisa masuk?" tanya Anthony.
"Oh, itu ... sebenarnya saya hanya menebak asal. Karena pelatih berkat tak sembarang orang bisa menebak. Saya pun berpikir pasti hanya orang khusus yang bisa masuk. Semisal, orang hebat seperti guru atau Issac, orang dengan kekuatan sihir mungkin, atau semorang ahli lain." jawab Olivia menjelaskan.
"Kau berpikir aku bisa masuk ke sana? tidak, tidak. Kau salah, Iv. Orang sepertiku dan Issac bukanlah orang yang bisa sesuaka hati menapaki tanah hutan itu meski kami sangat ingin. Karena penjaga hutan hanya akan membiarkan seseorang dengan mana murni yang boleh masuk," sahut Anthony.
"Seseorang dengan mana murni? Apa maksud Anda seseorang yang memiliki mana murni sejak lahir dalam tubuhnya? bukankah itu seseorang yang langka? Memangnya ada seseorang yang seperti itu?" tanya Olivia lagi.
Deg ... Olivia langsung kaget, saat mendengar nama Kakeknya disebut Anthony.
"Kakek Olivia ternyata orang yang hebat. Aku tidak akan tahu, kalau tidak masuk dalam novel ini. Wahhhh ... keren." batin Olivia.
Karena sudah lama melihat-lihat, Anthony pun mengajak Olivia kembali. Pada saat Olivi berbalik dan ingin pergi meninggalkan tepi danau. Tiba-tiba angin berembus dan ia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Datanglah ... kami menunggumu .... "
"Siapa?" batin Olivia.
Olivia menghentikan langkah dan kembali berbalik menatap danau, lalu manatap hutan. Olivia mengerutkan dahinya mencari-cari sumber suara yang didengarnya berasal.
__ADS_1
"Iv ... " panggil Anthony.
"Oh, ya. Saya segera datang," kata Olivia berbalik dan berlari mendekati Anthony yang berada tak jauh darinya.
Sepanjang jalan Olivia memikirkan siapa seseorang yang bicara. Ia pun bertanya pada Anthony, apakah Anthony mendengarkan sesuatu? Anthony menjawab, jika ia tidak mendengarkan sesuatu hal yang aneh. Anthony bertanya balik, apakah ada sesuatu yang aneh? dan Olivia menjawab, tidak ada apa-apa.
***
Olivia, Anthony dan Issac minum teh bersama. Mereka membicakan tentang pelatihan hari itu. Issac tiba-tiba berdiri dan mengambil sesuatu dan kembali duduk. Issac memberikan sebuah pedang pada Olivia.
"Iv ... ini hadiah untukmu. Aku harap pedang ini bisa berguna untukmu," kata Issac.
Olivia terkejut, "Ini untukku?" tanya Olivia tak percaya.
"Apa aku sedang bermimpi? Issac tak seharusnya memberiku pedang. Bukankah Putra Mahkota yang seharusnya menerima?" batin Olivia.
"Ya, ini untukmu. Aku membuat sesuai dengan denganmu. Berat maupun bentuknya, sangat cocok denganmu," jawab Issac.
"Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Olivia menatap Issac dan Anthony bergantian.
"Ya, boleh," jawab Issac.
Olivia meraba ujung sarung pedang sampai ke gagang pedang. Olivia tersenyum, ia senang mendapatkan hadiah yang berharga.
"Iv, sebenarnya ... ada hal yang ingin aku tanya. Namun, jika pertanyaanku merasa berat untuk kau jawab, maka kau boleh diam dan tidak menjawabnya." tanya Issac.
Olivia menatap Issac, "Ya, tanya saja. Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Olivia.
"Sejujurnya, aku telah memeriksamu diam-diam. Kau ingat, saat aku meminta meminjam tanganmu? saat itu aku memeriksa aliran manamu. Dan aku sangat yakin kau memiliki mana yang melimpah. Apa kau sungguh tidak tahu, dalam tubuhmu memiliki mana, atau kau sengaja menutupinya dari kami?" tanya Issac.
__ADS_1
Olivia melebarkan mata karena terkejut. Karena ia sama sekali tidah tahu, kalau ia memiliki mana. Sbab, selama ini ia hidup tanpa bisa apa-apa. Ia bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri dari penganiayaa teman-teman akademinya.