Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
19. Rencana Bisnis


__ADS_3

Sepulang dari akademi, Olivia yang baru selesai mandi dan berganti pakaian dihampiri Asisten sang Ayah. Asisten menyampaiakan, jika ada undangan yang datang dari Kekaisaran. Mendenger itu, Olivia kaget, ia bertanya kenapa tak menyerahkan undangan pada Ayahnya saja? Asisten Victor menjawab, jika saat itu Victor tidak ada di tempat.


"Emma, Ayah ke mana?" tanya Olivia menatap Emma.


"Saya tidak tahu pasti ke mana Tuan Duke pergi. Beliau tidak menggunakan kereta kuda dan pergi seorang diri tanpa kesatria. Begitu juga Tuan Duke Muda," jelas Emma.


Olivia mengerutkan dahi, "Aneh sekali. Ke mama Ayah dan Kakak pertama pergi, ya?" gumam Olivia.


"Nona, bagaimana undangannya?" tanya Asisten Victor.


"Begini, karena Ayah sedang pergi. Letakkan saja di ruang kerja Ayah. Biarkan Ayah yang nenbaca isi undangannya. Aku tidak mau ikut campur. Yang ada aku salah dan kena marah Ayah," kata Olivia.


"Baik, saya akan mengikuti apa kata Nona. Maaf, sudah mengganggu waktu Nona beristieahat. Saya permisi," kata Asisten Victor.


Tiba-tiba Olivia teringat sesuatu. Ia ingat kalau Asisten Ayahnya itu akan mengalami sakit serius sehingga mau tak mau mengundurka diri dari jabatannya.


"Kapan waktu pastinya, ya? Seingatku awal musim dingin. Berarti beberapa bulan lagi. Aku harus mengingatkannya agar tak terlalu lelah bekerja dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Meksi masa depan sudah tertulis, namun keajaiban itu pasti ada. Siapa yang tahu, dia akan sehat dan melewati masa kritisnya nanti," batin Olivia.


"Tidak apa-apa, Paman. Kalau tidak sibuk, Paman juga boleh istirahat. Paman bisa kembali bekerja kalau nanti sudah istirahat atau saat Ayah kembali. Jangan terlalu memaksakan diri. Dan ... sesekali periksakam diri Paman. Terkadang penyakit yang bersarang itu tidak terlihat dan tidak bisa terasa. Paman mengerti maksudku, kan?" kata Olvia menatap Asisten sang Ayah.


Asisten Victor tampak terkejut. Ia mengangguk dan mengiakan perkataan Olivian dan langsung pergi dari kamar Olivia.


Emma menyisir rambut Olivia, "Ada apa, Nona? Kenapa tiba-tiba Anda menyuruh Tuan Asisten untuk melakukan pemeriksaan kesehatan?" tanya Emma.


"Bukan apa-apa. Hanya untuk jaga-jaga saja. Sedia payung sebelum hujan tiba. Meski langit cerah, bisa saja langsung turun hujan. Itu berlaku untukmu juga. Nanti aku akan minta pada Ayah, agar semua pelayan diwajibkan melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan. Agar kalau kalian mengidap penyakit langsung ketahuan dan diobati. Perlu kau ingat juga, Emma. Pencegahan itu lebih baik daripada mengobati." jawab Olivia menjelaskan.


Emma menganggukkan kepala, "Ya, Nona. Saya mengerti," jawab Emma.

__ADS_1


"Nona-ku memang keren," batin Emma bangga.


Olivia menatap cermin, "Kalau dipikir-pikir. Aku sudah banyak mengubah isi asli novel. Mulai dari mengumpulkan uang, belatih dan mendapatkan pelatihan khusus dari Anthony, bertemu Issac yang ternyata putra Anthony. Menyelesaikan salah paham antara Ayah dan anak, lalu bertemu dan berteman dengan Beatrix. Ditambah aku mulai berani menunjukkan diri dengan kemampuanku. Itu aku lakukan karena aku tidak ingin Olivia di remehkan lagi. Namun, Apakah semua akan baik-baik saja sampai akhir? Kenapa aku jadi khawatir?" batin Olivia.


"Emma, berapa banyak uang yang kita miliki?" tanya Olivia.


"Sangat banyak. Uang yang mana, uang pribadi atau uang dari Tuan Duke?" tanya Emma.


"Uang pribadiku. Aku berencana membangun hotel," kata Olivia.


Emma mengerutkan dahi, "Hotel? apa itu Hotel? apa itu tempat yang menjual makanan enak?" tanya Emma


"Hotel itu, semacam penginapan mewah untuk kalangan kelas atas. Fasilitas yang dimiliki sangat lengkap, dan terjamin untuk kebersihan juga keamanannya. Dan bamgunanya dibangun menjulang tinggi seperti menara," jelas Olivia.


Emma mengerutkan dahi berpikir keras, "Wahh, membayangkannya saja membuat saya kagum. Dari mana Anda mendapatkan ide membuat Hotel?" tanya Emma.


Emma menganggukkan kepala, "Mengerti, Nona." jawab Emma.


Emma selesai menyisir dan mengikat rambut Olivia dengan pita. Olivia berdiri dari meja riasnya dan berjalan mendekati meja belajarnya. Ia menarik kursi dan segera duduk. Ia menulis perencanaan pembangunan Hotel. Pertama-tama ia harus membeli tanah. Yang letaknya stategis agar kelak Hotelnya beroperasi dengan lancar. Kedua, setelah mendapatkan tanah, ia harus mencari tahu apakah boleh membangunan Hotelnya? Dalam artinya ia perlu izin pembangunan. Ketiga, setelah dapat izin, ia harus mencariĀ  pekerja konstruksi dan arsitek yang bisa mengerti bangunan apa yang akan dibangunnya.


"Hm.... setidaknya aku perlu membuat sketsa gambar bangunan Hotelku, kan? agar nanti saat meminta izin pembangunan, aku bisa menunjukkan kira-kira bangunan seperti apa yang akan dibangun. Apa ini akan berhasil? Atau malah aku melakukan hal konyol? Ahh ... kenapa ini membuatku pusing?" batin Olivia.


Emma menatap Olivia sedang gelisah, "Nona, apa.ada kendala? bagaimana kalau Anda berjalan-jalan dulu di taman atau menikmati kudapan dan teh. Saya tidak tahu pastinya seperti apa bangunan yang disebut Hotel itu. Namun, saya merasa rencana membuatnya tak semudah membangun kastil. Bukan begitu?" kata Emma.


Olivia menatap Emma, "Emma benar. Aku tidak boleh tergesa-tega dan terlalu terbawa perasaan. Semua harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Aku akan pikirkan sisanya nanti, lebih baik aku minum ten dan makan kue di taman saja," batin Olivia.


"Ya, kau benar. Kalau begitu, minta pelayan untuk siapkan teh dan kudapanku, lalu bawakan ke taman. Aku akan minum teh dan Kue di taman," kata Olivia memberikan perintah.

__ADS_1


"Baik, Nona." jawab Emma.


Emma segera keluar dari kamar Olivia menuju dapur. Sedangkan Olivia merapikan kertasnya dan memasukkannya dalam laci, lalu pergi ke luar dari kamarnya menuju taman.


***


Saat asik menikmati teh dan berbincang dengan Emma. Tiba-tiba saja Olivia mendengar suara gaduh di depan pintu gerbang.


Olivia menatap Emma, "Emma, ada apa? Kenapa penjaga berteriak keras seperti itu? coba lihat," perintah Olivia.


Emma segera berlari menjauh dari Olivia menuju pintu gerbang. Olivia menatap kepergian Emma, lalu mengalihkan pandangan menatap cangkir tehnya.


Saat Olivia ingin mengambil cangkir teh, hendak minum teh, Emma datang dengan membawa Issac bersamanya. Melihat Issac, Olivia pun kaget.


"Is-issac ... " panggil Olivia.


"Hai, Iv ... " sapa Issac.


Issac meliha teh dalam cangkir dan langsung mengambilnya, "Ah, kebetulan sekali. Aku sedang haus," kata Issac yang lalu meminum teh sampai habis.


"Is, itu cangkirku. Kau tidak sopan!" kata Olivia menatap tajam.


Issac duduk di samping Olivia, "Astaga, aku hanya minum sedikit. Lagipula, aku membawa kabar bagus. Kau pasti akan langsung berterima kasih padaku." kata Issac tersenyum tampan.


Olivia memukul lengan Issac, "Tetap saja. Kau mana boleh sembarangan mengambil milik orang lain. Bukan soal teh, tapi gelas itu sudah kupakai. Kau tidak lihat tehnya didalam gelasnya berkurang." omel Olivia.


Issac pun akhirnya meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi. Olivia meminta Emma membawa dua cangkir baru dan menghangatkan ulang teh, juga membawa kudapan yang lebih bayak untuk Issac.

__ADS_1


__ADS_2