Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
43. Penolakan


__ADS_3

Olivia akhirnya melepaskan cengkramannya atas bujukan Chloe. Ia pun memperingatakan gadis itu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, atau ia akan membuat perhitungan lebih dari mencengkram tangan.


"Camkan kata-kataku, kalau kau tak mau mendapat luka lebih dari lingkran di pergelangan tanganmu," kata Olivia.


Chloe menatap gadis yang datang tak diundang itu dan menyuruhnya segera pergi. Dan gadis itupun langsung pergi meninggalkan Olivia, Chloe dan Beatrix.


Beatrix berdiri dari duduknya, "Iv, apa kau baik-baik saja?" tanya Beatrix.


"Ya. Aku tidak apa-apa. Mereka yang keterlaluan seperti itu harus diberi pelajaran. Kalau tidak mereka tidak akan tau batas," kata Olivia.


"Ya. Aku setuju denganmu. Hm ... apa sebaiknya kita ke kelas ssja? sepertinya kau perlu menurunkan emosimu," kata Chloe ragu-ragu.


"Chloe ada benarnya. Ayo, kita kembali saja, Iv," ajak Beatrix.


Olivia menganggukkan kepala. Ia dan dua teman akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas.


Ternyata, diam-diam Arron melihat dan mengamati apa yang terjadi. Karena kenetulam Arron juga sedang berada di kantin. Ia labtas memuji Olivia, yang berani dan tanpa ragu melawan orang yang kurang ajar.


"Dia memang selalu keren," batin Arron.


Arron pun bangkit berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas.


***


Jam pelajaran pun berakhir. Profesor meninggalkan kelas dan beberapa murid pun segera pergi meninggalkan kelas untuk pulang. Namun, tiba-tiba suasana menjadi heboh karena ada segerombol orang datang mencari Olivia.


"Siapa yang melukaimu? katakan padaku," kata seorang pemuda menggandeng tangan seorang gadis yang tadi mencari masalah di kantin.


Olivia mengerutkan dahi, "Oh, apa dia kakak gadis itu? Rupanya dia mengadu," batin Olivia.


"Hah? dia kan gadis yang tadi. Beraninya," gumam Chloe geram.


"Iv, kau jangan terpancing emosi. Biar aku yang hadapi," kata Beatrix.


"Tidak. Biar aku saja. Karena akulah yang mencengkram tangannya sampai berbekas," jawab Olivia.

__ADS_1


Olivia segera melangkah maju dan menjawab, "Itu aku. Aku yang membuatnya seperti itu," kata Olivia.


Pemuda itupun memalingkan pandangan menatap Olivia, "Ah, jadi kau yang membuat Adikku jadi begini. Beraninya kau. Apa kau tidak tahu siapa kami?" kata pemuda itu.


"Memang tidak tahu. Dan tidak penting juga untukku tahu. Lantas kau mau apa? Oh, ya ... sebelum kau meluapkan kekesalanmu, apa kau sudah bertanya pada Adikmu, apa yang terjadi, dan kenapa sampai tangannya seperto itu?" tanya Olivia.


Pemuda itu terdiam. Ia menatap sang Adik yang menangis dan gemetaran. Gadis pencari masalah itu hanya diam. Memegang erat lengan sang Kakak.


"Kasihan sekali, dia pasti ketakutan. Aku tak akan biarkan gadis jahat itu lolos begitu saja," batin pemuda itu.


"Aku tidak perlu tahu. Karena sudah jelas kau yang membuat luka di tangan Adikku. Aku akan minta pertanggung jawabanmu," kata pemuda itu masih gigih menyalahkan Olivia.


Olivia tersenyum cantik, "Ah, begitu rupanya. Kalau begitu, aku juga minta pertanggung jawaban Adikmu yang sudah membuat kesal temanku. Bahkan Adikmu hampir menampar temanku. Bagaimana kau akan bertanggung jawab?" kata Olivia menatap dingin.


Pemuda itu mengerutkan dahinya menatap sang Adik, "Apa maksudnya itu. Apa benar kau mau menampar temannya?" tanya pemuda itu pada sang Adik.


"Itu benar. Dia mau menamparku, dan Olivia mencegahnya dengan mencengkram tangannya. Jadi, itu bukan salah Olivia, kalau Adikmu terluka. Itu salahnya sendiri," sahut Beatrix menjelaskan.


Pemuda itu tetlihat semakin kesal, sehingga ia mendesak Adiknya berkata jujur dan menjelaskan semuanya. Akhirnya gadis itupun mengakui perbuatannya dan mengiakan penjelasan dari Beatrix.


Pemuda itu meminta maaf atas semua kesalahpahamannya, dan Olivia pun memaafkan. Ia mengingatkan pemuda itu untuk tidak lagi gegabah menanggapi sesuatu. Dan harus mencari dulu kebenarannya.


Pemuda itu mengiakan dan akhirya kembali pergi. Sang Adik yang menangis tersedu-sedu berlari mengejar sang Kakak yang mengabaikannya.


Bearrix mendekati Olivia, "Maaf, Iv. Kau jadi kesulitan karenaku," kata Beatrix.


"Tidak apa-apa. Setidaknya dia sadar kalau dia melakukan kesalahan dan meminta maaf. Ahh, Kalian tidak pulang?" tanya Olivia menatap Beatrix dan Chloe bergantian.


"Ya. Ayo," jawab Chloe. Diikuti Beatrix yang menganggukkan kepala.


Olivia, Chloe dan Beatrix pun pergi meninggalkan kelas bersama.


***


Chloe naik ke kereta kudanya dan pergi, begitu juga Beatrix. Saat Olivia juga hendak naik ke kereta kuda, Arron datang menghampiri Olivia.

__ADS_1


"Lady, tunggu ... " panggil Arron.


Olivia yang sudah menginjak tangga kereta pun menapakkan kembali kakinya di tanah. Ia berbalik menatap Arron dan bertanya apa hal yang membuat Arron menghampirinya.


"Salam, Yang Mulia. Ada apa, sampai Anda tanpa ragu menghentikan saya menaiki kereta kuda?" tanya Olivia.


"Oh, itu ... apa boleh aku menumpang kereta kudamu? Maksudku, aku ada urusan mendesak dengan Duke Hubbert," Jawab Arron.


Olivia melihat sekeliling, "Tidak ada yang melihat, kanm bisa-bisa ada salah paham lagi nanti," batin Olivia.


Olivia menatap Arron, "


Istana kan juga punya kereta kuda," jawab Olivia.


"Iya. Kau benar. Istana bahkan punya puluhan kerata kuda. Namun, aku sudah menyuruh kereta kuda istana menjemputku di kastil Duke," jawab Arron.


"Hm, kalau begitu, Anda bisa menyewa kereta dari akademi ke kastil. Anda kan Putra Mahkota Kekaisaran, tidak mungkin tidak memiliki uang untuk membayar sewa, bukan?" kata Olivia.


Arron kaget, "Apa itu artinya aku tak bisa menumpang keretamu?" tanya Arron memastikan.


"Maafkan saya, saya tidak bisa memberikan tumpangan. Kalau tidak ada hal peting lain, saya permisi, Yang Mulia." kata Olivia berpamitan.


Kusir membuka pintu, dan Olivia segera naik ke kereta kuda. Ia benar-benar mengabaikam Arron begitu saja. Tampak jelas Arron kecewa, tetapi ia tidak bisa memaksakan kehendaknya dan membuat jaraknya semakin jauh dengan Olivia.


Arron tersenyum, "Ya. Tidak apa-apa. Mendekatimu akan kulakukan perlahan. Kau membuatku semakin bersemangat," batin Arron.


Arron pun pergi, setelah melihat kepergian kereta kuda yang ditumpangi Olivia bergerak meninggalkan halaman akademi.


***


Dalam perjalanan ke kastil, Olivia diam termenung. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menghindari Arron. Ia juga berpikir, tidak mungkin baginya menghindari Beatrix, karena ia dan Beatrix adalah teman sekelas dan Beatrix pun tampak cukup baik dengannya.


"Dia kan ditakdirkan bersama Beatrix. Kenapa juga dia masih menggangguku. Dasar aneh. Lagi pula, kalau tiba-tiba dia menghampiriku seperti tadi, bukankah akan timbul kesalahpahaman lagi? dia tidak mengerti kalau banyak gadis mengidolakannya," gumam Olivia.


"Aku tidak boleh tertipu oleh Arron. Sebisa mungkin aku harus menjaga jarak dengannya. Bisa-bisa aku mati ditangan gadis lain, " batin Olivia.

__ADS_1


__ADS_2