
Sepulangnya dari arena pacuan kuda, Olivia dan Emma berkeliling melihat-lihat pasar. Emma memeluk kantung uang dengan erat yang sudah dibungkusnya dengan kain lebar. Sehingga orang tak akan tahu kalau Emma sedang membawa koin emas.
Olivia melihat sesuatu yang menarik dan tertarik membeli. Ia melihat penjual barang antik di pasar sedang mengelap sebuah guci tua. Olivia iseng bertanya pada penjual. Bisakah ia mendapatkan sebuah kantung ajaib? kantung yang bisa menyimpan banyak benda hanya dengan cara kita memasukkan benda dalam kantung tersebut.
Penjual tertawa mendengar perkataan Olivia. Melihat penjual tertawa, Olivia baru sadar, kalau sepertinya permintaannya berlebihan. Ia terlalu berimajinasi tinggi. Karena malu, Olivia pun berpamitan dan hendak pergi. Saat Olivia baru ingin melangkah, penjual memanggil Olivia dan memberikan sesuatu pada Olivia. Memberikan semacam kantung pada Olivia.
"A-apa ini?" gumam Olivia.
"Ini adalah kantung serbaguna yang kau inginkan. Kantung ini bisa menampung setidaknya sepuluh peti berukuran besar. Kau hanya perlu menempelkan kantung ini pada benda yang ingin kau masukkan dan membuka kantung. Maka benda akan terhisap masuk dengan sendirinya. Saat mengerluatkanya, kau hanya perlu membayangkan apa yang ingin kau ambil. Atau berapa keping uang yang kau ingin ambil. Apa kau mengerti penjelasanku?" tanya penjual tua itu
"Bukankah Anda menerwatakan saya, tadi? kenapa sekarang Anda memberikan ini? tanya Olivia.
"Maaf, Nak. Bukannya aku ingin mengejekmu dengan tawaku. Hanya saja aku terkejut karena baru kali ini menemui pembeli seantusias kau. Apa kau marah? Maafkan aku sekali lagi," kata penjual itu.
"Berapa harganya?" tanya Olivia.
"Ambil saja, hadiah untukmu. Dan ambil juga ini," kata penjual tua itu. Memberikan sebuah bungkusan kain berisi beberapa buku tua dan batu permata yang indah.
Olivia meletakkan sebuah dua koin emas dan menerima bungkusan dari penjual itu. Olivia berkata, kalau ia tidak mau berhutang apapun pada orang lain. Olivia berterima kasih, lalu berpamitan. Ia langsung pergi meninggalkan penjual itu bersama dengan Emma.
Penjual itu menatap kepergian Olivia sembari tersenyum, "Memang anak muda yang murah hati. Semoga selalu bahagia dan dilindungi oleh Dewa." kata penjual itu bersuara pelan.
***
Dalam kereta kuda, Olivia mencoba kantumg ajaibnya. Ia menempelkan kantung ajaib pada kantung koin, lalu membuka kantung ajaib sebesar telapak tangannya itu. Kantung berisi koin emas yang diperoleh Olivia dari taruhan pun langsung terhisap masuk dalam kantung ajaibnya.
"Wah ... menakjubkan." gumam Emma.
"Kalau seperti ini, tidak akan ada yang tahu kalau aku memiliki banyak uang kan? lihat, Emma. Meksi sudah terisi sekantung koin emas, kantung ajaib ini ringan sekali." kata Olivia menimang-nimang kantung ajaibnya.
__ADS_1
"Nonaku memang hebat. Ah, iya. Apa kita akan ke rumah Tuan Anthony?" tanya Emma.
"Iya, kita akan langsung ke sana. Hari ini aku mulai berlatih. Tubuh lemah ini tak boleh dibiarkan saja, Emma. Kalau aku tak melatihnya, maka aku hanya akan merepotkan orang-orang disekitarku untuk melindungiku. Termasuk kau," jelas Olivia.
Emma menatap Olivia, "Saya tidak masalaj kalaupun harus mempertaruhkan nyawa demi Nona. Karena hanya Nonalah satu-satunya keluarga saya." kata Emma.
Olivia tersenyum, "Terima kasih atas kebaikan hatimu, Emma. Sayangnya, aku tidak ingin membuatmu terluka hanya karena melindungiku. Aku masih membutuhkanmu untuk banyak hal lain. Ambil kantung ini, jaga baik-baik. Karena kau adalah Asistenku mulai dari hari ini. Maka masalah keuangan pribadiku, kau saja yang urus. Tugasku hanya mencari uang sebanyak mungkin dan berlatih keras untuk meningkatkan stamina dan kekuatan tubuh. Mengerti?" kata Olivia.
Emma menganggukkan kepala menerima kantung ajaib Olivia, "Saya mengerti, Nona. Serahkan saja semua pada saya." jawab Emma bangga, karena ia telah diangkat sebagai Asisten oleh Olivia.
Olivia duduk bersandar dan membuka jendela kereta. Ia melihat jalanan yang penuh dengan pepohonan. Sedangkan Emma langsung memasukkan kantung ajaib ke dalam tasnya. Ia menepuk-tepuk pelan tasnya dan tersenyum lebar.
***
Olivia dan Emma tiba di rumah Anthony. Keduanya dismabut oleh Issac yang sedang membelah kayu dengan kapak kesayangannya.
"Hai, Ivy ... kau sudah datang? aku kira kau mulai latihan besok," kata Issac. Melihat ke arah Olivia dan Emma yang baru masuk ke halaman kediamannya.
"Sedang membelah kayu karena ada pesanan. Ayah sedang pergi ke pasar. Tunggulah di dalam," kata Issac.
Olivia meminta Emma masuk lebih dulu. Ia berkata ingin melihat-lihat rumah pelatihnya. Emma menganggukkan kepala, Emma langsung pergi menuju teras rumah dan duduk menunggu. Sedangkan Olivia berjalan mendekati Issac karena penasaran. Olivia melihat setumpuk kayu yang sudah dibelah-belah, dan ia melihat betapa cepatnya Issac membelah kayu bagaikan membelah ranting pohon.
"Wah, keren. Iss, apa aku boleh coba?" tanya Olivia menatap Issac.
Issac menancapkan kapaknya ke kayu, "Nah, silakan." Jawab Issac.
Olivia bersemangat. Ia dengan percaya diri berdiri di depan kapak dan memegamg gagang kapak. Seolah mampu mengangkat kapak dihadapannya, Olivia tersenyum. Pada saat Olivia mengerahkan tenanga untuk mengangkat kapak itu, ia langsung mengerutkan dahi.
"Ehh ... ke-kenapa berat sekali?" gumam Olivia.
__ADS_1
Olivia berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengangkat kapak itu, tapi ia masih belum sanggup membuat kapak yang menancap di kayu itu terlepas.
Olivia menatap Issac, "Kau menanamkan sihir atau semacamnya, kan? Mengakulah ... kau sengaja mengerjaiku, kan?" kata Olivia menuduh.
Issac tersenyum tampan, "Untuk apa aku membuang-buang mana hanya unyuk kapak? lihat ini ... (Issac mengambil alih posisi Olivia, dan mencabut kapak yang tertancap di kayu) kapak ini adalah kapak istimea buatanku sendiri. Besinya aku yang meleburnya, dan beratnya kira-kira setengah beratmu." kata Issac menjelaksan.
"Cih! Tubuh ini lemah sekali. Mencabut kapak seberat dua puluh kilograman saja tidak kuat. Apa-apaan ini? dia memanglah Tuan putri Hubbert." batin Olivia kesal.
Issac mendekati Olivia, "Kau mau juga kubuatkan kapak? aku akan buatkan dengan berat yang sesuai denganmu." tawar Issac.
Olivia ingat, jika selain pembunuh bayara, Issac juga adalah seorang pandai besi dan pembuat pedang ahli. Pedang milik Putra mahkota pun dibuat khusus oleh Issac.
"Iss ... " panggil Olivia menatap Issac.
"Ya?" jawab Issac.
"Daripada kapak, apa boleh aku minta sesuatu? bisa buatkan aku senjata rahasia? sepertinya aku akan butuh itu untuk perlindungan diri," kata Olivia.
Issac terdiam. Ia berpikir senjata apa yang cocok dengan seseorang secantik Olivia. Terlebih tubuh Olivia lemah.
"Boleh pinjam tanganmu?" tanya Issac.
"Ya? tangan? untuk apa?" tanya Olivia bingung.
"Untuk melihat senjata apa yang kira-kira cocok untukmu," jawab Issac.
"Maaf, Ivy. Sebenarnya aku ingin memeriksa apakah kau punya mana atau tidak." batin Issac.
Olivia mengulurkan tangan, Issac meletakkan tangannya ke atas tangan Olivia seolah sedang mengukur besarnya telapak tangan Olivia. Dengan hati-hati Issac mencuri kesempatan memeriksa tubuh Olivia. Issac terkejut, begitu ia merasakan mana yang kuat dalam jumlah besar yang samar dalam tubuh Olivia.
__ADS_1
Issac tersenyum, "Aku sudah tahu, senjata apa yang cocok untukmu. Aku akan buatkan sesuatu yang sangat istimewa. Aku akan memberikan itu, setelah kau menyelesaika latihanmu dengan Ayah. Setelah kau menjadi seseorang yang kuat dan bisa menggunakannya. Bagaimana?" tanya Issac menjelaskan.
Olivia menganggukkan kepala, "Ya, aku menantikan hari itu tiba. Terima kasih, Iss." kata Olivia.