
Octavius, Owen dan Olivia sampai di sebuah desa. Olivia mengerutkan dahi, melihat tempat yang ditujunya itu. Matanya sibuk menyelisik sekitar.
"Tempat apa ini? Apa ini sebuah desa?" batin Olivia.
Ia merasa aneh, karena di dalam buku tidak dijelaskan adanya sebuah desa atau tempat seperti yang dilihatnya.
"Tuan Duke Muda, Tuan Muda kedua," sapa seseorang mendekat.
Seorang laki-laki paruh baya menyapa Octavius dan Owen. Pria itu menatap Olivia dan bertanya siapa Olivia? Octavius pun memperkenalkan Olivia sebagai Adik sekaligus anak termuda di keluarga Duke Hubbert.
"Astaga, maafkan kelancangan saya. Salam kenal, Nona. Saya Jeremy, penjaga desa ini." katanya tersenyum pada Olivia.
"Ya? Pe-penjaga desa?" gumam Olivia semakin bingung.
Owen menatap Olivia, "Kau pasti bingung setelah datang ke sini. Nanti aku akan jelaskan pelan-pelan. Sekarang, sebaiknya kita temui Ayah terlebih dulu." kata Owen.
"Oh, i-iya." jawab Olivia.
"Paman, apa Paman tahu di mana Ayah kami?" tanya Owen.
"Tuan Duke sedang berada di rumah kepala desa," jawab Jeremy.
"Oh, kalau begitu kami juga akan menyapa kepala desa. Kami pergi dulu, Paman. Sampai jumpa," kata Owen.
Owen membawa Olivia pergi. Sedangkan Octavius masih terlihat berbincang dengan Jeremy dan tidak beberapa lama menyusul kedua adiknya.
***
Di rumah kepala desa. Victor sedang mendengarkan cerita dari seseorang tentang penyerangan monster yang beberapa waktu lalu menyerang desa dan melukai beberapa warga. Meski tida ada koeban jiwa, tetap saja kepala desa merasa bersalah atas kejadian yang melanda desanya.
"Berapa banyak monsternya?" tanya Victor.
__ADS_1
"Monster yang menyerang desa ada sekitar lima. Namun, saya menduga ada monster lain yang ada di luaran sana." Jawab kepala desa.
Victor diam berpikir. Ia memikirkan cara membasmi monster-monster itu agar tak menyerang warga desa lagi. Selagi sibuk berpikir, ia mendengar pelayan kediamana kepala desa melapor, jika ketiga anaknya sudah datang.
"Tuan kepala desa, ada Tuan Duke Muda, Tuan Muda kedua dan Nona Muda di luar. Mereka baru saja tiba," kata pelayan menyampaikan.
"Oh, suruh mereka masuk." Jawab kepala desa.
Dan tidak lama Octavius, Owen dan juga Olivia masuk ke dalam kediaman kepala desa. Begitu melihat Olivia, kepala desa langsung salah mengira itu adalah Ariana.
"Nyonya ... " gumamnya.
"Mereka tampak sangat mirip, bukan?" tanya Victor.
"Ya, Tuan. Nona sangat mirip dengan Nyonya. Bahkan aura yang dipancarkan pun tidak berbeda jauh," jawab kepala desa.
Olivia hanya diam. Ia masih merasa asing dan bingunh dengan situasinya. Ia duduk si samping Victor. Mendengar Ayah, dua kakaknya dan kepala desa berdiskusi
Dari diskusi diputuskan, jika Victor, Octavius dan Owen akan melakukan pembasmian dibantu pendusuk desa yang bisa berperang. Dan karena pembasmian akan langsung dilakukan dalam waktu dekat, maka Victor memutuskan tinggal di desa.
***
Malam harinya. Pada saat Victor, Octavius, Owen dan Olivia makan bersama. Victor membicarakan strategi lanjutan untuk menghadapi monster.
"Ayah, apakah monster itu sangat berbahaya?" tanya Olivia.
"Setelah Ayah melihat korban tadi siang, dan mendengar langsung orang-orang yang melawan monster itu, sepertinya cukup berbahaya. Mereka menyerang secara berkelompok," jawab Victor.
"Begitukah? lantas, apakah Ayah, Kak Octavius dan Kak Owen akan melakukan pembasmian besok?" tanya Olivia lagi.
"Ya. Kami akan pergi begitu matahari terbit, karena pada saat matahari terbit, monster-monster biasanya sedang tidur atau bersembuyi. Setelah tahu tempat persembunyian mereka, kami akan langsung melakukan pembasmian." jelas Victor.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja. Pasti kau khawatir pada Ayah dan dua kakakmu ini, kan?" tanya Octavius menyahuti. Dan dijawab oleh anggukan kepala oleh Olivia.
Owen mengusap kepala Olivia, "Benar kata Kakak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Ayah dan Kakak pernah menghadapi monster yang lebih kuat di pegunungan utara." kata Owen.
Victor menyakinkan Olivia, jika semua akan baik-baik saja. Dan setelah pembasmian, maka mereka semua akan kembali ke wilayah. Ia meminta ketiga anaknya segera menghabiskan makan dan pergi istirahat.
***
Keesokan harinya. Sesuai perkataan Victor semalam, Ia, Octavius, Owen dan beberapa orang lain pergi melakukan pembasmian. Olivia tinggal dan membantu penduduk desa melakukan apa yang bisa di lakukan.
Salah seorang pelayan wanita yang bekerja di kediaman kepala desa mengajak Olivia berkeliling desa. Pelayan itu menunjukkan apa saja yang ada di desa itu dan menceritakan tentang desa itu.
Olivia melihat seseorang terjatuh dengan membawa bahan makanan ditangannya. Olivia segera menghampiri dan membantu.
"Nona, Anda baik-baik saja? apa ada yang terluka?" tanya Olivia menatap seorang gadis kira-kira seusianya di hadapannya.
"Te-terima kasih, Nona. Saya memang sedikit tidak enak badan," jawab gadis itu.
"Nona Beatrix, apa Anda sakit? seharusnya Anda meminta bantuan pelayan Anda saja. Bagaimana, jika sesuatu terjadi pada Anda? Tuan Marquis pasti akan marah besar pada kepala desa karena dianggap tak bisa menjaga Anda dengan baik." kata pelayan yang berdiri di samping Olivia.
Mata Olivia membulat, "Siapa? Pelayan ini memanggilnya Beatrix dan berkata Tuan Marquis. Apa jangan-jangan, dia Beatrix yang itu? Beatrix yang adalah kakasih putra mahkota dan juga orang yang menyewa Issac untuk membunuh Olivia? Ti-tidak mungkin!" Batin Olivia terdiam.
Olivia menatap pelayan, "Apakah Nona ini seorang bangsawan, yang Ayahnya bergelar Marquis?" tanya Olivia.
Pelayan menganggukkan kepala, "Benar, Nona. Nona ini sengaja dititipkan ke desa ini karena ada masalah internal keluarga. Pastinya masalah apa saya juga tidak tahu. Yang tahu hanyalah Tuan kepala desa." jawab pelayan.
Olivia menatap Beatrix, "Bagaimana bisa aku bertemu dengannya secepat ini? Padahal aku baru ingin hidup tenang dan damai menikmati semua yang kumiliki sebagai putri seorang Duke," batin Olivia sedikit kecewa.
Tiba-tiba Olivia terpikrikan sebuah ide, "Ah, benar juga. Kalau sudah terlanjur begini, bukankah seharusnya aku merekrutnya menjadi temanku? Seperti Issac yang sekarang memiliki hubunga baik denganku. Jika Beatrix dan aku menjalin hubungan baik, maka kami tidak perlu lagi berseteru, kan? lagipula aku juga tidak akan pernah menyukai Putra Mahkota. Kalaupun perasaan Beatrix seperti isi novel, yang begitu mendambakan Putra Mahkota, maka aku sebagai teman akan menjadi tim pendukung. Dengan begitu, maka aku bisa hidup dengan damai dan tenang. Namun, apakah boleh melakukan ini? ah, lupakan boleh atau tidak boleh. Melindungi nyawa lebih penting sekarang," batin Olivia.
"Bibi pelayan, bisakah Bibi membawakan obat-obatan? aku akan menunggu di sini menemani Nona ini," pinta Olivia.
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya tidak apa-apa," kata Beatrix.
"Anda sakit dan orang yang sakit harus minum obat. Ayo, saya antar Anda ke kediaman Anda. Saya yang akan bawa semua ini," kata Olivia.