Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
42. Sekelas


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, semua mata menatap Arron dan Beatrix yang berjalan bersamaan. Beatrix merasa semakin canggung. Ia tidak terbiasa dengan tatapan mata yang menusuk.


"Seharusnya aku langsung menolak saja tadi. Kalau begini, rasanya jadi tidak nyaman. Di mana kelasku? kenapa jauh sekali?" batin Beatrix.


"Di mana kelas Ivy ya? Ah, seharusnya tadi aku tanya ke kepala akademi dulu. Aku jadi melewatkan itu karena tiga nona penggosip yang membicarakan Ivy," batin Arron.


Beatrix sedikit menundukkan kepala, ia malu ditatap banyak murid. Ia takut diejek dan dikatai. Sedangkan Arron sibuk memikirkan letak kelas Olivia. Ia merasa sayang karena terlewat mencari tahu.


***


Di kelas kesatria. Chloe dan Olivia duduk sebangku. Di awal tahun ajaran, memang kelas masih dicampur untuk nantinya dipecah menjadi tiga tingkatan berdasarkan kemampuan murid masing-masing.


Kelas kesatria sendiri merupakan kelas di mana para murid memiliki kemampuan berpedang atau ingin belajar berpedang. Yang mana mereka nantinya akan menjadi kesatria. Dan Olivia yang ingin menjadi swordmaster pun masuk ke kelas itu untuk memperdalam pengetahuan. Bisa saja ia masuk ke dalam kelas penyihir, karena bisa menggunakan sihir. Namun, ia tetap lebih memilih kelas kesatria.


"Ternyata peminat kelas kesatria cukup banyak," kata Chloe.


"Tentu saja. Ini adalah kelas terbesar yang mana murid lulusannya nanti akan masuk ke pasukan kesatria istana ataupun menjadi kesatria bangsawan. Nah, kenapa kau berminat masuk ke sini? bukannya kau bilang ingin jadi penyihir?" tanya Olivia.


"Hm, awalnya begitu. Namun, aku takut tidak punya teman di sana. Hahaha ... lagi pula aku kan tidak buruk dalam mengayunkan pedang," jawab Chloe.


"Ya. Baiklah, kalau itu memang kemauanmu. Lakukan dengan sungguh-sungguh kalau kau ingin berhasil," sahut Olivia.


Tiba-tiba suasana ramai. Murid-murid lain membicarakan Arron dan Beatrix yang ada di luar kelas.


Chloe melihat Beatrix di luar kelas, "Iv ... lihat keluar," kata Chloe.


Olivia yang tadinya menatap buku di atas meja pun mengalihkan pandangan. Ia melihat keluar kelas dan melihat Beatrix bersama Arron.


"Mereka ... ah, begitu. Akhirya mereka bertemu sesuai apa yang tertulis di novel. Kenapa mereka di depan kelas?" batin Olivia.


Arron mengantar Beatrix masuk ke dalam kelas kesatria, "Karena sudah sampai, aku pergi dulu. Selamat belajar," kata Arron.


"Ya, Yang Mulia. Terima kasih sudah mengantar saya," jawab Beatrix.

__ADS_1


Arron pun berbalik dan melangkah pergi meninggalakan kelas. Namun, langkahnya langsung terhenti, saat ia mendengar Beatrix memanggil nama Olivia.


"Ivy ... " panggil Beatrix menghampiri Olivia.


"Ivy?" batin Arron segera berbalik.


Arron melihat Olivia, gadis pujaan hatinya sedang duduk bersama Beatrix dan seorang gadis lain. Olivia memalingkan pandangan, dan kaget saat pandangannya bertemu dengan Arron.


Arron tersenyum, "Ah, rupanya di sini kelasnya. Jadi, Beatrix sekelas dengan Ivy," batin Arron.


Karena ia juga harus masuk ke dalam kelasnya, Arron pun lantas pergi meninggalkan Kelas Olivia.


***


Beatrix yang diizinkam duduk sebangku dengan Olivia dan Chloe pun senang. Ia serasa lebih bersemangat.


"Terima kasih sudah mengizinkan aku duduk di sini," kata Beatrix.


"Sama-sama. Kita kan saling kenal, jadi tidak masalah. Buka begitu, Iv?" jawab Chloe.


"Beatrix, aku tidak sangka kau masuk kelas kesatria," kata Chloe penasaran.


"Ah, itu ... aku mau berlatih dan bisa berpedang. Aku mau, setidaknya bisa melindungi diri sendiri. Jadi, aku memutuskan masuk kelas ini," jawab Beatrix.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja? Maaf, bukannya aku berniat buruk. Hanya saja kau tampak memiliki tubuh yang lemah. Aku takut kau tidak mampu mengikuti kelas. Karena di kelas kesatria ini sembilan puluh persen akan diisi kelas berpedang dan sisanya materi," jelas Chloe.


"A-apa? apa benar seperti itu? kenapa aku tidak tahu? Itu bahkan tak tertulis di dalam formulir pendaftaran," sahut Beatrix terkejut.


Olivia menatap Chloe, "Mungkin dia tidak diberitahu profesor pengawas saat mendaftar. Jangan menakutinya," kata Olivia.


"Oh, maaf. Aku hanya menjelaskan saja," gumam Chloe merasa bersalah.


Olivia menatap Beatrix, "Tidak apa-apa kalau kau tidak tahu. Mungkin profesor lupa memberitahumu. Chloe hanya berusaha menjelaskan saja dan mengutarakan isi pikirannya. Aku harap kau tidak tersinggung. Kami tidak punya niata jahat terhadapmu," kata Olivia menjelaskan.

__ADS_1


Beatrix tersenyum menatap Olivia, "Ya. Tidak apa-apa. Aku senang kalian mau mejelaskannya. Meski kedengaranya akan sulit, tapi aku tidak mau meyerah. Aku mau jadi kuat dan tangguh seperti Ivy," jawab Beatrix.


Olivia terkejut, "Ah, iya. Semangat," kata Olivia tersenyum.


"Apa yang sebenarnya terjadi? di novel kan Olivia dan Beatrix tidak sekelas. Beatrix mengambil kelas keterampilan dan seni. Karena dia senang melukis, menari dan membuat kerajinan tangan. Sedangkan Olivia yang tidak bisa apa-apa masuk ke kelas sejarah. Hanya mengingat dan mebghafal yang dibisa Olivia dalam novel. Namun, aku dan Beatrix bahkan sekelas. Apa alir cerita benar-benar berubah?" batin Olivia.


***


Saat jam istirahat. Di kantin akdemi. Olivia, Chloe dan Beatrix sedang menikmati dessert bersama-sama sembari berbincang tentang pelajaran dikelas. Tiba-tiba saja, seseorang menghampiri Beatrix dan bertanya soal Arron, Putra Mahkota Kekaisaran.


"Hai, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya seseorang itu.


Beatrix bingung, "Ya? Aku?" tanyanya.


"Ya. Kau. Hm, apa kau kenal Yang Mulia Putra Mahkota? apa hubunganmu dengannya?" tanya seseorang itu.


Olivia kaget. Ia hampir saja tersedak. Ia buru-buru minum dan menantikan apa jawaban Beatrix. Chloe juga menguping dengar pembicaraan Beatrix dengan seseorang yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.


Beatrix mengerutkan dahi, "Apa-apaan dia ini? Apa dia salah paham denganku. Aku kan tidak ada hubungan apa pun dengan Putra Mahkota. Kami juga baru kenal tadi setelah beliau membatuku. Aneh," batin Beatrix.


"Maaf, aku tidak kenal dan tidak ada hubungan apa-apa dengan beliau. Tadi, beliau hanya kebetulan membantuku mencari kelas," jawab Beatrix.


Seseorang itu mengerutkan dahi, "Apa kau bercanda? kau bohong, kan? kalau tidak ada hubunganya, kenapa juga beliau repot mengantarmu. Dasar pembohong," kata seseorang itu kesal.


"Aku berkata jujur. Kenapa kau marah?" jawab Beatrix.


"Apanya yang bicara jujur. Kau pasti menipuku. Apa kau kekasih Putra Mahkota?" tanya seseorang itu lagi.


Beatrix marah dan memukul meja, "Cukup! hentikan omong kosongmu, Nona. Kau bertanya dan sudah aku jawab, mau kau percaya atau tidak itu bukan urusanku. Jadi, bisakah kau enyah?" kata Beatrix mengerutkan dahi.


Seseorang itu rupanya tersingung, ia pun melayangkan tangan ingin menampar Beatrix. Namun, Olivia segera menangkap pergelangan tangan seseorang itu sebelum tamparan mendarat di wajah Beatrix.


"Jangan gunakan kekarasan untuk menindas yang tidak bersalah. Apa kau kira ini rumahmu, dan dia adalah pelayanmu yang melakukan kesalahan padamu? dia kan sudah menjawab, kenapa kau malah mengatainya penipu? aah ... apa jangan-jangan, kau sedang cemburu? Apa dugaanku salah?" Tanya Olivia menatap dingin ke seseorang dihadapannya.

__ADS_1


Seseorang itu menarik tangannya dari cengkraman Olivia, tetapi karena cengkraman Olivia terlalu kuat, seseorang itu tak bisa melepaskan tangannya.


Chloe berpikir, bisa-bisa temannya itu mematahkan tangan murid lain. Dan ia pun segera menengahi, ia membantu seseorang itu melepaska tangannya dari cengkraman Olivia.


__ADS_2