Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
38. Setangkai Bunga dan Permintaan Maaf


__ADS_3

Olivia berada di pavilun, ia mondar mandir karena khawatir. Ia berpikir, bagaimana kalau Putra Mahkota menghukumnya karena sudah bertindak tidak sopan. Terlebih ia langsung menepis tangan Putra Mahkota dan pergi begitu saja.


"Wuaahhh ... aku sungguh sudah gila. Meski aku kesal dan sangat tak suka karena karakternya dalam novel yang buruk, seharusnya aku tak menepis tangannya, kan? Bagaimana kalau dia balas dendam dan melapor pada Baginda Kaisar? bisa-bisa aku Ayah dan dua Kakak dituduh sebagai pengkhianat. Aahhh ... aku harus bagaimana?" gumam Olivia gelisah.


Beberapa saat kemudian, pintu pavilun terbuka dan Owen pun masuk ke dalam paviliun. Ia bertatap mata dengan sang Adik.


"Ternyata benar kau di sini," kata Owen.


"Ya? ada apa, Kak?" tanya Olivia bingung.


"Oh, itu. Tadi aku kembali ke ruang makan setelah jalan-jalan dan berbincang dengan Yang Mulia Permaisuri. Di ruang makan, aku hanya melihat Yang Mulia Putra Mahkota. Saat aku bertanya kau di mana, beliau berkata, kalau kau sudah pergi dan aku langsung ke sini," jawab Owen menjelaskan.


"Apa beliau mengatakan sesuatu lainnya pada Kakak?" tanya Olivia.


Owen mengerutkan dahi, "Beliau itu, apa maksudnya Yang Mulia Putra Mahkota? mengatakan apa memangnya?" tanya Owen bingung. Tidak mengerti dengan apa yang Olivia maksud.


"Ah, tidak. Bukan apa-apa, Kak. Sepertinya aku terlalu tegang sampai melantur bicara," jawab Olivia.


"Huhh, syukurlah. Dia tak bicara macam-macam pada Owen. Hampir saja aku mengatakan hal yang tak diperlukan," batin Olivia.


Owen dan Olivia pun menunggu Victor dan Octavius datang ke paviliun dengan berbincang santai. Tak berselang lama yang ditunggu-tunggu pun datang, dan ternyata Victor menyampaikan sesuatu hal tak terduga. Malam itu ia diminta menginap oleh Baginda Kaisar karena hari sudah malam. Perlu waktu sekitar dua jam perjalanan dari istana untuk sampai di Duchy, wilayah kekuasaan.


Victor langsung meminta ketiga anak-anaknya beristirahat. Dan mempersilakan pelayan menyiapkan keperluan mereka.


"Selemat malam, Ayah," kata Olivia.


"Selamat malam, sayang. Selamat tidur," jawab Victor.


Seorang pelayan wanita mengantar Olivia ke kamar. Pelayan itu menyiapkan gaun tidur dan membantu Olivia berganti.


"Terima kasih, kau bisa pergi sekarang. Sisanya akan kulakukan sendiri," kata Olivia.


"Baik, Nona. Saya permisi. Selamat beristirahat," Jawab pelayan itu.

__ADS_1


Olivia menatap kepergian pelayan wanita sampai menghilang di balik pintu. Ia mengalihkan pandangan menatap sekeliling kamar yang akan ia gunakan istirahat. 


"Apa aku bisa tidur di sini?" gumam Olivia.


Ia hendak duduk di tepi tempat tidur, tetapi pandangannya teralihkan ke arah balkon kamar. Ia berjalan menghampiri balkon dan menatap langit malam penuh bintang.


"Wahhhh ... " gummanya.


Angin berembus sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Olivia melihat sekeliling dan mendapati seseorang berada di atas pohon dan tampak mencurigakan. Pohon itu terletak di taman tak jauh dari paviliun di mana Olivia sekeliarga tinggal untuk bermalam.


"Siapa itu?" batin Olivia mengerutkan dahinya.


Sosok itu tak sengaja berbalik, dan melihat ke arah Olivia. Ia terkejut saat melihat Olivia sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh dari atas pohon. Melihat itu, Olivia yang panik buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintu balkon, juga gorden. Ia langsung naik ke tempat tidur dan masuk dalam selimut.


"Si-siapa tadi? dia tak melihatku, kan? Dia jatuh begitu, apa tidak apa-apa? astaga, kenapa hariku seperti ini? Sudah bertemu tokoh utama pria yang jahat, melihat orang jatuh juga. Ahhh ... " batin Olivia menutup wajahnya dengan selimut.


"Tidak tahu, ah ... aku tidur saja. Siapa pun orang tadi, mau dia melihatku ataupun tidak, aku tidak peduli. Pura-pura saja tidak tahu apa-apa," batin Olivia lagi.


Olivia pun memejamkan mata dan terlelap tidur.


***


"Aahh ... kenapa harus jatuh. Aduh kakiku," keluh Putra Mahkota.


Kepala pelayan berpapasan dengan putra Mahkota dan membantu Putra Mahkota. Ia mengambilkan obat, juga mengobati luka Putra Mahkota.


"Yang Mulia, bagaimana bisa Anda terluka? sepertinya kaki Anda terkilir, saya akan panggilkan Dokter istana," kata Kepala pelayan.


"Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lagi pula, ini hanyalah luka lecet saja. Aku kehilangan keseimbangan dan tak tepat berpijak saat di atas pohon, akhirya aku jatuh. Kau tak perlu khawatir. Pergilah dan istirahat," kata Arron menyuruh kepala pelayan istana pergi dari istananya.


"Yang Mulia, apa ada sesuatu? Maaf, tetapi saya melihat Anda sedang resah," tanya kepala pelayan ingin tahu.


"Oh, itu ... hm ... sebenenarnya aku membuat kesalahan pada seseorang dan aku berniat meminta maaf atas tindakanku yang tidak sopan. Apa yang harus aku lakukan selain berkata 'Maaf' ?" tanya Arron menatap kepala pelayan.

__ADS_1


"Dia pasti bukan pria," sahut Kepala pelayan.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Arron terkejut.


"Hm, saya hanya menebak saja. Apa jangan-jangan Anda merasa bersalah atas apa yang Anda lakukan pada lady-lady selama ini? Ehemm ... maksud saya para lady yang mengirimi Anda surat," kata kepala pelayan.


"Bukan mereka. Dia adalah kenalanku. Jadi, apa saranmu, kepala pelayan?" tanya Arron.


"Kebanyakan lady suka dengan hadiah. Gaun, perhiasan, bunga dan makanan penutup manis. Anda bisa berikan salah satunya sembari meminta maaf secara baik-baik. Lady itu pasti akan luluh. Lagi pula, lady mana yang akan berlama-lama memendam amarah pada Anda," kata Kepala pelayan.


"Ya, aku akan pikirkan saranmu. Terima kasih untuk saranmu dan bantuanmu merawat lukaku. Kau bisa pergi," kata Arron.


"Baik, Yang Mulia. Jika butuh sesuatu, Anda bisa memanggil penjaga. Saya permisi," kata kepala pelayan yang langsung pergi meninggalkan kamar tidur Arron.


Arron berbaring di sofa dan menatap langit-langit kamar. Ia berpikir apa yang akan ia berikan pada Olivia sebagai permintaan maaf.


***


Keesokan harinya. Setelah selesai sarapan, Victor sekeluarga berpamitan pada Kaisar untuk pulang ke wilayah kekuasaan. Kebetulan, Baginda Kaisar mengirim Arron untuk mengiringi kepulangan Victor dan ketiga anaknya.


Arron yang mendengar itu langsung senang. Setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bisa meminta maaf pada Olivia meski tidak tahu seberapa besar peluangnya.


Victor menumpangi kereta kuda pertama, bersama Octavius dan Owen juga ajudan Kaisar. Sedangkan kereta kuda kedua ditumpangi oleh Olivia dan putra Mahkota.


Olivia menatap keluar jendela kereta kuda, "Apa-apaan ini? Hari buruk apa lagi yang akan kualami?" batin Olivia.


"Iv ... ah, maksud saya Lady, boleh saya bicara?" tanya Arron.


"Ya, silakan saja. Ada apa, Yang Mulia?" tanya Olivia menatap Arron yang duduk di hadapannya.


Arron mengeluarka setangakai bunga mawar merah dari balik jubahnya dan memberikannya pada Olivia.


"Saya minta maaf. Saya mengakui kesalaha saya. Dan seharusnya saya tidak melakukan hal yang membuat Anda tidak senang. Maafkan saya, lady," ucap Arron menatap Olivia.

__ADS_1


Olivia terkejut, ia terdiam tidak tahu harus menjawab ataupun berbicara apa. Sbab ia tidak terpikirkan, jika Arron akan tiba-tiba meminta maaf padanya.


__ADS_2