
Olivia sampai di rumahnya hampir tengah hari dan langsung mandi. Karena sebelimnya ada banyak hal dilakukan dalam perjalanan pulang ke kastil. Emma membantu memandikan Olivia dan mereka berbincang. Olivia menceritakan apa yang terjadi pada Emma. Membuat Emma terkejut dan sekaligus senang.
"Apa Anda baik-baik saja, Nona? Anda terlihat murung," tanya Emma.
"Ya? Oh, tidak apa-apa, Emma. Aku sedang memikirkan hal lain saja. Apa Ayah langsung pergi?" tanya Olivia menatap langit-langit kamar mandinya.
"Ya, Tuan Duke, Tuan Duke Muda dan Tuan Muda kedua pergi ke istana menghadap Baginda Kaisar," jawab Emma. Memijat kaki Olivia.
"Hm, begitu. Lantas, apa kau menjalankan apa yang kuperintahkan? ceritakan apa yang kau lihat dan kau ketahui," tanya Olivia memejamkan mata.
Olivia begitu menikmati berendam air hangat dengan kelopak mawar dan dipijat Emma. Rasa lelahnya seketika langsung lenyap.
"Saya datang ke lokasi pembangunan dan bertemu Tuan Deon. Beliau menitipkan surat pada Anda. Saya lihat bangunannya sudah hampir jadi. Saya sangat terkesan, Nona. Oh, ya ... " kata Emma terkejut dab menghentikan pembicaraannya.
Emma mengentikan sebentar memijat kaki Olivia, lalu berpindah ke bahu Olivia.
"Saya juga bertemu seseorang," bisik Emma di telinga Olivia.
"Oh, siapa?" tanya Olivia masih memejamkan mata.
"Tuan Ron. Itu, pria yang sering mrnitipkan surat pada teman saya untuk Anda," jawab Emma.
Olivia membuka mata dan menatap Emma, "Hah? Kau bertemu dengannya? lantas, apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Olivia ingin tahu.
Emma memutar bola mata, "Tidak ada pembicaraan serius. Hanya saja Tuan Muda itu berkata tidak sabar bertemu Nona, begitu katanya. Saya tidak berkata apa-apa karena tidak tahu apapun. Apa Nona memang berncana bertemu denga Tuan Muda yang tampan itu?" tanya Emma penasaran.
Olivia mengerutkan dahi, "Kau saja sana yang bertemu. Dengar ya, Emma. Aku tegaskan sekali lagi, jangan macam-macam dan bicara sembarangan. Apalagi soal pemuda. Aku kan sudah katakan dengan jelas berulang kali. Kalau aku tidak akan menikah atau menjalin hubungan serius dengan pria manapun. Paham?" kata Olivia mengingatkan Emma dengan tegas.
Emma menganggukkan kepala, "Ya, Nona. Saya mengerti," jawab Emma.
__ADS_1
"Ada apa dengan pemuda bernama Ron itu? Kata-katanya pada Emma mencurigakan sekali. Menantikan pertemuan? Hahaha ... yang benar saja. Siapa juga yang menantikan pertemuan denganmu? Wajah tampan dan uang berlimpah tak menjamin apapun, bisa jadi Ron sama seperti Putra Mahkota yang menyebalkan itu. Aku ingat jelas isi novel yang kubaca. Sikap arogan Putra Mahkota yang memenadang Olivia sebelah mata. Cih, pria jahat yang paling jahat. Bahakan dia diam saja saat tahu Beatrix mengirim Issac untuk membunuh Olivia. Dan pura-pura tidak tahu akan hal itu. Menyebalkan, sangat menyebalkan," batin Olivia mengertakkan gigi.
"Aneh sekali, kenapa Nona jadi menghindari lawan jenis? Seperti gadis yang mengalami patah hati dan sakit yang mendalam. Bukankah Nona juga berteman baik dengan Tuan Issac dan Tuan Deon? Uhh, aku tidak mengerti isi pikiran dan hati Nona Ivy," batin Emma.
Setelah selesai mandi, Emma segera mempersiapkan gaun untuk dikenakan Olivia. Emma menyisir rambut panjang Olivia dengan perlahan dan memberinya hiasan.
Tidak beberapa lama, pintu kamar diketuk dan dari luar terdengar suara pelayan memanggil Olivia.
"Nona, Permisi. Apa boleh saya masuk?" tanya pelayan.
"Ya, masuk saja," jawab Olivia.
Pelayan itupun membuka pintu dan masuk, lalu berjalan mendekati Olivia.
"Nona, ada tamu yang datang," kata pelayan itu memberitahukan.
"Tamu, siapa?" jawab Olivua menatap ke arah pelayan kediamannya.
Olivia segera berdiri dan menatap lekat pelayannya, "Tarik napasmu dulu, lalu embuskan pelan-pelan. Jelaskan denga tenang, apa maksudmu utusan dari istana datang ke kastil ini?" kata Olivia.
Pelayan yang tegang itupun mengikuti perkataan Olivia. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan dan akhirnya mulai tenang.
"Begini, saat saya sedang membersihkan lantai ruang tamu, ada penjaga yang datang dan mengantar dua orang utusan istana," kata pelayan.
"Begitu, rupanya. Ya, sudah. Aku akan menemui mereka," kat Olivia.
Olivia segera pergi diikuti Emma dan pelayan di belakangnya, meninggalkan kamar tidur.
***
__ADS_1
Di ruang tamu. Terlihat seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya duduk menikmati teh yang disajikan pelayan kastil.
"Maaf, lama menunggu." kata Olivia yang baru datang.
Kedua orang itu meletakkan cangkir dan segera berdiri, membungkukkan sedikit tubuh dan menundukkan kepala mereka memberi salam.
"Hallo, Nona. Saya Marie, dayang Baginda Permaisuri," kata seorang wanita paruh baya.
"Dan saya Jeremy, Ajudan Baginda Kaisar," kata seorang pria paruh baya.
"Saya Olivia Hubbert. Senang bertemu Anda berdua. Kalau boleh saya tahu, ada kepentingan apa Tuan Ajudan dan Nyonya dayang datang ke kastil? bukankah Tuan Duke ada di istana?" jawab Olivia sekalian bertanya.
"Maaf, jika kedatangan kami membuat Anda khawatir, Nona. Kami datang untuk menjemput Anda ke istana, atas perihtah Yang Mulia Kaisar dan Tuan Duke Hubbert." Kata Marie.
Olivia kaget, "A-apa maksudnya?" tanya Olivia bingung.
Jeremy mendekat dan memberikan sebuah surat beserta pelakat milik Victor. Olivia menerima dan segera membaca surat dari Ayahnya itu. Ternyata Baginda Kaisar ingin mengajak keluarga Hubbert makan malam bersama sebagai ucapan terima kasih. Dan semua anggota keluarga diwajibkan datang. Karena di istana sudah ada Victor, Octavius dan Owen, maka Olivia pun dijemput atas perintah Kaisar sendiri dengan mengirimkan ajudan dan dayang pribadi Permaisuri.
"Kalau makan malam bersama, apa artinya keluarga Hubbert dengan keluarga Kaisar? berarti, ada kemungkinan aku akan bertemu Putra Mahkota? Ahh, kepalaku langsung pusing. Bagaimana ini? jika ku tolak, apa kata Kaisar nanti. Ayah juga pasti bertanya kenapa aku menolaknya. Apa aku katakan saja kalau aku sedang sakit, ya? Tidak, tidak. Nanti Ayah dan kedua Kakak malah khawatir. Hmm ... sepertinya memang aku harus ke sana. Ya, sudahlah. Kalau bertemu anggap saja aku melihat sampah dan tak perlu kulihat lagi. Aku tak boleh mencemari reputasi keluarga Hubbert dan membuat Baginda Kaisar tersinggung," batin Olivia.
Olivia melipat kembali surat dari Ayahnya, "Baiklah. Saya akan bersiap-siap. Apakah tidak apa-apa menunggu?" tanya Olivia menatap Jeremy dan Marie.
"Silakan, Nona." Jawab Marie. Dan Jeremy pun menganggukkan kepala pelan.
Olivia menatap Emma dan memberikan isyarat agar segera ikut bersamanya.
Dalam perjalanan menuju kamarnya, Olivia terpikirkan sesuatu. Ia ingin merubah penampilan dan kesannya dari sebelumnya.
"Kalau di novel, Olivia akan berdandan imut agar membuat Arron terpikat dan terus memandangnya. Karena Beatrix juga adalah wanita yang imut. Namun, kali ini akan kuperlihatkan. Penampilan lain. Aku tidak mau lagi dinilai sebagai Olivia berhati lembut yang berdandan norak. Saatnya berubah, hohoho ... " batin Olivia tersenyum senang.
__ADS_1
Ia langsung menggandeng tangan Emma dan berbisik pada Emma. Ingin Emma meriasnya dengan riasan sesuai keinannya. Ia pun meminta Emma menyiapkan gaun polos berenda tanpa motif berwarna gelap. Olivia berkata, jika ia ingin tampil berbeda, terlebih ia harus makan bersama keluarga Kaisar.