
Tidak butuh waktu lama bagi Olivia berganti gaun dan merias diri. Ia pun segera menemui utusan dari istana untuk selanjutnya ikut pergi ke istana. Marie dan Jeremy terkejut melihat betapa anggun dan elegannya penampilan Olivia.
"A-apa beliau benar-benar Nona Olivia yang tadi menemui kami? Bagaimana bisa penampilannya langsung berubah?" batin Marie kagum sekaligus terheran-heran..
Sebelumnya, Olivia mengenakan gaun rumaham dengan motif garis-garis. Menunjukkan sisi imut dari seorang remaja belasan tahun. Namun, kali ini Olivia berhasil memukau Marie dan Jeremy. Ia mengenakan riasan tipis, dan gaun polos berenda berwarna biru tua. Dengan rambut yang digerai dan dihiasi pita senada gaunnya. Tanpa anting dan tanpa kalung, hanya mengenakan gelang peninggalan sang Ibu. Olivia tampak sangat cantik. Karena ternyata ia cocok berdandan demikian.
Olivia menatap Marie, "Nyonya Dayang, ada apa?" tanya Olivia.
"Ti-tidak ada, Nona. Saya hanya terkejut. Tiba-tiba penampilan Anda berubah," jawab Marie.
"Apa ini tidak cocok dengan saya? saya terlihat jelek?" tanya Olivia ragu.
"Bukan begitu, Nona. Anda salah paham. Anda tampak sangat cantik sampai saya salah mengira Anda orang lain. Hanya saja saya kagum, bagaimana bisa Anda langsung merubah penampilan dalam waktu singkat," jawab Marie menjelaskan.
"Ehemm, bukankah sebaiknya kita berangkat? nanti bisa terlambat," kata Olivia.
Marie terkejut, "Ah, maaf. Anda benar. Sedetik waktu pun berharga," kata Marie.
Olivia pun akhirnya pergi meninggalkan kastil tempat tinggalnya tepat tengah hari. Ia bahkan sampai melewatkan waktu makan siang karena tidak bisa membiarkan kedua utusan istana menunggunya lebih lama lagi. Olivia, Marie dan Jeremy naik kereta kuda khusus.
***
Di istana. Arron yang mendengar kabar akan diadakannya makan malam bersama kelaurga Hubbert pun terkejut. Ia serasa tak percaya dan bertanya ulang pada ajudan apakah yang disampaikan ajudannya sungguh-sungguh atau hanya gurauan.
"Apa ucapanmu itu sungguhan?" tanya Arron.
"Anda sudah tahu jelas, apa yang saya dapatkan, jika saya berani berbohong. Saya menyampikan pada Anda karena ini adalah perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar. Anda diminta bersiap-siap," jawab ajudan Arron.
__ADS_1
"Ya, baiklah kalau begitu. Karena Baginda Kaisar memintaku bersiap-siap, maka aku akan bersiap-siap," jawab Arron.
Ajudan Arron menatap Arron penuh rasa bingung, "Kenapa Yang Mulia begitu patuh sekarang? apa beliau sakit? padahal beliau tidak akan datanh untuk makan bersama Baginda Kaisar dan Parmaisuri walaupun dipaksa, dengan memberikan seribu satu alasan. Aneh sekali," batin sang Ajudan.
"A-aku akan bertemu Ivy?" Batin Arron dengan wajah memerah.
Deg ... deg ... deg ...
Jantung Arron berdegup kencang. Dahinya pun berkeringat. Ia tidak percaya, ia akan secapat itu bertemu dengan Olivia. Terlebih ia juga dengar kalau Olivia sedang dalam perjalanan dijemput langsung ajudan Baginda Kaisar dan Dayang pribadi Permaisuri.
"Pelayan ... pelayan apa kalian di luar?" teriak Arron memanggil pelayannya.
Dua pelayan masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri Arron. Segera Arron meminta dua pelayannya itu menyiapkan pakaian terbaik miliknya.
"Siapkan pakaian tebaikku. Aku mau berendam air hangat dulu. Kalian boleh pergi setelah menyiapkan pakaianku," kata Arron.
Arron menatap Ajudannya, "Kalau ada perkerjaan mendesak, bawalah ke kamar mandi. Aku tidak tahu berapa lama waktu mandiku, karena aku harus benar-benar memperhatikan penampilanku dihadapan keluarga Duke Hubbert." Kata Arron.
"Ya? a-apa? oh, ba-baik, Yang Mulia. Silakan mandi dengan tenang dan nyaman. Saya tidak akan mengganggu waktu berendam anda." jawab Ajudan.
Arron pun langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi. Sedangjan Ajudan Arron segera pergi meninggalkan kamar tidur Arron.
Sang ajudan tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia benar-benar dibuat bingung oleh tingkah laku dan sikap Arron yang aneh.
***
Begitu sampai, Olivia dipandu Marie menuju paviliun di mana Ayah dan kedua Kakaknya berada. Sedangkan Jeremy pergi menemui Baginda Kaisar untuk melapor. Setibanya di Istana, hari mulai sore.
__ADS_1
Marie langsung pergi meninggakkan Olivia bersama keluarganya. Melihat Olivia yang berbeda, Victor, Octavius dan Owen pun tertegun sampai membuat Olivia bingung sendiri.
"Ke-ke-kenapa?" tanya Olivia.
"Wah, kau sangat cantik," puji Owen mendekati Olivia.
"Aku hampir tak percaya, kau berpenampilan seperti ini," sambung Octavius.
"Ehemm ... (berdehem) kenapa kalian mengerubungi Adik kalian. Duduk dan minum teh kalian. Ada hal yang mau Ayah bicarakan dengan Olivia," kata Victor meminta dua putranya mengingkir dari sisi putrinya.
Octavius dan Owen kembali duduk. Victor dan Olivia duduk di bangku taman di paviliun.
"Ada apa, Ayah?" tanya Olivia menatap Victor.
"Ayah ingin mengingatkanmu. Jika nanti ditanya Baginda Kaisar, kau harus menjawab sesuai apa yang Ayah katakan ini. Jangan ceritakan perihal inti monster yang kau terima, ataupun pertemuanmu dengan ular berkepala tiga. Bukannya mencurigai Baginda Kaisar atau semacamnya, tetapi ini demi kebaikanmu, Olivia. Jangan katakan juga kalau kau sudah membangkitkan kekuatan ataupun menunjukkannya. Paham? Kau mengerti kan maksud dari perkataan Ayah ini?" tanya Victor menatap Olivia.
Olivia menganggukkan kepala, "Saya mengerti, Ayah." jawab Olivia.
"Tadi, Ayah menceritakan sepenggal saja. Dan tidak melibatkanmu di dalamnya. Ayah hanya berkata kalau sedang mengajakmu berburu di hutan monster dan menemukan kejanggalan yang kita temui di hutan yang berkaitan dengan bengisnya monster-monster di sana. Bukannya Ayah tidak ingin menonjolkanmu yang jelas-jelas memiliki kemampuan. Namun, satu hal yang perlu kau ingat baik-baik, Putriku. Di dunia ini, tidak semua orang suka atau menerima kelebihanmu. Ada beberapa orang yang tidak suka, membenci, bahkan iri dan akan melakukan sesuatu untuk menjatuhkan kita. Ayah pun demikian. Beberapa dari kalangan para bangsawan tak menyukai Ayah karena Ayah pihak Netral. Ayah tidak bergabung dalam komunitas bangsawan elit ataupun bergabung dalam faksi bangsawan pendukung Kaisar. Ayah murni hanya ingin melindungi Kekaisaran ini tanpa ikatan apapun. Itulah janji Ayah pada mendiang Kakekmu dulu. Kakekmu dulu juga melindungi Kaisar sebelumnya sampai detik terakhirnya," jelas Victor.
"Saya mengerti, Ayah. Ayah tidak perlu khawatir. Sebenarnya, tanpa Ayah mengingatkan pun, saya memang berniat menyembunyikan kekuatan saya sampai setidaknya saya mencapai usia dewasa nanti. Saya masih banyak kekurangan, masih harus berbebah dan belajar," jawab Olivia.
Victor mengusap kepala Olivia, "Maafkan Ayah, karena tidak bisa menolak keinginan Baginda Kaisar yang ingin makan bersama dengan kita sekeluarga. Ayah tahu, kau pasti merasa tidaj nyaman datang ke istana. Apa kau bisa menahannya sampai acara makan malam usai? kita akan langsung pulang setelah makan malam," kata Victor khawatir.
"Memang tidak nyaman dan saya sedikit terkejut karena ada dua utusan istana datang ke kastil. Namun, saya berpikir, tidak baik menolak dan tidak ada salahnya datang. Bukankah keberuntungan dapat makan bersama keluarga kekaisaran?" jawab Olivia tersenyum.
Victor tersenyum, ia merasa bangga akan sikap dewasa Olivia. Setelah selesai berbincang, Victor mengajak Olivia kembali masuk ke dalam paviliun.
__ADS_1
Olivia, Victor, Octavius dan Oweb menikmati teh dan kudapan sembari menunggu waktu makan malam tiba. Mereka berempat juga membicarakan perihal pekerjaan dan kesibukan masing-masing.