Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
11. Penolong


__ADS_3

Seorang laki-laki muda yang tampan sedang mondar-mandir karena gelisah. Ia menunggu sang ajudan datang. Laki-laki iyu adalah Arron Luis Griffen. Sang Putra Mahkota Kekaisaran Griffen.


"Yang Mulia ... " panggil seseorang yang baru saja masuk dalam ruangan.


"Bill, bagaimana? apa kau menemukannya?" tanya Arron menatap sang ajudan.


Sang ajudan menggelengkan kepala, "Tidak, Yang Mulia. Saya tidak berhasil mencari tahu siapa Nona tersebut," jawab Bill.


Arron mengerutkan dahi, "Lantas, kenapa kau datang dan memanggilku dengan suara lantang begitu?" tanya Arron.


"Itu ... saya baru saja mendengar rumor aneh dari Akademi. Katanya ada seorang Murid perempuan yang memiliki mana sangat melimpah, sampai-sampai  memecahkan bola kristal pengukur mana." jawab Bill menjelaskan.


"Apa kau bercanda? Itu, mana mungkin? bola kristal pengukur mana adalah satu-satunya alat pengkur mana yang dibuat langsung oleh penyihir agung menara sihir. Kekuatan penyihir agung tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan penyihir biasa. Mana mungkin seseorang bisa merusak barang yang yang dibuat orang sekuat penyihir agung, terlebih dia seorang Lady. Tidak masuk akal," kata Arron.


Arron menyangkal, karena ia tahu betul seperti apa kekuatan bola kristal. Meski jatuh dari ketinggian bola kristal itu sama sekali tak retak ataupun pecah. Saat ia berusaha menghancurkan dengan kekuatannya pun, bola kristal tetap utuh.


"Siapa Lady itu?" tanya Arron.


"Olivia Hubbert, Putri keluarga Duke Hubbert." jawab Bill.


"Olivia Hubbert? Hm, aku seperti pernah dengar namanya. Ahh, sudahlah. Ada hal yang lebih penting dari ini yang harus aku  cari. Bill, aku mau pergi. Kau kembai bekerja saja. Jika Baginda Kaisar mencariku, katakan saja aku sedang berlatih di hutan. Kau mengerti?" kata Arron.


Bill menatap Arron, "Yang Mulia, Anda mau pergi ke mana?" tanya Bill.


"Mencari penolongku. Aku tidak akan bisa tidur tenang sebelum menemukannya," kata Arron.


Arron pun pergi dengan tergesa-tega. Bill hanya memandangi kepergian Arron tanpa bisa berkata-kata.


***


Arron sampai di pasar dan menemui pedagang buah, yang tak lain adalah teman baik Emma. Arron lagi-lagi menanyakan perihal perempuan yang menolongnya pada pedagang buah itu. Karena pedagang buah itu sudah berjanji pada Emma untuk merahasiakan perihal Olivia, maka pedagang buah itupun menutup rapat mulutnya dan mengatakan kalau ia tidak kenal siapa perempuan yang dimaksud Arron.


"Maaf, Tuan. Saya sungguh tak mengenali Nona yang Anda maksud. Sepertinya Nona itu adalah pendatang dari luar Kekaisaran." Kata pedagang.

__ADS_1


"Be-begitu, ya. Baiklah, terima kasih atas informasinya. Semisal Nona itu terlihat, tolong sampaikan aku datang mencarinya," kata Arron.


"Baik, Tuan." jawab pedagang.


Arron pun pergi. Ia berkeliling pasar untuk melihat-lihat situasi. Dalam perjalanan, ia tidak sengaja bertabrakan dengan Olivia dan Emma.


"Ah, maaf. Saya tidak melihat jalan. Anda baik-baik saja?" kata Olivia menatap Arron.


"Oh, ya. Saya tidak apa-apa. Daripada itu, pakaian Anda kotor, " kata Arron melihat pakaian Olivia kotor karena tumpahan minuman yang dibawa Olivia.


"Tidak apa-apa. Saya bisa ganti pakaian.  Maaf, tapi saya sedang terburu-buru. Permisi," kata Olivia yang pergi begitu saja melewati Arron.


Angin berembus, aroma harum yang khas pun tercium oleh Arron. Ia lantas menghentikan Olivia dan bertanya apakah Olivia pernah menolong seseorang yang pingsan di jalan saat di pasar? Sekitar enam bulan lalu, dan menitipkan kepada pedagang buah?


Olivia mengerutkan dahi, "Ya, pernah. Dia seorang pria muda tampan. Seperti pengembara. Dia terluka dan ... " kata-kata Olivia terhenti. Olivia melebarkan mata, "Oh, tidak. Jangan katakan Anda ... " tanya Olivia.


"Ya, itu saya. Maaf, Nona, jika diizinkan, boleh saya tahu nama Nona?" tanya Arron.


"Sebelum itu, darimana Anda tahu itu saya, Tuan?" tanya Olivia.


Olivia menganggukkan kepala, "Begitu rupanya. Saya Ivy," kata Ivy memeperkenalkan diri.


"Saya Ron," jawab Arron.


"Apa Anda sedang berkeliling pasar, Tuan Ron? Bagaimana dengan luka Anda?" tanya Olivia.


"Saya sudah tidak apa-apa berkat pertolongan Nona. Saya hanya kebetulan lewat saja karena ingin mengunjungi teman," jawab Arron.


"Aku tidak bisa berkata kalau aku mencarinya selama enam bulan ini, kan? bisa-bisa Nona ini berpikrian buruk tentangku," batin Arron.


"Hm ... "gumam Olivia.


Emma berbisik, seperti sedang mengingatkan Olivia. Dan Olivia pun kaget, karena ia melupakan hal penting.

__ADS_1


"Tuan, maaf. Saya harus pergi. Ada hal penting, saya permisi." kata Olivia yang langsung pergi begitu saja bersama Emma.


Arron mengerutkan dahi, karena penasaran ia pun mengikuti Olivia dan Emma secara diam-diam. Arron melihat Olivia dan Emma berbelanja dan pergi meninggalkan pasar. Arron terus mengikuti ke mama Olivia pergi.


***


Olivia pergi ke rumah Anthony. Ia melihat Issac sibuk membelah kayu di halaman. Olivia pun langsung menghampiri Issac.


"Iss ... " panggil Olivia.


Issac menatap Olivia, "Oh, Ivy ... kau datang? Kenapa aku tak menyadarinya?" Kata Issac.


"Kau terlalu fokus membelah kayu bakar. Di mana pelatih?" tanya Olivia menatap sekeliling.


"Ayah sedang pergi ke pasar," jawab Issac.


"Oh, benarkah? aku juga dari pasar. Ini, ambil dan simpan. Aku membeli untukmu juga pelatih," kata Olivia memberikan bungkusan besar berisi bahan makanan pada Issac.


Issac meletakkan kapak dan menerima bungkusan dari Ivy, "Terima kasih, seharusnya kau tak perlu repot seperti ini. Mau masuk dan minum teh? Kebetulan aku membuat roti isi kesukaanmu," kata Issac.


Olivia tersenyum, "Wah, kebetulan aku lapar. Ayo," sahut Olivia senang.


Issac, Olivia dan Emma pun berjalan bersama menuju pintu utama dan masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, di luar, di atas pohon. Arron sedang mengamati apa yang Olivia lakukan. Arron berpikir itu adalah rumah Olivia dan bertanya-tanya siapa pria yang bersama Olivia?


"Apa perempuan itu tinggal di sini? Lantas, siapa laki-laki yang bersama Ivy itu?" batin Arron.


Karena penasaran, Arron hanya bisa menunggu. Ia tidak bisa turun ataupun ikut masuk dalam rumah seseorang tanpa persiapan. Setelah cukup lama menunggu, ia melihat Ivy dan Issac keluar menuju halaman. Dan mereka sedang melakukan duel pedang.


Arron kaget, "Wah, aku tidak sangka bisa melihat hal ini. Dia ternyata bukan perempuan muda yang bisa diremehkan," batin Arron.


Arron mrngamati pergerakan Ivy, juga pergerakan Issac. Arron merasa takjub akan sosok Olivia yang kuat dan tangguh. Jantungnya pun berdegup kencang. Ia meraba dadanya dan meminta pada jantungnya agar tidak berisik.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi berdebar? padahal aku hanya melihat dua orang yang sedang berlatih pedang. Apa aku sudah gila? Ah, sial!" batin Arron dengan wajah memerah.


__ADS_2