
Setelah menikah dan resmi menjadi Nyonya Muda keluarga Duke Hubbert, Ariana pun mulai mendapatkan pelatihan khusus. Hari demi hari Dilewati Arina sampai tanpa terasa sudah tiga tahun berlalu. Hubungan Ariana dan Victor pun semakin erat. Mereka selalu berbagi cerita dan beban pekerjaan. Saat kesusahan mereka akan saling membantu. Mereka bahkan tidak pernah bertengkar satu kalipun.
Beberapa hari setelah hari ulang tahun Victor yang ke dua puluh satu tahun, ia mendengar kabar buruk datang. Ayah dan Ibunya yang baru pulang perjalanan bisnis dari liar wilayah mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Hal tersebut membuat Victor sangat terpukul, karena Victor memang hubungan mendalam dengan Ayah dan Ibunya. Setelah kejadian itupun, Victor resmi menggantikan Ayahnya sebagai seorang Duke, dan Ariana juga menggantikan peran Duchess. Kini mereka bukan lagi Duke dan Duchess muda.
***
Satu bulan berlalu. Semenjak kepergian mendiang Duke dan Duchess terdahulu, sikap hangat Victor mulai hilang. Victor yang dulunya murah senyum, kini hanya menatap dingin lawan bicaranya. Tentu saja itu juga dirasakan Ariana sebagai orang terdekat Victor.
Karena ingin tahu, dan penasaran, Ariana pun memberanikan diri menemui Victor yang sedang bekerja di ruang kerja.
Ariana mengetuk pintu, lalu membuka pintu. Ia mengintip ke dalam ruang kerja Victor.
"Tuan Duke ... " panggil Ariana lembut.
Victor menatap ke arah Ariana, "Masuklah, istriku. Kenapa kau mengintip?" jawab Victor.
Ariana masuk dalam ruagan, lalu menutup pintu. Ia berjalan menghampiri Victor yang sedang menata berkas dokumen.
"Ada apa?" tanya Victor.
"Apa aku boleh minta waktumu sebentar? ada sesuatu yang ingin aku tanyakan dan pastikan," tanya Ariana.
Victor menatap Ariana, "Ada apa?" tanya Victor menghentikan pekerjaannya dan fokus pada Ariana.
Ariana melihat wajah tirus Victor. Ia meraba wajah Victor dan terlihat murung.
"Wajahmu jadi seperti ini, karena kau tak makan dengan benar. Apa kau tahu? aku selalu mencemaskanmu setiap hari. Tidak, bukan setiap hari, tapi setiap saat. Aku tahu kau terpukul atas kepergian mendiang Duke dan Duchess terdahulu. Namun, tahukah kau kalau kau itu harus tetap bertahan hidup. Kau lupa, kalau kau punya istri? kalau kau jatuh sakit, lalu terjadi apa-apa denganmu. Lantas, aku harus apa? Bagaimana denganku? Aku ... aku ... "Ariana menunduk dan menangis.
Victor terkrjut, mendengar perkataan Ariana. Saat ingin menjawab, tiba-tiba saja Ariana berpamitan pergi dan meminta maaf karena sudah meluapkan kekesalannya. Padahal ia tidak berhak mencampuri urusan Victor tanpa izin.
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu emosional. Sampai-sampai bicara yang tidak-tidak. Kau bisa kembali bekerja. Anggap saja kau tidak mendengar apa-apa. Selamat malam," kata Ariana yang langsung pergi begitu saja.
Ariana berlari keluar ruang kerja Victor dan langsung menutup pintu. Victor mengusap kasar wajahnya dan menghela napas panjang.
"Hahhh ... (menghela napas) sepertinya dia sudah salah paham. Apa dia berpikir aku ingin menghukum diri sendiri dengan bekerja keras sampai lupa waktu? padahal aku melakukan ini semua karena banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan kalau ingin pergi meninggalkan wilayah. Sebaiknya aku cepat selesaikan pekerjaanku dan bicara dengannya," batin Victor.
Victor dengan cepat menyelesaikan memeriksa laporan. Setelah ia merapikan meja dan memastikan tidak ada lagi buku-buku yang berserakan, ia pun segera pergi meninggalkan ruang kerjanya. Ia berjalan cepat menuju kamar tidurnya.
***
Victor mengetuk pintu. Ia membuka kamar dan mendapati istrinya sudah berbaring di tempat tidur. Ia segera masuk dan menutup pintu, lalu berjalan menghampiri Ariana.
Victor duduk di tepi tempat tidur, di sisi Ariana, "Ariana ... " panggil Victor.
Arian diam. Meski ia belum tidur, tetapi ia sedang tidak ingin berbicara dengan Victor.
"Istriku, aku tahu kau belum tidur. Bisakah kita bicara? ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padamu," kata Victor.
"Cepat bicara, aku mau tidur." kata Ariana.
"Aku mengerti kekhawatiranmu. Aku juga tidak sadar telalu keras bekerja seolah terlihat sedang memaksakan diri. Namun, kau salah paham padaku dengan berpikir aku menyiksa diri. Aku berusaha menyelesaikan cepat semua pekerjaanku karena aku berencana mengajakmu berlibur ke pulau yang letaknya agak jauh. Aku merasa kau buruh hiburan, karena kau pasti bosan dan jenuh hanya di sini." jelas Victor.
Mata Ariana melebar, "A-apa maksudmu? kau bekerja keras hanya agar bisa cepat-cepat mengajakku berlibur? apa itu benar?" tanya Arian.
Victor menganggukkan kepala, "Ya. Benar. Maaf, kalau apa yang kulakukan membuatmu salah paham. Apa kau masih marah, meski sudah aku jelaskan?" tanya Victor.
Tiba-tiba Ariana memeluk Victor, "Kau bodoh! Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. Aku tidak harus pergi ke pulau untuk berlibur dan menghilangkan rasa bosan. Sejujurnya, aku sudah cukup hanya bisa melihat wajahmu setiap hari. Saat aku tidur, kau baru masuk ke kamar, dan saat aku bangun, kau sudah tidak ada di sampingku. Aku sarapan sendiri, makan siang sampai makan malam sendiri. Bahkan aku harus menyelinap diam-diam ke tempat pelatihan demi untuk melihat wajahmu. Kau itu menyebalkan. Apa kau tahu itu?" Omel Ariana.
Victor mengeratkan pelukan, "Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Maaf ... " ucap Victor.
__ADS_1
Setelah puas berpelukan, mereka saling melepaskan pelukan dan saling menatap. Victor membelai wajah Ariana, mengecup kening Ariana, lalu mencium bibir Ariana.
"Umhh ... " gumam Ariana.
Ia mengalungkan dua tanganya ke leher Victor. Dan membalas ciuman Victor. Victor melebarkan mata, sepertinya ia sadar akan sesuatu dan melepaskan ciumanya.
"Kenapa?" tanya Ariana tampak sedikit kecewa.
"Ma-maaf. Sepertinya aku hilang kendali dan melakukan hal yang tak seharusnya. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak melakukan hal yang tidak kau sukai?" jawab Victor.
"Lanta, bagaimana jika aku menyukainya? sahut Ariana.
Victor menatap Ariana, "Ya? A-apa maksdunya?" tanya Victor bingung.
"Bagaimana kalau aku menyukainya. Menyukai ciumanmu?" Jawab Ariana dengan wajah memerah.
Wajah Victor memerah, "A-apa be-benar kau menyukainya?" tanya Victor.
Ariana menganggukkan kepala. Ariana dan Victor saling menatap dan mereka kembali berciuman. Victor membaringkan Ariana dan memeluk tubuh Ariana. Ia melepaskan ciuman dan menatap lekat mata Ariana.
"Aku mengukaimu, Victor. Karena itu, kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan padaku. Karena aku tidak akan marah," kata Ariana mengusap lembut wajah Victor.
"Ariana ... apa boleh aku ... mmm, aku ... " gumam Victor dengan wajah merah padam.
"Ah, sial! Apa yang sedang aku pikirkan sebenarnya? Bisa-bisanya aku ingin mengatakan kalau aku menginginkannya," batin Victor.
Ariana mengecup bibir Victor, "Lakukan saja. Aku kan milikmu," bisik Ariana menggoda Victor.
"Jangan menggodaku," kata Victor.
__ADS_1
Ariana tidak peduli. Ia meraba dads bidang Victor dan tersenyum nakal. Karena tidak bisa lagi menahan diri, Victor pun akhirnya menerkam Ariana dan mereka menghabiskan waktu bersenang-senang sampai pagi.