Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
18. Latihan Berpedang


__ADS_3

Seminggu kemudian. Olivia kembali mengikuti kelas di akademi. Kali ini ia tertarik mengikuti kelas berpedang, yang kebanyakan diikuti oleh anak laki-laki seusianya. Sedangkan anak perempuan yang tak ikut kelas berpedang, menjadi penonton.


Selesai berganti pakaian dengan pakaian latihan, Olivia bergabung dengan teman-temanya untuk mendengar instruksi dan penjelasan dari guru mereka. Sang guru terkejut, saat melihat ada murid wanita yang mengikuti kelasnya. Padahal semua murid wanita tidak ada yang berminat ikut pelatihan berpedang, memanah atau yang lainnya yang mengharuskan menggerakkan fisik mereka.


"Siapa namamu, Lady?" tanya guru pembimbing.


"Olivia Hubbert," jawab tegas Olivia.


"Olivia Hubbert? Ternyata dia putri Duke Hubbert. Hmm ... ternyata dia yang dikabarkan memiliki mana terbanyak di akademi ini?" batin guru pembimbing.


"Baiklah, Lady. Sebelum kelas di mulai. Aku ingin mengatakan sesuatu. Dalam kelasku, tidak ada yang namanya main-main. Kita akan serius berlatih. Apa kalian mengerti? Jika ada yang mengurungkan niat untuk tidak ikut pelatihan, silakan duduk di bangku belakang dan melihat pelatihan," kata guru pembimbing.


Ternyata tidak ada yang goyah dan mengurungkan niat untuk berlatih. Dan pelatihan pun di mulai. Di awali dengan gerakan-geraka ringan untuk pemanasan.


Kurang lebih tiga puluh menit mereka berlatih. Guru pembimbing pun memanggil dua nama dan meminta dua muridnya untuk berduel. Satu per satu nama dipanggil, sampai tiba giliran Olivia.


Olivia berjalan ke arena dan berdiri di hadapan lawannya, bernama Ignasius. Melihat lawannya adalah perempuan, Ignasius pun meminta ganti lawan pada guru pembimbing.


"Profesor, bisakah saya mengganti lawan?" tanya Ignasius menatap guru pembimbingnya.


"Ya? ada apa, Ignasius?" tanya guru pembimbing.


"Bagaimana bisa saya melawan anak perempuan. Sekali saya memgayunkan pedang, takutnya anak ini akan terhempas." kata Ignasius dengan sombong.


Olivia kaget, "Wah, kau meremehkanku secara terang-terangan. Aku jadi penasaran, seberapa hebat kau memgayunkan pedangmu, Tuan Muda. Asal kau tahu saja, wanita juga bisa memegang pedang." sahut Olivia.


"Kau tersinggung dengan ucapanku, ternyata. Padaha aku bicara seperti ini karena mengasihanimu, Lady." Kata Ignasius.


"Aku tak butuh belas kasihanmu," kata Olivia menatap tajam.


"Cih! Gadis ini membuatku kesal saja. Tunggu aku menghajarmu. Kau akan menangis darah," batin Ignasius marah.

__ADS_1


Ignasius menatap guru pembimbingnya, "Profesor. Saya mengurungkan niat. Saya akan melawan Olivia. Silakan mulai," kata Ignasius.


"Baiklah, kalian berdua sudah siap? satu, dua, tiga ... pertarungan di mulai," kata guru pembinbing.


Olivia menggenggam erat pedang kayu ditangannya, begitu juga Ignasius. Merekan saling menatap tajam.


"Karena kau wanita. Kau boleh menyerangku duluan," kata Ignasius.


"Kalau aku bersikap begini. Aku pasti terlihat keren di mata murid-murid lain dan ptofesor, kan? Hahaha ... dia hanya wanita lemah, yang tidak bisa apa-apa. Memangnya kenapa kalau dia memiliki mana melimpah? apakah dia bisa mengontrol dan menggunakan mananya dengan baik?" batin Ignasius.


"Lagi-lagi dia meremehkanku. Dasar anak menyebalkan. Aku akan memberimu pelajaran," batin Olivia.


"Oh, dengan senang hati." jawab Olivia yang langsung berlari menyerang Ignasius.


Mata Ignasius melebar, gerakan Olivia begitu cepat. Dan saat pedang kayu mereka beradu, Ignasius merasakan adanya tekanan kuat yang mendorongnya.


"A-apa ini. Dia kuat sekali," batin Ignasius.


"Apa kau cuma bisa menghindar?" tanya Ignanius.


Olivie tersenyum, "Terserah kau berpikir apa. Aku tidak peduli," jawabnya.


Ignasius pun menyerang, dan serangan berhasil di tangkis Olivia. Semua gerakan Ignasius terbaca jelas oleh Olivia. Ia hanya meninggu celah sembari menahan serangan. Dan saat celah itu muncul, dengan sekali serangan Olivia berhasil membuat pedang kayu yang dipegang Ignasius terlepas dari genggaman dan menancap di tanah.


"Jangan pernah meremehkan seseorang, Tuan Muda." kata Olivia menatap dingin ke arah Ignasius.


Ignasius mengerutkan dahi, "Ah, sial! Bisa-bisanya aku kalah dari gadis ini," batin Ignasius.


"Wuahhhh .... "


"Lihat itu. Olivia menang."

__ADS_1


"Dia keren."


Guru prmbimbing lantas mengumumkan pemenang. Olivia berbalik dan membawa pedangnya untuk duduk. Dan pertandingan lain dilakukan. Satu persatu pemenang diumumkan dan akhirnya pertarungan babak pertama usai. Guru pembimbing memberikan waktu istirshat sepuluh menit, lalu pertandingan babak kedua di mulai.


***


Sepuluh menit kemudian. Waktu istirahat usai. Dan pertandingan babak kedua di mulai. Kali ini para pemenang dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok dibagi dua. Dan setiap kelompok akan bertarung melawan kelompok lain. Siapa yang lebih dulu berhasil membuat pedang lawan terjatuh, maka dialah pemenangnya. Dan pemenang akhir akan kembali bertarung sampai menyisakan pemenang.


Pertarungan pun dimulai, sampai Olivia berhasil memenangkan pertarungan. Ia mengalahkan semua lawannya dan menjadi satu-satunya pemenang. Guru pembimbing sampai tercengang melihat kemampuan dan kegesitan Olivia. Olivia bahkan tak menciderai lawannya, dan hanya menjatuhkan pedang lawan-lawannya saja.


Beberapa lawan Olivia menerima dengan lapang dada kekalahan mereka dan memberikan selamat pada Olivia, juga pujian. Namun, beberapa anak lain mengatai Olivia. Ia berkata kalau Olivia pasti bermain curang. Mereka tidak mau mengakui dan menerima kekalahan meraka, tetapi justru mengejek Olivia yang tidak-tidak. Namun, ejekan mereka tak bisa begitu saja menggoyahkan Olivia. Olivia membalas ejekan mereka dengan kata-kata menohok.


"Apa kalian tahu? apa yang membuat kalian mudah sekali tumbang. Itu karena kalian tidak berlatih keras dan hanya bisa mencemooh orang lain. Jaga ucapan dan sikap kalian. Jika kalian tidak terima dengan kemenanganku, aku akan menerima tantangan kalian dengan senang hati. Namun, kalian perlu ingat. Aku tidak mau melawan anak-anak lemah tak bisa apa-apa seperti kalian. Apa kalian mengerti?" kata Olivia.


Olivia berbalik dan segera pergi. Ia malas berdebat dengan anak-anak menyebalkan yang hanya tahu membuat onar.


Anak-anak yang mendengar kalimat pedas Olivia pun semakin geram. Mereka bahkan sampai bertekad untuk membalas dendam pada Olivia agar Olivia jera dan tahu diri.


***


Di dalam kelas. Olivia duduk di samping Chloe. Olivia selesai berganti pakaian dengan seragam, karena sepuluh menit lagi akan dimulai kelas sejarah.


"Tadi itu keren sekali," kata Chloe.


"Benarkah? menurutku biasa saja. Tidak begitu menarik," jawab Olivia.


"Apanya yang tidak menarik. Dari awal melihat sampai akhir, aku sangat kagum pada ketangguhanmu. Kau berhasil melempar lebih dari sepuluh pedang dan ada beberapa pedang yang sampai patah. aku sudah memutuskannya. Kelas berpedang yang akan datang, aku akan ikut dan belajar darimu." kata Chloe.


Olivia terkejut, "Wah, aku senang sekali kalau kau mau ikut. Jujur aku merasa canggung karena aku adalah satu-satunya anak perempuan diantara sekian banyak anak laki-laki. Namun, aku harus mencoba melakukan yang terbaik." Kata Olivia.


Olivia dan Chloe berbincang. Mereka membicarakan tentang pelatihan pedang. Chloe dengan semangat tinggi dan permohonan tulus, meminta Olivia mengajarinya agar tidak canggung saat melakukan pelatihan.

__ADS_1


__ADS_2