Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
33. Berburu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Victor dan Olivia pergi menunggang kuda menuju hutan yang berada di perbatasan utara. Mereka menempuh perjalanan kira-kira empat jam perjalanan tanpa istirahat dengan kecepatan sedang.


Udara dingin mulai terasa, ketika tiba di wilayah paling ujung tersebut. Victor punya alasan tersendiri, mengapa ia mengajak Putrinya ke sana. Ia mengamati sekitar. Situasi saat itu, sama persis sepertinya yang dulu diajak berburu ke wilayah utara oleh sang Ayah.


"Wah, keren ... " gumam Olivia menghentikan laju kudanya. Dan memandangi sekitarnya.


"Ayah, apa itu hutannya? Tepat kita berburu?" tanya Olivia. Menunjuk ke arah hutan yang terlihat tak jauh darinya.


"Ya. Apa kau sudah siap? Atau mau istirahat dulu?" tanya Victor menawari.


"Istirshat nanti saja sekalian makan siang. Ayo, Ayah. Saya ingin segera menangkap buruan," kata Olivia tersenyum senang.


Victor pun bergegas. Ia mengajak kudanya berlari menuju hutan. Olivia juga mengajak kudanya berlari mengikuti kuda sang Ayah, memasuki hutan untuk berburu.


***


Tidak beberapa lama. Tibalah mereka di dalam hutan. Olivia semakin tercengang, sbab hutan itu sangat indah sampai-sampai ia tidak bisa memalingkan pandangan.


"Ayah, bukankah sayang kalau kita akan berburu hewan di sini?" tanya Olivia.


"Berburu hewan? siapa yang mengatakan itu? kita akan berburu monster, Nak." jawab Victor.


Olivia kaget, "Hah? A-apa Ayah bilang? monster?" tanya Olivia kebingungan.


Victor menatap Olivia, "Kenapa? kau takut menghadapi Monster? Putri seorang Swordmaster mana boleh enggan seperti itu. Bukankah kau juga ingin menjadi seorang Swordmaster seperti Ayah dan Kakak pertamamu?" tanya Victor.


"Gi-gila! berburu monster? a-apa aku bisa melakukannya? huaaaaa ... tidak bisa! ba-bagaimana bisa tiba-tiba berburu monster?" batin Olivia panik.


Olivia sama sekali tidak menyangka, jika ia akan praktik lapangan melakukan berburuan monster. Ia berpikir, jika ia akan diajak berburu hewan liar sepertidi hutan, makanya ia tertarik ikut.


"A-apa boleh nanti saja berburunya? Sa-saya masih ... hm ... masih ... " gumam Olivia.


Tiba-tiba seekor monster muncul dibelakang Victor. Membuat Olivia melebarkan mata.

__ADS_1


"Ayah, awas!" teriak Olivia.


Monster itu menyerang Victor dan dengan cepat Victor menghindar, sampai ia terjatuh dari kuda. Victor langsung menyerang. Ia dan monster itu bertarung. Ternyata monster itu adala monster tingkat menengah, dan bukan lawan yang denga mudah diremehkan.


Olivia mengetutkan dahi. Hatinya gelisah dan khawatir, melihat sang Ayah bertarung dengan monster. Tiba-tiba angin menerpa wajahnya, seluruh bulu tubuh Olivia langsung berdiri.


"Huwaaa ... apa ini? Kenapa aku merinding? Padahal aku tidak sedang melihat film horor. Jangan-jangan ... " batin Olivia memalingkan pandangan.


Benar saja, ternyata Olivia sedang diawasi oleh dua ekor monster.


Olivia melebarkan mata, "Rokie, kau baik-baik sembunyi. Jangan sampai tertangkap monster. Apa kau mengerti?" bisik Olivia di telinga kuda kesayangannya bernama Rokie.


Olivia segera turun dari kuda, dan ia mengusap kepala Rokie. Segera Rokie pergi, seolah memahami perkataan Olivia.


Baru saja Olivia bersiap dan mengatur napasnya. Tiba-tiba seekor monster langsung berlari untuk menerkam Olivia. Segera Olivia berguling untuk menghindar.


"Sial! Monter gila," batin Olivia.


"Perkiraanku salah. Kenapa monster level menengah sampai di sini. Ini kan hanya seperempat jalan dari luar hutan. Seharusnya monster yang datang itu masih level rendah," batin Victor.


"Ayah, Awas!" kata Olivia menghadang serangan monster yang mengincar sang Ayah dengan pedangnya.


"Olivia ... " gumam Victor.


Monster lain menyerang Victor, dan Victor langsung menyerang balik.


Olivia mengerutkan dahinya, "Ayah, kita selesaikan ini dulu, lalu pergi." Kata Olivia.


Olivia mengeluarkan pedangnya, ia memasukkan mana dalam pedang dan langsung menyerang monster. Pertarungan sengit terjadi, monster yang dihadapi Olivia bukanlah monster yang mudah dihadapi.


"Ku-kulitnya tebal sekali," batin Olivia merasa kesulitan.


Ia terus berusaha, dan akhirnya berhasil membunuh seekor monster yang sebelumnya dilawannya. Melihat sekawanannya dihabisi, satu monster lain menyerang Olivia dengan bringas. Terlihat gigi bertaring tajam dan monster itu mengeluarkan air liur beracun..terlihat dari dedaunan yang langsung mengering dan menghitam setelah terkena air liur monster itu.

__ADS_1


"Aku harus hati-hati. Air liur monster ini sangat berbahaya," batin Olivia.


Olivia dan monster itu bertarung dan Olivia hampir saja tergigit oleh taring tajam monster, jika saja terlambat untuk menghindar. Olivia berguling dan ia pun bersandar sebuah pohon besar dengan napas terengah-enggah. Victor yang sudah berhasil menghabisi monster besar yang dilawannya, membantu Olivia dan menyerang monster yang dilawan Olivia.


"Ayah hati-hati. Air liur monster itu beracun," kata Olivia mengingatkan sang Ayah untuk berhati-hati.


Victor memperhatikan gerak-gerik monster yang menurutnya aneh. Ia merasa monster yang dilawannya memang bukan monster biasa, seperti ada kekutan lain yang mengendalikan monster tersebut.


Victor kembali diserang monster dan akhirnya bertarung dengan monster tersebut. Ia pun menggunakan kekutannya, langsung menebas kepala monster dengan sekali tebas.


"Mencurigakan. Menghabisi monster seperti ini, aku sampai mengeluerkan setengah kekuatanku. Manaku juga berkurang banyak," Batin Victor.


Tubuh Victor terhuyung. Olivia segera menolong dan mendudukan sang Ayah bersandar pohon. Olivia memeriksa keadaan sang Ayah. Tidak ada luka, namun kekuatan Ayahnya berkurang setengah dan sang Ayah tampak kelelahan.


"Ayah tidak apa-apa," kata Victor.


Olivia melepas kedua sarung tangannya dan kedua sarung tangan sang Ayah. Ia menyalurkan mananya kepada Ayahnya, berharap bisa kembali memulihka kekuatan sang Ayah.


Victor melebarkan mata, "Apa yang terjadi? manaku?" Batin Victor.


Victor bisa merasakan tubuhnya kembali segar bugar, padahal ia kelelahan setelah bertarung menghadapi monster.


"Apa sudah lebih baik, Ayah?" tanya Olivia.


"Kau ... dari mana kau belajar ini? apa kau sudah mencobanya pada orang lain?" tanya Victor menatap Olivia.


Olivia menggelengkan kepala, "Belum pernah. Ayah adalah yang pertama. Aku berpikir, aku bisa memasukkan mana ke dalam benda mati, ada kemungkinan aki bisa memasukkan mana ke dalam tubuh seseorang atau binatang. Ada apa, Ayah? apa aku tak berhasil melakukannya?" tanya Olivia usai menjelaskan apa yang dipikirkannya.


Victor mengusap kepala Olivia, "Kini, kau tahu kelebihan manamu untuk apa. Terima kasih Putriku. Berkatmu tubuh Ayah pulih dengan cepat, dan Ayah merasa jauh lebih baik," kata Victor.


"Be-benarkah? jika seperti itu, aku berhasil?" Kata Olivia.


Victor menganggukkan kepala, Olivia yang senang langsung memeluk erat Victor. Olivia tidak sangka, jika ia benar-benar berhasil menyalurkan mana dan memulihan kekuatan seseorang dengan mana miliknya. Padahal ia hanya mencoba-coba saja, tetapi ternyata sungguhan berhasil. Victor mengeratkan pelukan, menepuk-tepuk punggung Olivia, ia memuji kehebatan dan pemikiran bijak sang Putri tersayang.

__ADS_1


__ADS_2