
Olivia merasa lelah dan bosan belajar. Ia pun berbaring, lalu berguling-guling di tempat tidurnya mengusir rasa bosan yang melanda.
"Ahhh ... bosan sekali. Sudah berapa jam aku dikamar terus. Kenapa juga Putra Mahkota tiba-tiba datang. Gara-gara dia kan aku jadi tidak bisa keluar kasil. Huuhh, menyebalkan. Padahal aku ingin pergi jalan-jalan kekuar," gumam Olivia menggerutu.
Olivia sedih, ia tidak punya teman cerita karena Emma sedang pergi pasar membeli bahan membuat kukis. Kepala dapur meminta langsung Emma belanja karena persediaan di dapur menipis. Kukis tidak akan bisa dibuat di hari itu, jika menunggu pengiriman bahan dari pemasuk langganan.
Olivia yang bersantai menatap langit-langit kamar memokirkan masa depannya. Ia membayangkan bagunan Hotelnya berdiri kokoh dan tampak cantik terlihat dari kejauhan. Senyuman Olivia mengembang, ia tidak sabar menantikan hari di mana gedung Hotelnya selesai dibangun.
Tiba-tiba saja Emma mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru.
"Nona ... " teriak Emma menghampiri Olivia yang sedang berbaring di tempat tidur.
Olivia terkejut, "Emma ... " panggilnya.
"Nona, Nona, cepat bangun!" seru Emma.
Olivia menatap Emma, "Ada apa? aku malas bangun," jawab Olivia.
"Anda pasti terkejut dengan apa yang sama bawa," kata Emma.
"Memangnya apa yang aku bawa? apa kau membelikanku permen gula?" Tanya Olivia.
"Ada hal lebih menarik dari permen gula. Anda tidak mau tahu?" tanya Emma.
"Emma, kau membuatkan penasaran. Apa yang sebenarnnya kau bawa?" tanya Olovia. Masih dengan posisi tiduran.
Emma mengeluarkan sebuah amplop biru muda dari balik jubahnya dan memberikan pada Olivia.
"Ini adalah surat dari seseorang yang sudah Anda selamatkan saat itu. Teman saya yang memberikannya pada saya karena itu surat ditujukan pada Anda. Teman saya juga berkata, jika Anda harus membalas suratnya. Itu yang dikatakan si penulis surat." Kata Emma menjelaskan.
Olivia menatap surat yang dibawa Emma dan segera bangun dari posisi berbaringnya. Emma memberikan dan diterima oleh Olivia.
__ADS_1
"Orang yang kuselamatkan? apa pemuda itu, maksudnya?" tanya Olivia.
"Ya, Nona. Teman saya juga berkata, jika pemuda itu terkadang terlihat di pasar seperti mencari sesuatu. Ada kalanya mampir membeli buah dan menanyakan Anda. Tenang saja, teman saya tak akam membocorkan rahasia tentang siapa Anda. Saya akan menghajarnya, jika dia berani berkata sembarangan," kata Emma menjelaskan.
"Ya, baiklah. Kau bisa pergi, dan mengerjakan pekerjaanmu, Emma. Aku akan baca surat ini dan memanggilmu kalau aku butuh sesuatu," kata Olivia.
"Ya, Nona. Saya membantu kepala dapur membuat kukis kesukaan Anda dulu. Nanti kalau sudah jadi saya akan bawakan pada Anda," kata Emm. Yabg langsung pergi meninggalkan Olivia.
Olivia menatap amplop surat, "Tidak ada cap atau tanda apapun," gumam Olivia.
Ia membuka amplop dan mengeluarkan selembar surat, lalu membacanya.
Beberapa saat setelah membaca isi surat. Olivia segera pergi ke meja belajarnya dan mengekuarkan kertas dari dalam laci meja. Ia lantas menulis surat balasan untuk Ron, si pengeirim surat.
Isi surat Olivia berisikan penolakan atas hadiah yang akan Ron berikan. Olivia juga menolak untuk bertemu karena alasan kesibukan. Dalam surat itu, Olivia menegaskan, jika Olivia hanya menolong karena Ron ada di hadapannya, jika itu orang lain, maka Olivia tetap akan menolong. Jadi, Olivia meminta Ron untuk tidak mengingat apa yang sudah dilakukannya. Lagipula, Olivia juga langsung pergi setelah mengobati Ron. Dan selebihnya penjual buahlah yang mengurus.
Olivia menatap surat yang ditulisnya, "Apa segini sudah cukup? kurasa sudah jelas apa maksudku, kan? kalau pemuda ini cerdas, dia pasti bisa menangkap arti tulisanku ini. Aku bukannya sombong atau tidak menghargai niat baik, tapi aku memang tidak mau menjalin hubungan apapun dengan orang asing, terutama pria. Issac dan Deon, aku memang mendekati mereka dengan sengaja karena suatu tujuan. Meski begitu aku juga akaj menjaga jarak. Sedangkan Ron, aku saja tidak kenal siapa dia. Dia bahkan bukan tokoh dalam novel. Jadi, aku tak perlu melibatkannya. Aku tak boleh asal menerima pertemanan atau semacamnya, bisa-bisa aku terjebak dalam situasi yang sama seperti isi asli dalam novel. Ya, meskipun aku tidak sama dengan Olivia Hubbert, tapi kan aku sekarang menjadi dirinya." batin Olivia.
***
Sementara itu. Di ruang kerja Baginda Kaisar. Ajudan sedang memberitahu jadwal harian dan menceritakan apa yang didengarkan dari ajudan Putra Mahkota, jika Putra Mahkota hendak kembali masuk ke akademi dan belajar secara formal.
Mendengar kabar itu, Baginda Kaisar tampak terkerjut. Ia tidak sangka putranya yang keras kepala tidak mau datang ke akademi dengan sendirinya mau pergi ke akademi dan belajar.
"Apa kau yakin? mungkin saja kau salah dengar," kata Baginda Kaisar menatap Ajudannya.
"Saya sangat yakin, Baginda. Saya berbicara langsung dengan ajudan beliau," jawab Ajudan.
Baginda Kaisar mengerutkan dahinya, "Ada apa, ya? dia yang lantang bicara dan tidak mau belajar di akademi tiba-tiba berubah pikiran. Apa dia sedang bosan? aku harus bertemu secara pribadi dengannya untuk tahu apa yang terjadi," batin Baginda Kaisar.
"Ya, sudah. Kalau itu kemauan Putra Mahkota, maka aku tidak bisa apa-apa. Ajaran baru akan dimulai beberapa bulan lagi, bukan? sampai saat itu tiba, pastikan semua pekerjaan Putra Mahkota berjalan lancar," kata Baginda Kaisar.
__ADS_1
"Baik, Baginda." jawab Ajudan.
Baginda Kaisar meminta Ajudan mengatur jadwalnya bertemu Putra Mahkota secara pribadi. Ajudan mrnganggukkan kepala, mengiakan perkataan Baginda Kaisar.
***
Malam harinya. Selepas makan malam. Arron baru selesai mandi dan hendak berganti pakaian. Tiba-tiba pintu kamar Arron diketuk dari luar.
Arron mengerutkan dahi, "Apa kepala pelayan tak mendengar perkataanku. Malam ini aku tidak ingin diganggu siapapun. Siapa yang datang?" batin Arron.
Arron lantas membuka pintu. Ia terkejut melihat sang Ayah datang langsung menemuinya di kamarnya.
"Ba-baginda," gumam Arron.
"Boleh Ayah masuk, Ron?" tanya Baginda Kaisar.
"Ya, silakan." jawab Arron.
Baginda Kaisar masuk dalam kamar Arron. Arron melihat keluar kamar dan tidak mendapati siapapun. Ia langsung menutup pintu kamar dan berjalam mengikuti Ayahnya.
"Apa aku mengganggumu?" Tanya Baginda Kaisar.
"Tidak, Baginda. Silakan bicara," jawab Arron.
"Kita hanya berdua. Bicara santai saja. Oh, ya. Ayah mendengar hal menarik dari ajudan tadi sore. Apa benar kau mau belajar di akdemi?" tanya Baginda Kaisar menatap Arron.
"Ya, saya akan masuk akademi di tahun ajaran baru. Selama ini saya menjadi murid bayangan yang tidak pernah menghadiri kelas bahkan acara sekolah. Karena saya merasa saya juga perlu bersosialisasi dengan para teman sebaya, maka saya putuskan untuk aktif di akademi. Apa ada masalah, Ayah?" tanya Arron.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan apa yang kudengar saja. Kau yang dulu hanya sibuk memikirkan latihan, tiba-tiba berubah pikiran. Membuatku kepikiran. Meski aku tahu, alasanmu tak hanya apa yang kau sampaikan, tapi aku senang kau berpikir demikian. Lakukan apa yang kau inginkan. Siapa tahu kau bertemu pasanganmu di akademi. Ayah pergi dulu, istirshatlah." Kata Baginda Kaisar yang langsung pergi.
Arron terkejut mendengar perkataan Ayahnya. Sampai-sampai ia tidak bisa menjawab apa-apa. Dahinya berkerut. Ia menatap kepergian sang Ayah sampai menghilang dibalik pintu.
__ADS_1