Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
22. Transaksi


__ADS_3

Deon mengerutkan dahi berpikir keras. Ia bingung harus bagaimana, karena Olivia tampak sangat membutuhkan tanah itu. Tidak lama Deon ingat, jika ia memiliki tanah pribadi atas namanya hadiah ulang tahun dari orang tuanya. Dan lokasinya juga strategis. Hanya saja terletak di sisi sudut.


"Apa aku tukar saja dengan tanah itu, ya? Bagaimana kalau kutanya dulu," batin Deon.


Deon menatap Olivia, "Nona, bagaimana kalau saya tukar dengan tanah di jalan Bruch, C-8. Jika Anda ingin melihat tanahnya langsung, saya akan antarkan. Tanah itu lebih luas dari tanah yang baru saja Anda beli. Jalanan Burch juga ramai.  Namun, lokasi tanahnya berada di sudut. Entah Anda suka atau tidak, saya hanya ingin mencoba bertransaksi dengan Anda." Jelas Deon.


Olivia terkejut, "Berada di sudut? apa maksudnya dipojokan jalan?" tanya Olivia.


Deon menganggukkan kepala, "Ya, Nona." jawabnya.


"Hm, kalau mau membangun Hotel, memang lebih baik di tempat sudut. Terlebih aku kan juga mau membuat markas prajurit bayaran. Lagipula pemuda ini tampak ingin sekali memiliki tanah itu," batin Olivia.


"Baiklah, saya akan berikan tanah yang saya beli pada Anda. Anda jual berapa tanah itu?" tanya Olivia.


"Seharga Anda membeli tanah sebelumnya juga tidak apa-apa. Saya juga tidak tahu harus digunakan untuk apa tanah itu karena saya memang tidak terpikirkan apa-apa." Jawab Deon.


"Baiklah. Ayo, kita kembali ke agen properti. Saya akan minta penjualnya mengganti atas nama Anda. Dan meminta bantuan Tuan penjual untuk proses tanah yang Anda bilang tadi." kata Olivia.


"Apa Anda sungguh-sungguh?" tanya Deon khawatir.


"Ya, saya sungguh-sungguh. Kalau tidak, bagaimana bisa saya bicara seperti ini dihadapan Anda. Cepat habiskan tehny, lalu kita pergi." Kata Olivia.


Deon segera menghabiskan tehnya. Dan pergi bersama Olivia juga Emma dari toko dessert, menuju tempat jual-beli properti yang tadi mereka datangi.


Sesampainya di sana. Olivia pun menyampaikan, jika kepemilikan tanah akan diganti atas nama Deon. Dan meminta bantuan penjual itu mengurus surat tanah milik Deon yang diberikan pada Olivia. Penjual mengerti, ia berkata akan segera mengurus apa yang diperluka. Sesuai waktu yang dijanjikan. Seminggu kemudian, mereka sudah bisa datang mengambil surat tanahnya. Olivia berterima kasih, dan berpamitan begitu juga Deon.


***


Di perjalanan. Olivia dan Deon bercakap-cakap soal tanah milik Deon. Olivia bertanya, apakah Deon membeli tanah itu atau mendapat hadiah? dan Deon menjawab, jika itu adalah hadiah dari orang tuanya.


"Oh, ya. Siapa nama Nona? Anda belum memperkenalkan diri Anda pada saya," kata Deon.


"Oh, maaf. Walau terlambat, saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Ivy," jawab Olivia.


"Ivy? Lantas, apa boleh saya bicara tidak formal pada Anda? saya rasa kita sebaya," kata Deon.


"Ya, silakan. Saya, ah, aku rasa itu lebih baik." Jawab Olivia.


"Kau yakin tak ingin melihat tanah itu?" tanya Deon.

__ADS_1


Olivia diam berpikir beberapa saat. Ia menatap Deon, "Baiklah, ayo ... " jawab Olivia.


Deon memandu jalan. Mereka melewati gang-gang kecil agar sampai ke tempat tujuan dengan cepat.


***


Setelah cukup lama berjalan. Akhirya mereka sampai. Deon, Olivia dan Emma berdiri di depan tanah kosong yang luas.


"Wah, ini luas sekali. Tidak hanya lebar, tapi juga panjang. Apa kau tidak rugi menjual padaku dengan harga tanah di Verox?" Tanya Olivia.


"Tidak apa-apa. Anggap saja ini tanda terima kasih. Aku merasa kau mmebutuhkan tanah seperti ini untuk bangunan bertingkatmu itu," jawab Deon.


Olivia menatap Deon, "Deon ... apa kau tahu, ke mana harus mendapatkan izin pembangunan? Bukankah membangun harus mendapatkan izin dari pemerintah? Apa aku harus menghadap baginda Kaisar?" tanya Olivia.


"Kalau membangun mansion dan kastil kurasa tidak perlu izin," jawab Deon.


Olivia pun mengatakan rencananya pada Deon dengam berbisik. Deon kaget, saat dengar Olivia akan membangun sebuah bangunan bertingkat sekitar tiga lantai dengam banyak kamar yang disebut hotel.


"Hm, aku rasa aku bisa membantumu. Apa mau kubantu?" tanya Deon.


Olivia melebarkan mata, "Sungguh? Tentu saja mau. Kalau begitu, bisakah kau carikan seorang arsitek dan ahli bangunan?" tanya Olivia.


"Terima kasih, Deon. Aku sennag kau mau membantuku," kata Olivia.


"Tidak masalah. Katakan saja, jika kau butuh bantuan. Aku akan membatumu karena kau sudah berbaik hati mau memberikan tanah di Verox padaku. Hanya dengan bantuan tak seberapaku, aku berharap bisa membantumu, Iv ... " kata Deon.


"Kau salah. Bantuanmu bukan bantuan tak seberapa. Mulai dari tanah, mengurus izin sampai ahli bangunan. Kau mau membantuku. Aku sungguh berterima kasih. Kalau kau mau, aku ingin mengajakmu berbisnis. Tentu saja kita akan berbagi keuntungan," kata Olivia.


"Berbisnis?" gumam Deon.


"Ya, bisnis. Setelah hotel selesai dibangun, aku pasti butuh orang untuk mengelolanya staf. Pemasok makanan, dan masih banyak hal lainnya. Kalau tidak keberatan, boleh aku minta kau membantuku? karena aku merasa kurang kalau mengurusnya sendiri." kata Olivia.


"Ah, begitu. Aku mengerti. Nanti pelan-pelan kita pikirkan soal itu. Kita harus mendapatkan izin dan membuat denah hotel dulu, lalu membangun dasarnya. Tenang saja, Iv. Akan kucarikan orang yang paling bagus, sekalipun itu dari luar wilayah," kata Deon.


Olivia berterima kasih sambil tersenyum cantik. Deon mengembangkan senyuman, mengaikan ucapan terima kasih Olivia. Setelah melihat tanah, dan sekitaran, Olivia pun berpamitan. Deon pun menawarkan diri mengantar Olivia.


"Aku akan memgantarmu," kata Deon.


"Apa? Tidak perlu repot." sahut Olivia.

__ADS_1


"Aku tidak merasa direpotkan. Apa kau keberatan aku antar?" tanya Deon.


"Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya merasa tidak enak hati," kata Olivia.


"Lupakan rasa tidak enak hatimu itu. Ayo," ajak Deon pergi.


Akhirnya Olivia dan Emma mendapatkan pengawalan dari Deon sampai di kediaman Duke Hubbert.


***


Sesampainya di kediaman Duke Hubbert. Deon pun terkejut. Matanya langsung melebar melihat betapa mewahnya kediaman Olivia.


"Iv ... apa pekerjaan Ayahmu?" gumam Deon.


"Ayahku? Dia seorang ahli pedang, biasanya pergi berperang atau membasmi monster." Jawab Olivia.


"Be-begitu, rupanya." gumam Deon.


"Mustahil seorang ahli pedang biasa membangun kastil semegah ini," batin Deon.


Butler tiba-tiba keluar dan memanggil Olivia. Menyampaikan, jika Victor mencari Olivia sejak beberapa waktu lalu.


"Nona, syukurlah Anda sudah kembali. Tuan Duke mencari Anda sejak tadi," kata Butler.


"Ayah mencariku? ada apa, ya?" gumam Olivia bingung.


Deon kaget, "Tu-tuan Duke? A-apa kau putri seorang Duke, Ivy?" tanya Deon.


"Ah, itu ... sebenarnya aku tak ingin menyembunyikannya. Ada alasan kenapa aku tadi tak menyebutkan nama keluargaku. Maaf, Deon." ucap Olivia.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti," jawab Deon.


"Mau masuk dulu?" tawar Olivia.


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada hal yang mau diurus. Aku pergi dulu," Pamit Deon.


"Ya, Deon. Hati-hati. Sampai jumpa seminggu lagi," kata Olivia.


Deon lantas pergi meninggalkan Olivia. Olivia menatap kepergian Deon, setelah Deon tak terlihat lagi, barulah ia masuk ke dalam kastil.

__ADS_1


__ADS_2