
Deon berdiri bersandar sebuah pohon rindang. Ia menunggu seseorang datang. Tidak beberapa lama, seseorang yang ditunggunya datang dan menyapanya.
"Deon," panggil seseorag itu mendekati Deon.
"Arron ... " sapa Deon.
Arron menghela napas panjang, "Hahhhh ... maaf, aku terlambat datang. Aku banyak sekali pekerjaan akhir-akhir ini. Terlebih aku akan menjaga pelabuhan. Baginda Kaisar memintaku untuk segera menyelesaikan urusan istana agar saat aku pergi tidak ada masalah," kata Arron.
"Kapan kau pergi?" tanya Deon menatap Arron.
"Hm, dari yang kudengar akhir bulan ini. Oh, ya. Ini ... (memberika sebuah gulungan pada Deon) dokumen ini sudah aku tanda tangani dan kuberi cap. Bicara soal pembangunan, siapa orang yang mau membangun bangunan bernama 'Hotel' itu? Kenapa kau hanya menulis inisialnya saja?" tanya Arron.
"Namanya Ivy. Dia minta aku menulis inisialnya saja, O.H." jawab Deon.
"Ivy?" gumam Arron.
Mwndengar nama Ivy, Arron ingat akan Ivy, wanita cantik penyelamatnya. Deon menatap Arron yang diam melamun.
"Hei, kau ada masalah?" Tanya Deon.
"Ah, tidak ada. Hanya memikirkan sesuatu saja. Aku teringat seseorang yang juga memiliki nama yang sama," jawab Arron.
"Begitukah? Apa nama seseorang yang kau maksud juga Ivy?" tanya Deon.
Arron meganggukkan kepala, "Ya," jawab Arron.
Deon dan Arron bercakap-cakap. Arron bertanya perihal tanah di jalan Verox yanh dijual sepihak oleh Paman Deon, dan Deon menjawab dengan senyuman, jika tanah itu sudah kembali padanya. Deon menceritakan tentang Olivia yang berbaik hati mau memberikan tanahnya kembali. Dan karena Olivia sudah berbaik hati, maka Deon pun berkenan memberikan tanahhya pada Olivia untuk dijadikan 'Hotel'.
"Apa kau tidak merasa rugi? luas tanahmu kan dua kali dari tanah di verox," kata Arron.
"Tidak apa-apa. Bagiku tanah di verox lebih berharga. Karena tanah itu merupakan warisan leluhurku. Terima kasih, sudah membantuku. Berkatmu aku jadi bisa mempersingkat waktu mencari ahli bangunan," kata Deon.
"Ahli bangunan? Apa kau butuh untuk membangun 'Hotel' itu? Mau pakai arsitek dan ahli bangunan langgananku? kalau kau menyebut namaku, dia pasti akan langsung membantumu." kata Arron.
Deon terkejut, "Wah, tentu aku mau. Siapapu orang yang kau rekomendasikan, pasti bukan sembarangan orang. Beritahu aku tempat tinggalnya dan aku akan langsung menemuinya," kata Deon.
Arron pun memberitahu tempat tinggal arsitek yang dikenalnya itu. Tidak hanya handal mendesain denah dan sketsa rumah, dia juga seorang ahli bangunan. Pastinya pekerjaanya rapi dan cepat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Deon berpamitan dan langsung pergi.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih untuk bantuamu, Arron. Sampai jumpa," kata Deon.
Deon ingin segera mendatangi rumah arsitek dan mengajaknya bicara terkait pembangunan hotel milik Ivy. Arron tersenyum melepas kepergian sahabat baiknya itu.
***
Olivia sedang berlatih bersama Issac. Anthony meminta Olivia mencoba untuk menggabungkan mana dengan pedangnya.
"Lakukan perlahan, agar kau terbiasa," kata Anthony.
Olivia mengangguk, lalu mencoba. Ia mengumpulkan mana pada kedua telapak tangannya dan menggenggam pedangnya erat-erat.
"Fokus, Iv ... " kata Issac. Yang mendampingi Olivia.
Dahi Olivia berkerut, "Kenapa dadaku sesak? uhh ... " batin Olivia.
Olivia terus menyalurkan mana masuk kepedangnya. Namun, lama kelamaan ia merasakan sakit. Dadanya sesak, dan ia hampir tak bisa bernapas. tubuhnya berkeringat dan tiba-tiba Olivia terkulai lemas.
"Ivy ... " teriak Issac menolong Olivia.
"Ada apa?" tanya Anthony.
"Sepertinya Ivy masih belum bisa mengendalikan mananya sehingga menimbulkan ledakan. Beruntung tidak parah," Kata Issac.
Issac segera menggendong Olivia ke dalam rumah agar bisa dibaringkan ke tempat tidur.
***
Beberapa jam berlalu, dan Olivia masih juga belum sadarkan diri. Emma mendampingi Olivia, duduk di samping Olivia dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
Sedangkan Anthony dan Issac menunggu di ruang tamu. Mereka juga sudah mengabari kediaman Duke soal Olivia yang jatuh pingsan saat latihan.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Anthony.
"Ayah, kita harus membantu Ivy. Dia akan mengalami hal serupa, jika tidak mampu mengendalikan mananya." Kata Issac.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Ayah tidak sangka saja kalau Ivy akan mengalami ledakan dan pingsan. Mana yang dimilikinya begitu besar dan kuat, tentu tak sebanding dengan tubuhnya. Meski Ivy telah melatih fisiknya dengan keras selama ini, tapi tubuhnya tetap tubuh yang rapuh." kata Anthony.
"Apa yang akan ayah lakukan?" tanya Issac.
"Ayah akan ... " kata-kata Anthony terhenti.
Tiba-tiba Victor, Octavius dan Owen datang ke kediaman Anthony. Owen segera memeriksa tubuh Olivia, sedangkan Octavius dan Victor mendengarkan penjelasan Anthony.
"Begitu rupanya. Sudah kuduga, hal seperti ini pasti akan terjadi." Kata Victor.
"Maaf, apa maksud Anda?" tanya Anthony.
"Dulu, istriku juga mengalami hal serupa. Mengalami ledakan mana karena dia tak bisa mengendalikan mana. Aku sudah mencari orang yang bisa membantunya melatih untuk mengendalikan mana, tetapi tidak ada yang bisa membantuku." kata Victor.
"Kalau begitu. Satu-satunya cara, Ivy hanya harus berlatih di hutan pelatihan. Bukankah hutan itu hanya bisa dimasuki oleh anggota keturunan Hubbert yang memiliki kemampuan luar biasa? siapa yang tahu, jika Ivy adalah orang pilihan di keluarga Hubbert. Mengingat keluarga Hubbert adalah ahli pedang nomor satu di kekaisaran." Kata Anthony.
Mata Victor melebar, "Kenapa aku bisa lupa, kalau ada hutan pelatihan yang kemungkinan bisa membantu Olivia berlatih?" batin Victor.
"Lantas, bagaimana pendapatmu. Apakah Olivia sanggup menjalani pelatihan seorang diri di hutan itu? Bukankah ini sama artinya dengan pelatihan tertutup?" kata Victor.
"Tentu saja sanggup. Aku percaya akan kegigihan muridku. Ivy, adalah murid yang patuh dan taat. Ia selalu melakukan hal yang diminta tanpa banyak bertanya," jawab Anthony.
Victor menatap Anthony, "Baiklah. Kita bicarakan itu nanti bersama-sama setelah Olivia sehat." kata Victor.
Owen keluar dari kamar bersama Olivia dan Octavius. Emma mengikuti dibelakang.
"Iv, kau sudah bangun," sapa Issac mendekati Olivia.
"Ya, maaf membuat kalian semua khawatir," kata Ivy.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Karena kau mengalami ledakan mana, dan meski tidak parah, tetapi kau tak boleh melakukan aktivitas berat lagi. Kau harus isritahat, Iv ... " kata Issac.
Olivia menatap Anthony, "Pelatih, apa maksudnya? apa aku tidak bisa berlatih lagi?" tanya Olivia.
"Tentu bisa. Namun, untuk sekarang kau harus istirahat." jawab Anthony.
"Ya, baiklah. Aku mengerti," gumam Olivia sedih.
__ADS_1
Victor mengusap kepala Olivia. Ia berkata, kalau Olivia harus menjalani perawatan sebelum kembali latiha. Olivia mengiakan perkataan Ayahnya.
Victor lantas berpamitan, ia membawa Olivia pulang bersamanya. Olivia menatap Anthony dan Issac bergantian, lalu berpamitan pulang. Octavius dan Owen juga berpamitan. Mereka naik kedalam kereta kuda. Kecuali Emma, yang duduk bersama kusir di depan.