Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
13. Ariana Reinhart


__ADS_3

Keesokan harinya. Victor, Octavius, Owen dan Olivia pergi ke daerah dekat gunung, letak makam mendiang Duchess Hubbert. Mereka menaiki kereta kuda tampa dikawal oleh kesatria.


Dalam perjalanan, Olivia terus menatap ke arah luar jendela kereta kuda. Jalanan asing yang dilalui tampak sangat cantik. Selain hutan, juga ada ladang bunga mawar yang luas.


"Ayah, apakah bunga-bunga ini tidak dipetik dan dijual?" tanya Olivia.


"Siapa yang berani memetik bunga yang berada di atas tanah keluarga Hubbert?" sahut Octavius menjawab.


Olivia melebarkan mata, "A-apa? Jadi, ladang bunga ini milik keluarga kita?" tanya Olivia keheranan.


"Benar. Ayah mebeli seluruh tanah di sekitar gunung dan meminta petani menanam bunga serta merawatnya. Tentu saja dengan upah yang besar," jawab Octavius.


"Karena Ibumu sangat suka bunga mawar, maka hanya ini yang bisa Ayah lakukan untuknya. Ayah tak bisa menemaninya, karena Ayah masih harus bertanggung jawab untuk kalian," sambung Victor.


"Ayah, kenapa Ayah bicara seperti itu? Ibu pasti sangat senang dan bangga memiliki suami bertanggung jawab seperti Ayah. Percayalah," kata Olivia.


Victor tersenyum, mengusap kepala Olivia yang duduk di sampingnya. Ia senang mendengar putrinya membanggakannya.


Karena menempuh perjalanan cukup jauh, Olivia yang lelah pun memutuskan tidur sebentar. Terlihat Octavius dan Owen sedang berbincang. Mereka membicarakan pekerjaan masing-masing. Sedangkan Victor terus menatap ke arah ladang bunga mawar sembari membayangkan wajah mendiang istrinya. Victor teringat akan kenangan lama, awal mula perjumpaannya dengan mendiang istrinya.


***


Dua puluh lima tahun yang lalu. Saat Victor baru menginjak usia dewasa. Ia menghadiri pesta kedewasaan yang diselenggarakan istana. Pesta itu tampak sangat meriah. Banyak putra dan putri bangsawan yang juga hadir memeriahkan pesta tersebut.


Ditengah-tengah pesta, Victor yang merasa bosan pun mencoba untuk kabur dari acara. Ia pergi ke taman yang terletak di sisi utara tempat pesta berlangsung. Ia naik ke atas pohon dan duduk bersandar menatap dedaunan rindang. Angin sepoi-sepoin menerpa rambutnya dan menjatuhkam daun-daun yang kering ke tanah.


Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan seseorang. Victor duduk dan mencari sumber suara. Ternyata, tepat dibawahnya, ada seorang gadis menangis tersedu-sedu. Victor diam mengamati gafis itu. Ia melihat gadis itu mengomel seperti sedang kesal, sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


"Siapa gadis cengeng itu?" Batin Victor.


Tiba-tiba seseorang datang dan mengganggu gadis itu. Laki-laki itu menarik kasar tangan gadis itu, sedangkan gadis itu berteriak minta dilepaskan karena kesakitan.


"Lepas!" seru gadis itu.


"Kau sudah gila, ya? berani sekali kau melawan Ayah. Kau ingin mempermalukan keluarga, huh?" kata laki-laki muda itu.


"Kenapa harus aku? bukankah di sini banyak Lady lain selain aku?" kata Gadis itu menatap laki-laki di hadapannya.


"Kau kira mereka itu sepadan dengan keluarga kita? Kau jangan macam-macam, Ariana. Jika kau tak kembali ke pesta dan menerima perjodohammu, kau akan dihukum Ayah," kata laki-laki itu.


Terlihat gadis dan anak laki-laki itu sedang perang mulut. Victor terus diam mengamati, sampai ia mendengar nama keluarganya disebut.


"Tidak, aku tidak mau!" seru gadis itu lagi berteriak.


"Kau bodoh!" Sentak anak laki-laki.


"Di kekaisaran ini, tidak ada lagi keluarga hebat seperti keluarga Duke Hubbert. Kau itu seharusnya berterima kasih, karena keluarga Duke bersedia menerimamu sebagai calon menantu mereka. Lagipula, anak yang bernama Victor itu terkenal tampan. Dia juga pahlawan perang. Sialan! Jika saja keluarga Duke punya anak perempuan, lebih baik aku saja yang menikah. Dasar tak berguna," kata laki-laki itu.


"Kak ... apa Kakak tidak mendengar rumornya? Bu-bukankah kata orang-orang, Duke Muda itu menyeramkan dan berhati dingin? Ba-bagaimana kalau nantinya dia menyiksaku? Atau ... atau ... " kata gadis itu terbata-bata, lalu menangis.


Laki-laki itu memeluk Gadis itu dan menepuk punggung gadis itu, "Kau ini memang bodoh, Ariana. Kalau dia berani menjahatimu, tentu Kakakmu ini akan membalasnya untukmu. Sekuat apapun dia, dia tak bisa seenaknya pada Adikku, kau mengerti? Aku tahu perasaanmu dan apa yang kau pikirkan, tapi kau juga harus memikirkan kelaurga kita. Memikirkan Ibu," ucap laki-laki itu pada sang Adik.


Pelukan terlepas. Sang Kakak menyeka air matanya dan pada akhirnya mau ikut kembali ke pesta. Setelah Kakak beradik itu pergi, Victor pun turun dan kembali ke pesta.


***

__ADS_1


Victor bertemu Ayah dan Ibunya. Tepat di samping Ayah dan Ibunya, ia melihat seorang pria paruh baya, anak laki-laki dan anak perempuan yang dilihatnya di taman.


Ayah Victor langsung memperkenalkan ketiga orang itu pada Victor dan mengatakan pada Victor, jika gadis yang berdiri di antara Ayah dan Kakaknya itu adalah calon istri Victor.


Victor tidak terkejut, ia hanya diam menerima apa yang sudah diputuskan orang tuanya. Sebagai anak sekaligus penerus keluarga, ia tidak bisa menolak sebuah pernikahan. Karena Victor ingin mengenal calon istrinya, Victor pun meminta izin bicara empat mata dengan calon istrinya itu. Tentu saja kedua belah pihak meyetujui dan mempersilakan.


Victor pergi ke taman, diikuti calon istrinya. Victor menghentikan langkahnya tepat di taman bunga mawar dan berbalik menatap calon istrinya.


"Kau takut padaku?" tanya Victor.


"Ya? A-apa ma-maksud Anda?" tanya Gadis itu.


"Lihat aku baik-baik dan katakan sejujurnya. Bagaimana aku?" tanya Victor.


"A-pa?" gadis itu mengerutkan dahi dan langsung memalingkan pandangan setelah melihat wajah Victor.


Victor lantas menceritakan kalau ia melihat calon istrinya itu menangis di taman dan apa saja yang terjadi di sana. Victor juga berkata, kalau ia tidak bisa menolak pernikahan karena itu memang sudah kewajibannya sebagai penerus.


"Tidak apa-apa, jika kau tak menyukaiku. Kau hanya cukup menjalankan peran sebagai istri saja, tanpa perlu memedulikanku. Maksudku, jangan pedulikan perasaanku, dan kau bisa lakukan semua hal yang kau sukai. Aku juga tak akan menyakiti atau mengganggumu. Apa dengan begini kau sudah bisa tenang?" kata Victor menatap calon istrinya.


"Apa Anda serius berkata seperti itu? Itu artinya, meski kita menikah, Anda dan Saya tidak akan mengurusi masalah pribadi masing-masing bukan? Anda juga akan menjamin keselamatan saya, juga kesejahteraan keluarga saya?" kata gadis itu menatap Victor.


"Ya," jawab Victor singkat.


Gadis itu menunduk, "Baiklah. Jika seperti itu, saya akan menikah dengan Anda dan melakukan tugas-tuga saja dengan baik sebagai Duchess muda." Kata gadis itu.


"Siapa namamu?" tanya Victor.

__ADS_1


"Ariana Reinhart," jawab gadis itu.


Victor diam menatap Ariana di hadapannya. Ariana masih dengan posisinya yang menunduk. Ia tidak berani menatap Victor.


__ADS_2