Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
39. Usaha Dan Hasilnya


__ADS_3

Sebelumnya ...


Pagi-pagi sekali Arron pergi berlatih di tempat pelatihan. Meski kakinya cidera, Arron tetap melakukan pelatihan tanpa keluhan.


Sepulangnya berlatih, ia melihat taman di istana Permaisuri dan berjalan-jalan di sana. Arron memikirkan saran dari kepala pelayan.


"Bunga? Hmm ... " gumam Arron.


Arron pun menggelengka kepala, ia berbalik dan hendak pergi. Namun, dibelakang Arron tiba-tiba muncul permaisuri dan menyapa Arron.


"Yang Mulia Putra Mahkota," sapa Permaisuri.


"Oh, Yang Mulia Permaisuri. Ma-maaf, saya ... " jawab Arron merasa bersalah karena ia tidak izin dan mendatangi taman istana Permaisuri begitu saja.


"Apa Anda mau bunga? Ambil saja," kata permaisuri.


Aaron terdiam sesaat. Ia sedang berpikir, apakah tepat memberikan bunga pada Olivia sebagai permintaan maaf.


"Ayo, biar kupetikkan. Aku juga ingin memetiknya untuk kuberika pada Nona cantik di paviliun. Aku dengar dari dayang, dia menyukai mawar," kata permaisuri.


Arron mengalihkan pandangan menatap permaisuri, "Menyukai mawar?" tanyanya ulang.


Permaisuri menganggukkan kepala, "Iya," jawab Permaisuri.


"Kalau begitu, bolehkah saya meminta satu tangkai saja bunga dari taman ini, Yang Mulia?" tanya Arron meminta izin.


"Tentu saja, Yang Mulia. Namun, kenapa hanya setangkai? Tidak seratus tangkai saja?" tanya Permaisuri.


Arron kaget, "I-itu terlalu banyak. Saya akan memetiknya nanti setelah bersiap-siap. Saya permisi dulu, Yang Mulia," kata Arron yang langsung pamit undur diri.


"Oh, ya. Pergilah," jawab Permiasuri.


Arron pun pergi, dan Permaisuri menatap kepergian Arron sampai menghilang dari pandangannya.


"Ayo, kita juga harus bersiap," ajak permaisuri pada dayangnya.

__ADS_1


"Anda tidak jadi memetik mawar?" tanya dayang menatap Permaisuri.


"Sudah ada orang yang akan memetiknya," jawab Permaisuri tersenyum.


Sebenarnya, Permaisuri bertemu kepala pelayan dan kepala pelayan pun menceritakan apa yang terjadi pada Arron.


***


Olivia menatap bunga yang dipegang Arron, dan mengambil bunga tersebut. Arron merasa lega, bunga pemberiaannya diterima.


"Saya akan menerima bunganya, tapi saya belum menerima permintaan maaf Anda, Yang Mulia." kata Olivia.


"Ya, tidak apa-apa. Saya bisa mengerti. Memang tidak mudah untuk Anda bisa memaafkan saya. Namun, saya pastikan untuk menunjukkan, betapa seriusnya niat saya ini," jawab Arron.


"Ya, itu terserah Anda. Sejujurnya saya tak mengharapkan apa-apa," jawab Olivia yang langsung memalingkan pandangan ke luar jendela kereta kuda.


Arron terkejut mendengar jawaban Olivia. Ia menjadi semakin merasa bersalah pada Olivia.


"Apa nantinya aku akan dimaafkan?" batin Arron.


Olivia memegang erat setangkai bunga pemberian Arron, "Kenapa keretanya lambat sekali? suasana canggung begini bukanlah hal yang kuinginkan. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kenapa juga dia ingin sekali menunjukkan niatanya? Apa-apaan dia ini," batin Olivia.


"Tidak, tidak. Kau tidak boleh mengharapkan apa-apa, Olivia. Tidak boleh! Apa yang terjadi di Novel, tidak akan kualami. Biarlah kedua tokoh utama ini bahagia sampai akhir, dan aku bahagia dengan hidupku sendiri," batin Olivia.


Sepanjag perjalanan Olivia dan Arron hanya saling diam. Dan kereta kuda yang ditumpangi Olivia juga Arron akhirnya sampai di halaman kastil Duke.


Arron membuka pintu kereta kuda dan turun. Ia melihat Olivia bersiap turun dan mengulurkan tangan.


Melihat tangan Arron, Olivia pun bimbang. Ia harus menyambut tangan itu atau mengabaikannya. Namun, akhirnya Olivia meletakkan tangannya ke tangan Arron dan perlahan turun dari kereta kuda. Dengan cepat Olivia menarik kembali tangannya dan memberikan salam perpisahan juga berterima kasih.


"Terima Kasih, Yang Mulia. Selamat tinggal," kata Olivia sedikit membungkukkan badan dan menundukkan kepala.


"Apa? Se-la-mat tinggal?" batin Arron.


Victor, Ocatavius dan Owen mendekati Arron dan mengucapkan salam perpisahan juga rasa terima kasih yang mendalam karena Putra Mahkota berkenan mengantar sampai kastil.

__ADS_1


"Duke ... ada sesuatu yang ingin saya katakan. Bisa meluangkan sedikit waktu untuk saya? tidak akan lama," kata Arron menatap Victor.


Victor menatap ketiga anaknya dan meminta mereka masuk duluan ke kastil. Ia mengalihkan pandangam menatap Arron dan mengajak Arron berjalan-jalan di taman rumahnya. Arron meminta ajudan Baginda Kaisar pergi lebih dulu, dan ia akan segera menyusul setelah selesai berbicara dengan Victor. Ajudan pun langsung mengiakan perintah Arron.


***


Victor dan Arron berdiri menatap ke arah kolam ikan yang berada di tengah taman.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Victor.


"Guru, bisakah saya kembali berlatih dengan Anda? Maksud saya, saya ingin meningkatkan pelatiha saya dengan bimbingan Anda," kata Arron.


Victor menatap Arron, "Bukankah Anda sudah mempelajari semuanya?" tanya Arron lagi.


"I-itu, saya rasa itu masih kurang. Apa tidak bisa Anda berlatih dengan saja sesekali dalam sepekan?" tanya Arron balik menatap Victor.


Victor mengerutkan dahi, "Apa sebenarnya niatannya? kenapa dia ingin sekali berlatih sementara dia sudah menyerap dan mempelajari semua yang kuberikan? Hmm ... " batin Victor penasaran dengan isi pikiran Arron.


"Ya, baiklah. Ayo kita berlatih setiap akhir pekan," jawab Victor.


Arron tersenyum senang, "Ya, Guru. Terima kasih. Kalau begitu saya pamit kembali ke istana. Sampai jumpa akhir pekan nanti, " kata Arron yang langsung pergi.


Arron berjalan cepat sembari tersenyum. Ia merasa senang karrna sudah berhasil membujuk Victor, gurunya. Arron segera naik ke kereta kudanya dan pergi meninggalkan kastil.


***


Di kamar. Olivia duduk diam menatap setangkai bunga pemberian Arron.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya? Apa akan terjadi sesuatu? Arron, pemuda ini sungguh aneh," batin Olivia.


Olivia melihat ada beberapa surat dan melihat siapa pengirim surat. Ternyata surat dari Chloe, Deon dan Issac. Olivia lebih dulu membuka isi surat dari Chloe dan langsung membalas surat itu setelah selesai membacanya.


Ia melanjutkan membaca surat dari Issac. Dari apa yang tertulis di surat, Issac berhasil merekrut beberapa anggota pasukan kesatria bayaran lagi.issac menyertakan juga data-data para calon kesatria bayaran yang dipilihnya. Kali ini mereka berasal dari wilayah lain dan mereka memang dalam keadaan kekurangan. Namun, mereka memiliki fisik bagus dan kemampuan berpedang yang mumpuni, sehingga Issac tertarik merekrut.


Olivia tersenyum, "Kerja bagus, Iss," gumma Olivia. Olivia pun membalas surat dari Issac. Ia memuji kerja keras Issac dan berterima kasih.

__ADS_1


Terakhir, ia membaca surat dari Deon. Karena pembangunan gedung hotel tidak hanya berpacu pada pekerja bangunan dan juga menggunakan sihir dari penyihir luar wilayah, maka bangunan pun semakin cepat. Deon memperkirakan, kalau dalam waktu kurang dari sebulan, semua sudah selesai dan bangunan pun siap digunakan.


Lagi-lagi Olivia tersenyum. Ia senang akhirnya bangunan Hotelnya akan segera jadi. Olivia lantas membalas surat Deon dan berkata akan melihat sekalian bertemu dengan Deon untuk minum teh bersama.


__ADS_2