Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
29. Terungkap


__ADS_3

Semua murid sibuk mempersiapkan ujian yang akan mereka laksanakan beberapa hari lagi. Banyak dari mereka yang rela memanggil guru ke rumah masing-masing demi untuk bisa meningkatkan nilai dan kemampuan belajar mereka. Tidak seperti teman-temannya, Olivia justru sibuk mengasah kekuatannya disela-sela waktu belajarnya.


Chloe melihat Olivia sendirian duduk dibangku taman akademi. Ia yang baru saja meminjam buku di perpustakaan pun menghampiri Olivia dan mengajak Olivia pergi ke kantin untuk makan siang.


"Olivia ... " panggil Chloe.


Olivia memalingkan pandangan menatap arah suara, "Ah, Chloe." jawab Olivia tersenyum menatap temannya itu.


"Apa akhir-akhir ini kau sangat sibuk? aku bahkan tidak bisa bermain denganmu meski sebentar," kata Chloe. Duduk di samping Olivia.


"Maaf. Aku terlalu bersemangat belajar dan berlatih sehingga aku tak memperhatikan sekitar. Apa kau marah karena aku tak bisa bermain dengamu?" tanya Olivia.


Chloe menggelengkan kepala, "Tidak. Aku mana mungkin marah. Hanya saja aku sedikit sedih. Oh, apa kau belajar dengan baik? Beberapa hari lagi ujian di mulai. Kau tidak melupakan belajarmu dan sibuk latihan, kan?" kata Chloe mengingatkan.


"Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku melupakan belajar. Kau juga belajar dengan baik, kan?" tanya Olivia.


"Ya, kalau aku tidak belajar. Bagaimana bisa aku naik tingkat. Dan lagi, kalau aku sampai tidak lulus akademi, maka Ayah dan Ibuku akan mengirimku pada Nenek di wilayah lain. Benar-benar menyebalkan," gerutu Chloe.


Olivia tersenyum, "Kau pasti bisa menjalankan ujian denga baik. Kau kan pandai dan rajin," kata Olivia.


"Lupakan soal belajar, Nona. Aku lapar, jadi kita sebaiknya makan," ajak Chloe.


"Ah, iya. Ayo," jawab Olivia.


Chloe dan Olivia akhirya pergi bersama menuju kantin sekolah. Chloe memberitahu Olivia, jika menu makan siang hari itu adalah menu kesukaannya.


***


Di kantin. Saat Olivia dan Chloe makan. Mereka mendengar beberapa murid lain bercakap-cakap menggosipkan sesuatu. Di luar dugaan. Mereka membicarakan tentang putr mahkota dan hal itu langsung membuat Olivia tersedak makanannya.


"Uhukkk ... huukkk .... "


Olivia segera mengambil minum dan menghabiskan minumannya dalam sekali tegukan.


"Eh, kau baik-baik saja? Bagaimana bisa kau tersedak, Olivia?" tanya Chloe.

__ADS_1


Chloe menepuk-nepuk pelan punggung Olivia, "Tidak bisakah kau hati-hati?" kata Olivia khawatir.


"Maaf, Chloe. Aku terburu-buru makan sampai tidak mengunyah makananku dengan benar." jawab Olivia.


Chloe dan Olivia lanjut makan. Mereka masih mendengar para murid membicarakan Putra Mahkota.


"Apa kalian tahu? kata Ayahku, Putra Mahkota baru saja memarahi utusan dari kerjaan barat."


"Benarkah itu? jangan asal bicara. Memangnya utusan itu salah apa?"


"Katanya, utusan itu ketahuan sudah menipu kekaisaran."


"Ah, benar-benar. Ayahku juga berkata pada Ibuku, kalau kemungkinan kekaisaran tidak akan lagi menggunakan jasa kerajaab untuk membuat baju zirah."


"Wah, berarti kekaisaran akan menggunakan pengrajin lokal, ya?


Begitulah mereka membicarakan tentang putra mahkota dan kekaisaran. Juga membahas tentang hal yang sudah Olivia ketahui lebih dulu dari Ayahnya.


"Mereka membicarakan hal yang tidak penting," gumam Chloe.


"Memang tidak. Kau tahu? aku sebenarnya sangat kesal dengan Baginda Kaisar. Ayahku sudah sejak lama meminta agar Baginda Kaisar mau membantu menggunakan jasanya membuat baju zirah. Namun, Baginda menolak dengan alasan yang sama, yaitu bahan yang buruk. Sekarang, jika aku boleh tertawa maka aku akan tertawa. Bukankah ini buah dari kesombongan beliau?" bisik Chloe.


Mata Olivia melebar, ia sama sekali tidak tahu, jika Ayah Chloe adalah seorang pengrajin. Olivia pun mendapatkan sebuah ide. Ia tertarik bekerjasama dengan keluarga Chloe. Namun, Olivia tetap harus merundingkan idenya dengan sang Ayah.


Karena sudah selesai makan. Olivia dan Chloe pun kembali ke kelas. Karena pelajar akhir akan segera di mulai. Dalam perjalanan Olivia dan Chloe berpapasan dengan Rosetta.


Chloe mengerutkan dahi menatap Rosetta. Sedangkan Olivia hanya diam saja. Rosetta menatap sekilas ke arah Olivia sebelum akhirnya berpaling. Ia merasa malu, tetapi juga ragu menyapa Olivia.


"Apa-apaan dia," gumam Chloe.


"Sudahlah. Tidak pernting mengurusi urusan orang lain. Sebaiknya kita cepat kembali dan belajar," ajak Olivia.


"Ya. Ayo," sahut Chloe.


Keduanya nerjalan

__ADS_1


***


Di ruang kerja Putra Mahkota. Arron sedang duduk di meja kerja dan sibuk melihat daftar para bagsawan yang menghindari pajak. Beberapa saat kemudian. Ia mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.


"Yang Mulia, saya akan masuk." kata sang Ajudan.


Pintu terbuka, sang ajudan masuk dan menutup pintu. Ia berjalan mendekati Arron.


"Yang Mulia. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Ini adalah data tentang Nona Ivy, yang Anda minta saat itu. Saya menemukan fakta menarik tentang Nona Ivy," kata ajudan menyerahkan sebuah dokumen pada Arron.


Arron menatap ajudannya, lalu menerima dokumen dari ajudannya itu.


"Aku penasaran. Fakta menarik apa yang kau maksud," kata Arron.


Ia membuka dokumen dan membaca isi didalamnya. Mata Arron melebar mengetahui fakta, jika Ivy yang merupakan penyelamatnya adalah Olivia Hubbert. Yang tidak lain merupakan putri Duke Hubbert, gurunya.


"Informasi ini benar, kan? kau sedang tidak mabuk, kan?" tanya Olivia.


"Saya sangat yakin, Yang Mulia. Apa selama ini saya pernah memberikan informasi palsu atau tidak jelas pada Anda?" tanya ajudan. Yang tak ingin diragukan Arron.


Arron mengerutkan dahi, "Ba-bagaimana bisa? aku sungguh tidak percaya ini. Ivy adalah Olivia Hubbert?" batin Arron.


"Baiklah, aku percaya. Pergilah dan lanjutkan pekerjaanmu," kata Arron.


"Baik, Yang Mulia. Saya permisi," kata ajudan berpamitan pergi dari ruang kerja Arron.


Arron menatap dokumen yang dipegangnya. Ia meletakkan dokumen itu dan berdiri dari kursi tempatnya duduk. Ia berjalan mondar-mandir memikirkan Olivia.


"Kalau seperti ini, bagaimana caranya agar aku bisa menjadi dekat dengannya? apa aku harus memberitahu guru soal Ivy yang membantuku? Tidak, tidak. Sepertinya guru tidak akan senang," batin Arron.


Sesaat kemudian Arron melebarkan mata, "Ah, benar juga. Dia kan masuk diakademi. Jadi, aku hanya perlu ke sana untuk bertemu dan menjalin hubungan baik dengannya, kan?" gumam Arron.


Arron lantas berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan terburu-buru. Ia pergi ke ruang kerja ajudannya dan meminta ajudannya mempersiapkan semuanya, karena ia akan kembali ke akademi saat tahun ajaran baru. Dan karena itu juga ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk sebelum masuk ke akademi.


Keputusan Arron membuat ajudan terkejut. Sbab Arron sendirilah yang sebelumnya enggan mengikuti pembelajaran di akademi dengan alasan sibuk dengan pekerjaan, perang atau pembasmian suku bar-bar. Arron tidak berminat mengikuti pembelajaran secara formal, dan hanya menerima setumpuk tugas dari akademi sebagai ganti menjalani kegiatan belajar di kelas. Namun, tanpa ada aba-aba sejak awal, tiba-tiba Arron memutuskan masuk ke akademi dan mengikuti pelajaran. Sang ajudan bahkan sempat berpikir, jika Arron mengalami stres berat.

__ADS_1


__ADS_2