Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
25. Pertemuan Guru Dan Murid


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Selama itu, Olivia hanya berada di kamar karena Victor belum memperbolehkan Olivia bepergian keluar kastil. Jadwal makan dan menu makanan dangat diperhatikan Victor. Sebagai Ayah, ia benar-benar ingin memperhatikan kesehatan putrinya.


Setelah makan malam, Victor mendatangi kamar Olivia untuk melihat keadaan Olivia. Ia duduk di kursi, di sisi tempat tidur putrinya. Victor juga memberitahu sesuatu hal pada Olivia. Jika ia harus segera beratih mengendalikan mana tanpa adanya bantuan orang lain.


"Kau tahu, kan? Setiap orang memiliki mana mereka masing-masing. Begitu juga aku, kedua kakakmu dan kau. Ayah sudah mencari-cari, tetapi sepertinya tidak ada seorang pun yang mampu membantumu. Yang bisa membantumu hanyalah kau sendiri. Latihlah sejak sekarang, kendalikan manamu agar tidak ada lagi ledakan saat kau menggunakan manamu. Apa kau mengerti maksudku, Olivia?" tanya Victor menatap Olivia.


Olivia mengaggukkan kepala perlahan, "Ya, aku mengerti, Ayah." jawab Olivia.


"Tidak perlu khawatir. Saat kau berlatih, Ayah akan mendampingimu. Untuk berjaga-jaga, jangan latihan saat tidak ada yang mengawasimu. Jika terjadi ledakan mana, dan tidak ada orang yang tahu, maka kau bisa dalam bahaya." jelas Victor.


Olivia kembali mengangguk, tanpa menjawab. Setelah menjelaskan apa yanv perlu dijelaskan, Victor meminta Olivia istirahat, dan ia ingin kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Olivia menatap kepergian Victor. Ia menghela napas panjang dan berpikir keras bagaimana cara mengendalikan mana dalam tubuhnya.


"Mana ku tahu, jika aku memiliki mana sebesar ini. Hm ... saat aku masih menjadi pembaca, jelas-jelas aku membaca kalau Olivia ini sama sekali tidak bisa apa-apa, makanya diabaikan keluarganya. Semacam anak tidak berguna diantara anak-anak hebat. Aku memang sudah melatih fisikku, dan berharap bisa menjadi kuat karena aku adalah keturunan Hubbert. Namun, apa aku bisa mengendalikannya? mana ini seperti bom waktu yang bisa saja langsung meledak pada saat tidak terduga. Sebaiknya aku mencari beberapa informasi terkait cara mengendalikan mana dari buku. Ya, besok aku akan minta Emma mencari buku itu," batin Olivia yang langsung berbaring dan memejamkan mata.


***


Hari H bertemunga Olivia dan Deon tiba. Mereka bersama-sama mendatangi kantor agen jual beli properti untuk mengambil surat kepemilikan tanah yang mereka beli. Setelah itu, Deon membaca Olivia bertemu Arsitek, sekaligus merupakan seorang ahli bangunan yang dikenalkan Arron, Putra Mahkota.


Betapa senangnya Olivia, saat tahu arsitek yang dibawa Deon sangatkan genius dan peka. Begitu Olivia menjelaskan sketsa gambar yang dibuatnya sendiri, arsitek itu langsung paham dan membuat denah serupa dengan gayany sendiri. Serta menjelaskan ulang apa yang disampikan Olivia.


"Wah, dia keren sekali. Yeahh ... dengan ini pasti semua berjalan lancar. Syukurlah, dia juga mengerti tentang bahan bangunan dan dekorasi bangunan. Jadi, aku akan sepenuhnya menggunakan jasanya," batin Olivia.


"Apa ada tambahan, Nona?" tanya Arsitek.


"Oh, tidak. untuk dasarnya seperti yang saya jelaskan saja. Kira-kira, kapan pembangunanya mulai dilaksanakan?" tanya Olivia.

__ADS_1


"Hm ... kira-kira tiga hari mendatang. Saya harus mencari para pekerja pilihan dan bahan bangunan dengan kwalitas terbaik. " Jawab Arsitek.


"Baiklah. Uang bukan masalah buat saya. Asalkan Anda benar-benar melakukan semua seperti yang saya inginkan." kata Olivia.


"Saya mengerti, Nona." jawab Arsitek.


Arsitek pamit undur diri setelah berdiskusi. Sedangkan Deon dan Olivia masih tinggal menikmati teh dan kudapan.


"Iv, apa ada sesuatu? kau tampak kurus," kata Deon.


"Benarkah? mungkin karena beberapa hari ini aku tidak makan dengab baik. Aku tak nafsu makan dan ada hal yang kupikirkan," jawab Olivia.


"Ada apa? mau bercerita denganku, tidak?" tanya Deon.


Olivia tersenyum. Ia lantas menceritakan apa yang terjadi pada Deon. Tentang ledakan mana saat berlatih.


Deon mengerutkan dahi, "Itu artinya kau memiliki mana yang sangat banyak, Iv." gumam Deon.


"Hm, kalau begitu. Bagaimana dengan pembagian mana? apa kau pernah membagi manamu dengan seseorang? ini sama seperti kau memasukkan mana ke pedang, namun kali ini medianya bukan benda mati, melainkan manusia." kata Deon.


"Memang hal seperti itu bisa dilakukan?" tanya Olivia menatap Deon.


"Tentu saja bisa. Setiap orang memiliki takaran mena berbeda. Jika mana mereka tersisa sedikit, atau kehabisan mana, maka penggunaan sihir pun melemah. Karena itu biasanya penyihir tingkat menengah sampai penyihir biasa meninum ramuan tertentu dan sebisa mungkin menghemat mana mereka," jelas Deon.


Olivia diam berpikir, "Ah, begitu rupanya. Jika aku bisa membagi manaku pada orang lain yang membutuhkan. Bukankah itu sangat berguna? Nanti aku coba tanya ke Owen saja," batin Olivia.


Olivia bertanya, bagaimana Deon bisa tahu banyak tentang apa yang Deon jelaskan padanya? Deon pun menjawab, saat ia ikut berperang, ia melihat ada seorang yang membagikan mana pada seseorang yang sekarat. Dan pada akhirnya seseorang yang sekarat itu bisa bertahan hidup. Olivia ber-oh ria sembari menganggukkan kepala.

__ADS_1


***


Seminggu kemudian. Tiba saatnya bagi Victor untuk pergi ke pelabuhan. Ia meminta putra sulungnya tinggal di kastil untuk menjaga Olivia. Victor mengizinkan Olivia pergi, dan harus segera kembali saat urusan Olivia sudah selesai. Itupun Olivia harus didampingi Emma dan Octavius. Olivia yang mengerti kekhawatiran Ayahnya pun mengiakan kata-kata sang Ayah. Ia tidak ingin membuat sang Ayah cemas dan khawatir.


Setelah hampir dua jam menempuh perjalanan dengan menunggang kuda, pada akhirnya Victor sampai di pelabuhan. Victor melihat-lihat sekitaran pelabuhan.


"Apa yang Anda lihat, Duke?" tanya seseorang yang baru datang.


Victor memalingkan pandangan, "Salam kepada Matahari kecil kekaisaran," sapa Victor membungkuk dan menundukkan sedikit kepalanya.


"Tidak perlu salam formal, Duke. Tidak bisakah kita bicara santai di sini, guru?" Kata Putr mahkota, Arron.


"Hm, baiklah. Akan kulakukan," jawab Victor.


"Guru, bagaimana kabar Anda? Kenapa Anda tidak pernah datang mengunjungi saya?" tanya Arron.


"Memangnya kau ini masih anak-anak. Kau kan sudah dewasa, Ron." Kata Victor.


"Yah, aku mengerti. Guru pasti merasa puas sudah terbebas dari mengajariku, kan? Sebelumnya, hari-hari guru pasti suram. Karena aku yang banyak kekurangan ini selalu menyusahkan guru," kata Arron.


"Kau ini bicara apa. Kau muridku, tidak ada yang tidak berguna darimu. Jangan tunjukkan kelemahanmu seperti itu," kata Victor mengerutkan dahi. Tampak jelas Victor tak terima dengan perkataan Arron.


Arron tersenyum, "Ya, baiklah. Aku tidak akan bicara hal-hal tak berguna lagi," jawah Arron.


"Selama ini, apa kau berlatih sesuai saranku?" tanya Victor.


"Tentu saja. Meski aku lemah karena hanya memiliki sedikit mana, tapi aku tidak mau menjadi putra mahkota yang diremehkan. Karena itu aku melatih kekuatan fisikku habis-habisan." Jawab Arron.

__ADS_1


"Baguslah. Memiliki sedikit mana bukan masalah besar sampai kau bermalas-malasan. Kekurangan itu bisa tertutup dengan usaha dan kerja kerasmu," jelas Victor.


Arron mentap Victor dengan senyum tipis. Ia tampak begitu mengagumi gurunya itu. Di matanya, gurunya tampak sangat keren.


__ADS_2