Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
28. Bangkitnya Kekuatan Olivia


__ADS_3

Hari-hari setelahnya berlalu dengan cepat. Sesuai ucapan Olivia. Selain belajar di akademi dan berlatih pedang. Ia menambah jadwal kegiatan berlatih sihir secara rahasia di menara sihir bersama Owen, Kakak keduanya.


Hari pertama belajar, Olivia merasa kesulitan bahkan ingin menyerah. Ia merasa tak akan mampu belajar sihir apapun karena memang tidak memiliki bakat bawaan. Ia sempat mengomel, mengatai diri sendiri tidak berguna. Namun, Owen terus mendukung, ia berkata hasil tidak akan mengkhianati kerja keras. Jadi, meminta Olivia bersabar dan lebih fokus berlatih.


Hari kedua, dilewati Olivia seperti hari pertama. Begitu juga dengan Hari ketiga, keempat, kelima, sampai hari kesepuluh. Olivia pun mengataka, ia ingin berhenti dan menyerah saja untuk belajar sihir. Sepuluh hari ia belajar, tidak ada satupun yang bisa ia lalukan selain menghancurkan barang yang ada di ruang latihan.


Lagi-lagi Owen menyemangati Adiknya agar tidak menyerah. Memberikan pujian, setelah melihat jika kemampuan sang Adik menghancurkan barangnya begitu mengagumkan. Perkataan Owen membuat Olivia malu sekaligus kesal. Ia pun menyakinkan diri sendiri untuk terus latihan. Ia percaya ucapan Kakak keduanya, jika usahanya pasti akan membuahkan hasil.


***


Satu bulan kemudian. Olivia akhirnya bisa menggunakan sihir. Ia langsung bisa membuat lingkaran sihir teleportasi. Di mana penggunaan sihir tersebut menggunakan mana yang cukup besar sehingga tak banyak penyihir yang mampu menggunakan sihir teleportasi. Terlebih, Olivia bisa memindahkan tidak hanya satu orang saja, ia bisa memindahkan lima sampai tujuh orang sekaligus. Hal itu membuat Owen terkejut. Ia tidak menyangka Adiknya ternyata berkembang pesat. Selain itu, Olivia juga bisa menggunakan sihir perlindungan. Yang mana kekuatan perlindungannya setara kekuatan Octavius dan Victor.


Owen tertegun, "Apa ini masuk akal? aku yang merupakan pemilik dan kepala menara sihir, yang dijuluki penyihir agung, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan Adikku sendiri. Apa dia benar Adikku?" Batin Owen.


Owen sendiri adalah penyihir tingkat atas yang kuat dan hebat. Ia juga genius. Keahilannya utamanya adalah membuat ramuan sihir, dan juga sihir penyembuhan. Tubuhnya yang kebal terhadap racun, membuatnya meneliti berbagai macam ramuan dan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai kelinci percobaan. Meski demikian, Owen tidak pernah sekalipun menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya, karena ia takut kekuatannya akan meledak dan mencelakai orang-orang disekitarnya. Ia selalu membatasi kekuatannya sampai batas tertentu saja.


"Kak, Kakak ... " panggil Olivia.


Owen terlejut, "Ah, ya? A-da apa, Olivia?" tanya Owen menatap Olivia.


Olivia menatap Owen, "Kakak sedang apa? aku terus memanggil Kakak sejak tadi," kata Olivia.


"Oh, maaf. Aku memikirkan hal lain. Ada apa? apa ada masalah?" tanya Owen.


"Itu ... aku tadi berlatih pedang, dan aku mencoba memasukkan mana dalam pedang. Ada yang aneh, kenapa pedangku tiba-tiba bercahaya emas kebiruan?" tanya Olivia bingung.


Owen mengerutkan dahi, "Mana mungkin ... " gumamnya.


"Kakak ingin lihat? Akan kutunjukkan," sahut Olivia. Yang merasa Owen tidak percaya dengan perkataannya.


Olivia memegang pedangnya dan fokus memasukkan mana dalam pedang. Benar saja, tidak beberapa lama pedang yang dipegang Olivia bersinar emas kebiruan sinar itu sampai menyelimuti Olivia.


Owen melebarkan mata, "Ka-kau ... ini tidak mungkin," kata Owen kaget.

__ADS_1


Olivia menghentikan pertunjukannya dan menghampiri Owen yang diam mematung.


"Kakak, ada apa?" tanya Olivia.


"Sejak kapan ini terjadi?" tanya Owen.


"Baru saja. Yang kuperlihatkan pada Kakak itu adalah kali kedua. Karena aku tidak tahu, makanya aku bertanya pada Kakak. Kenapa pedangku bersinar dan aku juga merasakan tubuhku sedikit aneh," jawab Olivia menjelaskan.


"Kita harus bicarakan ini dengan Ayah, Olivia. Sepertinya kekuatanmu bangkit," sahut Owen.


"Ya? apa maksudnya itu? kekuatan apa?" tanya Olivia.


"Kekuatan keturunan Hubbert. Tidak kusangka, setelah berlatih keras kekuatanmu langsung bangkit." Jelas Owen.


"Kekuatan Hubbert?" gumam Olivia.


Olivia melebarkan mata, "Ah ... apa maksudnya aku akhirnya membangkitkan kekuatan yang memang hanya dimiliki keluarga Hubbert? jadi, kemungkinan aku menjadi swordmaster itu mungkin?" Tanya Olivia.


"Yeahh ... akhirhya aku berhasil!" seru Olivia senang.


Owen tersenyum, "Selamat, Olivia. Kau berhasil," kata Owen ikut senang.


"Aku tidak sangka, Olivia bisa membangkitkan kekuatannya bahkan sebelum ia mencapai usia kedewasaan. Ayah saja baru bisa membangkitkan kekutannya tepat sehari setelah upacara kedewasaan," batin Owen.


Pelatihan hari itu pun usai. Owen dan Olivia segera pulang ke kastil untuk memberitahukam kabar baik.


***


Di kastil. Victor dan Octavius terkejut mendengar cerita Owen yang mengatakan, apa yang dialami Olivia dan apa yang terjadi selama pelatihan hari itu.


"Itu ... sungguhan?" tanya Octavius hampir tidak percaya.


"Ya, Kak. Sama sepertimu, aku tadi juga hampir tidak percaya. Barulah setelah menyaksikan langsung, aku menjadi yakin, jika kekuatan Olivia telah bagkit," jawab Owen.

__ADS_1


"Kalau begitu, selamat, Olivia. Kau telah membuktikan diri, jika kau adalah keturunan dari seorang Hubbert." Kata Octavius.


Olivia tersenyum, "Terima kasih, Kak." jawab Olivia.


"Apa ini? Kenapa aku senang sekali, hanya dengan ucapan selamat? apa ini memanglah yang diharapkan Olivia yang memang ingin mendapatkan pengakuan?" batin Olivia.


"Selamat, Nak. Kau berhasil. Kalau begitu. Mulai besok setelah pulang sekolah, kita mulai berlatih. Apa kau ada masalah dengan waktunya, Olivia?" tanya Victor.


Olivia menggelengkan kepala, "Tidak, Ayah. Ayo, kita berlatih bersama," Jawabnya.


Bagi Olivia yang sudah terbiasa menambah jadwal, ia tidak masalah tentang waktu berlatih. Ia justru senang, jika setiap harinya selalu sibuk. Dengan begitu, ia tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting.


"Ayah tidak menduga. Kau mengungguli Ayah dalam membangkitkan kekuatan keluarga kita. Kau adalah generasi termuda yang bisa membangkitkan kekuatan," kata Victor menatap Olivia.


"Be-benarkah?" kata Olivia kaget.


Victor menganggukkan kepala, "Benar. Sejauh ini Ayahlah yang paling muda membangkitkan kekuatan, di usia delapan belas. Kakakmu, Octavius baru setahun lalu tepat di usianya yang ke dua puluh tiga. Kakak keduamu di usia ke dua puluh. Dan kau, diusiamu ke tujuh belas," jelas Victor.


"Bukankah kita harus merayakannya, Ayah?" kata Octavius.


"Benar. Ayo kita buat pesta keluarga," kata Owen bersemangat.


"Hm, apa tidak sebaiknya kita lakukan sekalian dengan pesta kedewasaan saja? bukankah sebentar lagi Olivia akan melakukan debutnya?" kata Victor menanggapi.


"Oh, benar. Bagaimana denganmu, Olivia? Apa kau punya pendapat?" tanya Octavius menatap Olivia.


"Oh, aku belum kepikiran apa-apa. Nanti kupikirkan baik-baik, Kak." jawab Olivia menatap Octavius dengan tersenyum cantik.


"Beritahu Kakak atau Ayah, jika kau menginginkan sesuatu atau ada hal yang kau butuhkan. Jangan sungkan," sahut Victor.


"Ya, Ayah." Jawab Olivia menatap Victor.


Olivia senang. Sekarang tidak akan ada lagi yang berani mengatainya lemah dan payah. Ia bukan lagi putri yang hanya bisa diolok, melainkan putri yang tangguh. Olvia berdebar, saat mendapat ucapan selamat dari Ayah dan Kakaknya. Ia merasa seperti sedang bermimpi.

__ADS_1


__ADS_2