Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
21. Tokoh Pendukung?


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Olivia dan Emma datang ke sebuah agen properti. Emma memberi informasi pada Nona majikannya, jika ada lokasi strategis yang kemungkinan disukai Olivia. Kedatangan Olivia dan Emma disambut baik pemilik agen properti. Mereka langsung menanyakan tipe rumah yang diinginkan Olivia.


"Nona, Anda ingin rumah seperti apa?" tanya pemilik agen properti.


"Aku ingin mencari tanah untuk dibangun sebuah gedung. Apa ada?" tanya Olivia.


"Oh, tentu saja. Sebentar. Saya akan ambilkan daftarnya," kata pria paruh baya itu yang sibuk mencari daftar di dalam laci meja kerjanya.


Tidak beberapa lama, pria itu menemukan buku yang dicarinya dan diberikan pada Olivia.


"Silakan, Nona." Katanya.


Olivia melihat-lihat isi dalam buku. Ia mencari alamat letak tanah yang diinformasikan Emma padanya di dalam buku itu. Dan ternyata memang benar ada. Olivia langsung mengatakan kalau ia menginginkan tanah itu.


"Aku ingin tanah di jalan Verox A-10. Apakah ini harganya?" tanya Olivia.


"Ya, Nona. Itu sudah harga lama. Kami belum menaikkan harga," jawab penjual.


"Baiklah, aku aku akan bayar tunai dengan koin emas," kata Olivia.


Olivia mengeluarkans sebuah kantung dan memberikannya pada penjual.


"Terimalah. Ini dua ribu koin emas. Aku memberikan lebih sebagai bonus," kata Olivia.


"Te-terima kasih, Nona. Silakan isi dan tanda tangan bekas ini. Surat kepemilikan akan segera dibuat, Anda bisa datang seminggu setelah ini." Kata penjual.


"Baiklah. Oh, ya. Apa Anda pu ... " kata-kata Olivia terhenti. Karena seorang pria datang tiba-tiba dan berteriak.


"Aku mau membelinya," kata pria itu mendekati penjual.


"Ya? Membeli apa, Tuan? apa Anda ingin membeli rumah?" tanya penjual menatap pria yang baru datang itu.

__ADS_1


"Tanah. Tanah di jalan Verox A-10. Aku ingin tanah itu. Berapa harganya?" tanya pria itu menatap tajam ke arah penjual.


Olivia kaget, "Apa-apaan dia ini. Datang-datang langsung menyerobot. Tidak tahu sopan-santun," batin Olivia mengerutkan dahi.


"Ma-maaf, Tuan. Tanah itu, sudah terjual pada Nona ini." kata penjual.


Pria muda itu menatap Olivia, "Berapa yang kau minta? aku akan membelinya dua kali lipat. Tidak, tiga kali lipat dari harga yang kau beli." kata pria itu.


"Aku tidak mau," jawab datar Olivia.


Pria itu mengerutkan dahinya, "Hei, Nona. Jangan buat kesabaranku habis. Kalau kau tidak senang dengan tawaranku. Kau bisa buka harga," kata pria itu.


Olivia menatap pria di sampingnya, "Siapa kau? Ah, tidak. Aku tidak peduli kau itu siapa dan dari mana. Namun, aku ingin kau tahu kalau semua hal itu ada aturannya. Aku duluan yang mengambil tanah itu. Kenapa juga kau memaksaku untuk menyerahkannya padamu. Mau sebarapa banyak kau membayar, aku tidak mau. Apa kata-kataku ini bisa kau mengerti?" kata Olivia.


"Kenapa wanita ini gigih sekali. Bagaimana pun, aku tidak boleh kehilangan tanah itu. Karena itu adalah tanah peninggalan mendiang Ayah dan Ibu," batin pria muda itu.


"Menyebalkan sekali. Lebih baik cepat pergi sebelum terlibat hal tak diinginkan," batin Olivia.


"Ya, Nona. Hati-hati di jalan," kata penjual.


Olivia dan Emma segera pergi meninggalkan tempat penjualan properti. Pria muda itu mencoba membujuk penjual, tetapi penjual itu menolak karena Olivia sudah menandatangani surat serah terima jual-beli properti. Pria muda itu tak punya pilihan. Ia segera berlari keluar untuk mengejar Olivia.


***


Di jalan. Olivia mengomel. Emma juga langsung menanggapi. Mereka menggosipkan pria aneh yang tiba-tiba datang dan bersikap tidak sopan yang mereka jumpai di rumah agen properti.


"Aneh sekali. Banyak pilihan tanah yang ada, tetapi dia memilih yang sudah dibeli orang lain. Jangan-jangan ada sesuatu," gumam Emma.


Olivia menatap Emma, "Sesuatu apa? jangan bilang itu tanah bermasalah," tanya Olivia.


Emma menggelengkan kepala, "Bukan, Nona. Saya sudah menyelidiki dan tanah itu tidak bermasalah. Agen properti itu juga orang yang jujur dan terpercaya. Yang saya maksudkan sesuatu itu, mungkin tanah itu memang sudah diincarnya, tetapi kedahuluan oleh Nona." jelas Emma.

__ADS_1


"Oh begitu. Mau bagaimanapun, aku sudah membayar penuh dan tanah itu sudah menjadi milikku. Siapa cepat dia dapat," sahut Olivia.


"Nona berjubah, tunggu ... " teriak seseorang.


"Siapa?" batin Olivia.


Olivia menghentikan langkah dan berbalik. Ingin tahu siapa orang yang memanggilnya. Begitu tahu yang memanggilnya adalah pria arogan yang ditemuinya di tempat penjualan properti, Olivia pun ingin kembali berbalik dan pergi. Namun, pria itu mencegah dan berkata ingin mengatakan sesuatu hal yang penting.


Olivia pun akhirnya bersedia mendengarkan apa yang pemuda itu ingin sampaikan padanya. Pemuda itu mengjaka Olivia minum teh di sebuah toko dessert agar pembicaraan tidak canggung.


***


Olivia duduk berhadapan dengan pemuda asing. Emma duduk di meja lain karena tidak ingin menganggu. Pemuda itupun akhirnya memperkenalkan diri pada Olivia. Ia bernama Deon Fillene, seorang Marquis.


Olivia mengerutkan dahi, "Kenapa namanya terdengar tidak asing, ya? jangan-jangan dia salah satu tokoh pendukung dalam novel. Namun, aku tidak mengingatnya. Nanti aku coba ingat-ingat lagi. Mari dengarkan dulu, apa yang mau pemuda ini sampaikan." batin Olivia


"Maaf, saya telah bersikap tidak sopan pada Anda, Nona." Kata Deon.


"Ya, tidak apa-apa. Saya juga meminta maaf atas ketidaksopanan saya." jawab Olivia.


"Itu ... ini soal tanah yang Anda beli. Apakah Anda memang tidak berniat menjualnya pada saya?" tanya Deon.


"Sayangnya tidak. Saya sangat membutuhkan tanah itu, Tuan. Letaknya yang strategis membuat saya tertarik membelinya," jawab Olivia.


"Ya, tenah itu memang terletak di tengah kota. Dengan jalan yang mudah di akses dan ramai. Apakah Anda ingin membuat sebuah Mansion atau Kastil?" tanya Deon.


"Saya akan membangun sebuah gedung bertingkat yang tinggi. Lebih besar dan megah dari kastil. Bicara soal tanah, apa alasan Anda mendesak saya agar menjualnya? saya merasa Anda sangat ingin memiliki tanah tersebut. Bisa jelaskan pada saya?" tanya Olivia.


Dan akhirnya Deon pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jika sebenarnya tanah itu dijual oleh Pamannya tanpa sepengetahuan orang tua Deon. Dan tidak lama setelah dijual, orang tua Deon mengetahui. Keduanya pun berusaha mengumpulan uang. Namun, sayang sekali takdir berkata lain. Belum sampai membeli kembali, orang tua Deon terlibat kecelakaan dan meninggal. Ibu Deon meninggal di tempat, dan Ayah Deon yang dirawat pun meninggalkan pesan agar bisa membeli kembali tanah itu karena itu adalah tanah peninggalan leluhur yang berharga.


"Begitulah, Nona ... " ucap Deon.

__ADS_1


"Hm, kisah yang meyentuh. Saya turit berduka atas meninggalnya mendiang Marquis dan Marchioness. Namun, jika saya berikan pada Anda, saya akan sulit mencari lokasi yang serupa." kata Olivia.


__ADS_2