Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
20. Peluang


__ADS_3

Issac menyampaikan kabar baik, jika ia sudah menemukan beberapa orang yang cocok untuk dijikan prajurit bayaran dibawah naungan Olivia. Mendengar kabar itu, Olivia tersenyum cerah. Ia tidak menyangka, jika Issac bisa dengan cepat menemukan orang-orang berbakat.


"Darimana kau temukan orang-orang ini?" tanya Olivia menunjuk tumpukan kertas berisi data para calon prajurit bayaran yang akan mereka rekrut.


"Oh ... sebenarnya, sebagaian besar mereka itu temanku." jawab Issac.


"Sudah kuduga. Kau itu bukan penebang kayu dan penjual kayu bakar. Kau pasti seorang prajurit bayaran juga, kan?" sahut Olivia.


Issac menganggukkan kepala, "Ya, kurang lebihnya seperti itu. Namun, aku hanya akan bekerja, jika dibayar mahal. Kau kan tahu, aku ini sangat suka uang." kata Issac.


"Hm, aku sangat paham betapa kau mencintai uang. Nah, setelah ini apa yang akan kita lakukan? kalau sudah memiliki anggota, bukankah kita harus mencari tempat untuk mereka?" kata Olivia.


"Kau sendiri, apa ada ide? apa rencananmu?" tanya Issac menatap Olivia.


Olivia berpikir, memutar bola mata. Ia lantas tersenyum tipis seolah terpikirkan ide yang menarik.


"Iss, aku punya rencana yang bagus. Sebenarnya, aku mau membangun sebuah Hotel. Bagaimana, kalau kantor prajurit bayarannya ada bersebelahan dengan Hotel, tetapi masih dalam bangunan yang sama?" kata Olivia.


Issac terdiam. Merasa tak paham dengan apa yang baru saja dikatakan Olivia. Melihat ekspresi wajah bingung Issac, Olivia lantas menjelaska rencananya. Ia menjelaskan apa itu Hotel, manfaat Hotel dibangun dan keuntungan yang didapatkan. Setelah Issac paham tentang tujuan dibagunnya Hotel, Olivia pun menjelaskan sistem kerja Hotel. Di mana ia yang merupakaan pemilik bangunan, akan menjadi CEO, dan Isaac adalah Direkturnya.


"Aku Direkturnya?" tanya Issac.


"Ya, kau Direkturnya. Aku kan tidak bisa mengungkapkan bergitu saja identitasku. Bisa-bisa Ayahku akan marah dan msncoret namaku dalam kartu keluarga." kata Olivia.


"Benar juga. Sebagai Nona bangsawan kelas atas, kau harus berhati-hati. Lebih baik menutupi identitasmu sebagai pemilik Hotel, sehingga kalau ada kabar atau berita miring tentangmu, Hotel tak aka ikut terseret. Aku mengerti maksudmu. Kau adalah Bossnya Boss," kata Issac.

__ADS_1


Olivia dan Issac berbincang serius. Dan tidak lama itu Issac berpamitan pulang karena ia harus pergi ke tempat lain. Olivia mengantar kepergian Issac sampai di depan pintu gerbang bersama Emma. Setelah itu ia kembali ke rumah karena harus melanjutkan menyusun rencana.


***


Malam harinya, saat makan malam. Victor memberitahu, jika ia dipanggil menghadap Baginda Kaisar. Octavius dan Olivia saling bertatapan, lalu bersamaan menatap ke arah sang Ayah.


"Ada hal penting apa, sampai baginda Kaisar memanggil Ayah?" tanya Octavius.


Victor menggelengkan kepala, "Entahlah. Ayah juga tidak tahu. Dalam surat hanya ditulis, jika ada waktu senggang. Ayah dimita datang karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tanpa penjelasan jelas tentang apa yang nantinya kami bicarakan." Jawan Victor.


"Aneh sekali. Padahal Baginda Kaisar bukanlah seseorang yang akan memanggil tanpa alasan pasti. Lanta, apakah Ayah akan mengirim surat balasan?" tanya Octavius.


"Rencananya besok. Hari ini Ayah sibuk dan tak sempat membalasnya. Bagaimana dengan perbatasan utara? Apa ada masalah?" tanya Victor menatap Octavius.


"Tidak ada. Saya juga sudah megecek batu segel dan tidak ditemukan kerusakan atau masalah. Penjaga yang berjaga pun mengatakan semua baik-baik saja. Begitu juga perbatasan selatan," jawab Octavius.


Olivia menatap Victor, "Ayah ... jangan terlalu memaksakan diri. Memang pekerjaan Ayah adalah melindungi wilayah dan menjadi perisai Kekaisaran. Namun, Ayah perlu ingat, jika saya hanya memiliki Ayah dan Kedua Kakak sebagai keluarga. Ayah kan sudha berjanji, kalau Ayah tidak aka mebgabaikan saya lagi," kata Olivia.


Victor tersenyum lebar, "Apa kau sedang protes pada Ayah? atau kau sedang mengomeli Ayah? Tenang saja, Ayah akan selalu menepati janji, putriku." jawab Victor.


Kepala pelayan datang menghadap dengan seseorang asing dibelakangnya. Ternyata Owen mengirim Asistennya untuk menyampaikan surat pada Victor. Saat Victor membaca isi surat dari Owen, Victor pun terkejut. Ia segera berdiri dan mengajak Asisten putra keduanya itu ke ruang kerjanya.


"Kalian lanjut saja makan. Ayah ada urusan mendesak," kata Victor. Yang lantas pergi meninggalkan ruang makan.


"Ada apa, Kak?" tanya Olivia penasaran. Karena ia melihat raut wajah Ayahnya yang tegang.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa-apa. Owen tak mengatakan sesuatu padaku," jawab Octavius yang juga tidak tahu apa-apa.


"Ada apa, ya? apa ada masalah? jangan-jangan ada hal buruk yang terjadi. Kenapa perasaanku jadi tidak enak?" batin Olivia.


Olivia malanjutka makan malamnya dengan tenang didampingi Octavius. Sampai mereka berdua selesai makan, sang Ayah pun tidak terlihat. Saat Octavius bertanya pada pelayan, pelayan menjawab, jika Victor masih bersama tamunya di ruang kerja. Dan hal itu tentu saja membuat Octavius penasaran akan apa yang dibahas Ayah dengan Asisten sang Adik.


***


Victor mondar mandir seperti orang yang kebingungan. Sedangkan Asisten Owen hanya diam menatap Victor yang tampak gelisah.


"Apa benar kalau tidak ada seorang pun orang yang bisa membantu putriku?" gumam Victor.


"Tuan Duke. Saya memiliki saran. Namun, saya tidak tahu apakah Anda sependapat dengan saya atau tidak," Kata Asisten Owen.


Victor menatap Asisten putra keduanya, "Apa? Kau memiliki kenalan?" jawab Victor.


Asisten Owen menggelengkan kepala, "Bukan, Tuan. Sepertinya memang tidak ada orang yang bisa ataupun sanggup membantu Nona, selain diri Nona sendiri. Makadari itu, sebaiknya Anda bicara pada Nona agar Nona mau melakukan pelatihan tertutup. Tentu Anda, Master dan Tua Duke Muda bisa mengawasi dan menjaga dari jarak tertentu. Saya sudah memberitahu Master akan hal ini, tetapi Master mengatakan, kalau melakukan pelatihan tertutup bukanlah hal mudah. Master khawatir Nona tidak akan bisa menjalani pelatihan tertutup. Namun, bagi saya tidak ada salahnya Anda bertanya, lalu berdiskusi dengan Nona. Segala sesuatu tidak akan diketahui hasilnya sebelum dicoba, Tuan." jelas Asisten Owen.


Victor menganggukkan kepala, "Yang kau katakan ada benarnya. Aku hanya sibuk mencari orang yang bisa melatih Olivia tanpa berpikir apakah orang tersebut bisa membantu atau tidak. Baiklah, sampaikan pada Owen agar tidak perlu mencarikan orang lain. Aku akan bicarakan hal ini nanti pads Olivia setelah selesai mengunjungi Baginda Kaisar. Kau bisa kembali," kata Victor.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit." kata Asisten Owen yang langsung pergi.


Victor duduk di kursi dan menatap surat dari Owen. Ia menunduk dan memijat lembut keningnya.


"Kenapa harus Olivia? Andai aku bisa menggantikannya memikul beban berat," batin Victor.

__ADS_1


Victor memalingkan pandangan menatap lukisan sang istri, "Apa yang harus aku lalukan istriku? Andaikan kau ada di sisiku saat ini, kau pasti bisa memberiku penghiburan. Pada saat-saat seperti ini, aku begitu membutuhkanmu." batin Victor.


__ADS_2