
Setelah makan malam, Olivia datang ke ruang kerja Ayahnya. Olivia tidak tahu, kenapa ia tiba-tiba diminta datang menemui Ayahnya. Ia berdiri cukup lama sebelum akhirnya mengetuk dan membuka pintu ruang kerja Victor.
"Ayah, ini saya," kata Olivia pelan.
"Masuklah," jawab Victor.
Olivia masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. Ia melihat Victor sedang duduk dan menulis sesuatu.
"Tunggu sebentar. Ayah selesaikan ini dulu," kata Victor.
"Ya. Ayah tak perlu terburu-buru. Saya akan menunggu sambil melihat-lihat buku. Apa boleh?" tanya Olivia meminta izin.
"Tentu saja. Lihatlah dan ambil kalau kau ingin," jawab Victor yang kembali fokus pada pekerjaannya.
Olivia melihat sekeliling ruang kerja Victor. Meski sudah beberapa kali datang, ia tidak pernah cermat mengamati ruang kerja karena fokus mendengar apa yang disampaikan Ayahnya. Olivia melihat sebuah lukisan berukuran besar terpajang di sisi rak buku. Itu adalah lukisan keluarga. Ada Ayah, Ibu, yang tampak muda, kedua Kakaknya yang masih kecil dan juga ia yang masih bayi yang digendong sang Ibu.
"Apa ini, Ibu dari Olivia? Wahh ... sangat cantik," batin Olivia.
Olivia mengamati dengan cermat dan meraba lukisan itu. Ia menilai Victor sangat keren, karena mungkin masih terlihat muda. Persis seperti Octavius. Pandangannya terlaihkan melihat Kedua anak laki-laki yang tak lain adalah Octavius dan Owen yang masih tampak kecil.
Olivia tersenyum, "Ternyata begini wajah Octavius dan Owen saat masih kecil. Mereka sangat imut. Meski begitu mereka juga tampak tampan. Memang ya, ketampanan mereka sudah terlihat sejak masih anak-anak," batin Olivia.
Pandangan Olivia menatap sosok wanita yang sedang duduk menggendong seorang bayi. Olivia meraba dan tiba-tiba ia menangis tanpa sadar.
"Kenapa aku menangis?" batin Olivia menyeka air matanya.
__ADS_1
"Apa mungkin aku juga merasa sedih? apa Olivia sedang merindukan mendiang Ibunya? Sehingga aku yang merasukinya pun ikut merasakan," batin Olivia.
Victor mendekat dan meraba lukisan istrinya, "Bagaimana Ibumu? sangat cantik, kan?" tanya Victor.
Olivia kaget, "A-ayah ..." gumamnya menatap Victor. Ia segera menatap lukisan, "Ya. Ibu sangat cantik," jawab Olivia serak.
Victor menatap Olivia, "Ada apa? Kau menangis?" Tanya Victor.
Olivia tersenyum, "Entahlah. Saat saya menatap lukisan Ibu, tiba-tiba saja saya sudah meneteskan air mata. Mungkin saja ini bentuk kerinduan saya pada Ibu," jawab Olivia.
"Begitu, ya? apa kau mau datang berkunjung ke makam Ibumu besok?" tanya Victor.
Olivia menganggukkan kepalanya, "Tentu saja mau. Selama ini kam saya tidak pernah tahu di mana makam Ibu," jawab Olivia.
"Ayah, jangan terus meminta maaf. Saya tahu, Ayah pasti punya alasan tersendiri. Meski Ayah tidak memperhatikan saya secara detail, tetapi Ayah kan selalu memenuhi kebutuhan hidup saya sejak kecil hingga saya sebesar ini. Kalau Ayah memang benar-benar orang yang egois dan tidak peduli, maka Ayah tak akan memberikan uang bulanan pada Bibi pengasuh untuk saya, kan?" jawab Olivia.
"Kau tahu, Nak? Sebenarnya Ayah selalu memikirkanmu. Meski itu berada di medan perang sekalipun. Ayah ingat kata-kata mendiang Ibumu sesaat sebelum meninggal. Ibumu berkata, kalau Ayah harus membesarkanmu dan Kakak-kakakmu dengan baik. Namun, Ayah tak bisa lakukan itu karena ketidakmampuan Ayah. Hasilnya, Ayah harus menyerahkanmu pada pengasuh dan hanya bisa memberikan uang untuk memenuhi semua kebutuhan. Sedangkan Ayah harus tetap bekerja untuk kesejahteraan wilayah. Ayah pun menyerahkan Kakak-kakakmu pada komandan kestaria untuk menjalani pelatihan. Namun, yang berhasil hanya salah satu dari Kakakmu karena yang satu lagi tidak berbakat memegang pedang. Ayah tidak tahu bagaimana cara mengurus anak dan hanya tau memberikan uang." kata Victor menjelaskan.
Olivia tersenyum, "Apa Ayah tahu? Saya bersyukur menjadi putri Ayah. Tidak semua orang seberuntung saya yang dilahirkan sebagai anak orang kaya. Bukan begitu? Jangan salahkan diri sendiri, Ayah. Setidaknya Ayah sudah membuat kami merasakan semua hal baik dari uang yang Ayah hasilkan," kata Olivia.
Victor tersenyum, "Hahaha ... dasar kau ini," sahut Victor.
"Oh, ya. Ayah sudah dengar apa yang terjadi di akademi. Apa kau benar-benar tak tahu kalau kau punya mana berlimpah?" tanya Victor menatap Olivia.
"Itulah yang membuat saya bingung. Karena terlalu melimpah, mungkinkah sampai saya tak merasakannya? Aneh sekali, kan? Padahal saya berlatih setiap hari selama enam bulan dan hanya libur latihan di akhir pekan saja. Apa Ayah tahu sesuatu? Jujut saja, saya sampai tidak percaya bisa memecahkan tiga bola kristal pengukur mana." jawab Olivia.
__ADS_1
Victor diam berpikir. Dahinya berkerut, karena ingat sesuatu. Ia baru menyadari, jika mendiang istrinya juga memiliki mana yang berlimpah. Dan karena tak berhasil mengendalikan mana, mana itupun meledakkan dan menghancurkan organ dalam istrinya. Dan karena itulah istrinya meninggal.
"Apa Olivia juga akan ... " batin Victor. Ia pun menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak, tidak. Tidak boleh. Hal yang sama tidak boleh terjadi. Aku harus bisa membantu Putriku mengendalikan mana dalam tubuhnya, agar tak meledak dan membahayakan nyawanya," batin Victor.
Melihat Sang Ayah yang hanya diam saja, Olivia berpikir kalau Ayahnya juga sama bingungnya dengannya.
"Apa Ayah sedang memikirkan sesuatu? Kenapa ekspresi Ayah seperti itu? Ayah pasti bingung sama sepertiku," batin Olivia.
Olivia menatap telapak tangannya, "Bagaimana bisa aku memiliki mana melimpah? apa ini sungguh nyata? Ini tidak seperti yang tertulis di novel. Bukankah Olivia itu sangat lemah dan bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri, lalu mana ini? Mau dipikrikan seperti apapun, aku masih tidak mengerti dan tidak percaya. Apa penulis Novel akan mengeluarkan season ke dua novel ini? Hah, bagaimana bisa begitu? ini kan masih memasuki alur dari cerita yang kubaca itu. Yah, meski isinya berbeda karena aku yang merubah isinya sedikit. Aaahh, menyebalkan. Aku kesal kalau harus menebak-nebak seperti ini," batin Olivia.
"Olivia," panggil Victor.
"Ya?" jawab Olivia terkejut. Ia segera menatap Victor.
"Apa kau merasa kesulitan atau merasakan ada yang aneh dalam tubuhmu? Misalkan sakit, nyeri atau yang lain?" tanya Victor.
Olivia mengerutkan dahinya, "Tidak ada. Seperti yang Ayah lihat, saya sehat dan baik-baik saja, kan? Memangnya ada apa?" tanya Olivia menatap sang Ayah.
"Tidak apa-apa. Hanya saja Ayah merasa khawatir, kalau-kalau kau kesulitan atau bahkan sampai kesakitan karena mana yang kau miliki. Jika merasakan sesuatu, sekecil apapun, segera beritahu Ayah, mengerti?" kata Victor.
"Ya, Ayah. Mengerti," jawab Olivia.
"Meski begitu. Untuk jaga-jaga, jangan sembarangan menggunakan manamu untuk sementara sampai Ayah menemukam guru yang cocok. Bagaiamanapun, kau perlu berlatih mengendalikan mana agar tak membahayakan tubuhmu." kata Victor.
"Saya mengerti, Ayah." jawab Olivia.
__ADS_1