Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
30. Tiba Tiba Datang


__ADS_3

Keesoakan harinya. Tiba-tiba saja Arron mengunjungi kediaman Duke Hubbert. Ia datang untuk mendiskusikan masalah para pengrajin baju zirah dan para pandai besi yang akan membuat senjata untuk pra prajurit kekaisaran. Meski alasan Arron masuk akal, tetapi Victor merasa tidak senang karena Arron tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan.


"Gu ... ah, maksud saya Duke, apakah Anda tidak akan mempersilakan saya masuk ke dalam kastil?" tanya Arron.


"Tidak. Mari kita bicara di taman saja," jawab Victor.


"Apa? Di taman? Se-sekarang?" jawab Arron kaget.


"Ya, sekarang. Ada apa, Yang Mulia? jika Anda merasa keberatan, maka saya saja yang datang ke istana dan menemui Anda esok hari," jawab Victor.


"Hah ... bisa-bisanya guru seperti ini. Aku kan hanya ingin duduk di ruang tamu kastilnya saja," batin Arron.


Victor menatap Arron, "Aku tidak boleh membiarkan Arron masuk ke kastil. Jika bertemu Olivia, akan ada masalah besar. Aku jadi teringat dengan perkataan baginda Kaisar yang ingin menikahkan Arron dengan Olivia. Tidak, tidak. Tidak boleh! Laki-laki manapun tidak boleh menyentuh putri berhargaku. Sekalipun calon pemimpin kekaisaran ini," batin Victor.


"Bagaimana, yang Mulia?" tanya Victor.


"Ya, apa boleh buat. Karena Duke memang tidak mengizinkan saya masuk ke kastil. Di taman pun boleh," jawab Arron meeasa sedikit kecewa.


Victor memimpin jalan, dan Arron berjalan mengikuti Victor sampai ke tamab. Arron melihat sekeliling taman.


"Taman yang indah, Duke," kata Arron.


"Mendiang istri saya sangat menyukai bunga. Dialah yang membuat taman ini. Dan saya hanya menggantikannya menjaganya," jawab Victor.


"Apa Ivy juga menyukai bunga seperti mendiang Duchess? Ah, sayang sekali aku terlampau sibuk sampai tidak ada waktu mencari tahu apapun tengang Ivy. Satu-satunya hal yang ku tahu adalah, Pria tua dan pria muda yang tinggal di dekat hutan di belakang pasar. Siapa ya, mereka? apa Duke tahu kalau putrinya bertemu orang asing?" batin Arron.


"Yang Mulia ... " panggil Victor.


Arron menatap Victor, "Ya, Duke. Silakan bicara," jawab Arron.

__ADS_1


"Ada apa? apa Anda sedang memikirkan sesuatu?" tanya Victor.


"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Saya hanya terlalu lelah karena sering lembur sampai malam. Mungkin kurang istirahat karena pagi-pagi buta saya harus bangun untuk berlatih," jawab Arron.


"Jangam terlalu memaksakan diri. Tubuh juga perlu istirahat," Kata Victor berpesan.


"Ya, saya akan ingat pesan Anda. Nah, bagaimana kalau kita bahas saja soal para pengrajin yang sudah kita kumpulkan dan para pandai besi? apa rencana selanjutnya?" tanya Arron.


"Saya akan memperkenalkan satu orang berbakat membuat senjata. Seseorang ini bukanlah orang biasa-biasa saja, dan dia tidak menerima sembarangan sejata yang dipesan orang," kata Victor.


"Oh, ya? Apakah seseorang itu tak tertarik dengan uang? Sampai tak sembarangan menerima pesanan?" tanya Arron.


"Baginya mungkin uang tidaklah penting. Namun, dia yakin mampu membuatka sejata yang sesuai dan cocok dengan kemapuan kita. Jika Anda penasaran, apakah Anda berkenan saya kenalkan langsung?" tanya Victor.


"Boleh saja. Saya penasaran seperti apa orangnya," jawab Arron.


***


Sementara itu Olivia yang berada di dalam kamar, mendapatkan informasi kedatangan Putra Mahkota ke kediamannya dari Emma. Mendengar itu Olivia langsung terkejut sampai ia tersedak saat minum sari apel pemberian Emma.


"Uhukkk .... huuukkk ... umhh ...."


"Wah, gila! kenapa dia datang ke sini? pria jahat itu adalah pria yang paling tidak ingin kutemi," batin Olivia.


"Uhukkk ... ah, tenggorokanku sedikit sakit," gumam Olivia. Ia cepat-cepat meminum air putih yang sudah disiapkan Emma.


"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Emma khawatir.


"Tidak apa-apa, Emma. Memang sedikit sakit, tapi nanti pasti membaik. Aku juga sudah minum air putih. Oh, ya. Apa kau tahu apa tujuan Yang Mulia Putra Mahkota datang? Siapa yang ingin beliau temui?" tanya Olivia penasaran.

__ADS_1


"Saya dengar dari pelayan, Yang Mulia Putr Mahkota datang mencari Tuan Duke karena ingin membahas sesuatu. Dan sekarang Tuan Duke juga Yang Mulia Putra Mahkota sedang ada di taman untuk berdiskusi," jawab Emma.


"Aduh, bagaimana ini? padahal hari ini aku mau mengunjungi lakasi pembangunan Hotel. Kalau aku keluar, maka ada kemungkinan bertemu Arron. Astaga ... dia pandai menghancurkan rencana orang ya. Kalau sudah begini, mau tak mau aku undur besok saja pergi. Demi keamanan dan kesejahteraan hidup aku tidak akan keluar ke mana-mana," batin Olivia.


"Emma, apa kau bisa membawakan aku buku dari perpuastakaan? Buku-bukunya sudah aku siapkan di atas meja. Ada sekitar lima buku. Dan tolong bawakan juga cemilan yang cukup untuk kumakan sampai sore. Aku tidak akan keluar kamar sampai jam makan malam. Hari ini adalah waktu untuk belajar penuh," kata Olivia.


"Bukankah Anda berkata pada saya tadi hendak keluar?" tanya Emma.


"Tidak jadi. Tiba-tiba saja aku malas," jawab asal Olivia.


"Aku tidak bisa mengatakan pada Emma, kalau aku malas bertemu pria jahat yang sudah membuatku menangis di kisah asli, kan? kalau Emma tahu dia pasti akan marah dan tersinggung. Lebih baik Emma tidak tahu saja. Lagipula hal yang tertulis di Novel asli tak akan terjadi. Aku, Olivia Hubbert, tidak akan mencintai Putra Mahkota. Bahkan aku tidak akan sudi bertatapan dengannya. Biarlah si Putra Mahkota itu dimiliki Beatrix sepenuhnya. Aku hanya ingin hidup tenang dan damai," batin Olivia.


Ya, Nona. Akan segera saya siapkan. Apakah ada hal lain? Anda mau tambah sari apel lagi? atau mau minuman lain, seperti teh atau sari jeruk?" tanya Emma.


"Tidak. Cemilan saja. Kau boleh lanjut istirahat setelah menyiapka apa yang kubutuhkam itu, Emma." kata Olivia tersenyum.


"Baik, Nona. Saya permisi," kata Emma.


Olivia berdiri dari tempat duduknya dan pergi mendekati jendela kamarnya. Dari jendela kamar, Olivia bisa melihat langsung damparan taman bunga indah kediamannya.


"Hahh ... (menghela napas) sayang sekali aku tidak bisa pergi. Padahal aku mau pergi menemui Issac juga setelah melihat para pekerja," gumam Olivia.


Mata Olivia menyelisik sekitar. Dan terhenti saat melihat Ayahnya sedang bersama seseorang berbincang dengan seseorang. Yang posisi duduknya menghadap Victor sehingga tidak terlihat wajahnya oleh Olivia, hanya terlihat bagian belakang tubuh dari Putra Mahkota.


"Ayah ... " gumam Olivia.


"Apa dia Putra Mahkota itu? wah, dia punya postur tubuh yang bagus. Lihat punggung lebarnya itu. Sayang aku tak bisa melihat wajahnya. Meski dalam dijelaskan, jika Putra Mahkota itu sangat tampan. Namun, aku kan tidak bisa mengatakan dia tampan karena belum melihatnya langsung. Lagipula dia adalah orang jahat yang membuat Olivia patah hati karena cinta sepihak Olivia. Ah, sudahlah. Kenapa juga aku memikirkan hal yang tidak penting. Lebih baik belajar untuk ujian esok lusa. Hari ini aku akan belajar penuh, agar besok bisa pergi bermain sepuasku," batin Olivia.


Olivia berbalik dan pergi meninggalkan jendela kamarnya. Ia kembali duduk di meja belajarnya dan melanjutkan membaca buku pelajarannya.

__ADS_1


__ADS_2