Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
41. Semua Karena Olivia


__ADS_3

Tanpa terasa, liburan akhir tahun ajaran usai. Dan kini telah memasuki tahun ajaran baru. Olivia tiba dengan kereta kuda dan disambut oleh Chloe yang setia menunggunya datang.


Chloe tersenyum melihat Olivia, "Hai, Iv ... " kata Chloe yang berlari menghampiri Olivia.


"Hai, Chloe. Kau datang awal rupanya," Sapa balik Olivia.


"Ya. Aku sengaja ingin menunggumu. Bagaimana perasaanmu masuk sekolah lagi, kau senang?" tanya Chloe.


Olivia tersenyum tipis, "Ya. Aku senang," jawab Chloe.


"Hari ini adalah hari di mana Arron dan Beatrix bertemu untuk pertama kali, kan? Dan setelah pertemuan itu, mereka menyimpan rasa masing-masing.  Namun, karena Arron lebih dulu mengenal Olivia dan Olivia sangat terobsesi pada Arron, maka cinta keduanya tidak dapat bersatu. Olivia bagaikan parasit yang terus menempel pada Arron, membuat Arron kesal dan muak. Hmmm ... mungkin karena itulah sikap Arron jadi dingin dan diam-diam menjalin hubungan dengan Bearix. Namun, Olivia yang tahu dan iri, dan tidak punya kemampuan apa-apa pun mencoba melakukan hal tidak terduga. Astaga, si penulis kenapa begitu jahat? Membuat Olivia jadi hilang akal sesaat dan mencoba meracuni Beatrix. Dan karena itulah Beatrix yang marah ingin balas dendam. Menyewa Issac dan ... aku mati ...  Wuaaaahhh ... gila, gila! Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau mati. Karena itu aku berusaha sekuat tenaga mengubah alur cerita kisah aslinya sejak aku datang ke dunia ini. Tenang, Olivia. Tenang. Kau kan Olivia dunia lain, dan kau tidak menyukai Arron seperti Olivia di dalam Novel. Jadi, kau pasti akan selamat dan baik-baik saja. Ya. Harus begitu," batin Olivia.


Chloe menatap Olivia yang diam melamun. Ia menepuk bahu Olivia, mengejutkan temannya itu.


"Iv ... kau memikirkan apa?" tanya Chloe.


Olivia kaget, "Ah, ti-tidak. Bukan apa-apa. Ayo, kita masuk kelas saja," ajak Olivia.


"Ya. Ayo," sahut Chloe.


Olivia dan Chloe lantas pergi bersama-sama menuju kelas mereka.


***


Olivia berpikir, dengan mengubah alur cerita novel, maka ia tidak akan berhubungan dan tidak akan terkait dengan para tokoh utama novel. Sayangnya, hal seperti ketertarikan itu memang sudah ditakdirkan. Baik Arron maupun Beatrix memiliki ketertarikan pada Olivia dan ingin menjalin hubungan baik dengan Olivia.


Di sisi lain sekolah. Tepatnya di taman. Beatrix yang baru masuk akademi sedang berjalan perlahan mencari kelasnya. Karena ia baru menginjakkan kaki di ibu kota, ia tidak banyak mengenal teman sebaya. Hanya Olivia dan Chloe saja, teman seumuran yang ia kenal dan itupun mereka hanya sebatas saling mengenal, belum sepenuhnya berteman.


Dalam perjalanan mencari kelas, Beatrix mendengar gosip miring yang membuatnya kesal. Terlihat tiga orang gadis sedang membicarakan seseorang yang namanya tak asing ditelinga Beatrix, yakni Olivia Hubbert, yang merupakan Putri keluarga Duke.


"Hei, apa kalian lihat tadi?"


"Liha apa?"


"Itu, si putri Duke, Olivia Hubbert. Bukankah dia menjadi sangat sombong? jujur saja aku membencinya."


"Ssttt ... pelankan suaramu. Nanti ada yang dengar dan melapor. Kau mau nasibmu dan krluargamu seperti Rosetta, si Putri Marquis itu?"

__ADS_1


"Hah, padahal dia dulu bukan apa-apa. Sekarang dielu-elukan para profesor sampai murid-murid akademi. Memang apa hebatnya dia? hanya karena memiliki mana melimpah saja sudah dianggap hebat."


"Benar juga. Apa kalian tahu? Kakakku yang tak pernah peduli gosip pun bertanya tentang Olivia padaku. Itu amat sangat mengesalkan, bukan? Cih! aku ingin sekali menarik rambutnya dan mencabik-cabik wajahnya."


Beatrix mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia pun segera menghampiri ketiga gadis penggosip itu.


"Kalian ... apa yang baru saja kalian bicarakan? kalian menggosipkan siapa? ini akademi, tempat belajar. Bukan bergosip," kata Beatrix.


Ketiga gadis itupun bersamaan menatap Beatrix. Mereka lantas saling menatap satu sama lain, karena mrlihat wajah yang asing di akademi.


"Kau, apa kau murid baru?"


"Sepertinya begitu. Aku tak mengenal wajahnya itu."


"Dia cantik juga. Hahaha .... "


"Kenapa kau menghampiri kami dan ikut campur, hah? Memangnya kau siapa?"


"Aku ... ah, tidak penting siapa aku. Asal kalian tahu, kalian tidak boleh mengosipkan bahkan menghina Olivia. Jika kalian tidak tahu apa-apa tentangnya, jangan sok tahu. Olivia itu ... dia ... tidak seperti yang kalian pikirkan," kata Beatrix membela Olivia.


"Kau tidak tahu kami siapa? Dasar gadis bodoh!"


"Hei, kau ... aku peringatkan kau. Jangan macam-macam pada kami, atau ... "


"Atau apa?" kata seseorang yang tiba-tiba datang dan berdiri di belakang Beatrix.


Seseorang itu adalah Arron. Ternyata Arron diam-diam telah menguping dengar pembicaraan Beatrix dan ketiga gadis penggosip. Karena sepertinya Beatrix kenal Olivia, Arron pun datang membantunya.


Melihat sosok yang tidak asing, ketiga gadis itupun langsung memberi hormat pada Arron yang merupakan Putra Mahkota Kekaisaran.


"Ya-yang Mulia, Putra Mahkota."


"Kenapa kalian diam saja saat aku tanya? Ayo, jawablah. Atau apa?" Tanya Arron menatap dingin tiga gadis penggosip.


"Ma-maafkan kami, Yang Mulia."


"Anda salah paham. Kami tidak melakukan apa-apa."

__ADS_1


"Benar, Yang Mulia. Kami hanya ... "


"Hanya membicarakan seseorang dibelakangnya, begitu? Apa itu sangat menyenangkan? aku tidak percaya, begitu aku masuk akademi, sudah melihat sampah-sampah seperti kalian. Bersiaplah, karena aku tak aka diam saja atas apa yang kalian lakukan," kata Arron.


"Pergi!" sentak Arron.


Ketiga gadis penggosip itupun pergi dengan terburu-buru dan ketakutan meninggalkan Beatrix dan Arron.


Arron melihat Beatrix, "Hei, kau. Apa kau baik-baik saja?" tanya Arron.


Beatrix berbalik menatap Arron, "Ya. Terima kasih, Ya-yang Mulia." jawab Beatrix takut.


"Kenapa kau terbata? aku tak akan memarahimu. Oh, ya. Kau menemui mereka begitu kau mendengar nama Olivia Hubbert, kan? apa hubunganmu dengannya?" tanya Arron tanpa basa-basi.


"Ya? Ah, itu ... ka-kami saling kenal," jawab Beatrix.


"Saling kenal? Di mana dan bagaimana kau mengenalnya? Ceritakan padaku," tanya Arron.


"Apa? oh, ya. Ba-baik. Saya .... "


Akhirnya Beatrix menceritakan pertemuan pertama dengan Olivia, dan pertemuan kedua saat ia ditolong. Arron tersenyum, mendengar jika Olivia ternyata begitu perhatian dan peduli pada sesama.


"Dia memang sangat istimewa," batin Arron.


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud tidak sopan padamu. Aku Arron, kau mungkin sudah tahu kalau aku adalah Putra Mahkota. Siapa kau?" tanya Arron.


"Sa-saya ... saya Beatrix, Yang Mulia." jawab Beatrix.


"Hm, Beatrix. Karena kau sudah membela Olivia, maka aku akan membatumu. Di mana kelasmu? Akan aku antar," kata Arron berniat baik pada Beatrix.


"Apa yang harus kulakukan? aku takut, tapi aku memang tidak tahu kelasku. Bagaimana ini?" batin Beatrix ragu.


Arron menatap Beatrix, "Apa ada masalah? kau tak masuk kelas?" tanya Arron.


"Apa? I-iya, Yang Mulia. Terima kasih atas niat baik Anda," jawab Beatrix.


Arron dan Beatrix pun berjalan bersama menuju kelas Beatrix. Arron ingin mengantar Beatrix sekalin melihat-lihat, siapa tahu ia menemukan orang-orang yang menggunjing Olivia lagi.

__ADS_1


__ADS_2