Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
40. Menolong Beatrix


__ADS_3

Tidak terasa waktu berjalan cepat. Beberapa hari lagi, tiba waktunya bagi murid akademi memulai tahun ajaran baru.


Chloe beberapa kali datang mengunjungi kastil Olivia dan diajak Olivia berkeliling pasar tempat Ia dan Emma sering berbelanja. Chloe dan Olivia tampak semakin akrab. Mereka menghabiskan waktu panjang, untuk berbelanja dan minum teh. Bahkan pernah sekali Chloe menginap di kastil dan tidur satu tempat tidur dengan Olivia.


Arron berlatih bersama Victor, sayangnya ia tidak bisa terlalu menuntut lebih dari sekali pertemuan setiap pekannya. Ia harus bersabar dan menyimpan harapannya agar bisa sering-sering melihat Olivia. Dan semenjak kejadian terakhir kali, Arron tidak lagi mengirimi Olivia surat, ia tidak mau membuat Olivia merasa risih akan keberadaannya dan semakin kesal padanya.


***


Siang itu, Olivia dan Chloe sedang mencari tempat untuk makan siang setelah berbelanja gaun. Tidak beberapa lama mencari mereka akhirnya menemukan tempat yang cocok. Kebetulan keduanya ingin makan dari hidangan restoran tersebut.


Olivia dan Chloe melihat sekerumunan orang di depan restoran, sehingga mereka berdua tak dapat masuk ke dalam restoran.


"Ada apa ya?" tanya Chloe.


"Entahlah. Mereka sedang apa di depan pintu," sahut Olivia.


Chloe pun maju dan bertanya pada salah satu orang, mengapa banyak orang berkerumu di depan restoran dan ternyata orang-orang sedang menonton dua orang saudara tiri yang sedang bertengkar.


Olivia tidak merasa tertarik, ia pun segera mengajak Chloe pergi dan mencari tempat makan yang lain.


Baru saja Olivia berbalik, ia mendengar suara teriakan. Dan suara yang tidak asing di telinganya. Dahinya langsung berkerut, ia mencoba mengingat siapa pemilik suara itu.


"Hah, kau ini sangat menyebalkan. Aku kan hanya minta sedikit uangmu, begitu saja kau sudah membuat kita jadi bahan tontonan orang-orang. Dasar rendahan," kata seorang pria muda kepada seorang wanita muda di hadapannya.


"Jangan! kau tak boleh mengambilnya. Itu pemberian Ayah," kata gadis itu ingin merebut kantung uangnya.


"Ayah kau bilang? memangnya kau saja anaknya, aku juga anaknya. Aku bahkan tidak diberikan sebanyak ini. Ayolah, mengaku saja. Kau mencurinya, kan?" kata pemuda itu.


"Wah, Nona ini berani sekali ya?"


"Apa? Ternyata Nona keluarga Marquis adalah seorang pencuri."


"Wah, ini berita panas."


"Tidak, aku tidak mencuri. Aku diberi, bukan mencuri. Aku bukan pencuri," gumam gadis itu gemetaran.

__ADS_1


Pemuda itu tampak senang. Ia berhasil membuat citra gadis dihadapannya yang adalah Adik tirinya buruk.


"Hahahaha ...  siapa suruh kau tiba-tiba muncul dan menjadi kesayangan Ayah. Lihat bagaimana aku akan mempermalukanmu, gadis bodoh!" batin pemuda itu tersenyum.


Tampak semua orang bergunjing. Mereka menyayangkan sikap seorang Nona dari keluarga bangsawan yang ternyata adalah seorang pencuri.


"Wah, ada pertunjukan menarik rupanya. Aku mengira siapa, ternyata Tuan Muda kedua keluarga Marquis sedang menindas Adiknya ya?" kata Olivia yang tiba-tiba muncul.


Gadis muda yang ditindas pun menatap Olivia, "No-Nona Ivy ... " gumamnya.


Pemuda itu menatap Olivia, "Hei, siapa kau? kenapa ikut campur?" tanya Pemuda itu tampak kesal.


"Kau membuatku tak bisa makan siang. Terlebih kau menganiaya seorang gadis, bagaimana aku tak bisa ikut campur? Dan lagi ... (Olivia merebut kantung uang milik yang berada di tangan pemuda itu) ini bukan milikmu, kan? Kau sangat tidak tau malu sekali," kata Olivia.


"Kau ... " kata pemuda itu hendak menampar Olivia.


Namun, Olivia menangkap tangan pemuda itu, mencengkram dan langsung memelintir tangan pemuda itu kuat-kuat.


"Wah ... kau mau nenamparku juga? apa kau tidak takut dengan akibat yang nantinya kau terima? beraninya kau menampar seorang Putri Duke," kata Olivia meninggikan suara.


"Cih! Dia menyudutkanku dengan membawa nama keluarganya," batin pemuda itu.


"Sa-saya minta maaf, Lady. Maafkan saya," kata pemuda itu.


"Minta maaf juga pada Lady itu," kata Olivia.


Pemuda itu menatap sang Adik dengan tatapan mata penuh amarah, sekaligus tak berdaya. Ia pun terpaksa meminta maaf agar tanganny bisa terlepas dan tidak dipermalukan.


"Ma-maafkan aku, Beatrix ... " kata pemuda itu.


Olivia segera melapas tangan pemuda itu dan memepringatkan agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Karena kalau pemuda itu mengulanginya, ia tidak segan lagi dan akan langsung melaporkannya pada pasukan keamanan istana agar menindak tegas perbuatan pemuda itu. Mendengar itupun pemuda itu langsung melarikan diri, dan orang-orang yang menonton membubarkan diri.


Olivia mendekati Beatrix, "Ambillah," kata Olivia memberikan kantung uang milik Beatrix.


"Te-terima kasih, Nona. Senang bertemu Anda lagi. Maafkan saya, atas sikap Kakak saya," kata Beatrix.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Dibandingkan minta maaf, kau harus mendapatkan perawatan lebih dulu karena terluka. Ayo, kubawa kau ke pusat kesehatan," ajak Olivia.


Olivia dan Chloe membawa Beatrix yang terluka ke pusat kesehatan agar bisa mendapatkan perawatan.


***


Di sebuah restoran. Olivia, Chloe dan Beatrix makan siang bersama. Olivia memperkenalkan Chloe dengan Beatrix dan mereka berbincanh bersama.


Beatrix menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Marchioness dan kedua anaknya diusir dari kediamam Marquis karena kesalahan. Marchioness berselingkuh, sedangakan dua kakak tirinya menggelapkan dana bisnis untuk berjudi. Karena murka, Marquis pun menceraikan Marchioness dan mengursir pergi mantan istri dan dua anaknya ke pengasingan.


Sialnya, saat berjalan-jalan Bearrix bertemu kakak keduanya dan terjadilah adu mulut. Beatrix dituduh sebagai sumber masalah yang terjadi.


"Apa dia gila? yang menggelapkan dana kan dia bukan kau. Kau bahkan tak tahu-menahu tentang hal apapun di mansion. Dasar bedebah busuk," kata Chloe kesal.


"Ssttt ... Chloe, kecilkan suaramu. Kita di tempat umum," sahut Olivia.


Chloe yang sadar pun langsung menutup mulutnya. Untung saja tidak ada yang mendengarnya megumpat.


Olivia menatap Beatrix, "Jadi, kau hanya tinggal berdua saja bersama Marquis?" tanya Olivia.


Beatrix menganggukkan kepala, "Ya," jawabnya singkat.


"Ah, ternyata ini alasannya kenapa di novel tertulis Beatrix hanya tinggal berdua dengan Marquis," batin Olivia.


"Apakah Ivy sedang jalan-jalan?" tanya Beatrix. Yang mencoba bicara santai karena permintaan Olivia.


"Ya, aku dan Chloe pergi membeli gaun. Kenapa kau sendirian? Setidaknya kau mintalah ditemani pelayan mansion," kata Olivia menyarankan.


"Itu ... aku merasa tidak enak. Dan karena aku berpikir tidak akan ada apa-apa, maka semua akan baik-baik saja," jawab Beatrix.


"Ingat satu hal, Beatrix. Kejahatan tidak memandang tempat dan korban. Jika dirasa waktunya tepat dan ada kesempatan, maka penjahat akan langsung beraksi. Belajarlah dari kejadian tadi. Kau mengerti?" kata Olivia mengingatkan kembali.


Beatrix menganggukkan kepala dan tersenyum cantik, "Ya, aku mengerti. Te-terima kasih," ucap Beatrix.


Hidangan makan siang yang mereka pesan pun tiba. Mereka pun langsung menikmati makan siang mereka dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2