Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
8. Semua Hanya Salah Paham


__ADS_3

Olivia terdiam mendengar pertanyaan Issac. Ia benar-benar tidak tahu, kalau ia meniliki mana yang melimpah. Namun, ia juga tak bisa sembarangan menceritakan asal usulnya pada orang lain, sekalipun itu pada pelatih dan anak pelatihnya.


"Mmh ... itu ... " gumma Olivia.


Tiba-tiba Emma datang dengan berlari dan langsung memanggil Olivia dengan suara lantang.


"Nona ... Nona ... " panggil Emma. Membuka pintu ruangan, dia mana Olivia, Anthony dan Issac berada.


"Emma, ada apa? kenapa kau berteriak kencang begitu?" tanya Olivia.


"A-ada .... ada ... " kata-kata Emma dipotomg oleh seseorang yang langsung menerobos masuk dalam ruangan.


"Olivia ... " panggil seseorang itu, yang tak lain adalah Kakak pertama Olivia, Octavius Hubbert.


Olivia kaget, "Dia ..." batin Olivia.


"Di mana Adikmu, Octavius?" tanya seseorang lain mengikuti masuk.


Anthony terkejut, saat tahu seseorang yang datang adalah seseorang yang dikenalnya.


"Tuan Duke," sapa Anthony.


Victor menatap Anthony dan mengerutkan dahi, "Ah, maaf. Kalau kedatanganku mengejutkanmu, Anthony. Aku hanya ingin memastikan apakah putriku ada di sini atau tidak. Aku juga sama sekali tidak tahu kalau ini adalah rumahmu," kata Victor.


"Apa? jadi Nona ini putri Anda?" tanya Anthony.


"Ya, dia putri bungsuku. Olivia Hubbert," Jawab Victor.


Olivai tidak menyangka Ayah dan Kakaknya sampai datang ke rumah pelatihnya demi untuk mencari keberadaaanya. Olivia pun meminta maaf secara resmi pada pelatihnya karena tidak berkata jujur sejak awal, dan berusaha menutupi identitasnya. Ia menyampakian alasannya dengan jelas tanpa ragu apa yang membuatnya bersikap demikian. Anthony memaklumi dan menerima penjelasan Olivia. Ia merasa bangga Olivia mau mengakui kesalahan dan memberikan alasannya.


Setelah berbincang cukup lama, Victor pun berpamitan. Ia mengajak Octavius dan Olivia untuk pulang bersamanya. Emma juga ikut kembali pulang. Anthony dan  Issac mengantar kepergian mereka sampai di halaman depan. Victor dan Octavius naik kuda, sedangkan Olivian dan Emma naik kereta kuda. Mereka pergi meninggalkan kediaman Anthony.


"Sepertinya aku sudah menemukan jawabannya," gumam Issac.

__ADS_1


"Jawaban apa?" tanya Anthony.


"Kenapa aku merasa Olivia memiliki mana melimpah. Tidak heran, jika ternyata dia adalah putri dari keluarga Duke Hubbert. Keluarga pedang emas kekaisaran," jawab Issac.


"Hm, kau benar. Sebenarnya aku melihat hal yang luar biasa dari Ivy saat berlatih. Aku yakin kemampuannya akan melebihi Ayah dan Kakaknya," kata Anthony.


"Apa Duke akan mengizinkam Ivy dayang berlatih lagi, Ayah?" tanya Issac.


"Enthalah. Soal itu Ayah tidak yakin." jawab Anthony yang langsung pergi meninggalkan Issac.


***


Di kastil Duke Hubbert. Octavius dan Olivia duduk diam di ruang kerja Duke Hubbert. Suasana hening, namun menegangkan.


Olivia berpikir, ia akan kena omelan atau dimarahi, tetapi ternyata tidak demikian. Victor mencemaskan keadaan Olivia, dan menanyakan, apakah Olivia baik-baik saja atau tidak. Mendengar itu Olivia pun terkejut, ia tidak mengerti apa maksud Ayahnya bertanya demikian, padahal Ayahnya adalah salah satu dari orang yang mengabaikannya.


"Olivia ... kenapa kau diam  saja?" tanya Victor menatap Olivia.


"Ya? oh, itu ... saya sedang memikirkan hal lain, maafkan saya." kata Olivia.


"Apa boleh aku bicara? Karena ditanya, lebih baik aku mengutarakan isi pikiran dan hatiku, kan? mungkin ini adalah kesempatan agar aku tahu, kenapa Olivia ini diabaikan." batin Olivia.


"Saya hanya ingin menjadi lebih kuat. Saya sadar, selama ini saya tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuh lemah saya. Bahkan karena saya itu saya mendapat prilaku buruk dari teman-teman di akademi. Bukankah karena saya lemah, Ayah dan kedua Kakak mengabaikan saya? Ayah dan kedua Kakak bahkan tak pernah meluangkan waktu hanya untuk makan bersama dengan saya. Karena saya tidak mau merepotkan Ayah dan kedua Kakak, juga tidak ingin mempermalukan nama baik kelaurga Hubbert, maka saya memutuskan berlatih keras. Apa saya salah? apa Ayah akan memarahi saya atau  ingin menghukum saya?" tanya Olivia.


Victor dan Octavius tercengan dengan jawaban Olivia. Victor tidak percaya, ternyata ia telah disalah pahami oleh putrinya sendiri. Melihat ekspresi Victor yang terdiam dan langsung menunduk, membuat Olivia bingung.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan dengan mengungkapkan semua yang ingin kukatakan? apa Duke marah sekarang? bagaimana ini? haruskah aku minta maaf?" batin Olivia.


"Maafkan saya ... seharusnya saya tidak berbicara sembarangan," kata Olivia.


"Tidak, Putriku. Ayahlah yang seharusnya minta maaf. Ayah sungguh tidak menyangka, menjauhimu ternyata membuatmu salah paham," jawab Victor.


Olivia mengerutkan dahi, "Apa maksud Ayah?" tanya Olivia bingung.

__ADS_1


"Ayah tidak pernah sekalipun membencimu. Sebaliknya, Ayah sangat menyanyangimu, terlepas parasmu yang sangat mirip dengan mendiang Ibumu. Ayah pergi menyibukkan diri berperang atau membasmi monster, karena Ayah sedih jika melihatmu yang mirip dengan Ibumu. Ayah merasa bersalah, karena kau yang masih kecil, harus tumbuh tanpa sosok Ibu. Karena itu Ayah memilih tidak muncul dohadapanmu. Ayah takut kau akan bertanya sesuatu hal yang tidak akan bisa Ayah jawab dan kau jadi membenci Ayahmu ini. Maafkan Ayah, Olivia. Maafkan Ayah," kata Victor menunduk dengan air mata bercucuran.


Olivia melebarkan mata, "Jadi, selama ini Duke tak mengabaikan Olivia? Duke hanya merasa bersalah pada Olivia atas meninggalnya Duchess. Sudah kuduga. Jika memang diabaikan, maka Duke tak akan memberikan Olivia uang saku dan hak menikmati kemewahan," batin Olivia.


Olivia memegang tangan Victor, "Ayah ... " panggil Olivia.


Victor kaget, "Ya?" jawabnya menyeka air mata, lalu menatap Olivia.


"Sekarang, bisakah Ayah tak menghindariku lagi? Aku tidak akan menyalahkan Ayah untuk semua hal yang sudah terjadi. Aku hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama Ayah dan kedua Kakak," kata Olivia.


Victor memeluk erat Olivia. Ia mengatakan, kalau ia akan memenuhi keinginan Olivia. Ia berjanji, ia tidak akan lagi mengabaikan Olivia.


Victor melepas pelukan, "Terima kasih, sayang. Ternyata tidak hanya parasmu, tetapi hatimu pun sangat mirip dengan mendiang Ibumu." ucap Victor.


Olivia tersenyum menatap Victor. Ia memalingkan pandangan menatap Ovtavius dan bertanya, apakah Octavius tak ingin memeluknya? Mendengar itu Ovtavius pun segera bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Olivia.


"Maafkan aku, Olivia ... " kata Octavius.


"Ya, Kak. Aku tahu Kakak juga pasti punya alasan seperti Ayah," jawab Olivia.


Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka. Seseorang masuk dan langsung ikut memeluk Olivia.


"Uhh ... sesak," keluh Olivia.


"Hentikan, Octavius, Owen. Olivia tidak nyaman," kata Victor.


"Wah, rasanya senang sekali. Bisa memeluk Adikku seperti ini," kata Owen senang.


"Singkirkan tanganmu. Aku duluan yang memeluk Olivia," kata Octavius.


"Olivia juga Adikku. Aku juga ingin memeluknya," kata Owen.


Olivia akhirnya angkat suara. Ia tidak mau dipeluk siapapun karena ia merasa sesak. Victor, Octavius dan Owen tampak kecewa dengan perkataan Olivia. Melihat ekspresi seperti itu, membuat Olivia tersenyum.

__ADS_1


Akhirnya masalah yang terjadi diantara Olivia, Ayah dan Kakaknya pun terselesaikan. Ternyata semua hanyalah kesalah pahaman.


__ADS_2