Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
32. Rencana Berburu


__ADS_3

Ujian tulis dan ujian praktik akhirnya terlewati. Olivia menempati posisi tertinggi dan disusul oleh Chloe di posiis ke tiga. Sekarang tidak ada lagi murid lain yang meremehkan Olivia. Beberapa murid justru terlihat menyapa dan memberikan selamat atas pencapaian Olivia. Meski terasa canggung, tapi Olivia tampak bangga akan hasil yang diperolehnya.


Musim juga telah berganti. Tiba waktunya liburan sekolah. Chloe dan Olivia saling berkirim surat selama masa liburan. Chloe menceritakan pengalamannya berlibur ke wilayah kampung halaman sang Ibu. Sedangkan Olivia menceritakan tentang latihan yang ia jalani bersama sang Ayah.


Olivia baru saja mencap amplop surat balasan untuk Chloe. Ia melihat setumpuk surat dari RonĀ  yang bahkan malas untuk dibukanya.


"Hahhh ... (menghela napas) bisa-bisanya dia seperti ini. Apa dia pengangguran? Padahal sudah aku katakan jelas saat itu, jika aku tidak ada niatan bertemu atau menjalin hubungan dalam bentuk apapun. Namun, kenapa dia masih terus mengirimiku surat?" batin Olivia.


Olivia mengambil satu amplop dan membukanya, ternyata di dalam amplop tidak hanya ada surat, tetapi juga bunga mawar yang sudah dikeringkan.


Olivia mengerutkan dahi, "A-apa lagi ini? dia ini ... jangan-jangan semua suratnya ada bunga keringnya, " gumam Olivia. Yang lantas membuka semua amplop yang dikirim Arron.


Pintu kamar Olivia diketuk dari luar, "Olivia, ini Ayah. Apa boleh Ayah masuk?" tanya Victor.


Olivia kaget, "Ayah? bahaya ... " batin Olivia cepat-cepat merapikan surat dari Arron.


"Se-sebentar, Ayah. Aku masih ganti pakaian," teriak Olivia kencang.


Olivia buru-buru memasukkan surat dari Arron ke laci meja belajarnya. Ia bergegas menuju pintu kamar dan membukakan pintu untuk sang Ayah.


Victor menatap Olivia, "Apa sudah selesai? Cepat sekali berganti," tanya Victor.


"Ya, sudah. Hanya berganti gaun saja, kenapa harus lama. Ada apa, Ayah? masuklah," jawab Olivia mempersilakan Ayahnya masuk ke kamarnya.


Victor masuk dan duduk di sofa, "Apa kau tidak bosan di rumah saja? Ingin pergi berburu dengan Ayah?" tawar Victor.


Olivia terkejut, "Ber-bu-ru? Ayah serius?" tanya Olivia.


"Ya, kau kan sudah bisa menggunakan sihir dan mengontrol manamu. Kau juga bisa mengayunkan pedang bahkan kau giat berlatih. Lagipula sekolahmu libur. Berburu bukankah itu menyenangkan? anggap saja kau belajar pelatihan lapangan. Jika kau berkenan, Ayah akan menyiapkan semuanya," kata Victor menjelaskan.


Olivia diam berpikir. Ia merasa tertarik dengan tawaran sang Ayah. Terlebih ia sama sekali belum pernah berburu sebelumnya.

__ADS_1


"Ide bagus. Sekolah libur. Aku juga sudah melihat area pembangunan dan mengunjungi pelatih. Bosan juga kalau di rumah dan hanya di kamar saja.


Sepertinya berburu adalah hal yang menyenangkan," batin Olivia.


"Baiklah, Ayah. Saya mau ikut. Kapan kita pergi?" tanya Olivia menatap sang Ayah.


"Besok atau lusa. Pilihlah," jawab Victor.


"Hmmm ... " gumam Olivia berpikir lagi, "bagaimana kalau besok saja. Apakah kita akan berburu di tempat yang jauh? Oh, apa tidak apa-apa Ayah meninggalkan wilayah? Ayah tidak sibuk?" lanjut Olivia bertanya. Ia khawatir ia mengganggu pekerjaan sang Ayah.


"Kau mengkhawatirka hal yang tidak perlu. Lantas, apa gunanya Kakak pertamamu yang kelak menduduki posisi kepala keluarga? Sebagai Duke Muda, dia harus menjadi wali saat Ayahnya tidak berada di tempat, kan?" jawab Victor santai.


"Aha, jadi Ayah berencana pergi hanya dengan saya rupanya. Hahaha ... jika kedua Kakak dengar, dia pasti akan kesal dan langsung protes," kata Olivia.


"Terserah mereka mau protes atau apalah itu. Yang jelas kali ini Ayah hanya akan pergi denganmu. Karena kita akan berburu besok, sebaiknya sekarang kau istirahat dan siapkan dulu apa yang perlu kau bawa saat berburu. Ayah mau melihat laporan dulu," Kata Victor berdiri dari tempatnya duduk.


"Ya, Ayah. Ayah juga lekas istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri," kata Olivia.


"Hmmm ... " gumam Victor. Pergi menghilang dari balik pintu.


"Pemuda yang aneh," gumam Olivia.


Ia lantas memasukkan kembali surat-surat ke dalam amplop dan menyimpan di dalam laci meja. Olivia menyiapka sebuah kertas dan menulis sesuatu di kertas itu. Olivia menulis surat untuk Issac. Ia memberitahukan kalau sementara waktu tidak bisa berkunjung karena pergi berburu dengan Ayahnya. Olivia mengatakan, akan pergi menemui Issac setelah pulang dari berburu.


Dilipat dan dimasukkan surat itu ke dalam amplop. Olivia segera memanggil Emma. Meminta Emma mengirim seseorang untuk menyampaikan suratnya pada Issac. Emma segera bergegas menjalankan perintah Nona majikannya.


***


Malam harinya. Arron mendatangi bar langganan dan minum di sana. Deon pun datang dan bertemu Arron. Ia tidak menyangka akan bertemu Arron karena keduanya memang tidak memiliki janji temu.


"Yang Mu ... ah, maksudku, Arron ... " kata Deon.

__ADS_1


Arron menatap Deon, "Hai, Deon. Lama tak bertemu. Kau sehat?" Tanya Arron.


"Ya, aku sehat. Bagaimana denganmu?" Tanya Deon.


"Ya, aku juga sehat," jawab Arron lemas.


Deon menerima segelas minuman dari seorang pelayan dan duduk di samping Arron. Mendengar jawaban lemas teman baiknya itu, Deon lantas bertanya apa hal yang terjadi.


"Ada apa? kau tampak tidak bersemangat," kata Deon.


"Aku sedang gelisah. Oh, apa kau pernah berkirim surat dengan seorang wanita? apa yang harus aku lakukan agar dia mau membalas surat?" tanya Arron.


"Ya? a-apa maksudmu? Te-tentu saja aku pernah berkirim surat. Meski tidak dengan wanita juga. Namun, akhir-akhir ini aku berkirim surat pada rekan bisnisku. Karena kami membahas seputar pekerjaan tentu saja dia membalas suratku. Memangnya apa yang kau tulis sehingga dia tak membalas suratmu?" tanya Deon.


"Itu ... aku memintanya memilih hadiah yang diinginkan. Aku juga mengajaknya bertrmu dan makan bersama. Aku mengatakan kalau aku ingin menjalin hubungam baik dengannya, tapi dia langsung menolak tegas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lalukan," jawab Arron menjelaskan.


"Dia siapa? Apa dia wanita penyelamatmu, yang pernah kau ceritakan itu?" tanya Deon menebak.


Arron menganggukkan kepala, "Ya," jawab singkat Arron.


Deon mengerutkan dahi, "Tunggu, tunggu, sejak kapan seorang Arron gelisah sampai lemas hanya karena wanita? meski dia penyelamatnya sekalipun. Ahh ... (Deon melebarkan mata) jangan-jangam dia sudah jatuh cinta pada wanita penyelamatnya itu," batin Deon.


Deon mendekati Arron, "Hei, katakan sejujurnya padaku. Kau menyukai penyelamatmu itu, kan?" tanya Deon berbisik.


Wajah Arron langsung memerah, "A-apa maksudmu? Aku tidak menyukainya," jawab Arron mengelak.


"Sudahlah. Jangan mengelak. Akui saja," goda Deon.


"Hentikan, Deon. Jangan menggodaku. Kau mau kuhajar?" jawab Arron.


Arron memalingkan pandangan, "Ah, ini membuatku gila. Kenapa juga aku menceritakan hal memalukan seperti ini pada Deon. Hancur sudah harga diri seorang Arron," batin Arron.

__ADS_1


Deon tersenyum, "Dasar manusia batu," batin Deon.


Deon kembali menggoda Arron. Membuat Arron tersedak saat minum dan semakin malu. Arrion pun mengatakan, jika ia menyesal telah bertanya pada Deon. Sedangkan Deon tidak peduli dan terus menggoda Arron.


__ADS_2