
Keesokan harinya. Victor langsung menghadap Kaisar bersama Putra Mahkota untuk melapor. Mendengar cerita dua orang dihadapannya, membuat Kaisar marah besar karena telah ditipu. Ia lantas meminta ajudannya segera mengirim surat peringatan dan pembatalan kerja sama jalur laut. Orang-orang kerajaan barat tidak diperkanankan lagi melewati pelabuhan milik kekaisaran.
"Terima kasih, Duke. Kau boleh kembali pulang dan istirahat," kata Kaisar menatap Victor.
Tampak raut wajah Baginda Kaisar begitu kecewa mendengar kabar buruk itu.
"Dia tampak kecewa. Hal ini memang sungguh disayangkan. Padahal pihak kekaisaran dan kerajaan barat sudah lama menjalin kerja sama. Namun, raja kerajaan barat kini dipimpin oleh sosok yang tamak dan tidak berprilaku baik. Wajar, jika para bangsawan di sana pun melakukan hal-hal diluar batas dan menyimpang," batin Victor.
"Yang Mulia. Saya tidak akan menjaminkan apapun, tetapi saya akan membantu semaksimal mungkin untuk melindungi kekaisaran. Karenanya, izinkan saya yang mencarikan pengrajin baju zirah. Hanya karena perjanjian turun temurun, kita selalu memasukkan baju zirah dari negeri tetangga? bagaimana dengan pengrajin kekaisaran sendiri? Bukankah mereka juga harus diberi kesempatan? saya hanya menyampaikan pendapat. Maaf, jika Anda merasa tersinggung dengan apa yang saya sampaikan, Baginda." kata Victor.
Baginda Kaisar mengerutkan dahi, "Benar juga. Kenapa baru sekarang aku tersadar? Apa aku memang selemah inu menjadi pemimpin?" batinnya.
Putra Mahkota mendekati Baginda Kaisar, "Baginda, Anda bisa memikirkan lebih dulu apa yang disampaikan Duke Hubbert, jika Anda rasa kesulitan memberikan keputusan saat ini. Yang jelas, saya sudah menindaklanjuti para utusan kerajaan dan meminta pertanggung jawaban mereka atas setengah upah yang mereka minta lebih dulu." kata Putra Mahkota.
Baginda Kaisar menganggukkan kepala, "Baiklah. Kau bisa melakukan apa yang kau katakan, Duke. Aku menyerahkan urusan itu padamu. Putra Mahkota akan membantumu juga," kata Baginda Kaisar.
Victor menundukkan kepala pelan, "Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas kebaikan Anda," jawab Victor.
"Saya menerima perintah dari Yang Mulia," jawab Putra Mahkota.
Karena alasan kesehatan Baginda Kaisar, Putra Mahkota dan Victor pergi meninggalkan ruang kerja Baginda Kaisar.
***
Victor dan Arron berjalan bersam meninggalkan ruang kerja Baginda Kaisar. Ditengah jalan, mereka berpapasan dengan Permaisuri kedua, istri kedua dari Kaisar. Sepuluh tahun setelah kematian istrinya, dan demi kesejahteraan kekaisaran, maka Baginda Kaisar menikah kembali dengan salah satu putri keluarga Duke dari luar wilayah kekaisaran.
"Salam kepada Bulan kekaisaran," kata Victor menundukkan kepala dannsedikit membungkukkan badan.
"Ya, Duke. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bejumpa," kata Permiasuri tersenyum cantik.
__ADS_1
"Ya, Yang Mulia. Saya sibuk melakukan pembasmia monster," jawab Victor.
"Anda sudah bekerja keras, Duke." Kata permaisuri.
Permaisuri menatap Arron. Arron pun menunduk pelan menyapa Ibu tirinya itu.
"Salam, Yang Mulia Permaisuri." sapa Arron.
"Anda pasti sibuk, Yang Mulia Putra Mahkota. Jaga kesehatan Anda," kata Permaisuri.
"Baik, Yang Mulia. Terima kasih telah memperhatikan saya," jawab Arron.
"Silakan lanjutkan perkerjaan Anda berdua. Saya permisi," kata Permaisuri berpamitan. Ia tersenyum lagi dan pergi berjalan menuju ruang kerja Baginda Kaisar.
Victor kembali berjalan. Arron terdiam sejenak menatap kepergian Permaisuri. Ia tidak tahu, bagaimana cara menghadapi Ibu keduanya itu karena mereka tidaklah dekat. Lebih tepatnya, Arron memilih terus menghindar dan acuh tak acuh dengan adanya Ibu keduanya itu. Arron tersadar dari lamunannya dan menyusul Victor. Ia mengantar kepergian Victor yang akan kembali ke kastil Duke.
***
"Apa Ayah ingat pedang milik saya itu dibuat langsung oleh Issac. Dia berkata itu akan cocok dengan saya. Dan saya rasa Issac pasti bisa membantu Ayah," kata Olivia.
"Ya, nanti coba Ayah bicarakan dengan Anthony adan Issac." jawab Victor.
"Ayah, apakah benar Baginda Kaisar memutus sepihak hubungan kerja sama yang selama ini berlangsung?" tanya Octavius.
"Itu benar. Dengan sifat Baginda Kaisar yang tidak senang dengan pengkhianat, maka hubungan kerja sama akan berakhir," jawab Victor.
Victor menatap Olivia, "Bagaimana dengan keadaanmu? Ayah dengar dari dayangmu, kau terus menyibukkan diri belajar dan berlatih. Apa kau baik-baik saja?" tanya Victor khawatir.
"Saya baik-baik saja, Ayah. Saya hanya berlatih ringan. Selebihnya melakukan kegianatan rutinitas. Ayah tidak perlu mencemaskan keadaan saya," kata Olivia.
__ADS_1
"Ayah bertanya karena ingin memastikan langsung. Bagaimana sekolahmu?" tanya Victor lagi.
"Sekolah? tidak ada masalah? semu berjalan baik. Beberapa bulan lagi akan ada ujian tulis, disusul ujian praktik." Jawab Olivia.
"Olivia, mulai besok, ayo berlatih denganku. Aku akan mengajarimu sihir," sahut Owen.
Olivia kaget, "Ya? a-apa yang Kakak katakan?" tanya Olivia bingung.
"Kau tidak mau belajar sihir? Manamu melimpah, menjadi penyihir adalah salah satu impian banyak orang." kata Owen.
"Aku tidak mau menajadi penyihir. Aku ingin menjadi swordmaster seperti Ayah dan Kakak. Namun, aku akan mencoba mempelajari sihir lebih dalam bersama Kakak," jawab Olivia tersenyum.
Owen yang sempat murung mengurai senyuman. Ia tahu Adiknya tidak akan mengecewakannya. Victor terkejut mendengar perkataan Olivia yang ingin menjadi swordmaster. Karena swordmaster adalah seorang yang harus bersigap menjadi perisai dibaris depan.
"Apa kau yakin ingin jadi swordmaster, Putriku?" tanya Victor.
Olivia menatap Victor, "Ya, Ayah. Saya sangat yakin. Karena itulah saya susah payah berlatih selama ini. Saya tahu kemampuan saya bukanlah apa-apa, jika dibandingkan dengan Ayah ataupun Kakak. Namun, saya bermimpi, suatu saat saya bisa berdiri di sisi Ayah dan Kakak sambil mengenakan baju zirah dan memegang pedang. Bukankah itu keren?" jawab Olivia mengutarakan isi pikiran dan hatinya.
Octavius tersenyum mengusap kepala Olivia, "Kau pasti menjadi swordmaster terbaik melebihiku, Olivia. Terus berlatih dan jangan menyerah," kata Octavius.
"Ba-bagaimana bisa putriku bicara seperti ini? ternyata dia punya keinginan seperti itu. Namun, kenapa aku merasa sedih dan ingin menangis seperti ini?" batin Victor.
Melihat Victor yang sedih, Olivia bertanya apa yang dipikirkan Ayahnya itu. Victor tersadar dari lamunan dan mengatakan kalau Olivia pasti bisa menjadi seorang swordmaster dan berdiri disisinya dengan keren.
"Kau pasti bisa," tambah Victor tersenyum.
Olivia kaget, itu kali pertama dalam hidupnya melihat senyuman sang Ayah sejak mereka menjadi akrab. Sebelumnya, di mata Olivia, Victor seperti patung es yang dingin. Namun, sekarang Ayahnya itu terlihat berbeda. Tidak hanya perhatian dan peduli, tetapi juga tersenyum hangat padanya.
"Terima kasih, Ayah. Saya akan berusaha keras," kata Olivia membalas senyuman Ayahnya.
__ADS_1