Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
37. Makan Malam Dan Putra Mahkota


__ADS_3

Makan malam tiba. Victor dan ketiga anaknya sudah lebih dulu tiba di ruang makan. Mereka duduk menunggu Sang Kaisar sekeluarga. 


Olivia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas. Ia mencoba untuk tetap tenang. Padahal hatinya sedang khawatir dan gelisah.


Tidak beberapa lama, Baginda Kaisar dan Permaisuri pun tiba. Victor, Octavius, Owen dan Olivia berdiri dari tempat duduk mereka lantas memberikan salam. Baginda Kaisar dan Permaisuri menerima salam keluarga Duke Hubbert dan meminta semua untuk duduk kembali.


"Terima kasih. Sudah mau memenuhi permintaanku, Duke. Akhirnya, aku bisa melihat ketiga anakmu," kata Baginda Kaisar yang baru saja duduk.


Victor menundukkan sedikit kepala, "Kami merasa terhormat dapat menikmati hidangan makan malam dengan Anda, Baginda." jawab Victor.


Permaisuri menatap Olivia, "Oh, hai. Apa Nona ini putri Anda, Duke? cantik sekali," puji Permaisuri.


"Terima kasih atas pujian Anda yang berlebihan, Yang Mulia." jawab Olivia.


"Benar, Yang Mulia. Dia putri saya, Olivia Hubbert." sahut Victor.


"Berapa usianya?" tanya Permaisuri.


"Enam belas tahun. Sebentar lagi tujuh belas tahun," jawab Victor.


"Oh, hanya selisih setahun dari Putra Mahkota. Apa dia belajar di akademi? Putra Mahkota akan masuk akademi di tahun ajaran baru ini," kata permaisuri.


"Ya, Yang Mulia. Olivia memang belajar di akademi." jawab Victor.


Victor mengerutkan dahinya. Ia tidak sangka muridnya yang enggan masuk akademi tiba-tiba tertarik masuk ke akademi. Ia pun penasaran, akan isi pikiran dari muridnya itu.


"Permaisuri, apa kau sudah memberitahu Putra Mahkota? di mana dia?" tanya Baginda Kaisar menatap Permaisurinya.


"Dia sedang bersiap-siap, Baginda. Mungkin sebentar lagi datang," jawab permaisuri.


Olivia menatap ke arah pintu, "Aku tak boleh gugup. Meski ini pertemuan pertamaku dengan Putra Mahkota, aku tidak boleh memberikan kesan buruk, tetapi juga tidak akan memberikan kesan berarti. Bagaimanapun, aku harus menghindari hubungan dalam bentuk apa pun dengan Putra Mahkota agar aku tidak celaka. Ya, harus begitu." batin Olivia.


Pintu ruang makan diketuk. Pelayan memberitahukan kedatangan Putra Mahkota.

__ADS_1


"Yang Mulia Putra Mahkota tiba," kata pelayan. Disusul pintu yang terbuka.


Olivia langsung menundukkan kepala begitu pintu dibuka. Ia tidak mau bertatapan dengan Putra Mahkota.


Putra Mahkota berjalan perlahan mendekati meja makan. Victor berdiri dari tempat duduk di susul Octavius dan Owen. Melihat Kakak keduanya yang berdiri, Olivia yang masih menundukkan kepala pun ikut berdiri.


"Tenang Olivia, tenanglah. Bersikaplah seolah kau tidak tahu apa-apa tentangnya," batin Olivia tegang.


"Salam kepada Matahari kecil kekaisaran. Semoga Anda sejahtera dan dibetkati," kata Victor sedikit membungkuk dan menundukkan kepala. Diikuti Octavius, Owen dan Olivia.


Putra Mahkota menatap Victor, Octavius, Owen dan Olivia, lalu menjawab salam dari Victor dan mempersilakan Victor sekeluarga Untuk duduk.


"Silakan duduk, Duke." jawab Putra Mahkota.


Olivia kaget, karena ia merasa tidak asing dengan suara yang baru saja terdengar olehnya.


"Eh, suaranya. Sepertinya tidak asing. Apa telingaku bermasalah sehingga pendengaranku tidak bagus, ya?" batin Olivia yang duduk kembali di kursinya.


Olivia menatap meja makan, lalu menegakkan kepala. Ia terkejut, saat mendapati seseorang yang tidak asing baginya duduk tepat di hadapannya. Melihat Olivia menatap ke arahnya, Arron tersenyum tampan untuk memberikan kesan baik.


Olivia mengerutkan dahi, ia pun berpikir keras mengapa pria yang mengiriminya setumpuk surat dan menginginkan pertemuan dengannya duduk manis dihadapannya.


"Ini ... tunggu, tunggu. Ron, Ron, A-rron? Hah? Ini gila. Jadi Ron yang kutahu itu Putra Mahkota? Aaaaaa ini gila, sungguh gila," batin Olivia.


Olivia menatap tajam ke arah Arron, "Jadi, dia sebenarnya tahu siapa aku, tapi pura-pura tidak tahu, begitu? Menyebalkan sekali dia," batin Olivia kesal.


Arron kaget saat ditatap tajam oleh Olivia. Seakan Olivia sedang menatap mangsa dan siap memangsanya. Ia berpikir ada sesuatu wajahnya.


"Apa ada sesuatu di wajahku? Kenapa dia tajam sekali menatapku," batin Arron.


Makan malam pun berlangsung. Semua makan dengan tenang dan menikmati hidangan yang sudah dibuat khusus oleh juru masak dapur utama istana.


Arron terus menatap Olivia yang tampak biasa-biasa saja, bahkan setelah tahu kalau dia adalah seorang Putra Mahkota. Dan itu membuatnya sedikit kecewa.

__ADS_1


"Apa dia tidak senang melihatku? Kenapa dia memasang wajah datar tanpa ekspresi seperti itu? Namun, malam ini pun dia tampak sangat cantik," batin Arron mengagumi Olivia.


Permaisuri melirik, memperhatikan Arron yang menatap dalam ke arah Olivia. Ia mengalihkan pandangan menatap Olivia yang bersikap tenang dan biasa-biasa saja.


"Hooo ... apa ini? Putra Mahkota menyukai Nona dari keluarga Hubbert? Dia yang tak bisa diam ini, bahkan makan dengan tenang saat ini. Apa aku harus membantunya? Hmmm ... " batin Permaisuri berpikir.


Olivia melirik menatap Arron yang sedang makan. Tidak lama ia segera mengalihkan pandangan karena tidak ingin membuat Arron salah paham, jika ia kepergok sedang menatap diam-diam.


"Baguslah aku menolaknya suratnya. Dengan begini aku aku bisa lebih tegas padanya nanti. Aku tidak tahu apa niatannya mengirimi surat, meminta bertemu sampai ingin menjalin hubungan baik denganku. Dan aku pun tidak peduli pada itu semua. Sekarang sudah jelas, aku hanya perlu membangun tembok setinggi mungkin dan setebal mungkin agar kami berhubungan," batin Olivia yang kembali melanjutkan makannya.


***


Selesai makan malam. Ternyata Baginda Kaisar ingin berbincang dengan Victor dan Octavius di ruang kerjanya. Sedangkan Permaisuri yang ingin memberi kesempatan Putra Mahkota mengejar cinta, mengajak Owen berjalan-jalan. Ia bertanya-tanya petihal sihir dan mereka tampak sibuk berbincang.


Olivia dan Arron tetap tinggal di meja makan. Suasana tampak begitu canggung.


"Ma-mau ke taman?" ajak Arron.


Olivia menatap Arron, "Tidak, Yang Mulia. Apa kita sedekat itu sampai saya Anda mengajak saya ke taman?" jawab Olivia.


"Umh, maafkan aku. Kau pasti terkejut. Seharusnya aku memperkenalkan diri sejak awal. Namun, aku takut. Maaf, Iv. A ... " kata Arron yang langsung dipotong Olivia.


Olivia berdiri dari posisinya duduk, "Mohon maaf, Yang Mulia. Sepertinya saya harus pergi. Dan tolong, jangan panggil nama saya seperti itu. Anda bisa memanggil Saya Lady Hubbert, karena kita se-dekat itu sampai Anda memanggil nama panggilan saya. Maafkan saya, permisi." kata Olivia yang langsung pergi.


Arron berdiri dari tempat duduknya dan mengejar Olivia. Ia memegang tangan Olivi, membuat langkah Olivia terhenti.


"Bukankah kau sendiri yang memperkenalkan diri dengan nama Ivy? kenapa sekarang aku tidak boleh memanggilmu Ivy?" tanya Arron.


Olivia berbalik menatap Arron, "Sejak kapan?" gumam Olivia menatap tajam.


Arron melebarkan mata terkejut, "Ya? se-se-sejak kapan, apa maksudnya?" tanya Arron bingung.


"Apa Anda diam-diam menyelidiki saya? Mencari tahu tentang saya?" tanya Olivia.

__ADS_1


Arron terdiam tidak bisa berkata-kata, karena jawabannya sudah jelas. Olivia menepis tangan Arron, menundukkan kepala, lalu mengangkat sedikit gaunnya dan berbalik pergi meninggalkan Arron di ruang makan.


__ADS_2